Jump to ratings and reviews
Rate this book

Elang & Agung #2

Neraka di Warung Kopi

Rate this book
Pemilik sebuah warung kopi dibunuh brutal, mayatnya ditemukan dalam keranjang yang biasanya digunakan pedagang di pasar untuk berjualan. Warung kopinya dirusak, porak-poranda. Judul berita di surat kabar pun muncul:

“Neraka di Warung Kopi”.

Penyelidikan terhadap kasus pembunuhan itu menggiring Elang dan Agung berurusan dengan kepemilikan tanah: ada tanah yang dirampas, dan perampasnya ternyata penjahat kenamaan. Saat misteri hampir tersibak, kejahatan lain menyusul, dua korban ditemukan tewas di pulau yang sunyi.

“Bagi beberapa orang, kematian adalah duka, perpisahan abadi. Tapi bagi orang-orang itu, kematian adalah bisnis.”

224 pages, Paperback

First published July 25, 2016

Loading...
Loading...

About the author

Sidik Nugroho

15 books29 followers
Sidik Nugroho lahir pada tanggal 24 Oktober 1979, menekuni dunia kepenulisan sejak cerpen pertamanya berjudul Surat Kakakku menang sebagai juara ketiga lomba kepenulisan di kampusnya pada tahun 2002. Beberapa tulisannya (cerpen, puisi, esai, opini, artikel, dan resensi buku) pernah dimuat media-media nasional seperti Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Jawa Pos, Kontan, beberapa media online, dan beberapa media lokal.

Buku-bukunya yang telah terbit adalah:

1. kumpulan cerpen remaja yang ditulisnya bersama Arie Saptaji berjudul Never be Alone (Penerbit Andi, 2005),

2. kisah dongeng berjudul Kisah-kisah Si Tuan Malam: Pencarian Kolam Mukjizat (Pustaka Ninja, 2011),

3. kumpulan kisah inspiratif berjudul 366 Reflections of Life (Bhuana Ilmu Populer, 2012),

4. kisah dongeng berjudul Kisah-kisah Si Tuan Malam: Pendekar Gitar dan Penggali Kubur (Pustaka Ninja, 2013),

5. novel berjudul Surga di Warung Kopi (Bhuana Ilmu Populer, 2014),

6. novel berjudul Melati dalam Kegelapan (Gramedia Pustaka Utama, 2014),

7. novel berjudul Tewasnya Gagak Hitam (Gramedia Pustaka Utama, 2016),

8. novel berjudul Neraka di Warung Kopi (Gramedia Pustaka Utama, 2016),

9. buku nonfiksi berjudul Menulis untuk Kegembiraan (Buana Karya, 2016),

10. novel berjudul Ninja dan Utusan Setan (Gramedia Pustaka Utama, 2017),

11. novel berjudul Serikat Kegelapan (Kopihitam, 2017),

12. novel berjudul Klien Ketiga (Prakarsa Anugerah Mandiri, 2021), dan

13. novel berjudul Kematian Pendeta Felix (Prakarsa Anugerah Mandiri, 2025).

Pada 26-30 Oktober 2016 ia diundang tampil di Ubud Writers and Readers Festival di Ubud, Bali. Pada tahun yang sama, novel Tewasnya Gagak Hitam lolos seleksi program penerjemahan yang dihelat Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) dari Badan Bahasa; novel yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris itu diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, berjudul The Death of the Black Crow.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (14%)
4 stars
23 (41%)
3 stars
18 (32%)
2 stars
4 (7%)
1 star
3 (5%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for Aravena.
682 reviews36 followers
December 8, 2018
Kisah kedua dari seri misteri Elang dan Agung, yang merupakan judul pertama seri ini yang saya baca (*tanpa disengaja, saya memang sering memulai seri baru dari jilid keduanya). Ada beberapa kali cerita di jilid pertamanya, Tewasnya Gagak Hitam, disinggung-singgung dan dibocorkan, jadi rasanya lebih baik mulai membaca dari judul itu dulu. Lucunya, penulisnya sebelumnya pernah juga menerbitkan buku berjudul Surga di Warung Kopi....jelas beliau punya berjuta kenangan tentang tempat itu.

Tokoh penyelidik di buku ini adalah Elang Bayu Angkasa (pelukis merangkap detektif amatir) dan Agung Prasetyo (polisi)....dari namanya saja, sudah kelihatan kan mana tokoh utamanya, hehe. Di buku ini, kasus yang mereka hadapi adalah kematian misterius seorang pemilik warkop. Narasinya bergulir cepat, lugas, dan langsung ke pokok permasalahan. Di awalnya malah mungkin terlampau lugas, sampai-sampai saya tidak sempat meresapi atmosfer cerita. Namun, secara keseluruhan gayanya tidak terlalu kaku. Semakin ke belakang, kepribadian Elang dan Agung pun makin terlihat.

Banyak elemen sensasional di sini: modus pembunuhan yang super sadis, konspirasi besar di kalangan pemegang otoritas, gontok-gontokan dengan geng penjahat, dan bumbu petualangan asmara yang lumayan banyak. Sayangnya, selera saya lebih mengarah ke cerita misteri yang elegan, yang lebih banyak teka-teki dan unsur psikologisnya; dan Neraka di Warung Kopi kurang bisa memuaskan hal tersebut. Penulisnya juga sepertinya membayangkan Elang layaknya sosok James Bond yang harus selalu ketemu perempuan seksi baru di tiap cerita; jadi, ada sub-plot 'petualang cinta yang ingin tobat', lengkap dengan adegan yang membuat saya ngakak karena mirip skenario film esek-esek.

Ada beberapa bagian yang saya suka, seperti latarnya yang di Singkawang (Kalimantan Barat), tema soal pengukuran lahan dan sengketa sertifikasi, serta bagian pelacakan jejak yang cukup runut. Saya juga suka aspek kerja sama antara berbagai tokohnya, yang bahkan juga melibatkan seorang napi (*terinspirasi dari novel Stephen King sebagaimana kata penulisnya). Sesekali, ada selipan kalimat atau kontemplasi yang lumayan mengena. Di akhir cerita, saya pun jadi lebih tertarik dan simpati dengan tokoh Agung.

Lumayan sebagai bacaan ringan nan pulpy sekaligus referensi novel kriminal lokal, walau belum terlalu menggugah saya untuk melengkapi serinya.
Profile Image for blackferrum.
766 reviews57 followers
October 2, 2022
Akhirnya kekepoanku soal misteri lokal terpenuhi juga. Buku ini tipis banget, travel size pula. Harusnya bisa sih, sekali baca, tapi nyatanya butuh waktu lama banget selesainya.

Pertama, memang aku seling dengan bacaan lain dan yah karena gaya berceritanya masih baru, jadi butuh penyesuaian.

Kedua, ternyata ini buku kedua. Sebenarnya nggak harus baca buku pertama karena kasusnya beda, tapi ada beberapa karakter yang disebut-sebut dari kasus sebelumnya, jadi mau nggak mau ya penasaran juga.

Ketiga, latar tempatnya luar Jawa. Ini bikin excited karena harus kenalan dan lagi-lagi kepo kayak apa, sih, visualisasi tempat ini. Plus, penulis menggambarkannya dengan baik.

Keempat, misterinya sih nggak ada masalah, tapi selipan romance-nya yang enggak banget. Elang digambarkan sebagai laki2 yang bisa bikin jatuh cinta. Idk, wajahnya guanteng banget apa gimana, tapi daya pikatnya karisma dia, i think? Yang agak sebal, tuh, ini cowok kepedean banget lah, terus seenaknya merayu. Yang paling bikin gedeg adalah ... masa cuma beberapa kali singgungan Carol udah "tergila-gila" (bukan istilahku) sama Elang? Waduh, karismanya mematikan, dong? 😶

Ya itulah, aku masih kesal sama Elang yang rada plinplan gitu. So far seru, tapi dunno kenapa nggak bisa full enjoy (atau karena kurang sreg sama gaya berceritanya?) dan hampir aja dnf, tapi ingat halamannya nggak lebih dari 250 halaman.
Profile Image for haii.
49 reviews6 followers
March 26, 2022
4.75 because the romance was fucking unnecessary and horny i hated it
Profile Image for wrtnbytata.
215 reviews3 followers
April 13, 2023
3.5/5

“Di warung kopi, maut menghampiri. Misteri terkubur di pulau sunyi.” After his first experience in an investigation, Elang once again involved himself in a murder investigation case with Effendi and his team.

“Bagi beberapa orang, kematian adalah duka, perpisahan abadi. Tapi bagi orang-orang itu, kematian adalah bisnis.”

As for the case itself, compared to the first book, I’d say it had more suspense, and again with the number of action scenes in this book. In this book, the writer tried to add more elements to the case like the involvement of a mafia gang, land conflict, and the perspective of the victim’s family.

The mafia gang had a vicious and less humanity side in them, this element helped build more suspense to the readers. I also like how the case involved prisoners to rope the mafias – “Di raut wajah mereka terpancar keberanian dan harapan untuk memperjuangkan apa yang mereka anggap benar, walaupun mereka bukanlah orang-orang suci. Masa lalu mereka pun bahkan mungkin kelam, penuh tipu daya dan kemalangan. Apa yang mereka lakukan bersama Agung dan Elang membuat mereka diberi kesempatan untuk menjadi manusia lagi.”
Although, there’s still an unnecessary ‘casanova’ scene involving the main character who already had a girlfriend at the time. Well, if compared to the first part the amount of romance scenes shown is somewhat bearable. Indeed, an improvement from the first book.

“Berbahagialah manusia-manusia hidup, dengan secangkir teh hangat di hadapan mereka. Karena semuanya akan habis, sirna, menuju kedinginan dan kesunyian. Habis, seperti cerita ini.”
Profile Image for Rizky Arya.
126 reviews2 followers
July 17, 2021
Misteri di novel ini menjadi rumit, karena melibatkan perampasan tanah dan para mafia yang dikenal bengis. Pemilihan tanah Kalimantan sebagai setting peristiwa ini menurutku sangatlah tepat. Tema-tema seperti konflik agraria, hutan sawit, disparsitas antara pengusaha dan penduduk, ‘pembakaran’ hutan dan sengketa tanah, tentu sangat lekat dengan Kalimantan.

Dibandingkan seri sebelumnya, adegan-adegan di novel ini jauh lebih hidup. Tokoh Elang yang sebelumnya sangat mudah ‘kepincut’ perempuan, disini ia lebih bisa menahan diri wkwk.

Next : https://kepinganarya.blogspot.com/202...
Profile Image for Siraa.
269 reviews3 followers
August 24, 2021
Dibandingkan "Tewasnya Gagak Hitam", buku kedua ini memang punya misteri lebih rumit namun tidak tergambarkan secara baik. Konklusinya di bagian akhir malah di hamparkan begitu saja tanpa penjelasan memadai. Kisah romantis antara Elang dan Seorang Polwan bernama Carol juga terasa tanggung, kurang eksploratif dan itu-itu saja. Karakter utama cerita ini agak kurang likeable sih menurutku. Jadi mikir-mikir untuk lanjut ke kasus selanjutnya
Profile Image for syarif.
302 reviews58 followers
September 3, 2021
Judulnya bikin penasaran banget bagaimana surga dan neraka ternyata bisa berada di tempat yang sama!.

Bercerita seorang peulik dan teman polisinya yang menyelidiki pembunuhan pemilik warung kopi secara brutal tentang masalah pertanahan dan lebih menarik lagi kemunculan 2 korban lain. Asik banget baca detektif misteri lokal dengan latar di kalimantan.
41 reviews
February 22, 2025
novelnya terlalu singkat. tiba2 udah abis aja. ini novel juga bersambung kisah tokoh utamanya karena di akhir cerita tidak ada kejelasan mengenai hubungan tokoh utama dengan orang yg disukainya. malahan parahnya dia suka sama 2 orang..

overall tentang cerita misteri pembunuhan yg melibatkan kelompok geng dan polisi.
Profile Image for Raditya Ghifarry.
51 reviews2 followers
September 2, 2021
3.8/5
Lebih menarik dan banyak konflik dari seri pertama tapi endingnya terlalu biasa, padahl ditengah ada yang bikin adrenalin ningkat eh ternyata cuman.....
Tapi gua suka buku dengan tipe penyelidikan kayak gini, kayak buku2 s mara gd
Profile Image for Intan.
6 reviews1 follower
January 5, 2022
cara penulisan dan alur lumayan to the point, jadi saya kurang bisa merasakan vibes dari cerita ini sendiri. yang saya personally kurang suka sih… bumbu-bumbu romance di dalamnya, cukup membuat saya menunda menghabiskan bacaan ini. tapi, kasus dan misteri di novel ini sebenarnya sangat menarik.
18 reviews
January 18, 2020
Buku tipis ini lumayan seru, ceritanya selalu nyambung dari bab ke bab, itu mungkin yang bikin alurnya memaksa pembacanya selalu lanjut ke bab selanjutnya.
Profile Image for Cep Subhan KM.
343 reviews27 followers
October 29, 2020
Better than the earlier title in this series. Hope the next title more interestingly presented.
1 review
May 26, 2025
keren saya sangat suka dengan buku ini, berawal dari perpustakaan sekolah hingga saya mencoba untuk membaca versi online di aplikasi ini
25 reviews
July 8, 2025
Buku misteri yang keren bangett cuma memang ga terlalu menonjolkan sisia detektifnya. Tapi punya penyelesaian keren sihh
Profile Image for Ratna Sari.
308 reviews12 followers
May 12, 2017
"Berbahagialah manusia-manusia hidup, dengan secangkir teh hangat di hadapan mereka. Karena semuanya akan habis, sirna, menuju kedinginan dan kesunyian." (hal. 205)

Kali ini Elang menyelidiki kasus mutilasi. Korbannya adalah seorang pemilik warung kopi. Bersama Agung, Elang menyelidiki masa lalu Sucipto, sang korban. Tanpa diduga, beberapa hari setelahnya ditemukan lagi sepasang mayat di sebuah pulau. Apakah ada hubungannya dengan kasus yang pertama? Apakah Elang berhasil menyelesaikan kasus "Neraka di Warung Kopi" ini?

Sama seperti di bukunya yang pertama, tidak ada plot twistnya. Semua teka-teki dan cara penyelesaiannya dengan narasi dari penulis. Walaupun, gaya penulisannya masih ringan, namun aku merasa di buku ini kurang seru. Yang paling aku suka adalah di buku ini sang tokoh utama, Elang mulai berusaha menjadi "good boy". Gak sebrengsek di buku yang pertama.
Profile Image for M Fadli.
7 reviews4 followers
September 1, 2016
Lebih mengalir dibanding cerita yang pertama. Plotnya mudah dipahami, metafiksi ttg pertanahan juga mudah dipahami meskipun pembaca kurg paham ttg BPN dan sekitarnya. Lebih ke nuansa Police Procedural bila dibandingin dengan fiksi detektif klasik. Selain itu bumbu red herring kurang terasa. Penulis lebih mengedepankan "straight forward plot." Lebih pendek dari cerita sebelumnya. Hanya 17 bab.

Review selengkapnya ada di
https://detectivestoryid.wordpress.co...
1 review
August 1, 2016
lebih ringkas dari pada tewasnya gagak hitam. seperti biasa, gaya bercerita penulis nya "to the point",itu yang menarik. penulis lain mgkn saja akan mengarang satu setengah atau bahkan dua kali lebih tebal untuk cerita dengan complexity seperti ini. gak sabar nunggu yg misteri selanjutnya....
Displaying 1 - 17 of 17 reviews