Jump to ratings and reviews
Rate this book

Markesot #1

Markesot Bertutur

Rate this book
Markesot adalah sosok lugu nan cerdas, mbeling, terkadang misterius. Dalam kesehariannya dengan sahabat-sahabatnya, Markembloh, Markasan, Markemon, dan lain-lain yang tergabung dalam Konsorsium Para Mbambung (KPMb), Markesot memperbincangkan seabrek problem masyarakat kita. Dari konflik politik internasional sampai soal celana. Dari tasawuf hingga filosofi urap. Dalam gaya bertutur khas Jawa Timuran yang penuh canda dan sindiran, Markesot mengajak kita meneropong kehidupan secara arif dan menemukan hakikat di balik nilai-nilai semu yang merajalela.

Markesot Bertutur adalah salah satu karya emas dalam perjalanan kepengarangan Emha Ainun Nadjib. Setelah lama "absen", buku ini hadir kembali menyapa pembaca. Dan terbukti, apa yang diperbincangkannya masih terus relevan dengan kondisi Indonesia.

379 pages, Paperback

First published January 1, 1993

93 people are currently reading
760 people want to read

About the author

Emha Ainun Nadjib

93 books484 followers
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
203 (43%)
4 stars
162 (34%)
3 stars
83 (17%)
2 stars
14 (2%)
1 star
7 (1%)
Displaying 1 - 30 of 32 reviews
Profile Image for Andityas Praba.
Author 6 books10 followers
December 11, 2012
tulisanku di mizan.com dan caknun.com

Markesot Bertutur di Dua Zaman

Jika diminta berbicara tentang “sejarah” Markesot, jujur saja sebenarnya saya bukan orang yang tepat. Maklumlah, pada saat “kelahiran” Markesot, saya masih duduk di bangku SMP. Belum ngeh dan mengenal Cak Nun dan Markesot. Maka, saya akan lebih banyak bertutur tentang perjumpaan pribadi dengan Markesot, plus cerita-cerita yang saya dengar dari para senior mengenai sejarah Markesot (dan buku-buku Cak Nun lainnya) dan Mizan. Kemudian, saya akan lebih berfokus pada masa kini dan (kemungkinan) masa depan Markesot, ketimbang berkutat pada masa lalu.
Saya dan Markesot

Seperti yang sudah disebutkan, pertama kali buku Markesot terbit (1993), saya masih SMP. Wajar kalau Cak Nun dan Markesot belum masuk perhatian saya. Seingat saya, perjumpaan pertama dengan Markesot adalah di tahap-tahap akhir masa SMA. Saya tidak ingat bagaimana persisnya proses perkenalan itu. Tapi sepertinya bersamaan dengan mulai tumbuhnya minat saya pada sastra, sehingga Cak Nun, terutama puisi-puisinya, mulai tertangkap radar saya.

Pertama kali membaca, jujur saja mungkin hanya 50% atau bahkan 40% isinya yang bisa saya serap. Banyak pemikiran, istilah, konteks yang maqam-nya di luar jangkauan saya yang masih berpikiran SMA zaman Orde Baru. Tapi, dari hanya 40-50% yang terserap itu, tetap saya temukan pesona Markesot. Yang pertama nyangkut tentulah candaan-candaan dan pengalaman unik yang dituturkan secara ndagel khas Jawa Timuran. Tapi lebih dari itu, bagi saya, Markesot mampu mengajak kita memandang realitas, bukan sekadar menerima dan mengikuti. Pun memandangnya sering dari sudut yang tak kita sangka-sangka. Eksplorasinya sungguh gila-gilaan, baik dari segi bahasa maupun pemikiran. Pokoknya akrobatis. Efeknya cukup fantastis terhadap saya, anak SMA yang sedang gandrung Saint Seiya, Tiger Wong, dan Kungfu Boy.

Kalau tak salah ingat, buku Markesot adalah juga salah satu dari buku Mizan pertama yang saya baca.

Tak terlintas sedikit pun di benak saya ketika itu, bagai ditarik pusaran misterius, saya akan dipertemukan dengan Mizan, Markesot, dan Cak Nun, belasan tahun kemudian…
Mizan dan Markesot

Setelah saya bergabung ke dalam keluarga Mizan, barulah saya mulai memahami femonena Markesot secara lebih utuh. Sebagai the next generation di Mizan, saya mendengar “legenda” Markesot disebut-sebut para senior saya, generasi salaf Mizan.

Buku-buku Emha boleh dibilang menjadi tonggak atau tanda tahap baru dalam sejarah Mizan. Pada awalnya, Mizan mengkhususkan diri menerbitkan buku-buku pemikiran Islam yang bercorak akademis — kebanyakan terjemahan. Dengan terbitnya buku Emha — tepatnya yang pertama adalah Dari Pojok Sejarah, tahun 1985 — Mizan mulai memasuki ranah sosial-budaya yang lebih membumi di Indonesia.

Dan juga sekaligus tanda Mizan mulai memasuki sikap kritis. Mungkin susah dibayangkan pembaca sekarang, generasi era kebebasan informasi, tapi tulisan Cak Nun pada zaman Orde Baru tergolong sangat berani. Soal keberanian ini menyimpan sebuah cerita menarik dalam sejarah Mizan. Ketika akan menerbitkan sebuah buku Cak Nun, Mizan sempat menemukan kesulitan menyettingnya. Kenapa? Pada saat itu, setting buku belum menggunakan komputer, masih manual menggunakan mesin setting. Mizan belum punya alat itu, sehingga setiap kali mau menerbitkan buku harus mengorder ke jasa setting. Nah, para setter yang membaca naskah Emha, langsung keder, tidak berani, dan mengembalikan naskahnya ke Mizan. Berpindah-pindah, berkeliling ke semua jasa setting yang ada di Bandung, hasilnya sama. Tidak ada yang berani. Akhirnya Mizan memutuskan membeli mesin setting sendiri. Demi menerbitkan buku Emha.

Tapi toh keberanian itu berbuah manis. Alkisah, seorang kepala toko di Jakarta memasang spanduk besar mengiklankan Markesot Bertutur, sangat besar sampai-sampai menutupi seluruh muka toko, termasuk papan nama toko itu. Perbuatan nekad, karena sebelumnya tidak ada yang seberani itu. Alhasil, dia dipanggil atasannya. Bukan untuk dimarahi atau diberi sanksi, tapi dipromosikan. Karena penjualan Markesot terbilang fenomenal saat itu.
Masa Kini Markesot

Tahun 1993. Sekarang 2012. Nyaris genap 20 tahun usia Markesot. Tentu banyak hal yang sudah berubah. Apakah Markesot masih relevan? Masihkah bukunya layak diterbitkan ulang?

Yang jelas, banyak orang merindukan Markesot. Berkali-kali saya bertemu orang yang menanyakan apakah bisa membeli buku Markesot. Mizan pun termasuk yang merindukan sosok seperti Markesot. Dulu, gelanggang kepenulisan di Indonesia dipenuhi esais-esais ulung. Rasanya, kini ada kelowongan sosok esais tanguh di Indonesia, terutama yang mampu memberikan tafsiran-tafsiran sosial-budaya yang mencerahkan sambil disuguhkan secara komunikatif. Maka, selain sebagai obat kerinduan, hadirnya kembali markesot ini semoga bisa memancing tampilnya Markesot-Markesot baru.

Tentang pertanyaan relevansi Markesot pada masa kini, saya menemukan jawabannya saat mempersiapkan penerbitan ulang bukunya. Mau tidak mau saya pun membaca ulang Markesot, karena terlibat dalam proses pengecekan ulang. Dan dengan otak saya yang sekarang, mungkin 80-90% yang bisa saya tangkap.

Anehnya, meski usianya nyaris 20 tahun, buku ini kok rasanya begitu pas membidik permasalahan-permasalahan zaman sekarang. Meski tentu ada perbedaan konteks dan perubahan situasi, dalam beberapa hal hakikat permasalahannya tetap sama. Dulu yang dibahas masalah Perang Teluk, ternyata sampai sekarang Amerika tetap ugal-ugalan di sana, malah merembet ke Afghanistan dan terus-terusan ngincer Iran. Mentalitas pejabat maupun masyarakat Indonesia yang disindir Markesot juga relatif masih sama. Artinya, ada kemungkinan bahwa meskipun Markesot lahir di suatu kurun waktu dan bereaksi pada konteks situasi tertentu, pertanyaan dan jawabannya sesungguhnya membidik suatu tema yang abadi. Atau, kemungkinan yang lebih memprihatinkan, sebenarnya kita, Indonesia, pada level hakiki belum banyak berubah selama 20 tahun ini….
Masa Depan Markesot

Kita tentu sepakat, nostalgia tidak cukup. Lebih penting lagi adalah memandang masa depan. Sejarah penting. Melestarikan dan mewariskan itu penting. Tapi, mengutip salah seorang guru saya, melestarikan dan mewariskan itu jalan di tempat. Kita perlu berjalan maju. Dan jalan itu adalah pengembangan.

Oleh karena itu, setiap kali Mizan menerbitkan ulang karya lama, perhatian utamanya bukan untuk mengenang. Tetapi untuk membuka zaman baru. Dengan terus hadirnya karya lama yang penting, rantai pemikiran masyarakat tidak terputus. Maka, harapan terbesar Mizan dengan kembalinya Markesot, selain menjumpai pembaca-pembaca lamanya, adalah tumbuhnya generasi baru pembaca Markesot. Dan dari generasi baru ini akan tumbuh Markesot-Markesot baru, atau bahkan yang melebihi Markesot.

Kehadiran kembali Markesot di zaman yang berbeda ini menggelitik rasa ingin tahu kita juga. Bagaimanapun, ada perbedaan-perbedaan signifikan dibanding masa kelahiran Markesot. Bagaimana sikap Markesot pada era kebebasan informasi, bukannya era pembatasan segala hal? Bagaimana sikap Markesot terhadap era IT? Apakah Markesot juga akan facebookan, twitteran, BBMan? Dan masih banyak lagi kemungkinan yang membuka peluang untuk eksperimen-eksperimen menarik.

Tentu, masa depan Markesot tidak mesti berwujud Markesot. Generasi baru pembacanya bisa saja menyerap “kode genetik”-nya dan menciptakan tokoh baru. Bagi saya, Markesot memiliki kesamaan gen dengan tokoh-tokoh semacam Nasrudin Hoja, Abu Nawas, Si Kabayan, Pak Lebai Malang, atau termasuk mungkin punakawan. Tokoh-tokoh jester, tokoh-tokoh folklore yang seolah konyol tapi sebenarnya memberi kritik-kritik sosial dan terhadap cara berpikir kita. Mereka adalah tokoh-tokoh immortal, abadi. Setiap generasi baru membuat interpretasi baru dan cerita-cerita baru berdasarkan karakter-karakter itu. Markesot pun berpeluang menjadi immortal, baik tetap dengan nama Markesot maupun dalam penitisan-penitisan baru. Markesot bisa jadi akan berusia lebih panjang dari kita semua….

Bandung, 4 November 2012
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
December 29, 2012
Artikel dalam Markesot Bertutur ini hadir rutin seminggu sekali dan dimuat di harian Surabaya Post dari tanggal 26 Februari 1989 hingga 1 Januari 1992. Markesot Bertutur menangkap fenomena kehidupan sosial kemasyarakatan yang terjadi saat itu. Misal saja, pembangunan waduk, hingga persoalan sosial lainnya seperti SDSB dan korupsi yang selalu jadi lagu lama.

Markesot tidak hanya bertutur soal urusan dalam negeri saja. Urusan konstelasi politik di luar negeri turut menjadi sorotannya. Pembaca bisa ‘menikmati’ celoteh Markesot seputar persoalan Perang Teluk, George Bush, Saddam Hussein, hingga hubungan antara Kuwait dengan Irak. Dibagi ke dalam delapan bab, tuturan Markesot ini disusun sesuai konteks tertentu sejalan dengan bahan perbincangan yang menyorot berbagai problematika bangsa yang belum terpecahkan.

Dalam buku ini dapat dijumpai beberapa judul aneh, maksudnya diluar kelaziman. Namun justru itulah yang kemudian menjadi ciri khas guyonan ala Markesot serta memperkuat karakter Markesot, seperti:
Man Rabbuka: Mercy, Rabbi (tulisan ini mengingatkan saya pada cerpen ‘Man Rabbuka’ karya AA Navis)
Pangeran Samber Proyek
Korupsi Struktural
Undang-Undang Tidak Sama dengan Firman Tuhan
Ilmu Tangan Kosong, Ilmu Kantong Bolong
Diana yang Priayi, Charles yang Njawani

Markesot tidak selalu membahas hal-hal yang ‘berat’ saja. Sebagai lelaki ia juga tidak jarang membahas hal-hal yang berhubungan dengan sifat laki-laki. Seperti dicontohkan dalam potongan berikut:
“Makin malam biasanya mereka makin cantik. Terutama pada jam-jam mereka akan pulang, wah, cantiknya bukan main. Pokoknya ketika perempuan akan pergi dari kita, jadi cantik. Juga cantik tidaknya wanita itu tergantung situasi batin kita. Kalau pas gairah berumah tangga menggebu-gebu, memancar kecantikan kaum wanita. Apalagi pas punya uang lebihan yang kira-kira bisa untuk nonton, rasanya mereka cantik-cantik bukan main. Tapi anehnya, kalau sudah beberapa kali diajak nonton, cantiknya berkurang. Kalau sudah lama tidak diajak, kok cantik lagi...” hal. 80

Pada lain waktu, ketika sedang sangat serius merenungi sesuatu yang diluar jangkauan kemampuannya, Markesot pun piawai dalam menempatkan filsafat mbambung yang melingkupinya.
"Orang berhak hidup dengan pandangannya sendiri sepanjang dia sanggup menjaga jarak, tenggang rasa, dan toleran terhadap pandangan lain di sekitarnya. Kamu boleh beranggapan bahwa hidup ini tidak ada manfaatnya sehingga mati itu lebih baik. Akan tetapi, kamu mulai bersalah jika pendapatmu itu kamu paksakan umpamanya dengan cara membunuhi orang lain." Hal. 94

Markesot pun mampu mendeteksi dan membuat sebuah sintesis atas permasalahan korupsi yang tidak pernah selesai hingga saat ini ia dilahirkan kembali.
"Jadi ada tiga macam pendorong korupsi: keterpaksaan, hukum korupsi struktural, serta hedonisme, yakni keinginan untuk bermewah-mewah. Di Indonesia ini, ada ketimpangan yang sangat njomplang antara perolehan ekonomi normal dan iming-iming hidup mewah." Hal. 162


Menemukan kembali nilai-nilai kehidupan melalui sekumpulan tulisan tidak jarang kembali mengasah rasa. Mengasah kepekaan jiwa untuk istiroh sejenak, menata hati dan kembali menjiwai makna-makna illahiyah dalam setiap hikmah. Begitulah, Markesot Bertutur hadir kembali dalam wujud tata rupa yang baru ini.

Markesot Bertutur kaya akan nilai-nilai kehidupan sosial kemasyarakatan. Nilai-nilai itu adalah fondasi yang kuat bagi siapa saja yang mau memaknainya sebagai suatu ikhtiar menuju kesalehan sosial. Relevansi konteksnya dengan keadaan saat ini juga lantas menjadikan The Tale of Markesot ini panduan untuk kita dalam menata kembali konstruksi kehidupan sosial kemasyarakatan kita.

Walau tanpa disertai keterangan waktu dari setiap artikelnya, dengan delapan bab yang disajikan, Markesot Bertutur tetap menunjukkan relevansinya dengan konteks keadaan kekinian. Memang disayangkan, karena dengan keterangan waktu tersebut pembaca dapat lebih mudah menyesuaikan frame of reference dan field of experience mereka dengan konteks waktu saat artikel itu ditulis sehingga lebih mudah untuk melakukan pemaknaan kontekstual terhadap artikel-artikel Emha. Namun, hal itu tidak lantas menjadi cacat Markesot Bertutur. Penyusunan artikel dalam delapan bab dan korelasinya dengan subjek tertentu yang tertata dengan sistematis tetap menjamin kontekstualitas antar teks.


Penerbitan kembali Markesot Bertutur ini disambut dengan diskusi Markesotan yang digelar di Pendopo Kadipiro Yogyakarta pada 5 November 2012. Diskusi ini menampilkan Emha Ainun Nadjib sebagai penulis buku, Kuskridho Ambardi (Dosen Fisipol UGM) dan Andityas Prabantoro (Chief Editor Penerbit Mizan) dan diskusi dipandu oleh Toto Rahardjo (Progress).

Hadirnya Markesot Bertutur pada tahun 2012 ini untuk menyapa kembali para pembaca, karena obrolan Markesot dan kawan-kawan Konsorsium Para Mbambung (KPMb) ternyata tetap memiliki relevansi dengan berbagai peristiwa kekinian di negeri ini.

Pharmindo, 29 Desember 2012.
Profile Image for Aditya Putra.
3 reviews
September 5, 2013
kayak buku yg update padahal jadul, enggak salah kan indonesia dulu=sekarang, jadi mananya yang maju?
Profile Image for Andika  Abdul Basith.
66 reviews12 followers
February 9, 2013
Markesot Bertutur adalah salah satu dari sekian buku terbitan lama yang masih cukup relevan dengan keadaan sekarang.
Gaya penulisan Cak Nun yang mengalir menjadi nilai tambah dari buku ini. Dengan sederhana tapi mendalam, tokoh markesot mengajak kita merenung dan memikirkan berbagai masalah yang terjadi di negeri ini.
Pada bab-bab awal, saya merasa ini buku "gue banget!" saya kutip sedikit:
" anak-anak muda yang polos itu beramai-ramai menyanyikan lagu patriotik. Kemudian, berjamaah shalat Jumat dengan menunjuk salah seorang dari mereka... Entah siapa yang membisiki, tiba-tiba anak muda yang saling berentang tangan itu dibentak, dihardik, dipukul, dan diseret dilemparkan naik ke kendaraan untuk diamankan."
dari cuplikan di atas, kita lihat bahwa kasus seperti ini masih sering terjadi. Contohnya pemukulan mahasiswa ui di stasiun pondok china awal tahun ini.

Well, buku yang sangat bagus! Saya kasih bintang 4 :)
Profile Image for Yogi Saputro.
143 reviews7 followers
November 19, 2017
Dalam buku ini Markesot lagaknya seperti orang udik, banyak tanya, bicara ngalor-ngidul, dan nyentrik. Padahal itulah cerminan orang yang kritis dan berpandangan berbeda di antara publik yang bungkam saat itu.

Buku ini dibuat pertama zaman Orde Baru. Zaman dimana omongan penguasa adalah hukum dan rakyat dipaksa jadi apatis.
Saya suka karena obrolan Markesot yang tertuang di buku ini adalah perlawanan halus Cak Nun untuk membela kewarasan yang mulai langka di zaman itu.
Saya suka karena akhir cerita selalu dibuat menggantung, mengundang pembaca untuk menekuri pesan di dalamnya.
Saya suka karena pesan yang terkandung masih relevan hingga saat ini.

Tapi
Saya kurang suka karena makin ke belakang, pesannya mulai redundan dan terasa tak segar lagi. Mau menyelesaikan jadi tak semangat.

Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca bagi siapapun yang mau menerima siraman akal sehat.
Profile Image for Aldila.
48 reviews
January 8, 2015
buku yang membawa pembacanya untuk merenungkan kembali hakikat kemanusiaan dan kehidupan pada realitas masyarakat dan dunia melalui cerita-cerita pengalaman cak markesot. sangat bagus dan mampu membuka kembali cara pandang kita secara menyeluruh terhadap berbagai peristiwa di masyarakat.

lebih mudah dipahami daripada buku berjudul "slilit sang kyai" dengan penulis yang sama. meskipun overall keduanya sangat saya rekomendasikan untuk dibaca
Profile Image for belajar menulis -.
2 reviews1 follower
June 5, 2013
Hubungan antara politik dengan keagamaan, juga terdapat aspek kebudayaan dan aspek lain yang dikemas dalam bentuk cerita oleh "mbambung". meskipun sudah terbilang lama, namun ceritanya masih layak dan memang masih kejadian di era sekarang ini :)
Profile Image for Son.
30 reviews
July 13, 2013
Penuh kiasan tapi relevan dg kondisi Bangsa
Profile Image for Sirot Fajar.
Author 3 books3 followers
July 4, 2014
Cak Sot Markesot. Dialognya denagn kawan-kawannya benar-benar tak terduga. Sering kali nyeleneh tapi logis dan (seakan) benar. Masih penasaran dengan yang jilid kedua :-)
Profile Image for Yusuf Ks.
425 reviews53 followers
December 30, 2017
Sudah lama saya mengetahui dan menyukai pemikiran Emha Ainun Najib, namun entah kenapa saya telat membaca buku-buku karya beliau (selama ini baca artikel di koran atau media lain non buku), saya tidak punya satu bukupun karya beliau, anehnya lagi malah CD Mini Kaia Kanjeng yang sudah saya koleksi dan nikmati terlebih dahulu.

Baru saat ini saya menyadari bahwa saya telah melewati buku yang seharusnya saya baca dari dulu, buku karya cak Nun ternyata banyak sekali, namun saya selalu berprinsip lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, maka saya memutuskan untuk membeli dan membaca buku-buku karya beliau, saatnya untuk mengejar ketertinggalan saya hehehehe.

Buku pertama yang saya pilih adalah buku berjudul Markesot ini yang sepertinya menarik, dan setelah membaca ternyata benar-benar mantap isinya. Entah siapa sebenarnya Markesot, apakah dia merupakan sosok manusia yang sungguh ada, atau hanya merupakan karakter imajinatif Cak Nun berupa sosok dengan identitas misterius, single forever namun hampir sempurna, sangat bijaksana, dan multi-talenta.

Terlepas dari kontroversi siapa itu Markesot, isi buku ini benar-benar dahsyat! Saya terkagum-kagum membaca buku ini sejak awal, di setiap bab saya membaca ada saja hal bermanfaat dan menarik yang bisa saya ambil, terus sampai bagian akhir buku ini. Buku yang lumayan tebal, padat isi, dan padat manfaat. Saya sudah membaca buku ini dua kali dengan sangat santai dan serius, tapi itupun belum dapat menjamin dapat menangkap semua pesan dari buku ini.

Salut dan respek banget dengan Cak Nun, buku Markesot ini merupakan kumpulan tulisan lama beliau di akhir tahun 1980 sampai awal tahun 1990-an. Di zaman dahulu dengan teknologi dan fasilitas seadanya, dan umur beliau yang saat itu masih relatif muda, beliau sudah bisa menghasilkan karya fenomenal penuh manfaat dan kebijaksanaan seperti Markesot, hebat sekali!

Semoga saya bisa menerapkan berbagai macam hal yang sudah saya dapat dari membaca buku Markesot, berat neh...tapi harus terus berusaha menerapkannya sedikit demi sedikit. One of my favorite books. Very Recommended Book! 4.5 Stars.
Profile Image for solana.
109 reviews
January 24, 2022
saya suka cara emha ainun nadjib memosisikan markesot sebagai 'orang bawah yang tahu segalanya' . cerita-cerita markesot ini sebenarnya bisa dianggap sebagai keluh kesah rakyat, karena hampir semuanya mengkritik birokrasi pemerintah 😅. saya nggak baca sampai selesai, sih karena sudah keburu jatuh tempo. tapi sampai halaman 270an, 'suara' itu masih terasa.

buku ini sama sekali enggak membosankan. malah kalau dipikir-pikir isinya lucu ((gaya NU)) dan satiris sekali. yang menakjubkan sebenarnya bagaimana tuanya sejak pertama kali buku ini terbit, dan bagaimana problema dalam buku tsb masih relevan sampai sekarang; itu berarti memang engga ada perubahan dalam jalan birokrasi kita, ternyata 😂. ke depannya saya bakal coba baca buku emha yang lain, deh.
Profile Image for Novita Albab.
21 reviews
September 29, 2024
Buku ini ditulis di tahun yg sama ketika aku lahir. Sebenarnya ada banyak tulisan yg aku sendiri masih merasa kesulitan untuk memahaminya. Entah krn kemampuan literasi dan wawasanku yg masih kurang. Atau cara penulisannya yg sengaja dibuat terselubung dalam menyampaikan maksud?
Tapi ketika pada akhirnya berhasil menangkap apa yg menjadi topik pembicaraannya, rasanya selalu seperti, "Ah, betul sekali! Memang seperti ini kondisi di sekitar kita!"
Aku butuh lebih banyak bacaan seperti ini supaya bisa jadi lebih peka dan tidak mudah menghakimi apa yg terlihat oleh mata.
Profile Image for Alif Nursukma.
3 reviews
May 6, 2025
Kumpulan cerpen Cak Nun yang diambil dari kolom harian surabaya di era 90 an. Latarnya di era lama, tapi kisahnya masih "relate" hingga sekarang. Cak Nun menceritakan gejala sosial serius dari sudut pandang Markesot yang jenaka.
Profile Image for Lalu Zam.
79 reviews2 followers
February 23, 2019
Kumpulan esay EAN, tentang struktur politik-sosial budaya dan agama dalam tatanan kehidupan masyarakat Indonesia dalam personifikasi sang karakter utama Markesot
164 reviews
May 3, 2023
The saddest part is some of this writings still relevant with Indonesia situations even though it was written in early 90's
Profile Image for Sandra Sopian.
123 reviews15 followers
August 22, 2015
Saya pikir mengetahui siapa Markesot sebenarnya bukanlah hal yang penting, karena yang lebih penting lagi adalah mengkaji tentang pemikiran-pemikiran dan celetukannya itu. yang jelas, lewat tokoh ini, dan beberapa para Mbambung lainnya yang tergabung dalam KPMB(konsorsium para Mbambung), Markesot menyuarakan pemikirannya yang kritis, lucu, aneh dan murni tentang kehidupan masyarakat kelas bawah.

Strata sosial boleh rendah, tapi tidak begitu halnya dengan pemikiran dan perasaan. kepedulian dan empati itulah yang kadang karena berangkat dari jiwa yang murni, sangat menyentuh sekali. opini-opini di buku ini singkat, namun mencerdaskan. dan dengan begitu maka Markesot ini sudah dengan sendirinya menjalankan amanat pembukaan UUD 1945 yang mengharuskan setiap warga negara, untuk bisa ikut mencerdaskan kehidupan dunia. saya suka tokoh Markesot dalam penggambaran Emha Ainun Najid. dia tidak hanya menggugat kemapanan konstruksi sosial dengan mempertanyakannya, tetapi juga sembari ikut terlibat dalam perbaikan mental orang-orang disekitarnya.

Setelah saya baca dua buku ini (Markesot bertutur, dan Markesot bertutur lagi), saya lebih menyukai buku pertamanya. gamblang dan mengena serta lebih menarik dan unik, meski kalo melihat realitasnya, sebetulnya 2 buku ini adalah itu itu juga. karena berangkat dari pemahaman historis dan realitas Emha di tahun ketika ia menuliskannya dalam bentuk kolom di surat kabar.

Meski ditulis pada masa Orde Baru, tepatnya sekitaran tahun 1989-1990, tetapi permasalahan yang ditampilkan dan menjadi bahan diskusi yang seru ini, masih tetap relevan untuk keadaan zaman sekarang. Caknun tergolong orang yang dengan mudahnya mengambil hati saya. Haha..
Profile Image for Kahfi.
140 reviews15 followers
July 23, 2016
Buku ini sangat apik dalam menampilkan bagaimana kritik sosial yang dibalut dengan sedemikian rupa sehingga menghasilkan kritik satir namun sarat akan komedi sehingga pembaca selain diajak mikir juga diajak ndagel.
Buku ini juga menyenggol masalah fundamental yang terjadi di sekitar kita, bukan hanya mengkritik tapi buku ini juga memaksa otak kita untuk merenung apakah diri kita sudah lebih baik atau belum.
Ditulis dari perspektif rakyat kecil yang tersingkirkan oleh penguasa membuat masalah yang ditampilkan begitu mengena kepada membaca.
Profile Image for upiqkeripiq.
79 reviews4 followers
August 24, 2013
buku ini adalah harta karun saat libur lebaran kemarin. bagaimana tidak? markesot yang bukan siapa-siapa dan tidak jelas asal usulnya itu ternyata orang yang sungguh mengagumkan. seandainya saja saya tau dimana alamat kontrakan KPMb. saya ingin sekali menginap disana dan bertemu dengan markembloh, markedut, markasan, mar-mar lainnya dan tentu saja ketuanya, markesot.
2 reviews
July 20, 2016
buku yang bercerita tentang teman lugu Emha Ainun Najib dalam menjalani kehidupan sehari-hari nya, ia tidak pernah sekolah permesinan namun cakap dalam mbengkel

karena sejatinya ia tidak mengerti tentang mesin itu sendiri,namun ia menghayati permesinan tadi dalam kehidupan sehari-hari nya

Emha menyebutnya manusia yang original karena apapun yang dilakukannya keluar dari dalam dirinya sendiri
Profile Image for Carpediem Fanny.
75 reviews24 followers
March 7, 2024
Buku yang mau diselesein di akhir tahun, tapi malah selesai di tanggal 1 Januari. 2020 bener-bener jauh dari reading goal challenge. Overall buku ini berisi tentang filososfi sederhana tentang kehidupan Indonesia di zaman 90 an yang masih agak relate dengan tahun sekarang sih. Recommended yang sedang ingin belajar tentang filososfi kocak dan nyeleneh ala Cak Nun.
Profile Image for Amex Auditore.
15 reviews3 followers
July 11, 2025
This book is Awesome, buku yang membedah masalah dalam banyak hal, baik dari politik, kehidupan, agama, dan banyak lagi disertai guyonan di sana sini.
Markesot memang tokoh misterius tapi inspiratif dan meyadarkan kita tentang hal - hal yang kita tidak sadar selama ini.
Profile Image for Ryan.
176 reviews10 followers
April 4, 2008
35% pemikiran saya dipengaruhi Emha.
Profile Image for Rachmad Hadjarati.
7 reviews8 followers
January 14, 2015
Kalau ingin membangun pikiran peduli; baca buku ini. Benar-benar menghajar tatanan kaku pemikiran kita selama ini. Di buku ini, kita bisa menangis sambil tertawa. Keren :D
Displaying 1 - 30 of 32 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.