Di masa yang sulit ketika anggota keluarga maupun orang-orang terkasih dan tercinta meninggalkan dunia ini akibat bencana alam gempa bumi, Srinti menghadirkan sebuah persahabatan baru yang timbul dari saling berbagi dan saling pengertian.
Berlatar belakang suasana paska gempa bumi di Yogyakarta pada tahun 2006, nuansa kesedihan dalam kisah Srinti ini disuguhkan dengan apik, hangat, juga manis. Semua ilustrasinya berwarna putih, abu-abu, atau hitam. Satu-satunya warna ceria ada di wajah Srinti dan karakter anak-anak, sebagai rona kemerahan di pipi mereka. Sedikit namun mampu memberikan sentuhan keceriaan.
Sabio membaca buku ini berulang kali, matanya berkaca-kaca setiap menyelesaikan kisah Srinti.