Jump to ratings and reviews
Rate this book

Metafora Padma

Rate this book
"SEJAUH yang aku lihat dan hitung, dua puluh enam tubuh manusia tergeletak di jalan raya. Sepuluh telentang, enam belas telungkup. Beberapa di antaranya terbaring di sebelah benda-benda-patahan kursi, parang berlumuran darah, pecahan botol kaca, mungkin botol minuman keras. Semuanya rebah di atas darah mereka sendiri. Kau bisa yakin mereka semua sudah menjemput ajal. tapi bisa juga kalau kau bilang mereka cuma tidur di atas kehidupan, karena darah itu adalah yang sebelumnya membuat mereka hidup."

-- Metafora Padma, satu di antara belasan cerita dalam buku ini.

168 pages, Paperback

First published August 15, 2016

11 people are currently reading
265 people want to read

About the author

Bernard Batubara

26 books817 followers
I am a best selling writer of 19 books.

They are "Angsa-Angsa Ketapang" (2010), "Radio Galau FM" (2011), "Kata Hati" (2012), "Milana" (2013), "Cinta." (2013), "Surat untuk Ruth" (2014), "Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri" (2014), "Jika Aku Milikmu" (2016), "Metafora Padma" (2016), "Elegi Rinaldo" (2017), "Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran" (2017), "Luka Dalam Bara" (2017), "Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan" (2017), "Asal Kau Bahagia" (2017), "Espresso" (2019), "Tentang Menulis" (2019), "Residu" (2019), "Batu Manikam" (2020), and "Banse Firius" (2020).

My short story “Goa Maria” appeared in the bilingual anthology of Indonesian writing Through Darkness to Light (Ubud Writers and Readers Festival 2013 & Hivos).

I provide editorial and copywriting services, for commercial and literary purposes. I accept prose, poetry, and nonfiction story.

Contact me through the information below.

Whatsapp: +6287839894689
Twitter & Instagram: @benzbara_

benzbara89@gmail.com
www.bisikanbusuk.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
53 (19%)
4 stars
124 (46%)
3 stars
75 (27%)
2 stars
14 (5%)
1 star
2 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 67 reviews
Profile Image for Maggie Chen.
145 reviews85 followers
Read
August 15, 2016
MY BRAIN HURTS.

Aku tidak akan memberi rating untuk buku ini. Setidaknya, tidak sebelum aku membaca beberapa cerita di dalam buku ini sebanyak minimal tiga kali...
Tidak adil rasanya memberi rating tanpa memahami keseluruhan cerita, bukan?

Yang dapat kutangkap hanyalah,
beberapa cerita memiliki makna yang mampu menggelitik dan menumbuhkan pemikiran-pemikiran baru di dalam diriku.
Beberapa cerita tampaknya bermakna, tapi aku masih belum mengerti benar, sehingga sudah pasti akan kubaca beberapa kali lagi sebelum berkomentar.
Beberapa cerita sederhana saja sebenarnya, dan tidak benar-benar memiliki makna spesial tapi cukup menarik.
Beberapa cerita tampak... ermm..
Ya sudahlah, aku percaya setiap cerita memiliki makna. Setiap cerita memiliki pesan tersendiri yang mewakilkan isi hati penulisnya. Jadi, aku tidak mau menyebut sebuah cerita sebagai tidak bermakna.

Beberapa keyword yang kurasa cukup mewakili isi buku ini adalah suku, peperangan, pertumpahan darah, pembunuhan, pemerkosaan,....
Yes, it is that kind of book.

I'm joking.
Ada banyak jenis cerita sebenarnya. Tapi topik-topik di atas cukup sering disinggung dan paling meninggalkan kesan meskipun cerita favoritku dari buku ini tidak berhubungan dengan topik-topik itu.

Yang jelas sekarang aku butuh bleach untuk diminum supaya otakku kembali berfungsi sebelum baca untuk kedua kalinya.

Quote favorite-ku: "Manusia takut pada ulat bulu. Manusia takut pada Tuhan. Ulat bulu adalah Tuhan."

100 out of 100
Best quote ever

I'm joking, dude.
Seperti biasa, terlalu banyak quote indah untuk dikutip dengan 20.000 karakter yang disediakan goodreads. I'll probably pick some later.
Profile Image for Pringadi Abdi.
Author 21 books78 followers
September 10, 2016
http://catatanpringadi.com/metafora-p...

Saya termenung mendengar pernyataan Saut Situmorang setelah keluarnya putusan pengadilan atas kasus yang menimpanya. “Kalau dunia hukum merasa berhak menilai dunia sastra, kenapa dunia sastra tak berhak menilai dunia hukum?”

Tentu implikasi pernyataan ini bukan hanya mengenai keabsurdan kasus yang menimpa beliau—ketika berusaha membela sejarah sastra, menghadapi Fatin Hammama dan Denny Ja. Implikasinya juga menuju persoalan sastra itu sendiri.

Di saat yang sama saya baru berhasil menyelesaikan Metafora Padma, kumpulan cerpen karya Bernard Batubara. Hal yang menarik dari buku ini adalah, seperti paragraf pertama pada cerita pertamanya, adalah persoalan identitas.

Selanjutnya baca di blog ya.
Profile Image for Ray Hamonangan.
Author 1 book17 followers
September 5, 2016
awal2nya bingung antara ngasih nilai 3 atau 4 bintang, apalagi pas di tengah mulai ngebosenin cerpen2nya, begitu masuk 3 / 4 cerpen terakhir, saya memutuskan untuk memberikan 4 bintang, kerasa bener aura gelap nya :')
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
November 13, 2016
Yang paling saya suka dari sebuah kumcer, adalah ketika ada tema utamanya, bukan hanya sekedar koleksi acak atau cerpen yang udah pernah dirilis penulisnya. Metafora Padma sendiri adalah soal konflik identitas. Belakangan ini saya lebih sering baca kumcer, dan teringat dengan tema serupa yg diangkat Lahiri, Sherman Alexei, Junot Diaz, dan Hassan Blasim. Saya kira seorang Bara ikut terinspirasi cerpen luar tadi, yg paling terasa tentu Haruki Murakami. Maaf, mungkin ini snob, tapi memang saya jarang menemukan cerpen Indonesia yg benar-benar memikat saya, dan Metafora Padma seperti cerpen koran pada umumnya, utamanya jumlah kata--sebenarnya ini ga terlalu esensial, dan saya jarang baca koran juga, sih.
Profile Image for raafi.
929 reviews451 followers
August 20, 2016
Aku tahu aku bukan penggemar penulis satu ini; buku ini bahkan karya pertamanya yang selesai kubaca. Entah apa yang merasukiku sehingga antusias pada karyanya yang ini.

Aku membaca dan mulai menikmati pada karangan pertama. Namun terkantuk-kantuk pada judul yang berikutnya. Cerita selanjutnya membuatku begitu terbawa perasaan. Tapi yang selanjutnya lagi membuatku bertanya-tanya, "Kenapa sedari awal aku begitu antusias membaca ini?" Begitu fluktuatif. Begitu tidak menentu.

Harapanku akan cerita yang manis tapi miris sebenarnya terkabul. Namun harapanku untuk merasa puas dan ingin membaca lagi dan lagi buku ini sepertinya masih ditahan oleh Tuhan.

Buku ini bagus, tapi tidak halus.
Profile Image for Ari.
1,040 reviews116 followers
August 31, 2016
Buku tantangan #5

kumpulan cerpen yang kadang satire kadang sinis kadang tragis sering absurd tapi akurat memotret kenyataan sosial saat ini
benang merah dari cerita ini adalah "identity"
Profile Image for Afy Zia.
Author 1 book116 followers
February 3, 2018
Honestly, this could be your kind of one-sitting book. Saya bukan penggemar bacaan kumcer, tapi tulisan Bernard dalam novel ini untuk kali kedua berhasil membuat saya terpukau (ya, ini adalah buku kedua Bernard yang saya baca). Hampir seluruh cerpen-cerpennya unik dan tidak biasa. Seringkali, ada unsur 'gelap' dengan plot twist kecil yang terkadang sedikit membuat saya terperangah di akhir cerpen.

Dari 14 cerpen, saya paling suka yang judulnya "Suatu Sore", "Rumah", dan "Kanibal". Bukan berarti cerpen-cerpen lainnya tidak bagus, hanya saja dua judul yang saya sebutkan barusan paling ngena di hati. Ada keunikan yang sukses membuat saya tersenyum atau melongo ketika membaca. Untuk "Kanibal", saya beberapa kali meringis saat membaca adegan bernuansa gore. Walau sempet terpikir untuk ngeskip cerpen yang satu itu, saya memutuskan untuk baca sampai akhir.

Berhubung saya punya impresi bagus terhadap gaya penulisan Bernard Batubara, sepertinya saya akan membaca buku-bukunya yang lain. Thumbs up for "Metafora Padma"! :)
Profile Image for Nur.
137 reviews
November 23, 2016
WOOOOW~ Aku ngga nyangka, ternyata itu yang dimaksud dengan "Metafora Padma" itu :))) Aku pikir metafora padma dalam buku ini adalah sesuatu yang bukan "itu", ternyata jauh melebihi bayanganku; lebih indah! Aku suka maknanya :)))

Itu baru satu cerpen dari empat belas cerpen yang ada di dalam buku kumpulan cerpen ini. Enam diantaranya merupakan favoritku, dan aku cukup menikmati cerita-cerita yang disuguhkan oleh Kak Bernard lewat buku ini. Sisanya, mungkin karena aku tidak terlalu memahami apa yang ingin disampaikan oleh Kak Bernard; cara berpikirku mungkin masih dangkal, kah? .-.

Enam cerpen favoritku dari kumpulan cerpen "Metafora Padma" ini di antaranya :
1. Perkenalan
2. Hanya Pantai Yang Mengerti
3. Es Krim
4. Metafora Padma
5. Kanibal
6. Solilokui Natalia
*BTW, judulnya keren-keren, ya ngga sih?*

Perkenalan; aku ngga nyangka endingnya ternyata kayak gitu ya. Hanya Pantai Yang Mengerti; aku juga NGGA NYANGKA kata "menyelam" bisa digunakan untuk memaknai "hal itu" YAAAAAAAA :D hahahahahaha >.< Asli ngga nyangka banget, dan aku suka pengandaiannya. Suka sekali sama cerpen ini! Es Krim; filosofi es krim, aku sukaaaaa. Metafora Padma; ah... gara-gara baca cerpen yang ini, aku jadi tahu bahwa Padma adalah nama lain dari *piip* Sungguh sebuah cerpen yang indah, menurutku. Aku sukaaaaaa sekali. Kanibal; HOW CAN? HOW CAN HE- wah gila! Cerpen yang satu ini sukses bikin aku masukin buku ini ke rak "dat-madness", tapi memang begitu sih. Aku sedikit banyak mengamini pernyataan bahwa : sesungguhnya penulis adalah kanibal, memakan dirinya sendiri demi membuat tulisan. Pernyataan ini baru untukku, agak gila juga sih untuk menerimanya, tapi tanpa aku sadari aku juga menyetujui pertanyaan itu. Solilokui Natalia; "aku untuk kamu... kamu untuk aku.... namun semua apa mungkin, iman kita yang berbeda" *ceritanya lagi nyanyi* karena cerpen ini membuatku mengingat lagu itu. Aku suka sekali dengan kata solilokui! Walaupun aku memahami maknanya melalui cerpen ini, tapi aku ingin tahu sekali definisi sebenarnya dari kata "solilokui", aku akan segera mencarinya! Cerpen ini juga begitu personal buatku :')) Aku pernah mengalami perasaan Natalia :')

Ini kumpulan cerpen kedua dari Kak Bernard yang aku baca (sebelumnya aku membaca Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri) dan sepertinya aku jauh lebih menikmati membaca kumpulan cerpen yang ini, "Metafora Padma" :)) Sulit untuk aku jelaskan alasannya kenapa, tapi mungkin karena cerpen "Metafora Padma" itu sendiri yang terlalu keren sehingga aku terus menerus mengingat kata "Padma" sesudahnya :)))

Aku suka kumpulan cerpen ini! :)
Profile Image for Tenni Purwanti.
Author 5 books36 followers
September 11, 2016
Ada logika yang janggal di cerpen "Kanibal". Kanibal menurut KBBI adalah orang yang suka makan daging manusia. Tapi di cerpen yang ditulis Bernard ini, tokoh utama tidak memakan manusia. Ia hanya menggigit tubuhnya sendiri dengan giginya yang sudah dikikir. Bukankah setelah itu potongan tubuhnya akan lumer menjadi kata-kata di kertas kosong? Bernard tak menulis sama sekali kalau anggota tubuh itu akhirnya dimakan oleh tokoh utama. Lalu, di ending cerpen, tokoh utama berdiri di cermin di kamar mandi. Bagaimana bisa berdiri kalau kakinya tinggal lutut dan paha?

Di cerpen "Rumah", paragraf pertama sangat boros kalimat. Pengulangan kata delapan belas tahun (yang bisa ditulis dengan 18 tahun), juga penjelasan usia yang sudah 29 tahun, diperjelas dengan kini ia telah dewasa, membuat kalimat-kalimat di paragraf pertama terasa bolak-balik dan berulang. Tidak efektif.

Lalu untuk cerpen terakhir, "Solilokui Natalia". Menurut KBBI, Solilokui atau senandika/se·nan·di·ka/ adalah wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar.
Judulnya Solilokui Natalia, tapi sudut pandang orang pertamanya adalah Alkitab yang mengalami personifikasi. Alkitab itu bahkan sampai akhir cerita hanya bisa mengira-ngira apa yang membuat Natalia ingin membaca aku (Sang Alkitab). Jika mau ceritanya seperti itu, judulnya sebaiknya diganti, jangan pakai kata Solilokui karena cerita di cerpen ini tidak memberi informasi apa pun tentang perasaan, firasat, atau konflik batin yang paling dalam dari Natalia. Sang Alkitab hanya mengira-ngira dan tidak bisa menemukan jawaban yang tepat!
Jika ingin tetap pakai judul Solilokui, sebaiknya sudut pandangnya dari Natalia saja.

CMIIW
Profile Image for Fitrianita.
25 reviews35 followers
September 9, 2016
Aura gelapnya begitu pekat. Mencekam. Bara semakin dewasa.
Profile Image for fayza R.
227 reviews56 followers
January 6, 2017
suka 2 cerpen awal dan 3 cerpen akhir.
Favoritnya : Kanibal (eh, maso kah ?) hwhwhw
3 reviews
July 15, 2018
Ini kumpulan cerpen yang membingungkan kita harus benar-benar berpikir untuk menerjemahkan maksud yang diceritakan oleh tiap cerpennya. Hampir semua isi cerpen ini tentang kekerasan antar suku, antar manusia, antar agama
Profile Image for Tutut Laraswati.
16 reviews
Read
October 6, 2016
Saya membaca karya Bara sejak tahun lalu dan rajin membandingkan mana yang paling bagus. Sebelum buku ini terbit, saya punya kesimpulan bahwa Bara lebih bagus menulis cerpen daripada novel. Dalam Metafora Padma, saya menemukan kedewasaan Bara dalam menulis. Persoalan yang dia angkat kini sudah demikian kompleks, termasuk soal perang etnis yang terjadi belasan tahun silam. Bara juga mulai berani menulis dengan aliran surealis di beberapa cerpennya.
Dan bagi saya, ini adalah masterpiece dari Bara dan saya menunggu Bara menulis novel sekualitas Metafora Padma ;)
Profile Image for Wawan.
69 reviews6 followers
October 17, 2016
...

Metafora Padma menampilkan 14 cerita pendek seukuran koran yang beberapa di antara telah diterbitkan di koran tempo dan satu di antaranya adalah penggalan novel. Banyak dari cerpen ini yang bersentuhan dengan insiden-insiden kekerasan yang terjadi di Indonesia, mulai yang berupa tawuran antara pelajar, pertikaian antar suku, maupun ketegangan antar pemeluk agama berbeda. Tapi ada juga cerpen-cerpen yang berpusar pada kekerasan antar individual karena penyebab yang bisa dibilang personal, seperti misalnya kecemburuan. Ada juga satu cerpen yang tema kekerasannya berpusar pada sikap ekstrim yang sangat berpotensi muncul dari budaya yang patriarkal.

Persentuhannya dengan kejadian-kejadian besar ini menjadikan cerpen-cerpen Bernard Batubara ini cocok tampil di surat kabar. Cerpen-cerpen ini tidak perlu menunjuk nama tokoh-tokoh politik, calon presiden, lokasi pasti, dan sebagainya, seolah-olah dia membawa asumsi bahwa pembaca sudah bisa dengan mudah menghubungkannya dengan kenyataan, atau setidaknya kenyataan yang diberitakan di koran. Cerpen-cerpen ini menjadi versi lain dari berita-berita yang muncul dan hilang di halaman-halaman koran kita.

Yang membedakan antara cerpen-cerpen ini dengan berita--selain hal-hal yang sifatnya elementer--adalah mungkin sudut pandang yang diambil cerpen-cerpen tersebut, atau narator yang ada di dalamnya. Sebagai misal, dalam cerpen "Hanya Pantai yang Mengerti," yang menceritakan tentang seorang lelaki yang dibunuh oleh suami dari perempuan yang menjalin hubungan dengannya, kita melihat hubungan asmara antara seorang wanita yang merasa tidak dicintai lelakinya dan betapa dia kemudian sedih ketika kekasih yang justri dicintainya ternyata dibunuh oleh orang suruhan suaminya. Saya bisa membayangkan bahwa surat kabar mungkin akan memberitakan tentang bagaimana seorang suami yang ingin menjaga kehormatannya akhirnya menyuruh orang membunuh selingkuhan istrinya.

Satu kecenderungan yang tampak dari beberapa cerpen Bernard Batubara dalam menceritakan kekerasan sosial adalah keberjarakan antara tokoh-tokoh yang disoroti dengan asal muasal kejadian kekerasan itu. Kita ambil saja contoh cerpen pertama, "Perkenalan," tokoh yang menceritakan kejadian kekerasan itu sendiri seperti tidak bisa memahami kenapa terjadi perang suku. Begitu juga di cerpen "Demarkasi," anak-anak kecil tidak tahu pasti apa yang terjadi, yang mereka tahu adalah ada mayat-mayat bergelimpangan. Dengan agak berbeda tapi tetap senada, ada juga cerpen "Sepenggal Dongeng Bulan Merah" (yang merupakan penggalan novel), yang berisi roh para korban kekerasan suku yang berbahagia dan damai di alam lain setelah kehidupan--betapa berjaraknya dengan kenyataan bunuh-bunuhan yang terjadi!

Mungkin, sekadar mungkin, hal ini berhubungan dengan asumsi bahwa kejahatan antar suku itu sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari peran "dalang." Di cerpen "Sepenggal Dongeng Bulan Merah," narator menceritakan kepada kita tentang adanya "Sang Penghasut," yaitu kelompok yang menyulut, membakar, dan mengobarkan kebencian antar suku. Apakah karena peran dalang ini maka tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen ini memiliki kecenderungan kenapa kekerasan itu terjadi kepada mereka.

...
Profile Image for Alien.
254 reviews31 followers
April 4, 2017
Setelah membaca dua cerpen pertama, saya merasa bingung: kok kedua cerpen pertama tersebut tidak meninggalkan kesan apa-apa ya? Datar saja begitu. Lalu saya sabarkan diri dan lanjutkan baca. Hasilnya? Ya tiga bintang cukup lah.

Menariknya, hal yang paling saya sukai dari buku ini malah ilustrasi-ilustrasinya, bukan cerita-ceritanya.
Sebenarnya ingin memberi 2,5 bintang, tapi...
Profile Image for Bintang Ach.
94 reviews
September 18, 2016
TIGA BINTANG untuk TIGA ALASAN mengapa aku selalu menyukai tulisan Bernard Batubara:

1. Cara penyampaian cerita yang dihiasi oleh diksi-diksi yang indah, juga pemilihan objek sebagai narator (penyampai cerita) yang tak biasa.

2. Gaya bahasa seperti air mengalir, membuat kita hanyut dalam setiap kisah yang dituturkan.

3. Pesan yang coba disampaikan, baik itu tersurat mau pun tersirat. Yang tidak berubah dari dulu adalah, selalu ada beberapa perkara yang coba aku renungi setelah membaca buku, terlebih cerpen dari Bernard Batubara.

Dan jika aku boleh membuat satu pengakuan--mungkin terdengar mustahil bagi kalian, bahkan untuk telingaku sendiri--aku ingin berguru menulis dengannya.

Yah, bagai cebol ingin menggapai bulan ya?
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
Read
September 20, 2016
Ketika membuka halaman awal buku ini dan melihat Bara menuliskan bahwa buku ini dipersembahkan untuk masa kecilnya, saya semacam dejavu pernah membaca kicauan Bara di twitter tentang ia yang akan membuat kisah seputar masa kecilnya. Mungkinkah buku ini yang dimaksud itu? Well kalau begitu, mungkin saya harus banting setir mengubah persepsi tentang buku ini. Ya benar, ini bukan kisah romansa biasa, bukan novel melainkan kumpulan cerita berbeda, yang mungkin beberapa di antaranya diilhami oleh masa kecil Bara.

Metafora Padma adalah sebuah kumpulan cerita, tediri atas empat belas kisah yang memiliki kekuatan serta pesonanya masing-masing. Bercerita tentang konflik sosial yang tengah ramai diperbincangkan kembali di masyarakat, kisah perseteruan antarsuku yang selalu saja bisa memantik kekisruhan lebih besar seolah menyimpan bara yang bisa dimuntahkan hanya dengan satu jentikan api. Satu hal yang menjadi benang merah pada keseluruhan cerita ini adalah: friksi.

Saya mengutip penjelasan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang friksi:

friksi/frik·si/ n 1. pergeseran yang menimbulkan perbedaan pendapat; 2. perpecahan

Mengapa saya mendapatkan hubungan antarcerita di buku ini melalui kata "friksi" alih-alih "Padma" seperti judul buku ini? Karena di sini, penulis dengan berani mengangkat tema yang "berat", namun disajikan dalam bentuk kumpulan cerita yang dengan mudah dapat dilahap dalam hitungan jam namun memberikan bekas berupa kesan yang mendalam. Setidaknya itulah yang saya rasakan setelah membaca buku ini.

Selengkapnya di sini >> http://resensibukunisa.blogspot.co.id...
Profile Image for Maya Saputra.
Author 2 books2 followers
September 24, 2016
Pertama-tama, saya ingin bilang sesuatu kepada Bara: "terharuuuu Bara akhirnya menulis cerita-cerita seperti ini!"

Walaupun saya tidak membaca karya Bara sejak awal karir kepenulisannya, saya merasa bahwa Metafora Padma adalah sebuah babak baru bagi penulisnya. Buku kumcer ini mampu menampilkan pemikiran Bara yang tampaknya semakin dewasa dan kritis.

Kumcer ini bernuansa gelap dengan menyajikan tema kerusuhan dan pergolakan sosial serta pertanyaan mengenai pencarian identitas spiritual. Bagi para pembaca yang berharap akan menemukan kisah cinta bernuansa merah jambu yang lembut, kalian tidak akan menemukannya disini sebab cinta yang hadir adalah cinta berwarna merah tua yang perlahan berubah gelap, seperti warna darah yang mulai mengering.

Tidak semua cerpen dalam antologi ini memiliki kekuatan yang sama walaupun secara rata-rata, saya menikmatinya. Cerita favorit saya adalah "Gelembung" (unik dan sureal), "Hanya Pantai Yang Mengerti" (tragically ended passionate love), "Suatu Sore" (cerita paling 'aneh' namun penuh makna) dan "Kanibal" (saya bisa berempati dengan tindakan si tokoh utama).

Tak lupa juga setiap cerpen dihiasi oleh ilustrasi karya penyanyi Egha Latoya yang rupanya juga mahir menulis. Saya suka sekali dengan hasil karya Egha! Sedangkan ilustrasi sampul dikerjakan oleh novelis Eka Kurniawan. Terkadang, beberapa individu memang 'keterlaluan' bakat seninya :)

Oh, saya juga menyukai fakta bahwa nama tokoh-tokoh di dalam kumcer ini hanya satu kata atau tidak bernama sama sekali. Terasa lebih ringan bagi kerja otak :p
Profile Image for Usup Supriyadi.
4 reviews3 followers
September 7, 2016
Mungkinkah “Hanya Pantai yang Mengerti”? “Alasan” seorang aku—yang adalah kita itu—menjadi “Kanibal”? Metafora Padma, pada aktualnya bukanlah sepenggal dongeng pada “Suatu Sore”, aromanya kental pada pagi hari, menyengat pada siang hari, menjelma mimpi pada malam hari, yang semuanya—mau tidak mau—kita lalui sepanjang hidup di bawah langit yang kadang melemparkan hujan salju dan darah ke atas kolam lotus, maka masihkah “…bunga teratai tidak tersentuh oleh air(?).” (Bhagavad Gita 5:10). Jika sekilas setiap fragmen kejadiannya membentuk sorot balik atas pembunuhan, justru di balik itu ada upaya proses ‘penghidupan kembali’ apa yang dianggap asing dan sudah mati. Sama halnya dengan salah satu cerpennya dalam antologi Singgah, Bernard Batubara pun menyajikan sketsa, kronologi sebuah ajal, tetapi ada hal yang lebih penting dari yang pasti itu, yakni yang mudah ruat pada yang hidup.

Buku ini—tidak hanya salah satu cerpennya—benar-benar saya rampungkan dalam sekali duduk. Namun begitu, kesannya tidak usai-usai. Review lengkap bisa dilihat di http://merindupagi.blogspot.co.id/201...

Terima kasih
Profile Image for Mutiara.
118 reviews5 followers
January 4, 2018
Jadi pertama kali aku baca buku ini, aku kira ini novel (padahal udah ada tulisan 'kumcer' di bagian sampul, tapi aku tidak aware hahaha). Secara keseluruhan, ini menarik dan membuat aku ingin baca lagi dan lagi. Aku sendiri baru pertama kali membaca karya Mas Bernard. Ini yang pertama. Kalau secara umum, buku karya Mas Bernard ini menggunakan metafora untuk menyampaikan maksud dari cerita tersebut. Metafora yang digunakan Mas Bernard ini sopan, tidak terlalu liar, namun mengena.
Aku suka sekali dengan salah satu judul yang menceritakan bahwa, seseorang harus memakan dirinya sendiri untuk menjadi penulis yang baik. Tokoh utama dalam cerita itu kemudian memakan seluruh jemari dan tangannya sampai siku. Belum cukup sampai situ, dia juga memakan kakinya dan setelah itu dia menjadi terkenal. Ada banyak cerita juga yang sederhana, dengan bahasa yang unik membuatnya lebih mengena.
Tiga bintang, karena sebetulnya cerita yang dikemas dengan baik ini belum mempunyai konflik dan alur yang "wow". Jadi, setelah selesai membaca cerita ini, aku cuma berpikir "bagus," kemudian langsung move on nyari buku baru untuk dibaca.
Profile Image for Afada Alhaque.
74 reviews1 follower
October 27, 2017
Nilai yg sebenarnya ingin saya berikan adalah diantara 2, dan 3. Tapi persisnya saya masih bingung berapa, 2.2? 2.8?

Buku pertama Bernard yang saya baca adalah Luka Dalam Bara, dan saya suka sekali. Itu juga KurCer, tentang cinta, namun puitis dan tidak gampang dan tidak murahan menurut saya. Apik.

Begitu pula dengan beberapa cerpen bertemakan cinta dalam buku Metafora Padma ini. Manis. Sepertinya saya cocok dengan gaya Bara jika temanya cinta.

Namun banyak cerpen lain dalam buku ini bertemakan perang antar suku, agak politis. Entah karena saya yang memang kurang sesuai dengan tema seperti itu, atau karena memang penulisan Bara yang kurang apik. Membosankan menurut saya. Kosa katanya minim.
Garis besar dan latar belakang tokohnya mirip-mirip. Selama membacanya beberapa kali saya sampai mengernyitkan dahi.

Tapi saya acungi jempol untuk pemilihan judul pada masing-masing cerpen. Judulnya cantik dan terkesan orisinil.

Meskipun akhirnya rating yg saya berikan kecil, namun tidak memadamkan niat untuk membaca beberapa buku Bara yg lain 😊👍🏻
Profile Image for Lailaturrahmi.
154 reviews18 followers
September 2, 2016
Buku pertama yang saya baca pada bulan ini, sekaligus karya Bernard Batubara yang pertama saya baca.

Hmm... apa ya? Rasanya seperti melihat dunia dengan kacamata lain, di saat saya tahu bahwa kacamata itu tidak cocok dengan saya atau saya yang tidak terbiasa dengan kacamata itu. Dengan kacamata itu, yang sesekali membuat pandangan seakan berputar, saya melihat sisi lain dunia yang dibanjiri darah dan kegelapan. Tidak ada sensor, tidak ada filter. Hampir semuanya diceritakan secara gamblang. Dibilang gamblang, tidak juga, karena seperti judulnya, cerita-cerita dalam buku ini mengandung perumpamaan, yang tafsirannya bisa berbeda bagi masing-masing orang.

Favorit saya adalah Kanibal, Metafora Padma, dan, mungkin ... Solilokui Natalia.

(ini tidak cukup, omong-omong. saya butuh waktu untuk menuliskan ulasan yang lebih lengkap.)
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
September 9, 2016
Seingat saya, konflik horizontal antara Dayak-Madura menebar teror di kelas semasa saya kelas 2 SMA. Waktu itu dengan HP yang tidak secanggih sekarang juga tak semua punya gawai cangih-canggih, hingga satu layak dikerubuti rame-rame. Ingatan akan kengerian itu mengendap, bahkan oleh saya yang tidak dekat dengan peristiwa itu. Bara sebagai anak Kalimantan asli, sangat mungkin mengalami kenangan yang jauh lebih buruk daripada saya. Dan Metafora Padma ini menjadi bukti bahwa konflik horizontal menjadi kenangan mencekam.

Cerpen favorit saya tetap Demarkasi dan metafora apik saya temukan soal penyelam yang gemar berganti-ganti palung..... ini pengibaratan baru yang segar soal kesetiaan.
Profile Image for Fikri Angga  Reksa.
21 reviews
August 29, 2016
Ide cerita tentang konflik antaretnis Dayak dan Madura di Kalimantan Barat pada 1997. Antologi ini merupakan ingatan masa kecil penulis yang mencekam. Tentang rumah yang dibakar, suara tembakan, ketakutan, korban, dan kepala yang dipenggal. Pada akhirnya buku ini menitipkan pesan tentang, masihkah perbedaan dipermasalahkan?
Profile Image for Putra Marenda.
Author 1 book1 follower
November 2, 2016
Saya puas dengan buku ini. buku ini pas sekali bagi kalian yg ingin suasana baru karena terlalu banyak membaca novel tema cinta. Buku ini menunjukan hal yg berbeda. aura kelam, gelap dan ngeri terlihat nyata dibuku ini. dan yg saya puaskan ialah satu, buku ini diam tapi bisa2 nya ngasih imajinasi begitu besarnya.
1 review
January 6, 2017
kumcer Metafora Padma merupakan karya kelima dari Benz yang sudah saya baca. Bagaimana Benz menggambarkan kilasan-kilasan kejadian pada waktu lampau mampu membuat saya bernostalgia. seperti pada kumcer sebelumnya, pembaca akan diajak untuk menikmati sekaligus berpikir makna dibalik setiap cerita yang disuguhkan.
Profile Image for Ryan.
Author 2 books17 followers
May 28, 2017
Buku kumpulan cerpen ini terasa lebih 'Bara' ketimbang novel-novel dia yang terbit sebelumnya. Meski ngga melulu kisah cinta tapi cerpen di sini terasa sangat bagus dan dalam. Favoritku: Hanya Pantai yang Mengerti, juga Solilokui Natalia. Entahlah, Bara justru lebih terasa total dalam menggarap cerita-cerita di sini ketimbang novel-novelnya itu.

Well done!
Displaying 1 - 30 of 67 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.