Jump to ratings and reviews
Rate this book

Genduk

Rate this book
Genduk adalah sebuah fiksi yang diceritakan dengan gaya memoar. Berkisah tentang seorang bocah perempuan berumur sebelas tahun, yang tinggal di desa paling puncak Gunung Sindoro, Temanggung. Setting dibuat pada tahun 1970-an ketika petani tembakau sudah mulai mengolah tembakau yang masuk kualitas atas di dunia ini untuk dipasok ke pabrik-pabrik rokok.

Genduk melakukan pencarian jati diri dan pencarian atas sosok ayah yang tidak pernah dilihatnya seumur hidup. Konflik terjadi ketika Genduk menemukan kenyataan mengenai ayah yang selama ini dirindukannya. Konflik pun bergulir terkait dengan permasalahan yang dialami oleh para petani.

232 pages, Paperback

Published July 25, 2016

15 people are currently reading
188 people want to read

About the author

Sundari Mardjuki

3 books11 followers
Sundari Mardjuki is an Indonesian author living in Depok, West Java, Indonesia. She was born in Temanggung, Central Java in December 1975. She moved to Depok, West Java in 1994 to pursue her study at University of Indonesia, Faculty of Cultural Studies. She found her passion in writing since she was in high school, where she wrote short stories but kept it for herself.

She used to work as Senior Marcomm Manager at Sony Music Entertainment Indonesia, where she closely works with many popular Indonesian artists such as Isyana Sarasvati, Fatin Shidqia, Judika, GAC, TheOvertunes, among others.

During her stay in The Netherlands, she studied about writing at the Amsterdam Writing Workshop from 2010 – 2011.

Her books : Papap, I Love You - A Novel (2012), Funtastic Fatin – A Non Fiction (2013), Genduk – A Novel (2016).

Sundari was awarded as "Best New Comer" (2012) for A Book Papap, I Love You, by Minister of Tourism and Creative Economy.
Together with Reda Gaudiamo and some promiment writers, Sundari was co-founder of Jakarta Writing Workshop, a writing community who gather people with the same passion, writing.

Genduk, her latest novel is published on July 27, 2016. It tells a story about an 11-year-old girl living in remote village in top of Mount Sindoro, Temanggung, in Central Java. Set in 70’s era, and riched with local culture and wisdom, the readers will be brought to the beauty of the Mount Sindoro and its surroundings, how tobbaco farmers had to survive, and Genduk’s journey in search of her lost father.

Genduk has received critical acclaims from several media including Detik.com, CNN Indonesia, Bisnis Indonesia, Gatra, and Republika. Genduk was selected as 5 Best Prose from 2016 Kusala Sastra Khatulistiwa, the most prestigious literary award in Indonesia.

Some portions of her book royalties go to Komunitas Cendekia Mandiri, a community which provide education for marginal children living in Temanggung, Central Java.

Sundari is co-founder of Jagongan Sastra Gunung, a literary event held in Mranggen Kidul Village, in Mount Sindoro, Central Java.

Twitter and Instagram: @sundarimardjuki
LinkedIn: Sundari Mardjuki
Facebook : Sundarimardjuki’sbooks
Personal website: www.sundarimardjuki.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
54 (19%)
4 stars
88 (32%)
3 stars
114 (42%)
2 stars
13 (4%)
1 star
2 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 68 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
August 25, 2016
Agak jauh di bawah ekspektasiku sebelumnya. Mengapa sampul yang indah dan endorsement dari sastrawab-sastrawan Indonesia. Belum lagi sinopsis di akhir yang sepertinya menjanjikan, tentang konflik tembakau di lereng Sindoro.

Genduk, anak yatim sejak kecil yang tidak pernah melihat pak'e. Yung, biyung ibunya membesarkannya. sSebagai petani tembakau yang menyewa lahan dan maish harus berurusan dengan tengkulak yang kerap memainkan harga tembakau di pasaran.

Saya kok merasa Genduk ini fan-fic dari Ronggeng Dukuh Paruk, kalau tidak boleh dibilang epigon atau mengekor A.T. Mengapa? Pertama setting pedesaan dan dunia pertanian yang dalam benak saya sudah paripurna di tangan Tohari lewat Srintil dan Rasus-nya. Lereng pegunungan jelas membawa ingatan kita kepada novel Tohari. Kedua, ada kasus-kasus politik yang, jujur, saya jengah dan tidak terlalu mafhum mengapa harus disebut dalam novel ini.

Saya di awal masih sangat suka dengan diskripsi perlahan dan narasi soal keindahan dan alam Lereng Sindoro. Sundari memang bukan penulis pemula, maka wajar bila narasi-narasinya dijalin dengan apik. Tapi, Sundari kerap kehilangan benang dia cerita. Kadang bicara soal tembakau mendadak ke rumah kawannya. Agak sering mencong dari bahasan di awal. Jadi saya mulai harus menahan napas perlahan. Konflik utamanya adalah mencari pak'e.Tapi konflik susulannya tidak terlalu penting.

Dan ketika disebutkan bahwa Pak'e nya mati gara-gara konflik PKI-santri, sudah saya langsung menyimpulkan bahwa Sundari sedang mencoba mengikuti resep Tohari di Ronggeng Dukuh Paruk. PKI kembali diungkit di suasana yang serupa dengan Paruk. Terus setelah mengetahui itu, Sundari terjebak drama yang terlalu melankoli. Yung dan pakliknya menjadi 'hero' karena menyelamatkan harga tembakau dan diancam bahkan hampir dibunuh. Dan happy ending....

Ada beberapa pertanyaan yang sedikit mengganjal:
1. Apa di tahun 70-am orang di lereng Sindoro yang belum ada listrik sudah mengenal kata stop? Mungkin ini agak rancu
2. Apa tahun segitu di desa terpencil sudah kenal kata pacaran?

Dua hal ini menganggu jelas, karena latar waktu tahun 70-an, maka setidaknya ada korelasi kebenaran yang disajikan. Terlebih soal data-data sekunder seperti itu. Dan mengapa pula harus ada nama tembakau srintil yang kita mau tidak mau harus terseret ke Srintil milik TOhari?

Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
December 1, 2016
Buku ini berhasil saya selesaikan dengan cepat berkat baca bareng Mbak Vina, Mbak Desty, dan Wardah a.k.a adek kelas slash penggemar x) emang ya kalo baca bareng itu bikin lebih semangat untuk baca sampe kelar. Begitu juga dengan hidup, kalo ada temennya bisa lebih semangat menjalaninya #ehgimana?

Saya suka gaya bercerita penulisnya yang membuai, bikin nggak bisa berhenti baca. Suasana Jawa-nya juga berhasil dibangun dengan baik, dengan dialog, dialek, dan istilah-istilah. Ceritanya ngenes banget di pertengahan T_T untung endingnya bagus. Yang (agak) bikin nggak sreg, di beberapa bagian saya merasa penulisnya terlalu menggurui.

Overall bagus sih, saya suka. Tapi (IMHO) kurang spesial. Saya jadi kepingin baca Gadis Kretek. Nggak nyambung ya? xD

Di buku ini ada puisi-puisi yang ditulis oleh Genduk, favorit saya yang berjudul Sajak Pohon Tembakau. Saya kutip di bawah ya:

Tanah kerontang ia gemburkan
Larik benih ia taburkan
Ada kehidupan di sana
Yang ia dekap hingga bulan tak berbilang

Kepada langit ia mintakan
Janganlah air dituangkan
Karena sang jabang masih lemah
Dari alang-alang yang menjamah

Kasihmu menghidupi
Telatenmu menggenapi
Hingga waktunya tiba
Ketika berkumpul semua asa
Sepahit apa pun rasa tembakau
Jangan pernah risau
Karena akan ada mawar sebagai penawar
Profile Image for Alien.
254 reviews31 followers
August 4, 2016
3 bintang menurut ukuran Goodreads artinya "I liked it" atau "saya suka buku ini". Jadi, 3 bintang tidak berarti buruk atau bahkan 'biasa saja'.

Saya suka buku ini karena ide ceritanya sangat menarik - rasanya saya belum pernah membaca buku cerita yang memilih latar belakang sebuah desa di Kabupaten Temanggung yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani tembakau. Dari awal membaca sinopsisnya, saya sudah tertarik untuk membaca buku ini hanya gara-gara ide ceritanya.

Ketika membaca, seperti biasa, saya menemukan hal-hal yang saya tidak suka: konflik terlalu banyak, jadi deskripsi tiap konflik kurang detil; akibatnya tokoh terlalu banyak, padahal bisa dipadatkan. Tapi setelah saya telaah, sepertinya banyak juga hal-hal yang saya suka dari buku ini: saya suka cara buku ini dibagi ke dalam bab-bab pendek - beberapa bab-bab pendek ini bisa dibaca secara lepas menurut saya, bahkan bisa diceritakan ulang sebagai cerita anak-anak - keren!
Selain itu, saya juga suka dengan gaya bercerita dalam buku ini karena gaya bercerita yang saya tangkap adalah gaya yang santun, tidak menggurui, dan rendah hati, pas sekali dengan karakter Genduk. Gaya bercerita ini tidak saya dapatkan dari buku-buku novel bergaya memoar yang lain seperti dari Laskar Pelangi atau Negeri 5 Menara.

Setelah menutup buku, saya jadi penasaran, apa ya yang terjadi diantara Genduk dan Sapto? Bisa dijadikan buku kedua, nih!
Profile Image for Wardah.
926 reviews171 followers
February 2, 2017
Genduk bercerita tentang Genduk, seorang anak yang tinggal bersama ibunya di kampung petani tembakau. Dengan setting pertanian tembakau, novel ini kaya seputar hal tersebut. Mulai dari proses menanam hingga tembakau dijual. Genduk menyampaikan informasi itu.

Sayangnya, konflik yang disajikan Genduk itu tidak jelas. Saya paham penulis ingin menuliskan tentang kehidupan susah petani tembakau di masa itu dan kerinduan sang tokoh utama terhadap ayahnya lewat novel ini. Sayangnya, penulis tidak berhasil menyajikannya dengan apik. Cerita tidak berhasil terbangun dengan rapi.

Perjalanan Genduk mencari ayahnya terlalu singkat. Perjuangan petani tembakau pun disampaikan mirip ensiklopedia sehingga tidak menyatu dengan kerinduan Genduk. Lengkap dengan karakter Genduk yang kelewat dewasa untuk anak SD dan akhir yang sangat-sangat cepat untuk karakter antagonisnya, novel ini menjelma sebuah bacaan yang membuat kecewa. Padahal novel ini punya latar yang menarik dan karakter yang unik. Sayangnya tidak berhasil digarap dengan maksimal.

Ulasan lengkap bisa dibaca diMelukis Bianglala.
Profile Image for raafi.
927 reviews449 followers
August 17, 2016
"Mbako srintil ini memang mengundang perhatian. Jangan teperdaya dengan rupanya yang tidak menawan. Hitam pekat, berair, menggumpal seperti tai kebo. Ketika dijemur, tampak dari kejauhan seperti berkilat hitam kebiru-biruan. Inilah emas hitam yang sesungguhnya. Nilai srintil ini luar biasa. Digadang serta diimpikan oleh setiap petani." (hal. 214)

Teduh. Santun. Eksotis.

Ulasan lengkap: http://bibliough.blogspot.co.id/2016/...
Profile Image for Katherine 黄爱芬.
2,419 reviews291 followers
March 19, 2021
Genduk hanyalah seorang gadis kecil yg hidup dlm kepapaan di Gunung Sindoro. Genduk hanya tinggal bersama biyungnya (ibunya) dan krn itu Genduk sering memendam perasaan cemburu pd teman-teman sebayanya yg memiliki ayah.
Genduk ini gadis yg aneh-aneh kebiasaannya, juga suka melamun dan mengkhayal andaikan dia memiliki seorang ayah. Tapi sbnrnya Genduk sangat cerdas. Berkat ketulusan dan kejujurannya, Genduk memperoleh berkat yg tidak pernah diimpikannya.

Dilatar belakangi keindahan kehidupan sederhana desa di Gunung Sindoro, kita disuguhi perkebunan tembakau yg memikat. Genduk adalah gadis biasa normal, ingin punya sesuatu yg dimiliki oleh teman-temannya, ayah yg menjadi tulang punggung, bukan biyungnya yg membanting tulang. Genduk mau punya baju bagus spt milik teman gadisnya, Genduk juga normal ada perasaan pd Sapto, Genduk sedih saat mengetahui nasib ayah kandungnya tapi dia bisa mengikhlaskannya.

Saya suka penceritaan tahun 1970an ini saat Orde Baru menancapkan kukunya di politik Indonesia. Dan aib Gestok yg berdarah-darah masih sangat melekat di desa ini. TVRI sbg satu-satunya hiburan orang desa pdhl listrik saja blm masuk desa. Ada nilai-nilai zaman dulu spt gotong royong yg sekarang rasanya sudah memudar. Ada keuletan tinggi pd diri Genduk yg rasanya sangat jarang dimiliki anak-anak sekarang, turun gunung dgn jalan kaki dan seorang diri, bagaimana mandirinya anak yatim ini.

Pesan moral di buku ini cukup banyak tapi intinya adalah selalu bersyukur dgn apa yg kita punya. Tuhan selalu punya caranya utk menyelamatkan umatnya. Dan yg terpenting kita hrs melepas masa lalu utk tidak membebani masa depan kita.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
November 22, 2016
"Genduk" bercerita tentang kehidupan di sebuah desa di Gunung Sindoro. Di sana, para penduduknya menggantungkan hidupnya pada tembakau. Genduk adalah salah seorang anak yang tinggal di desa itu. Ibunya harus bekerja keras untuk menghidupinya, sementara sang ayah telah hilang entah ke mana.

Awalnya kukira novel ini akan mirip dengan sastra anak klasik, seperti 'Heidi' atau 'Anne of the Green Gables' misalnya. Saya sampai tidak bisa lepas dari imej Heidi di awal novel karena latarnya yang sama-sama di gunung, serta interaksi Genduk dengan "gebetannya", Sapto.

"Di sana, di balik lereng Merapi itu, akan kutemukan jawabannya. Di sana ada kota Jogja, tempat semua orang dari daerah mana pun menimba ilmu. Aku akan mengikuti jejak saudara-saudaraku, kuliah di sana. Jadi mahasiswa," katanya mantap.

Mendengar ucapan Santo, aku sontak tertawa. "Kamu sudah memikirkan jadi mahasiswa, padahal sekolah saja masih suka bolong-bolong, masih menyalin catatanku," kataku. (hal. 52)


Masalahnya, novel ini kemudian berusaha memasukkan terlalu banyak elemen lain ke dalam cerita dengan penelusuran yang seadanya. Misalkan tentang masalah agama lokal vs agama yang baru saja datang. Ini poin yang menarik, tapi pembahasannya sepintas lalu. Mungkin disederhanakan karena sudut padang yang dipakai adalah seorang anak kecil, tapi kalau dipikir-pikir lagi, gaya bercerita novel ini kan sebenarnya memoar. Andaikan penulisnya mau memasukkan pembahasan yang lebih berat pun, sebenarnya bisa dilakukan. Terus masih ada lagi soal PKI dan peristiwa '65, upaya kekerasan seksual yang Genduk alami, usaha pembunuhan, sampai santet.

Penyelesaian masalahnya juga kurang memuaskan untuk saya. Kesan keberuntungan (bolehlah kalau mau dianggap takdir dan bukannya deus ex machina) terlalu kuat. Kurang memuaskan aja gitu, karena tidak ada jatuh-bangun untuk mencapai penyelesaiannya.

Secara keseluruhan, 'Genduk' adalah novel dengan materi yang bagus. Saya suka dengan kehidupan Genduk sehari-hari, serta masalah tembakau yang desanya alami. Sayangnya, saya kurang suka dengan berbagai sub-plot yang dimasukkan, karena tidak dibahas mendalam. Saya juga kurang puas dengan pemecahan masalahnya yang terlalu kebetulan. Tiga bintang untuk novel ini.
Profile Image for Haditha.
Author 13 books21 followers
August 8, 2016
akhirnya dahaga sastra saya terbasuhkan oleh buku ini..
kisah-kisah tentang pencarian ayah/ibu selalu menyentuh hati..
apalagi dibalut dengan kesederhanaan lokalitas desa..
lika liku kehidupan yang mengiris hati. kejadian-kejadian tak terduga..

senang bisa berjodoh dengan buku ini.
membaca sastra menajamkan rasa.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
April 14, 2019
Aroma desa dan Jawanya kental banget. Settingnya di lereng Sindoro dan Sumbing yang ramai dengan tembakau bikin buku ini makin istimewa. Terlebih beberapa pekan kemarin habis tugas luar kota ke Wonosobo dan Banjarnegara, baca novel ini langsung teringat pemandangan kota kota lereng gunung dengan angkutan Coltnya. Sebuah novel sederhana namun meninggalkan kesan yang dalam.
Profile Image for Juni Rahamnita.
22 reviews53 followers
January 2, 2020
Kemelut batin yang dirasakan oleh Genduk, gadis tembakau yang baru berumur 11 tahun kupikir terlalu rumit. Penulis terlalu banyak menggunakan bahasa yang 'tidak lokal'. Bahkan salah satunya ia memakai bahasa Minang (sumber KBBI). Sub plot yang dibangun jarang terselesaikan dan terkesan sia-sia diceritakan.
Profile Image for Mor.
210 reviews7 followers
November 25, 2021
•[⭐ 3.75/5 ⭐]•



Ceritanya cukup sederhana dan ringan. Suasana pedesaannya bener-bener kerasa. Aku suka banget dengan perubahan karakter Yung dan Genduk di awal dan di akhir cerita 😭 Bikin hati ngilu. . .
Profile Image for Mandewi.
574 reviews10 followers
March 22, 2017
Genduk cocok dibaca oleh mereka yang merindukan kesederhanaan. Dari cara bercerita, konflik, penyelesaian, seting, tokoh. Semuanya disajikan dengan sangat sederhana, plus sangat memikat. Secara pribadi, gaya bertutur dalam Genduk ini merupakan gaya bertutur impian yang ingin saya kuasai. Teduh, lembut, tradisional. Suka.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
February 5, 2017
Genduk adalah seorang bocah perempuan berumur 11 tahun. Aslinya dia bernama Anisa, tapi Biyung (ibunya) dan semua orang yang mengenalnya memanggilnya demikian. Genduk dan ibunya tinggal di Desa Ringinsari, di lereng Gunung Sindoro pada masa sebelum Gestapu terjadi. Ayah Genduk, yang dipanggilnya dengan sebutan Pak'e, sudah lama pergi meninggalkan mereka.

Seperti halnya dengan sebagian besar penduduk di sana, Genduk dan Biyung-nya mengandalkan tembakau sebagai mata pencaharian. Ketika gangsir mulai menghilang, dan hujan mulai jarang turun, maka itulah waktu yang tepat untuk memulai menanam tembakau. Sebagai orang susah, untuk mendapatkan modal awal menanam tembakau Biyung harus berurusan dengan rentenir. Supaya hutang-hutang lunas terbayar, maka mereka sangat berharap panen tembakau bisa berhasil. Kesulitan berikutnya adalah ketika panen sudah tiba, petani mempercayakan hasil panennya pada perantara yang akan membawa tembakau itu ke kota. Masalahnya tidak semua perantara itu menjual dengan harga yang jujur.

Mata rantai pertanian tembakau inilah yang menjadi latar belakang kisah Genduk. Dengan menggunakan sudut pandang Genduk, Genduk menceritakan keadaan desanya, pencariannya akan sosok ayah, juga pergumulannya saat harus berhadapan dengan rentenir. Genduk adalah sosok bocah yang cerdas dan terkesan dewasa sebelum waktunya. Khususnya ketika dia mengalami pelecehan seksual oleh seorang rentenir di desanya, atau ketika dia terpaksa pergi dari desa untuk mencari ayahnya.

Berhubung saya sudah membaca Gadis Kretek (salah satu novel yang juga bercerita tentang petani tembakau), saya mau tidak mau jadi membandingkan kedua novel ini. Tapi saya merasa ada yang kurang dari novel ini. Masalah budidaya tembakau hanya dikisahkan sekilas. Khususnya ketika Biyung mendapatkan tembakau srinthil. Memang sih belum ada teknik budidaya tembakau srinthil sampai saat ini, sehingga yang mendapatkan tembakau srinthil itu ibarat mendapat durian runtuh. Saya pun tadinya juga berharap ada lompatan lini waktu yang akan mengisahkan kehidupan Genduk dan ibunya setelah mendapatkan tembakau srinthil.

Perjuangan Genduk mencari sosok ayah justru menjadi bagian yang paling kuat di dalam novel ini. Dibumbui dengan kehidupan di pondok pesantren, masalah PKI, dan juga perantauan ayahnya. Mungkin ini bisa menjadi poin yang menarik untuk disimak di dalam novel ini. Saya juga suka dengan penggunaan dialek yang kental dan juga puisi-puisi Genduk. Jangan terpengaruh pada gambar sampulnya yang terkesan serius, novel ini cukup ringan untuk dinikmati.
Profile Image for Sri Noviana Zai.
115 reviews9 followers
April 5, 2021
Latar belakang ceritanya bagus, aku suka sosok Kaji Bawon yang menjadi penenang gundahnya Genduk, yang dianggapnya cucu sendiri yang masih kecil. Tapi lucu rasanya di kepalaku ini Genduk seperti umur belasan tahun, remaja menuju dewasa. Bukan layaknya anak SD.
Profile Image for Al Halim.
4 reviews5 followers
August 18, 2016
"impian? cita-cita? hmm...." gumamku. "mengalir sajalah seperti air Tukasari," pungkasku.

kisah seorang gadis muda anak petani tembakau yang tinggal di lereng Gunung Sindoro, dengan setting tahun 1970-an. cerita mengenai kemiskinan, ketidakadilan para tengkulak terhadap para petani tembakau, pelecehan seksual, impian, harapan, dan perjuangan seorang anak dalam merangkai kisah-kisah mengenai sesosok ayah yang telah meninggalkannya di saat usianya masih balita. merangkai bagian demi bagian layaknya puzzle, tetapi miliknya bukanlah puzzle yang lengkap. selalu saja ada bagian yang hilang.

epilog dari cerita Genduk ini menurut gue sangat epic! salah satu buku karya penulis lokal yang wajib untuk dibaca!
Profile Image for Khoerunnisa Sajidin.
4 reviews
May 27, 2023
Rasanya buku ini berhutang banyak penjelasan terhadap para pembacanya.

Di awal cerita, alurnya terasa cukup lambat. Pertengahan menuju akhir, kebalikannya, semuanya serasa terjadi terlalu bertubi-tubi. Terkadang, saya bertanya-tanya, sebenarnya konflik utamanya yang mana? Latar tahun 70-an juga entah mengapa malah memunculkan banyak pertanyaan karena di beberapa waktu terasa keluar dari cerita itu sendiri.

Sebenarnya buku ini memiliki banyak potensi. Sangat disayangkan dengan penggambaran suasana dan latar yang cukup menakjubkan, ditambah detail-detail teknis kehidupan dan konflik petani tembakau yang saya yakin melalui riset yang panjang, buku ini belum bisa menonjolkan keistimewaannya.
Profile Image for Ratu  Wulan Sari.
3 reviews2 followers
January 9, 2017
Genduk - si bocah yatim, gadis lereng Sindoro.
Membaca Genduk dan biyung-nya adalah membaca bagaimana hidup tegar, hidup penuh rasa syukur tapi kuat meniti harap.
"Sungguh manusia itu seperti debu tegalan yang mudah diombang-ambingkan oleh kilauan duit, kilauannya emas perhiasan, juga hektaran tanah. Begitu semua hilang dari genggaman, hidup seperti tidak ada gunanya. Benar ucapan Kaji Bawon, susahnya hidup di dunia ini cuma sementara, jangan sampai membuat putus asa. Kalau tidak ingat dan pegangan kuat sama tali Gusti Allah, manusia benar-benar seperti debu." Hal 160.
Profile Image for Dedi Setiadi.
291 reviews24 followers
August 22, 2016
Sebenarnya bisa menjadi sebuah cerita coming of age yang menarik dengan latar belakang pegunungan Sindoro dan petani tembakau di tahun 70an. Tetapi sayang, banyak "selipan" konflik dan karakter yang menurut saya sih kurang perlu dan terasa dipanjang-panjangkan.
2.5 bintang lah.
Profile Image for Sadam Faisal.
125 reviews19 followers
October 22, 2016
ceritanya asik, bahasanya juga sederhana. tapi ya konfliknya aga kurang greget aja gitu
Profile Image for Vindaa.
184 reviews2 followers
September 27, 2020
Genduk adalah sebuah fiksi yang diceritakan dengan gaya memoar. Berkisah tentang seorang bocah perempuan berumur sebelas tahun, yang tinggal di desa paling puncak Gunung Sindoro, Temanggung.

Setting dibuat pada tahun 1970-an ketika petani tembakau sudah mulai mengolah tembakau yang masuk kualitas atas di dunia ini untuk dipasok ke pabrik-pabrik rokok.

Genduk melakukan pencarian jati diri dan pencarian atas sosok ayah yang tidak pernah dilihatnya seumur hidup.

Konflik terjadi ketika Genduk menemukan kenyataan mengenai ayah yang selama ini dirindukannya. Konflik pun bergulir terkait dengan permasalahan yang dialami oleh para petani.

---

_Apa yang kamu lakukan ketika tidak pernah tahu sosok Ayah sejak kecil?_

Adalah Genduk yang selalu merindukan sosok Ayah, sejak kecil. Hanya tinggal bersama Yung, hari-harinya di sebuah desa di Gunung Sinduro membuatnya berpikir lebih dewasa dari usia yang sebenarnya.

Genduk selalu merasa ingin tahu tentang keberadaan Ayahnya, sayangnya Yung - Ibu dari Genduk tidak pernah mau membicarakannya. Bahkan Yung, selalu marah ketika Genduk menyebut Pak'e. Hanya Kaji Bawon saja yang sesekali menceritakan bagaimana sosok Ayah Genduk padanya.

Novel yang diceritakan dengan gaya memoar ini sangat sederhana. Pupus sudah bayangan novel sastra yang berat setelah saya membaca Genduk.

Karena Sundari Mardjuki mampu menyajikan novel sastra ini dengan gaya yang sederhana dan ringan.

Nuansa tahun 70'an yang kental membuat saya kembali menyusuri lereng waktu. Suasana tahun 70'an disajikan dengan cukup detail.

Selain itu, ada banyak pesan moral yang tersirat, maupun tersurat melalui dialog demi dialog di novel ini.

_"Nduk cucuku yang kinasih, dalam dunia yang penuh tipu muslihat, kita tidak pernah tahu siapa kawan siapa lawan. Semua orang bisa menjadi korban bahkan orang tidak berdosa sekalipun. Dunia ini tidak hitam-putih. Tidak merah pun tidak putih. Tidak merah pun tidak putih. Semua mempunyai sisi kebenaran. Politik nduk… Semua bisa dibolak-balik demi kepentingan politik.”_

_“Kawruhana sejatine urip, Urip ana jroning alam donya, bahasane mampir ngombe……. umpama lunga sesanja, najan-sinanjan ora wurung bakal mulih, mulih mula-mulanya.”_
Profile Image for Prasdenny.
26 reviews4 followers
May 4, 2018
...
GENDUK
Sundari Mardjuki

Genduk karya Sundari Mardjuki dirangkai dengan diksi teduh dan bersahaja, membuat pembaca merasa sejuk, bahagia sekaligus haru dalam setiap tarikan nafas cerita.

Berlatar Gunung Sumbing-Sindoro diceritakan kisah romantika perjuangan petani tembakau di tahun 1970. Genduk tokoh utamanya adalah seorang gadis yatim yang ditinggalkan Ayahnya ketika masih berusia bayi merah.

Hidup miskin membuat Genduk merasa kecil hati. Dalam diksi-diksi ini kita akan lebih banyak berkawan dengan rasa syukur. Potret kehidupan yang begitu menggelisahkan hati ini membuat pembaca semakin mawas akan pentingnya kebaikan sesama.

Kisah penuh perjuangan melawan getirnya kehidupan Genduk bersama sang ibu dalam memerangi rentenir, gaok, dan tengkulak yang curang.

Air mata, getir, dilema, bahkan haru menjadi warna yang indah dipadu nilai-nilai kehidupan, kesederhanaan, perjuangan, ketegaran, dan keimanan untuk tetap menjunjung tinggi martabat kehidupan.

Di luar perihal struktur dan isi cerita. Royalti akan novel ini menjadi sumbangsih bagi keberlangsungan komunitas Cendekia Mandiri yang membantu pendidikan anak-anak putus sekolah di lereng Gunung Sumbing-Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah.

Membeli dan membaca buku ini seperti bersedekah. Terasa hikmah yang begitu merona di setiap tarikan nafas pembacaannya. Sebuah karya yang wajib dimiliki sebagai bentuk dukungan bagi kita untuk berbagi kehidupan bagi sesama.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
October 10, 2017
Aku suka warna sampulnya yang teduh biru telor asin. Juga ilustrasinya daun tembakaunya. Demikian. #eh

Ok, sbnrnya aku ekspektasiku thd buku ini agaknya sedikit terlalu tinggi, apalagi dengan sederet endorsmen dr bbgai kalangan. Alur ceritanya bagus dan rapi, pemilihan diksinya mendayu ditambah puisi-puisi, unsur budaya lokal lereng Sindoro-Sumbing pun terekam dengan apik. Sayangnya semuanya tergali dengan tanggung. Terlalu banyak konflik yg dilemparkan tetapi hanya jd sempalan-sempalan saja. Dari agama dan kepercayaan lokal, perseteruan orang tua-anak, feminisme, pendidikan formal dan sekolah, sexual harassment, gaok (tengkulak) tembakau, belum lagi latar gestapu dan pki. Semuanya berdesak-desakan dan over-simplicated dalam sudut pandang anak 11 tahun. Ditambah lg endingnya yang terasa 'maksa' untuk hepi en.

Untuk cerita ttg perjuangan petani lokal dan seribu satu permasalahannya, aku lebih suka pendekatan Ahmad Tohari ttg pendaras dan pengrajin gula merah di novel Bekisar Merah. Di situ konflik dan karakterisasinya berpadu solid dan bernas. Sdgkan untuk novel dgn setting ttg persoalan tembakau, aku lebih suka Gadis Kretek-nya Ratih Kumala.

Bukan cerita yg buruk, cukup bagus malah. Namun seharusnya bisa jauh lebih baik.
Profile Image for Annisa Rifka N.
10 reviews
February 18, 2023
Selain Temanggung, kota kelahiran saya adalah kota yang juga penghasil tembakau. Membaca novel ini karena merasa akrab dengan tembakau dan akrab dengan perasaan merindukan ayah walau saya cukup puas memandangi ayah saya selama 20 tahun. Menurut saya, latar 1970-nya kurang terasa. Yang saya rasa sangat magis dan dominan di sini ya lingkungan Sindoronya. Saya yakin penulis juga sangat "kenal" dengan tembakau ditilik dari penyampaian ceritanya.

Novel ini vibesnya mirip-mirip dengan Gadis Kretek (mungkin karena sama-sama membahas tembakau, tapi Gadis Kretek versi lebih lawasnya) dan Ronggeng Dukuh Paruk yang memang sangat "Jateng" itu. Entahlah ya, saya juga kurang kenal Jawa Tengah. Tapi, overall keren sih. Saya berhasil membacanya sekali duduk dalam tiga jam (setelah awalnya ragu-ragu karena sudah pernah mengintip meski nggak sampai tamat) tanpa air mata, tapi kemudian saya gagal tahan di halaman terakhir sebelum epilog. Tepat ketika Genduk menghanyutkan daun bertuliskan "Pak'e" sebagai simbol bahwa dia sudah merelakan bapaknya.
9 reviews
August 29, 2023
Namanya Anisa Nooraini, panggilannya Genduk. Gadis polos yang penuh semangat membara. Tukang ngelamun di atas pohon jambu. Sering berbeda pendapat dengan Biyungnya. Membaca buku ini seperti wisata sejarah. Seolah kita sedang diajak di sebuah pedesaan yang terletak di lereng gunung Sindoro. Kemudian berimajinasi menjadi warga dusunnya, sampai dengan memetik hikmah dari petuah si Kaji Bawon yang merupakan tokoh agamis di kisah ini. Alurnya maju dan klimaksnya cukup membuat tercengang. Bagaimana akhirnya Genduk mengetahui jawaban atas pencarian Pak'e -Bapaknya yang bertahun-tahun menghilang-. Ada rasa trauma, kecewa, sedih, dan ikut bahagia setelah selesai membaca buku ini. Karena Genduk mendapat pelec*han s*ksual yang tidak bisa diceritakan kepada siapapun, termasuk Biyung. Tidak hanya itu saja, tetapi juga terselip sepenggal rumit dan menyeramkannya suasana Gestok kala itu. Ah Genduk, kisahmu ini meski terasa nyata dan mampu membuat mata berkaca-kaca.
1 review
March 20, 2021
Genduk adalah novel fiksi yang diceritakan dengan gaya memoar. Berlatarkan keindahan desa tertinggi di lereng Gunung Sindoro, Kabupaten Temanggung, di era 1970-an. Sangat kental dengan nuansa dan dialek Jawa.

Buku ini dibagi ke dalam bab-bab pendek, hadir dengan struktur yang sangat sederhana, ringan, dan mudah dimengerti. Saking sederhananya, beberapa konflik disajikan dengan penyelesaian yang begitu singkat dan kurang memuaskan.

Perjuangan Genduk dalam mencari sosok Pak'e, juga kecerdasan dan sikap beraninya menjadi bagian paling menarik di dalam novel ini. Dibumbui dengan isu kemiskinan, pelecehan, kejahatan para tengkulak, sedikit potret kehidupan pesantren, dan konflik PKI, menjadi nilai tambahan untuk novel ini.

Hanya butuh dua-tiga kali duduk untuk melahap habis buku ini dan menikmati epilognya yang apik.
Profile Image for Arutala.
506 reviews1 follower
February 29, 2024
Novel ini kental sekali dengan kultur Jawanya, mengingatkan pada karya novelis kondang, Ahmad Tohari di mana kondisi serba kekurangan akibat panen tembakau yang tidak dibeli dengan harga tinggi mengalirkan ketimpangan sosial dengan dampak yang menyedihkan bagi petani.

Lewat kacamata Genduk yang berusia 11 tahun itu desa yang dilatari perkebunan tembakau dan gunung Sindoro ini seakan menyimpan harapan semu bagi warganya. Kendati di awal rada slow, mendekati pertengahan cerita konflik seakan berkejaran mencari solusinya.

Genduk yang mencari Pak'e, Yung yang egois, Kaduk yang membuat jeri dan ulah gaok yang menggelisahkan, seluruhnya menjadikan kisah ini begitu membumi. Relasi antara Yung dan Genduk selalu memberi rasa gregetan tersendiri manakala anak dan ibu itu harus berkompromi dengan kemiskinan, rentenir dan tembakau itu sendiri. Novel yang apik, dan saya penasaran siapa yang menyebabkan Kaduk mati.
Profile Image for Hapudin.
287 reviews7 followers
October 16, 2021
resensi lengkap bisa dibaca di link ini;
https://bukuhapudin.blogspot.com/2021...

Poin yang membuat hangat di hati adalah perubahan sikap Biyung kepada Genduk ketika keadaan sudah lebih baik. Karena faktor lelah dan beban hidup, Biyung tidak pernah tertarik dengan cerita prestasi Genduk di sekolah. Tanggapan Biyungnya datar. Ini juga saya alami ketika zaman sekolah dulu, Ibu dan Bapak tidak pernah ikut senang ketika lapor saya dapat rangking. Bahkan ketika saya ikut olimpiade matematika pun, mereka tidak memberikan support moral. Saya tidak kesal karena paham kalau mereka sudah cukup lelah dengan urusan ladang. Tapi efek panjang dari keadaan itu membuat hubungan anak dan orang tua tidak menyenangkan dan terbuka.
Displaying 1 - 30 of 68 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.