Interaktif tanpa banyak teks. Pesan tersampaikan dengan jelas bahkan untuk anak-anak. Hampir monocolor sehingga mungkin tidak bikin overstimulasi. Ilustrasinya ciamik tapi tetap bikin sedih sesuai tema utama buku.
Di masa yang sulit ketika anggota keluarga maupun orang-orang terkasih dan tercinta meninggalkan dunia ini akibat bencana alam gempa bumi, Srinti menghadirkan sebuah persahabatan baru yang timbul dari saling berbagi dan saling pengertian.
Berlatar belakang suasana paska gempa bumi di Yogyakarta pada tahun 2006, nuansa kesedihan dalam kisah Srinti ini disuguhkan dengan apik, hangat, juga manis. Semua ilustrasinya berwarna putih, abu-abu, atau hitam. Satu-satunya warna ceria ada di wajah Srinti dan karakter anak-anak, sebagai rona kemerahan di pipi mereka. Sedikit namun mampu memberikan sentuhan keceriaan.
Sabio membaca buku ini berulang kali, matanya berkaca-kaca setiap menyelesaikan kisah Srinti.
I love all pictures of this book, but I felt little bit confused with the story. Is it going to be story book or story book without words? At the first time, I guessed it was story book without words because a few pages only showed pictures. After turning the some next pages, I realized that it was the story book. The story lines of this book were not enough strong to deliver the messages from the author.
beberapa hal yang saya suka dari segi cerita maupun ilutrasi, dari segi cerita buku tersebut mengajarkan ke anak secara tidak langsung untuk tidak selalu mementingkan egonya sendiri, untuk berbagi sesama (memainkan boneka srinti secara bersama), cerita yang saya suka terdapat pada part, dimana dua anak yang berebut boneka tersebut menggabungkan nama Sri dan Santi menjadi Srinti, dimana itu merupakan sebuah solusi dari masalah mereka, yang menurut saya jarang terpikirkan oleh anak-anak sekecil itu. Dari segi ilustrasi saya suka konsep seperti gambar yang menggunakan pensil dan warnanya yang tepat menggambarkan dengan situasi setelah bencana yang kelam.