Bagi beberapa prajurit,perang adalah kehidupan ataupun sumber penghidupan. Namun bagi Westerling,perang adalah petualangan yang menyenangkan.
Prahara di Paris van Java yang dilakukan Raymond Westerling meninggalkan luka dalam sejarah Indonesia. Indonesia baru saja mendapat pengakuan de jure dari Belanda. Indonesia juga dihadapkan pada bentuk negara federasi berupa Republik Indonesia Serikat. Bentuk negara seperti ini dinilai para founding fathers sebagai strategi Belanda untuk memecah belah bangsa. Pendek kata, di saat Indonesia tertatih-tatih mestabilitasikan politik dan ekonomi, Westerling dan bekas tentara Belanda malah menikam dari belakang.
Jejak kelam Westerling ini sepantasnya dibaca masyarakat Jawa Barat dan Indonesia. Dengan membaca buku ini pula pembaca akan terangsang untuk mengetahui lebih lanjut prahara di Paris Van Java. Apalagi Petrik Matanasi dalam karyanya ini sama sekali belum menyingkap oral history dari para pelaku dan saksi yang masih hidujp. Sumber dari oral history ini penting, agar rekonstruksi sejarah prahara di Paris van Java pada 23 januari 1950 semakin lengkap.
Awal mula saya mengenal Westerling dari sebuah lirik milik Bang Iwan Fals. Kemudian saya dipertemukan dengan buku ini. Westerling manusia yang tak punya belas kasian, sadis, brutal, dan mahir menembak peluru dengan akurasi yang selalu sempurna. Ia terlibat dalam pembantain di Sulawesi Selatan dan jadi jadi motor utama dalam pemberontakan APRA di Bandung dan Jakarta.
Tidak banyak buku yang mengupas tentang Westerling, terutama buku berbahasa Indonesia.
Salah satu buku yang mengupas Westerling dan gerakannya adalah buku ini yang dirangkum dari berbagai sumber yang mencerminkan keseriusan Penulisnya yang ingin mendalami kisah si "Turk" ini, sehingga kisah mengenai Pemberontakan APRA menjadi lebih lengkap.