Jump to ratings and reviews
Rate this book

cogito Allah sum

Rate this book
Semakin berjibaku wacana-wacana filsafat, aku semakin meragukan Hakikat Keberadaan Allah. Hingga sempurnalah aku yang dulunya rajin ibadah kini enggan shalat, puasa, ngaji, suka maksiat, jago dugem, dan sebagainya.

“Got ist tot...” ala Nietzsche yang memfatwakan bahwa Tuhan telah mati sebagai langkah final untuk menuju kedudukan “Manusia Super” hingga “Cogito ergo sum...” ala Rene Descartes yang menegasi Tuhan di bawah kuasa logika manusia merupakan wacana-wacana ilmiah dan filosofis yang senantiasa kupuja. Kemana-mana aku memproklamasikan bahwa Allah sama-sekali tidak ada. “Allah adalah kesia-siaan...!” pekikku.

Tetapi, ada apa ini...? Apa sesungguhnya yang tengah menguasi hatiku? Mengapa justru pada detik yang sama, di lubuk hatiku ini, selalu menyeruak kegelisahan dan keraguan atas pemikiranku sendiri? Kian lama jiwaku terasa semakin menegaskan betapa semakin hari aku justru semakin tak bahagia. Hatiku semakin kerontang. Hidupku semakin tak menemukan makna.

Inikah kesejatian diriku sebagai manusia?!

Rupanya, semakin aku memikirkan hakikat Allah, Allah justru semakin Ada. Allah tak terbantahkan oleh nalar filsafat dan logika apa pun, yang selama ini kuanut. Allah seolah telah memfitrah di dalam hati setiap manusia, dirasakan, tak terlogikakan, menghadirkan pendar-pendar ketentraman jiwa yang sangat bening.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk-Mu…” bisikku dalam derai airmata.

Novel ini sungguh tepat dijadikan kompas jiwa oleh mereka yang meragukan eksistensi Allah, agar bisa segera kembali menemukan jalan-Nya, kembali bisa berajut benang-benang Cinta-Nya.

paperback

First published January 1, 2008

8 people are currently reading
37 people want to read

About the author

Lalu Mohamad Zainudin

1 book2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
14 (33%)
4 stars
5 (11%)
3 stars
15 (35%)
2 stars
6 (14%)
1 star
2 (4%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Aina Hilmi.
Author 7 books106 followers
January 23, 2009
Rayyan menjadi atheis hasil pergaulannya dengan rakan-rakan di universiti yang tidak mempercayai kewujudan Tuhan. Begitu kuatnya pegangannya kepada fahaman baru itu sehingga dia dijemput menjadi panel forum kesedaran yang konon-kononnya ingin mengatakan Tuhan itu benar-benar tidak wujud. Di forum tersebutlah dia jatuh hati pada Ain Nadia. Dalam masa yang sama, sahabat baiknya, Haikal juga ingin bersaing merebut hati Ain.

Rayyan sebenarnya menyukai Ain tapi disebabkan dia lambat bertindak, Ain telah menerima Haikal sebagai teman istimewanya. Hal ini menyebabkan Rayyan kecewa dan berasa dikhianati oleh Haikal. Tindakannya memukul Haikal berakhir dengan dirinya dimasukkan ke hospital gara-gara pukulan balas oleh orang sekeliling ketika pergaduhan itu. Ain kerap melawat Rayyan di hospital dan Rayyan meminta Ain menjadi teman wanitanya hanya untuk 2 minggu. Dalam masa yang sama, tabiatnya yang suka minum arak masih tidak dapat ditinggalkan. Pada satu hari, Ain terlewat hadir ke temujanji mereka dan menyebabkan Rayyan kembali meminum minuman haram itu. Ain menarik Rayyan keluar dari bar dan berlaku pertengkaran kecil. Selepas Ain menerangkan apa yang telah berlaku barulah Rayyan tenang sedikit. Malangnya, mereka berdua telah lama diperhatikan oleh Haikal. Berlaku ketegangan antara mereka bertiga...dan akhirnya Rayyan 'mengembalikan' Ain kepada Haikal kerana mengenankan penyakit jantung yang dialami oleh sahabatnya itu.

Tertekan dengan kejadian yang baru sahaja berlaku itu menyebabkan Rayyan bergaduh dengan seorang pemuda di pasar malam. Walau pun dia memenangi pertarungan itu, tetapi dia terpaksa melarikan diri daripada dibelasah oleh orang-orang yang datang membantu lelaki yang dipukulnya. Malang baginya kerana dia dilanggar...

Apa yang berlaku seterusnya saya tinggalkan..Ada banyak peristiwa yang berlaku. Mengkhusus kepada pencarian Rayyan dalam mengenal Tuhan, cabaran yang dialami dan bagaimana akhirnya dia insaf dan bertaubat.. Saya suka dengan watak ayahnya yang merupakan seorang yang warak dan tawaduk. Juga seorang yang alim. Nasihat-nasihatnya nampak mudah tetapi mempunyai falsafah yang tinggi nilainya. (",)
Profile Image for Dayat.
93 reviews3 followers
May 19, 2009
Impresi pertama setelah membaca blurb yang tertulis di muka depan dan melihatkan illustrasi yang mengujakan saya menjangkakan ‘Cogito Allah Sum’ akan melayarkan saya ke lautan samudera falsafah ketauhidan, diskusi, diskusi dan diskusi jika tidak menyentak nurani kehambaan.

Harapan dan jangkaan saya adalah sangat tinggi untuk buku ini.

4, 5, 8, 20, 30 muka surat berlalu. Apakah saya sudah tersilap beli novel pop cinta tiga lapan segi?

Bertambah pilu mata melihatkan suntingan yang tidak kemas, semakan ejaan yang tidak diperhalusi dan pada pendapat saya nuansa asal karya patut dikekalkan seperti kerja-kerja yang dilakukan oleh PTS Litera terhadap Laskar Pelangi.

40, 50, 60 muka surat berlalu. Kalau gamak saya membaca novel cinta sebegini pasti yang dipilih Ahadiat Akashah, cerita dan bahasanya mengasyikkan membuai jua emosi setidak-tidaknya.

Judul yang segah ‘Cogito Allah Sum’, riak-riaknya hanya bermula di halaman 150.

Dialog-dialog yang menggetarkan seperti: ‘Jangan mengganggapi tuhan itu ada, ia bakal merosakkan pemikiran rasionalmu, tapi kau perlu meyakini bahawa tuhan itu ada’ mula muncul menggendang kembali pingin wacana yang didambakan setelah lelah lebih separuh perjalanan mengharungi kisah-kisah tempelan yang meleret-leret.

Namun menolak teori E.B Taylor dengan hanya 2-3 baris muka surat dan kata-kata seperti ‘kini Rayyan pula dapat mematahkan hujah puak ateis dengan hujah logik’ tanpa menerangkan apa yang dihujahkan adalah satu anti-klimaks yang mengecewakan.

Mungkinkah saya meletakkan harapan terlalu tinggi dan mengidam pengalaman spiritual, serta wacana diskusi seperti berdepan novel ‘Tuhan Manusia’ justeru remuk redam kecewa?
Profile Image for Euisry Noor.
150 reviews65 followers
April 27, 2012
Sayang sekali... judul dan topik sudah menjanjikan, kalau saja dikemas & dibikin cerita yang bagus... Sayangnya, kemasan plot cerita maupun gaya tulisannya tidak bisa dibilang bagus. Secara keseluruhan terlalu menunjukkan kurangnya pengalaman menulis penulisnya. Padahal kalau saja dikemas dengan apik dan cerdas, ini berpotensi menjadi novel filsafat yang lumayan. Yang cukup menarik dari keseluruhan 290 halaman, barangkali cuma bagian yang benar-benar menunjukkan argumentasi filosofis tentang konsep ada atau tiadanya Tuhan sebagaimana yang ditawarkan dari judul dan sinopsisnya, seperti di halaman 276-279. Sayangnya (lagi2), argumen atau narasi cerdas tentang topik yang menjanjikan itu justru begitu sedikit di buku ini, sisanya yang beratus-ratus halaman justru seolah terasa seperti embel-embel pelengkap yang tak cukup menarik diceritakan dan membosankan... Halah... sayang sekali. Apa yang dimaksudkan sebagai plot cerita itu tidak terasa 'seni'nya...

Bukankah novel yang bagus ditulis dengan bagus, dan penulis yang keren adalah seniman kata-kata...
Profile Image for Janthi.
25 reviews
May 27, 2008
waduh, rasanya seperti baca tulisan sendiri. Ngebosenin, dan gampang ditebak! Terus terang pernah ngalamin kejadian yang hampir serupa waktu kuliah dulu. Masalah gaya penulisan si pengarang, menurut gue pribadi sih, kurang menarik. Jalan ceritanya juga berlebihan. Mungkin penulisnya baru belajar nulis ya? masih muda banget sih!
Profile Image for Nuur Syahidah.
160 reviews
February 1, 2010
"Ada satu pertanyaan yang diajukan si anak pemuda, yang berfahaman atheis berkenaan kekuasaan Tuhan.
' Bolehkah Allah ciptakan pedang yang sangat tajam yang boleh menembusi apa saja? dan bolehkah Allah ciptakan perisai yang tidak boleh ditembusi apa2?

Nak tahu jawapan, sila baca buku ini..hehe
Profile Image for Dian Utami.
39 reviews7 followers
December 27, 2011
saya baca buku ini beberapa tahun yg lalu, sekarang sudah lupa detail ceritanya.. cuma inget gambaran umum saja.. jadi mau baca ulang..
Profile Image for Esti Voice.
1 review
September 8, 2015
Ayo gaes, mempercayai Tuhan Yang Satu.
Baca novel ini bikin logikaku nyambung ke Allah :D
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.