Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perpustakaan Kelamin: Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan

Rate this book
Sebuah novel tentang pertarungan kelamin dan pengetahuan, cinta dan penghianatan, kebiadaban dan peradaban yang memiliki banyak plot dengan menyusupkan tentang khazanah perbukuan di dunia, termasuk di Indonesia. Pembaca akan digiring untuk menyelami sejarah penemuan proses penulisan, bahan yang digunakan, sampai dengan peristiwa pelarangan dan penghancuran buku dari masa ke masa.

229 pages, Paperback

First published May 1, 2016

20 people are currently reading
184 people want to read

About the author

Sanghyang Mughni Pancaniti

3 books7 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
33 (60%)
4 stars
12 (21%)
3 stars
3 (5%)
2 stars
4 (7%)
1 star
3 (5%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
October 5, 2016
Membacalah! Membacalah! Membacalah! Karena kita tak lagi purba!

Paling menarik tentu saja kisah-kisah unik tentang para pecinta buku. Penulis membagi para pengandrung buku itu dalam 7 golongan seperti dikutip di atas. Salah satu yang paling unik adalah Boulard yang hidup pada abad ke-18 di Prancis. Tokoh ini begitu bernafsu membeli buku hingga rumahnya tak cukup untuk menyimpan buku-bukunya yang mencapai 800 ribu judul (timbunan saya belum ada seperseratus persennya dah!) dan Boulard tak pernah sekalipun membaca buku-buku tersebut. Edan, inilah penimbun sejati. Kita juga sedikit bersedih hati saat membaca kecenderungan aneh Mary Shelley--pengarang Frankenstein--yang gemar menyobek halaman depan buku, atau Charles Darwin yang selalu membelah menjadi dua setiap buku tebal miliknya dengan alasan agar lebih mudah dibawa.

Salam penghormatan layak disematkan pada Richard Heber yang hidup di Inggris pada abad ke-19 karena dia memiliki 300 ribu judul buku yang seluruhnya sudah dia baca dalam masa usia kehidupannya. Ada juga Pliny dari Romawi kuno yang sering berkeliling kota Roma dalam kereta tertutup agar kegiatan membacanya tidak terganggu. Kisah lain tentang bibliofagi dan bibliokleptomania di buku ini juga tidak kalah mencengangkan, bikin geleng-geleng karena segitunya demi buku. Kisah tentang Marquis de Sade juga tidak kalah mengenaskan, yang sekaligus membuktikan kecintaannya pada menulis seperti yang digambarkan dalam film 'Quills'.

Ulasan lebih lengkap di http://dionyulianto.blogspot.co.id/20...
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
September 22, 2016
Novel dengan judul yang unik dan menimbulkan rasa penasaran ini mengisahkan tentang seorang tokoh bernama Hariang yang tinggal di desa Cigendel, Sukabumi, Jawa Barat bersama ibunya yang begitu mencintai buku. Agar anaknya mencintai buku sang ibu mendidik anaknya dengan cara yang unik yaitu merahasiakan isi dari sebuah ruangan terkunci berukuran 4 x 8 meter dari anaknya. Semakin besar Hariang semakin penasaran apa isi dari ruangan yang selalu terkunci tersebut. Setiap kali Hariang bertanya jawaban ibunya selalu sama, "Kamu belum waktunya tahu".

Baru ketika Hariang berusia 20 tahun sang ibu mengizinkan anaknya memasuki ruangan rahasia itu yang ternyata sebuah ruangan berisi ribuan buku yang dikumpulkan oleh ibunya selama 19 tahun dari hasil menyisihkan pendapatannya yang diperoleh dari penjualan hasil kebunnya.

Ruangan ini dulunya adalah kandang domba. Sebelum kamu lahir, bapakmu menyulapnya menjadi ruangan yang memang diniatkan untuk menjadi taman baca bagi warga, dan anaknya kelak......Akan tetapi bapakmu keburu menghadap Tuhan, sebelum bisa membeli satu buku pun yang diniatkannya untuk masyarakat serta anaknya."
(hlm 9)

Bukan tanpa sebab ibu Hariang merahasiakan perpustakaan kepada anaknya selama 20 tahun hingga Hariang dirasa siap mengetahuinya,

"Merahasiakan ruangan ini dari kamu, adalah mutlak rencana ibu. Alasan ibu sederhana, biar kamu terus bertanya, merindukannya, lalu jatuh cinta kepada yang ibu rahasiakan itu, sesaat setelah kamu mengetahuinya...Ibu hanya ingin kamu jatuh cinta kepada buku, menganggapnya sebagai benda yang istimewa.....Bantu ibu, agar banyak tetangga kita yang mau membaca di sini, terutama anak-anak. Buku bukan hanya milik mereka mengaku dirinya terpelajar,tapi milik semua orang yang ingin menatap makna."
(hlm 10)

Perpustakaan ini akhirnya diberi nama Pakubon Kadeudeuh, Pakubon = Perbukuan/perpustakaan, Kadeudeuh = Kasih Sayang. Hariang dan ibunya bersama-sama menjadi pengelolanya. Siapapun boleh membaca di perpustakaan tersebut tanpa dipungut biaya. Pada suatu hari Hariang didatangi oleh Kang Ulun, pemuda terpelajar yang kaya. Kang Ulun meminta bantuan Hariang untuk mencari donor kelamin bagi dirinya. Sudah menjadi rahasia umum kalau Kang Ulun tidak memiliki organ kelaim karena terpotong habis ketika proses khitan saat ia berusia 5 tahun. Karena ingin menjadi lelaki seutuhnya maka ia berniat mencari donor kelamin dengan imbalan 1, 5 Milyard. Karena kenal dekat dengan Kang Ulun Hariang pun menyanggupi untuk membantu mencarikan donor kelamin.

Mencari donor kelamin tidaklah mudah, walau jumlah uang pengganti yang diberikan kepada pendonor begitu besar namun lelaki normal mana yang mau mengorbankan kelelakiannya. Ketika Hariang berusaha mencari donor kelamin di kota Bandung sebuah musibah terjadi menimpa perpustakaannya. Perpustakaan Pakubon Kadeudeuh dengan koleksi 11.000 buku habis terbakar dilalap api. Tak hanya itu, peristiwa itu membuat jiwa ibunya terguncang parah sehingga menjadi gila.

Berbagai cara dilakukan Hariang untuk menyembuhkan ibunya, mulai dari mendatangkan dokter jiwa, hingga lewat doa-doa. Namun semua itu tak bisa mengembalikan kewarasan ibunya. Sampai akhirnya Hariang mendapat keyakinan bahwa ibunya bisa sembuh jika perpustakaannya dibangun ulang karena buku dan perpustakaan selama ini telah menjadi bagian yang terpisahkan dari ibunya.

Untuk membangun kembali perpustakaannya Hariang bekerja sebagai pegawai toko buku, pegawai restoran, dan mengisi kolom cerpen di sebuah koran. Dari penghasilannya bekerja dan menulis cerpen Hariang bisa membeli 400 buah buku. Jumlah yang masih jauh dibanding 11.000 buku yang sebelumnya dimiliki Perpustakaannya

"Aku sudah mencoba bersabar, untuk terus mengumpulkan buku sampai satu tahun lamanya, agar ada perubahan pada kejiwaan ibu, tapi sepertinya putus asa mulai menyergapku, bertakhta. Baru saja tiga bulan mencari uang, aku tak mampu menunggu kesembuhan ibu lebih lama lagi, perpustakaan harus segera didirikan. Tapi dengan cara apa? Tak ada barang berharga yang bisa kujual. Aku miskin "

Ada satu nama yang tiba-tiba terlintas, namun yang membuatku bergidik ngeri, diakah jalannya? Kang Ulun, ya Kang Ulun. Haruskah aku mendonorkan kelaminku kepadanya? Uang 1,5 Milyard yang dijanjikannya itu bisa kubelikan buku sebanyak mungkin, bahkan gedung perpustakaan bisa kudirikan kembali, dengan lebih besar, lebih megah. Tapi benarkah, demi buku dan ibu, haruskah kupertaruhkan kelamin yang sangat kupuja ini? Edan!"
(hlm 207)

Bukan hal yang mudah bagi Hariang untuk memutuskan apakah ia akan korbankan kelaminnya untuk dapat membangun perpustakaan demi kesembuhan ibunya. Apalagi saat itu ia telah memiliki seorang kekasih yang telah ia yakini akan menjadi calon istrinya kelak.

Khazanah perbukuan dalam Perpustakaan Kelamin

Novel ini tak hanya menyuguhkan kisah menarik usaha Hariang dalam membangun perpustakaan guna menyembuhkan ibunya melainkan ada banyak khazanah perbukuan dunia dan Indonesia yang disusupkan dalam novel ini. Kita akan menemukan kisah ..........

lengkapnya silahkan baca di :

http://bukuygkubaca.blogspot.co.id/20...
Profile Image for Utami Pratiwi.
79 reviews7 followers
October 10, 2016
bahasannya cukup berat, tetapi karena mengatasnamakan "novel", jadi ya lumayan untuk menarik pembaca. menurut saya, cerita untuk membungkus bahasan yang cukup berat ini kurang greget. banyak yang dipaksakan.
Profile Image for Vincent Arkayudha.
11 reviews
April 6, 2025
Judul: Perpustakaan Kelamin: Buku dan Kelamin dalam Pertaruhan
Penulis: Sanghyang Mughni Pancaniti
Penerbit: Semesta
Tahun terbit: 2020 (cetakan kelima)
Ketebalan: 168 halaman

"Tanya adalah denyut bagi manusia yang ingin mengenal semesta. Tanya adalah degup bagi manusia yang rindu makna. Tanya adalah cahaya bagi manusia yang ingin cinta. Tanya adalah jalan bagi manusia yang tergiur pada Sang Maha Ada. Pada darahku, tanya menjadi kekuatan yang haram untuk didua." (hlm. 1)

"Kalau kamu ingin melihat karakter sebuah negara, juga isi otak masyarakatnya, lihatlah buku-buku yang dijual di toko-toko buku negara tersebut." (hlm. 105)

"Hariang, ketika Tuhan meniupkan ruh padamu, dia simpan pada tiga tempat: akalmu (Buku), hatimu (Ibu), kelaminmu (Drupadi), tinggal kamu yang putuskan, mana yang akan kamu utamakan?" (hlm. 141)

Ada banyak daya tarik fiksi. Dua di antaranya ialah alur cerita dan karakterisasi. Alur cerita yang menarik memantik pembaca untuk mencari tahu kisah yang terjadi selanjutnya, sedangkan karakterisasi yang kuat membuat mereka peduli dengan nasib tokohnya. Jika sebuah cerita memiliki plot yang solid tetapi tokohnya terasa datar, pembaca mungkin sulit terhubung secara emosional. Sebaliknya, jika karakterisasinya sudah kuat tetapi ceritanya tidak memiliki konflik atau perkembangan menarik, fiksi bisa kehilangan daya tarik.

Pada novel ini, saya menemukan keduanya: karakterisasi yang kuat dan plot yang menarik. Tapi, bukan kepada tokoh utama, Hariang, melainkan kepada ibunya, yaitu Syajarotul Ilmi. Diceritakan bahwa wanita itu sangat mencintai buku. Bahkan, dia menganggap bahwa buku adalah peradaban tertinggi umat manusia. Karena itu, pengorbanan harus dilakukan demi mendapat sebuah buku. (hlm. 32)

Salah satu bentuk pengorbanan yang harus dilakukan adalah dengan membeli buku, bukan meminta. Prinsip itulah yang membuat Syajarotul Ilmi rela menyisihkan uang dari hasil berkebun demi membeli buku-buku dan membangun perpustakaan. Selama 19 tahun, dia mengumpulkan semua bukunya di sebuah gudang yang sebelumnya digunakan sebagai kandang kambing hingga terkumpul sebanyak 11.000 judul.

Kegemaran Syajarotul Ilmi membaca diturunkan kepada Hariang. Sejak kecil, Hariang sudah tidak asing dengan buku-buku meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Dia juga kerap diajak ibunya untuk berdiskusi mengenai buku-buku. Rutinitas tersebut membuat dia memiliki pemikiran kritis.

Suatu hari, Kang Ulun menemui Hariang untuk membantunya mencari donor kelamin, lebih tepatnya penis. Karena sudah menganggap Kang Ulun sebagai kerabat, Hariang menyanggupi permintaan Kang Ulun dan berjanji akan membantu mencari donor kelamin. Namun, tentu itu bukan pekerjaan mudah karena meskipun bentuknya sederhana, kelamin adalah segala-galanya. Jadi, banyak teman Hariang yang menolak menjadi donor walau ditawari uang sebanyak 1,5 miliar rupiah.

Di tengah pencariannya di daerah Bandung, Hariang mendapat kabar bahwa perpustakaan ibunya dilalap api. Dia lantas segera pulang ke Sumedang dan menemukan perpustakaan ibunya telah menjadi puing-puing dan hanya menyisakan abu. Yang lebih memilukan, ibunya mengalami depresi berat hingga tanpa rasa malu menelanjangi diri sendiri. Tidak ada lagi diskusi penuh makna karena yang diungkapkan ibunya hanya kalimat, "Mana perpustakaan saya? Mana buku saya?"

Dalam keterpurukan, Hariang beranggapan bahwa ibunya bisa sembuh jika perpustakaannya kembali dibangun. Namun, prinsip ibunya untuk tidak meminta buku membuat dia urung menerima sumbangan. Maka dari itu, dia mencari tambahan uang dengan bekerja di kota. Selama 3 bulan bekerja sebagai penjaga toko buku dan pelayan di rumah makan, dia berhasil mengumpulkan 400 buku. Tapi, itu masih sangat jauh dari jumlah sebelumnya, sedangkan keadaan ibunya semakin memprihatinkan.

Sampai akhirnya, sebuah nama terlintas di kepala Hariang: Kang Ulun. Dengan uang 1,5 miliar yang ditawarkan jika bersedia menjadi donor kelamin, dia akan bisa membangun kembali perpustakaan dan membuat ibunya lekas sembuh. Jadi, tanpa pikir panjang, dia menghubungi Kang Ulun dan tak butuh waktu lama, dia menerima sekoper uang tunai.

Namun, masalahnya, dia sudah punya pacar, yaitu Drupadi. Dia memikirkan masa depannya jika tidak ada senggama. Rumah tangga macam apa yang tidak dijalani tanpa senggama? Akan tetapi, rasa cintanya yang besar kepada sang ibu membuat dia melanjutkan niat dan merahasiakan rencana.

Selepas menjalani operasi pengangkatan kelamin, sebuah rahasia terkuak bahwa perpustakaan dibakar secara sengaja oleh orang yang dia kenal baik. Dia juga mendapat kabar bahwa ibunya meninggal. Hidup Hariang kembali hancur. Dia kehilangan ibunya, kehilangan kelamin, dan mungkin akan kehilangan Drupadi juga karena tak lagi memiliki kelamin.

Namun, tak ada gading yang tak retak, tak ada cerita yang tak memiliki galat. Meskipun hanyut dalam kisah Hariang, saya menemukan beberapa aspek yang menghambat keterbacaan, bahkan membuat saya menulis anotasi.

Karakterisasi Hariang dan ibunya sebagai pembaca kritis dibangun lewat diskusi mengenai buku-buku. Berlembar-lembar halaman akan diisi dialog berupa pemikiran mereka sampai-sampai kalimat yang diucapkan terasa tidak alami dan tampak seperti sebuah nukilan atau kutipan. Bahkan, pada bab khusus, kita hanya akan menyimak para tokoh membedah sebuah buku. Jika bukan penggemar nonfiksi, kalian pasti akan merasa bosan karena bab itu memiliki vibes sebuah esai. Bahkan, karena saking banyaknya pembahasan buku, penulisnya tampak sedang pamer wawasan, bukan membangun karakterisasi tokoh.

Selain itu, ada satu adegan yang membuat saya harus membaca sampai tiga kali. Di halaman 110, Hariang dan teman-temannya sesama anggota PAKU (Pasukan Anti Kuliah) membeli makanan di penjual keliling. Lalu, dua teman Hariang kepergok sedang melirik wanita berpakaian terbuka sehingga menampakkan paha. Wanita itu marah, lalu menampar mereka karena merasa dilecehkan. Bahkan, dia menuduh mereka sebagai lelaki berotak mesum. Karena tak terima temannya diperlakukan kasar, Drupadi membela dengan mengatakan bahwa wanita itu salah karena telah mengundang tatapan temannya lewat pakaian seksi. Cekcok antara keduanya tidak terelakkan. Tapi, akhirnya mereda setelah Drupadi membungkam dengan analogi yang tidak dipahami si wanita.

Nah, masalahnya, pada paragraf selanjutnya, Hariang menyebut wanita itu dengan nama Ani. Padahal, tidak ada adegan yang menggambarkan bahwa wanita itu mengungkapkan nama. Adegan perkenalan pun tidak ada. Mengingat novel ini memakai sudut pandang pertama, hal itu jelas bikin bingung.

Tidak sampai di situ, ketidaklogisan selanjutnya ialah wanita itu alias Ani bertanya mengenai organisasi PAKU, lalu memutuskan ingin bergabung. Jika dipikir-pikir, rasanya itu tidak masuk akal. Bayangkan, paha kalian dipelototi laki-laki yang kalian tampar dan kalian anggap berotak mesum, lalu setelah ngobrol-ngobrol sebentar, kalian memutuskan untuk bergabung dengan organisasi mereka. Jika saya jadi wanita itu, setelah menampar, mungkin saya akan langsung pergi dan tidak mau tahu soal organisasi mereka.

Mungkin penulis menggunakan adegan itu untuk mengenalkan PAKU. Tapi, saya merasa, adegan itu tidak masuk akal dan terasa dipaksakan.

Galat selanjutnya ada pada aspek penulisan ejaan. Di halaman 116-117, ada dialog begini:

Drupadi melanjutkan. "Dia mungkin berpikir, persetubuhannya selama ini dilandasi oleh cinta. Dan pada dia dan pacarnya akan menikah juga. Tidak ada bedanya persetubuhan ini dilakukan sekarang atau nanti. Yang penting kita melakukannya dengan hati-hati, agar tidak terjadi kehamilan. Tapi, dia cerita dan berharap keperawananku kembali dan dia akan benar-benar menjaganya."

Dialog yang diucapkan Drupadi terasa janggal karena konteksnya, dia sedang membicarakan temannya. Apalagi, di paragraf selanjutnya, Hariang memgaku bahwa gaya pacaran mereka hanya sebatas mengobrol dan tidak sampai melakukan persetubuhan. Jadi, penggunaan kata "keperawananku" pada dialog itu keliru.

Dalam aturan penulisan kutipan dalam kutipan, kalimat yang dikutip ditandai dengan tanda petik tunggal ('…') di dalam tanda petik ganda ("…"). Tapi, jika ingin berbentuk kalimat tidak langsung, kata ganti orang pada kutipan harus diganti, dari kata ganti orang pertama menjadi kata ganti orang ketiga. Jadi, agar penulisannya lebih tepat secara ejaan dan tata bahasa, harus ditulis seperti ini:

Drupadi melanjutkan. "Dia mungkin berpikir, persetubuhannya selama ini dilandasi oleh cinta. Dan pada [akhirnya] dia dan pacarnya akan menikah juga. Tidak ada bedanya persetubuhan ini dilakukan sekarang atau nanti. Yang penting [mereka] melakukannya dengan hati-hati, agar tidak terjadi kehamilan. Tapi, dia cerita dan berharap [keperawanannya] kembali dan dia akan benar-benar menjaganya."

Cukup sepele, bukan? Tapi, itu bisa mengubah makna gagasan yang hendak disampaikan.

Namun, terlepas dari kekurangan-kekurangannya, saya cukup puas karena mendapat referensi buku lain untuk dibaca. Tapi, jika kalian murni penikmat plot, mungkin novel ini akan terasa membosankan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Anisa Ningtias.
88 reviews
January 1, 2021
📍Perpustakaan Kelamin
📝 Sanghyang Mughni Pancaniti
📚 Penerbit Semesta
📅 2016
📖 hal. 229
.
"Ketika Tuhan meniupkan ruh padamu, dia simpan pada tiga tempat: Akalmu, Hatimu, dan Kelaminmu, tinggal kamu yang putuskan, mana yang akan kamu utamakan?"
.
.
Sampai nulis review, aku belum bisa move on sama buku ini 😭

Hariang tidak pernah sekolah. Ibunya yang tidak setuju dengan cara belajar di sekolah memutuskan untuk mengajari anaknya sendiri. Di rumahnya, ada satu ruanhan yang tak pernah boleh diuka oleh Hariang. Ibunya yang tiap malam pergi kesana berbekal air minum, membuat Hariang bertanya-tanya, apakah disana ada makam sang Ayah yang sudah meninggal sedari ia kecil? Saat umur Hariang 20 tahun, ia diajak ibunya memasuki ruangan itu. Siapa sangka, itu adalah sebuah perpustakaan.

Begitu awal dari kisah perpustakaan kelamin. Aku takjub sekali gimana caranya Ibu Hariang menanamkan rasa penasaran yang begitu luar biasa hingga Hariang juga jatuh cinta dengan buku dan perpustakaan. Suatu waktu, ada seorang kawan Hariang yang memintanya untuk mencarikan donor kelamin. Setelah pontang panting mencari kesana kemari, tentu saja, nggak ada yang mau mendonorkan kelaminnya. Hingga ada kejadian yang tak terduga terjadi, perpustakaan ibu terbakar, hangus, lebur. Ibu kehilangan kewarasannya, hati Hariang pedih tak terkira. Kira-kira apa yang akan dilakukan Hariang?

Pasti udah bisa nebak kan? Tapi kalian tetap harus baca sampai akhir, soalnya ini yang bikin aku gagal move on 😭

Meski buku ini hanya 229 halaman, nggak terlalu tebal, tapi aku cukup butuh waktu buat bacanya. Bukan, bukan karena ceritanya membosankan atau gimana, tapi selain suguhan fiksi, di dalamnya banyak bahasan soal buku. Banyak referensi buku yang masuk, yang jadi nambah wishlist lagi hahaha seperti penghancuran buku dari masa ke masa yang jadi bahasan di klub buku mereka. Tapi, kisah cinta Hariang juga memberi bumbu yang cukup.

Tokoh-tokoh yang ada dalam buku ini sangat menginspirasi. Ada Ibu, Kang Abok, Kang Uni, Drupadi, yang walaupun mereka nggak sekolah, nggak kuliah, melalui buku dan diskusi mereka mendapatkan ilmu.

Bisa dibilang, penulis ingin mengangkat kritik kepada cara pembelajaran sekolah saat ini. Dalam satu paragraf ada tulisan penulis bagaimana sekolah hanya membuat kita dicekoki ilmu, bukan mengeksplorasi ilmu. Yah, banyak pandangan penulis yang luar biasa di buku ini.

Gimana? Ada yang kepo? Aku jadi pengen baca kisah Hariang di buku kedua 😭
Profile Image for Muhajjah Saratini.
289 reviews9 followers
Read
October 12, 2016
Jika membaca dengan sistem skip, karena tidak bisa menikmati suguhan ceritanya, bolehkah saya berkomentar?

Kalau untuk pengetahuan, ya buku ini memang berisi banyak sekali informasi tentang perbukuan.
Tapi aduhai cinta macam apa yang menyekapnya erat-erat dalam ruang--apalagi "hanya" demi menimbulkan rasa penasaran?

Bagi saya, salah satu pesona fiksi adalah kisah. Dan kisah dalam buku ini terlalu sesak oleh pengetahuan yang seakan dihambur-hamburkan.

Untuk apatah buku-buku yang dibaca para tokohnya, yang diagungkan sedemikian rupa (begitu saya menangkapnya), jika tak dapat menyelamatkan mereka dari tindakan singkat akal.

Kalau untuk referensi bacaan kece, buku ini emang seakan gudangnya.
Tapi sebagai karya fiksi... beban yang diampunya kelewat penuh.

Pada bagian awal buku, ada kutipan yang menarik. Saya kira hanya pemanis, rupanya ada maksud lain.

Ketika Tuhan meniupkan ruh kepadamu,
Dia simpan pada tiga tempat:
Akalmu, hatimu, dan kelaminmu.
Tinggal kau yang putuskan,
Mana yang akan kau utamakan?
(Emha Ainun Nadjib)

Begitulah.
Maaf kalau nggak berkenan.
:D
Profile Image for Andika  Abdul Basith.
66 reviews12 followers
February 23, 2021
Saya kenal penulisnya dan saya suka tulisannya. Khususnya dalam buku ini. Ia memang begitu mencintai buku sebagaimana ia kisahkan dalam novel ini. Hubungan antara ibu dan anak, juga perpustakaan yang begitu berharga.
Profile Image for The Book Club Makassar.
127 reviews8 followers
Read
June 13, 2022
Buku ini bercerita tentang Hariang, seorang anak yang tumbuh dan dibesarkan dengan banyak pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini menggerogoti hatinya, pikirannya, mengalir dalam darahnya sampai kemudian terjawab saat usianya cukup dewasa. Jawaban dari pertanyaannya selama ini adalah... satu ruang perpustakaan. Harta karun ibunya.

Hariang adalah anak yang berbakti. Sampai perpustakaan ibunya, harta karunnya itu habis terbakar, ibunya tidak lagi sama. Ibunya telah kehilangan jiwa dan dirinya sendiri.

Bakti Hariyang kepada ibunya mesti diuji. Antara buku-buku dan peradaban atau satu-satunya kelaminnya. Jika mengikhlaskan kelaminnya, ia bisa membangun perpustakaan yang lebih besar dengan buku-buku yang lebih banyak. Namun, apakah ia sungguh sanggup?

*Review by Ann
5 reviews
June 21, 2022
Yah, meskipun dialognya seperti terasa dipaksakan dan ada part2 yang membosankan, tapi overall buku ini bagus bangeeeet!
Menceritakan tokoh bernama Hariang yang jatuh cinta dengan buku, bersama ibunya dia dididik berbeda dengan anak lain: tidak disekolahkan. Uniknya, ada satu ruangan yang tidak boleh dibuka sampai usia Hariang dewasa, dia kira itu makam ayahnya tapi ternyata perpustakaan hahaha.
Berbagai dimensi dari politik, agama, gender, asmara, ada disini. Pembaca juga banyak disuguhi kisah2 dari buku lain sehingga hasrat untuk terus membiasakan membaca akan lebih menggebu.
Buku ini cocok jadi cinta pertama seorang pembaca sebelum mulai menyelami buku2 lainnya.
Profile Image for papermiwnt.
74 reviews2 followers
August 1, 2023

"Ketika seorang lelaki dan perempuan saling jatuh cinta itu sejatinya berkaitan dengan asal muasal kita. Adam dicipta oleh tangan tuhan sendiri dan Hawa dicipta dari separuh diri Adam, ini adalah isyarat, cinta lelaki pada perempuan adalah kecintaan pada dirinya sendiri yang hilang, dan cinta perempuan pada lelaki adalah kecintaan pada asal muasalnya." -Anjani.

Aku merinding setelah membaca tuntas buku ini, ngeri dengan isinya yang begitu "daging". Juga membuat aku sadar tentang bagaimana sikapku selama ini dalam menghadapi buku, serta bercermin bagaimana caraku selama ini mencintai buku. Beratus kali aku mempertanyakan ke dalam diri, apakah selama ini aku hanya seorang Bibliomania si tukang koleksi buku namun malas membacanya? atau bahkan seorang biblio narsisn a.k.a kang pamer a.k.a legeg? yang cuma seneng update buku tp ayal menyerap ilmunya? Aku banyak banyak diajak refleksi selamam mebaca buku ini.

Aku juga dibuat berkali kali menangis dengan bagaimana penulis menceritakan proses penghancuran buku dari masa ke masa. Bagaimana tranformasi selera baca umat manusia dari zaman ke zaman yang diluar nalar dan bikin manggut manggut. Ajaibnya semua informasi "daging" itu tak sama sekali membuat buku ini terasa membosankan, namun justru begitu asyik diselami karena diracik dengan dialog dialog yang begitu apik nan kritis.
Profile Image for Fa  Fauzia.
29 reviews3 followers
April 9, 2017
"Ketika Tuhan meniupkan ruh padamu,
Dia simpan pada tiga tempat:
Akalmu, hatimu dan kelaminmu.
Tinggal kau yang putuskan,
Mana yang akan kau utamakan...?"
-Emha Ainun Nadjib-


Kelamin dan perpustakaan, nafsu dan akal pemikiran, sungguh dua hal yang bertolak belakang. Kelamin yang berada dalam lingkup sex, tidak dipungkiri mempunyai citra eksklusif yang "kotor". Sedangkan perpustakaan dan buku-buku merupakan ilmu pengetahuan, sebuah simbol peradaban suci nan agung, bahkan kalau pun perpustakaan tersebut berisi segala buku tentang sex, ia tetaplah pengetahuan. Paradoks memang.

Itulah kenapa saya tertarik dengan premis yang ditawarkan oleh buku ini. Perpustakaan dan kelamin dalam pertaruhan. Menarik sekali bukan, membahas kelamin yang "kotor" dan ilmu pengetahuan yang "suci" sekaligus? Sepenting apa kelamin dibandingkan ilmu pengetahuan? Soal kelamin yang pembahasannya selalu dianggap tabu dan menjijikan, rupanya tak terbayangkan juga jika kita sampai kehilangan keberadaannya. Tetapi demi kelamin, relakah pula untuk kita mengorbankan ilmu pengetahuan?

Itulah dilema yang dihadapi oleh Hariang, pemuda pintar tak bersekolah yang dibesarkan oleh ibunya. Bagi Hariang, ibunya adalah segalanya. Ibunya adalah teman, sekaligus guru. Kepintaran yang ia miliki tentu adalah berkat yang diturunkan dari upaya ibunya yang mendidiknya sedemikian rupa, dengan buku-buku. Sampai suatu ketika, perpustakaan yang ibunya dirikan serta telah belasan tahun ia rawat sendiri terbakar. Hal ini sangat mengguncang jiwa ibu Hariang dan membuatnya gila. Hariang yang hampir putus asa dengan keadaan ibunya berpikir bahwa tak ada jalan lain selain membangun kembali perpustakaan tersebut. Tapi dari mana ia dapatkan uang untuk membeli ratusan buku-buku langka itu? Ia bisa bekerja serabutan, tapi itu pasti membutuhkan waktu yang lama, sementara ibunya semakin terlihat mengenaskan. Satu jalan dibukakan di hadapannya: ia bisa mendapatkan uang milyaran dalam waktu singkat asalkan ia rela medonorkan kelaminnya. Tentu ia rela melakukan apa saja demi ibunya, tetapi di sisi lain ada Drupadi, kekasih yang sedang ia gilai dan hendak ia nikahi.

Buku yang terbungkus tampilan novel ini memuat banyak diskusi, pemikiran dan pertentangan batin. Terlalu banyak malah. Memang, seperti tipikal novel bertema buku dan perpustakaan lainnya, tentu saja kita harus siap disuguhi oleh nukilan-nukilan dari buku lain. Ada banyak sekali buku bagus di luar sana dan tentulah penulis yang menulis buku tentang perpustakaan pasti tahu banyak buku-buku keren nan filosofis. Inilah yang saya rasakan ketika membaca novel ini. Penulisnya terlalu semangat untuk memamerkan khazanah pengetahuannya tentang buku-buku. Mungkin niatnya sangat baik, ingin membaginya kepada pembaca. Akan tetapi kesannya justru seperti "menjejali" pembaca dengan diskusi-diskusi yang sebenarnya berada jauh di luar alur. Tak apalah jika berlaku sebagai intermezzo, namun hal ini rupanya justru hampir membunuh alur. Mungkin buku ini lebih cocok bagi penggemar non fiksi, tapi sekali lagi sejak awal pembaca sudah diiming-imingi cerita fiksi.

Inti cerita baru bisa kita masuki di halaman ke lima puluh, itu pun setelahnya kembali dibuyarkan oleh selipan diskusi-diskusi filosofis yang lebih panjang daripada tema cerita yang hendak dibawakan. Dari total 229 halaman, mungkin cuma 20% yang merupakan alur. Intinya terlalu banyak hal lain yang dibicarakan yang tak ada hubungannya dengan alur. Kalau kata orang sunda, istilahnya adalah "Ngayahyay..." alias menjalar kemana-mana. Hal ini menjadi penilaian penting, karena pada akhirnya buku ini seperti memiliki krisis identitas. Apakah ini novel? Atau essay? Atau artikel kutipan buku-buku?

Gagasan-gagasan dalam buku ini sebenarnya amatlah menarik, terlepas itu merupakan tema utama atau selipan belaka. Mengenai seks dalam tema utama, misalnya, memang akan menjadi topik yang takkan habis untuk dibahas. Sebuah ironi yang terdapat dalam masyarakat kita yang saat ini tiba-tiba jadi cenderung sok konservatif, bahwa sekali hal tabu selamanya adalah tabu dan terlarang untuk diekspos atau sekadar dibicarakan. Bahkan dalam urusan pendidikan, seks masih terdapat dalam daftar pingitan. Padahal, bukankah tanpa seks maka takkan ada peradaban? Dan bukankah seks pula yang bisa meruntuhkan peradaban itu sendiri?

Selain itu terdapat pula diskusi-diskusi mengenai paradoks pendidikan, pelarangan buku, serta pemikiran para cendekiawan dan sufi. Lengkaplah sudah pertaruhan antara ilmu pengetahuan dan kelamin ini. Hanya saja penempatannya kurang halus dan tak berbaur dengan cerita, sehingga muncul kesaruan akan gagasan utama yang tampak tergilas atau tertutupi oleh nukilan-nukilan hal tersebut. Sungguh, jika benar ini adalah novel, maka dialog-dialognya sangat kurang padu. Keberlangsungan plotnya juga masih loncat ke sana ke mari. Eksekusi ending apalagi, tampak amat terburu-buru. Jika ini merupakan buku kumpulan essay, maka mungkin yang harus diperbaiki adalah sortiran tema yang "jelas" yang akan disuguhkan pada pembaca.

Menurut catatan di akhir buku, penulisnya berniat melanjutkan cerita Hariang ini. Saya agak sedikit sangsi, namun semoga saja ada perbaikan dari segi tata tulisnya. Sehingga tak semengecewakan buku yang ini. Karena sayang sekali jika pengetahuan tidak bisa dinikmati.

Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.