Judul Buku: Surat Untuk Ruth
Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 168 halaman; 20 cm
Tahun Terbit: April 2014
Genre: Fiksi Dewasa
ISBN: 978-602-03-0413-7
Harga: 45.000,00
Surat Untuk Ruth adalah karya ketiga dari Bernard Batubara yang saya baca, setelah Milana dan CINTA. (baca: cinta dengan titik). Dengan tebal 168 halaman, novel ini terhitung cukup tipis, sehingga hanya membutuhkan beberapa jam bagi saya untuk menyelesaikannya.
Surat Untuk Ruth adalah prekuel dari Milana, salah satu cerpen dalam kumpulan cerita pendek Bernard Batubara dengan judul yang sama. Menurut saya, adalah tantangan tersendiri bagi penulis untuk menulis cerita awal, dari suatu akhir yang telah banyak diketahui pembacanya. Sebagai salah satu dari orang-orang yang telah membaca Milana, sejak awal saya sudah dapat menebak kemana akhir cerita ini akan dibawa. Menurut saya kekuatan cerita bukan hanya pada akhir cerita yang menyedihkan. Melainkan, bagaimana penulis dalam hal ini melalui sudut pandang Areno Adamar mengungkapkan perasaannya kepada (mantan) kekasihnya, Ruthefia Milana, sekaligus membentuk alur cerita dalam bentuk surat.
Sejak novel-novel sebelumnya, penulis kerap menggunakan tempat-tempat nyata dalam karya fiksinya. Kali ini, ia mengambil latar tempat beberapa kota seperti Bali, Surabaya, Batu dan Yogyakarta. Dengan latar tempat dominan adalah Bali, mulai dari pantai-pantai, Jembrana, Ubud hingga pada tempat sedetil kafe dan hotel. Sehingga, alur cerita dari novel ini terasa begitu dekat dengan pembaca.
Ketika menutup novel ini, saya berhenti sejenak dan berpikir apakah perasaan tentang cerita dalam Surat Untuk Ruth begitu dekat karena saya tinggal di Bali dan telah membaca cerpen Milana? Mungkin saja. Namun, saya menemukan alasan lain mengapa cerita ini begitu dekat. Pertama, cerita yang diangkat antara Are dan Ruth masih seputar cinta, cinta tanpa kemampuan untuk saling memiliki, cinta yang kandas. Semua itu memang ada di sekitar kita. Istilah masa kini adalah kegalauan.
Penulis dan pembaca sebuah buku, sama-sama mempunyai peranan penting yang terhubung satu sama lain. Misalnya saja, adalah hak penulis untuk memilih bercerita melalui latar yang mudah dibayangkan, pilihan pembentukan dalam penokohan dan memoar, beberapa pembaca mungkin akan mempertanyakan apakah karya ini fiksi ataupun tidak. Membangun cerita adalah hak penulis, di lain pihak penulis tidak bisa menutup keran imajinasi pembaca atas apa yang mereka tulis. Bahkan, sebenarnya sejak naskah masuk ke tangan editor pun tulisan bukan lagi murni dibentengi hanya sebagai milik penulis. Kuncinya adalah komunikasi dan persepsi untuk saling mengapresiasi. Sekali lagi saat sampul belakang novel ini dibalik, disana tertera genre fiksi dewasa. Karena itulah kategori dimana buku ini ditempatkan. 4/5 untuk karya Bernard Batubara kali ini, bacaan yang tepat untuk menemani di akhir pekan.