What do you think?


Babad Batu: Kumpulan Sajak
kau mendobrak ke sisa ruang menggelandang bayang-bayang menggelandang jarak yang ternyata hanya bayang-bayang menggelandang bayang-bayang yang tak kenal jarak menggelandang jarak dan bayang-bayang mengikatnya di ruang yang tak menyisakan helaan napas kita
sejak itu kita tahu tidak akan pernah bisa berpisah
telah kita eja setiap helaan dan hembusan agar bebas batas agar rasa pedih leluasa menafsirkan tanda
Babad Batu, Sapardi Djoko Damono
sejak itu kita tahu tidak akan pernah bisa berpisah
telah kita eja setiap helaan dan hembusan agar bebas batas agar rasa pedih leluasa menafsirkan tanda
Babad Batu, Sapardi Djoko Damono
110 pages, Paperback
First published August 8, 2016
About the author
Sapardi Djoko Damono
126 books1,616 followersRiwayat hidup
Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".
Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.
Karya-karya
Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.
Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.
Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.
Kumpulan Puisi/Prosa
* "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
* "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
* "Mata Pisau" (1974)
* "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
* "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
* "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
* "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
* "Perahu Kertas" (1983)
* "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
* "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
* "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
* "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
* "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
* "Hujan Bulan Juni" (1994)
* "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
* "Arloji" (1998)
* "Ayat-ayat Api" (2000)
* "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
* "Mata Jendela" (2002)
* "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
* "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
* "Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
* "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya.
* Album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu.
* Album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari.
* Album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu
* Album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu
* satu lagu dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.
Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.
Buku
* "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".
Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.
Karya-karya
Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.
Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.
Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.
Kumpulan Puisi/Prosa
* "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
* "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
* "Mata Pisau" (1974)
* "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
* "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
* "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
* "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
* "Perahu Kertas" (1983)
* "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
* "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
* "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
* "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
* "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
* "Hujan Bulan Juni" (1994)
* "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
* "Arloji" (1998)
* "Ayat-ayat Api" (2000)
* "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
* "Mata Jendela" (2002)
* "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
* "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
* "Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
* "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya.
* Album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu.
* Album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari.
* Album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu
* Album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu
* satu lagu dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.
Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.
Buku
* "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 30 of 35 reviews
July 25, 2016
Jujur aku nggak mudeng dengan buku puisi Pak Sapardi yang ini. Entah mengapa saya kehilangan puisi-puisi sederhana Pak Sapardi yang justru dari kesederhanaan itu, makna, permenungan, dan tasfirnya menjadi lebih dalam.
Dan yaaa, meski suka, tapi lebih suka dengan puisi-puisi Pak Sapardi yang dahulu.
Semoga lekas sembuh Pak...
sampulnya kece, sekali
Dan yaaa, meski suka, tapi lebih suka dengan puisi-puisi Pak Sapardi yang dahulu.
Semoga lekas sembuh Pak...
sampulnya kece, sekali
February 2, 2017
Kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang satu ini agak sulit dimengerti. Saya harus membacanya pelan-pelan dan berulang-ulang. Entahlah, mungkin bahasanya lebih berat atau memang otak saya yang nggak sampai.
February 22, 2017
Baru baca sekali, dan masih bingung.
Nanti kalau sempat coba dibaca ulang siapa tahu bintangnya nambah.
Nanti kalau sempat coba dibaca ulang siapa tahu bintangnya nambah.
January 2, 2017
isinya enggak se-imut covernya .........................
baca bab satu dan dua berulang2 masih agak bisa menerka maksud yang terhormat bapak SDD dalam babadnya ...............
baca bab tiga, berkali kali juga .......... enggak keotakan, ga ngerti, ga faham, abstrak banget huhuhu
rasanya mendadak ingin jadi anak sastra Indonesia atau ketemu SDD buat nanya langsung maksudnya kemana, berat banget, tapi kuyakin maknanya dalem banget, aak penasaran. hft.
baca bab satu dan dua berulang2 masih agak bisa menerka maksud yang terhormat bapak SDD dalam babadnya ...............
baca bab tiga, berkali kali juga .......... enggak keotakan, ga ngerti, ga faham, abstrak banget huhuhu
rasanya mendadak ingin jadi anak sastra Indonesia atau ketemu SDD buat nanya langsung maksudnya kemana, berat banget, tapi kuyakin maknanya dalem banget, aak penasaran. hft.
August 20, 2026
To be honest, this is one of Sapardi’s hardest books for me. I found it really difficult to get the true meaning of the poems. It felt like the deeper message was always slipping away, and the reading experience did not flow smoothly for me.
Read
May 2, 2017:( terlalu berat, hanya menyelesaikan kitab pertama :( maafkan aku, Eyang, rasanya bukan seperti dirimu.
April 17, 2018
Aku suka Kitab Kedua. And for the rest, I need a Sapardi dictionary. Please.
October 17, 2016
(Baca pertama)
Judul: Babad Batu
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan Pertama, Agustus 2016
Tebal: 86 Halaman
Babad Batu adalah kumpulan sajak terbaru sang penyair besar Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Buku ini diterbitkan Agustus 2016 lalu. Halaman bukunya sendiri tidak terlalu tebal selayaknya kumpulan-kumpulan sajak Sapardi yang lain seperti Hujan Bulan Juni. Agaknya sang penyair lebih memperbaharui sajak-sajaknya sehingga dalam buku Babad Batu, sajak-sajaknya bukan berasal dari masa lampau, alias bukan sebuah kumpulan sajak yang isinya telah dikurasi sebelumnya.
Dalam buku ini sang penyair seperti fokus pada tema-tema abstrak tak biasa. Dalam buku ini sendiri terdapat 15 sajak yang sebagian besar panjang-panjang. Secara umum terbagi-bagi kembali dalam tiga bab besar yaitu Kitab Pertama, Kitab Kedua, dan Kitab Ketiga. Pada Kitab Pertama terdiri dari tiga puisi, yaitu Mula Batu, Atas Nama Batu, dan Ziarah Batu. Narator tiga puisi tersebut seakan adalah orang sekarat yang tengah meregang nyawa. Ia menyuarakan banyak perihal yang ia sampaiakan tentu saja tak secara langsung. Banyak pengamat buku yang mengaitkan hal ini dengan kondisi terakhir sang penyair Sapardi sendiri. Beberapa bulan terakhir ia dirawat intensif karena mungkin saja umur 76 tahun sudah tak berkompromi lagi dengan kesehatannya. Jadi, frasa babab batu yang banyak bertebaran dalam bagian pertama barangkali saja adalah representasi sang penyair sendiri yang ingin menyuarakan kegelisahannya selama ini, menjalani masa tua.
Pada Kitab Kedua sang penyair bicara banyak hal. Salah satu sajak yang mencolok dalam bab tersebut adalah Pulang Dari Pemakaman Teman yang Sapardi tunjukkan langsung pada salah satu kawannya yang mungkin saja sudah almarhum, ia bernama Wyslawa Szymborska. Yang menarik, sajak tersebut berisi delapan bait yang tiap-tiap baitnya dituturkan dari narator yang berbeda-beda. Masing-masing berbicara mengenai ‘kesan terakhir’ untuk sang mendiang yang saat itu diistirahatkan untuk yang terakhir kalinya. Sungguh puisi berat dan penuh simpati.
Pada bab terakhir alias Kitab Ketiga, hanya tersedia satu puisi saja yang judulnya teramat panjang begitu pun isinya yang tercetak di sepanjang 13 halaman. Puisinya termasuk puisi prosaik dengan judul Berbicara tentang Perkara yang Meskipun Mungkin Tidak Ada Kait-mengaitnya dengan Kamidan Tidak Berguna tapi Kalau Tidak Dijalani Tidak Akan Pernah Diketahui Berguna atau Tidaknya.Puisi ini berisi simbolisasi yang sulit diterka maksud tersembunyinya. Puisi ini mengenai petualangan sebagian orang ke negeri batu yang ajaib, mistik, dan aneh.
Agaknya, Sapardi sebagai penyair, kini tidak memain-mainkan diksi sederhana lagi dan makna yang mudah ditangkap pembaca lewat karya-karyanya. Seakan, ia sengaja ingin pembacanya melewati satu level lebih tinggi dalam wahana pengapresiasian puisi-puisi buah karya beliau. Meskipun begitu, buku Babad Batu masih layak dinikmati para pencinta dan penggiatbuku-buku sajak Indonesia.[]
(Baca kali kedua)
Masih enggak ngerti😱
Judul: Babad Batu
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan Pertama, Agustus 2016
Tebal: 86 Halaman
Babad Batu adalah kumpulan sajak terbaru sang penyair besar Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Buku ini diterbitkan Agustus 2016 lalu. Halaman bukunya sendiri tidak terlalu tebal selayaknya kumpulan-kumpulan sajak Sapardi yang lain seperti Hujan Bulan Juni. Agaknya sang penyair lebih memperbaharui sajak-sajaknya sehingga dalam buku Babad Batu, sajak-sajaknya bukan berasal dari masa lampau, alias bukan sebuah kumpulan sajak yang isinya telah dikurasi sebelumnya.
Dalam buku ini sang penyair seperti fokus pada tema-tema abstrak tak biasa. Dalam buku ini sendiri terdapat 15 sajak yang sebagian besar panjang-panjang. Secara umum terbagi-bagi kembali dalam tiga bab besar yaitu Kitab Pertama, Kitab Kedua, dan Kitab Ketiga. Pada Kitab Pertama terdiri dari tiga puisi, yaitu Mula Batu, Atas Nama Batu, dan Ziarah Batu. Narator tiga puisi tersebut seakan adalah orang sekarat yang tengah meregang nyawa. Ia menyuarakan banyak perihal yang ia sampaiakan tentu saja tak secara langsung. Banyak pengamat buku yang mengaitkan hal ini dengan kondisi terakhir sang penyair Sapardi sendiri. Beberapa bulan terakhir ia dirawat intensif karena mungkin saja umur 76 tahun sudah tak berkompromi lagi dengan kesehatannya. Jadi, frasa babab batu yang banyak bertebaran dalam bagian pertama barangkali saja adalah representasi sang penyair sendiri yang ingin menyuarakan kegelisahannya selama ini, menjalani masa tua.
Pada Kitab Kedua sang penyair bicara banyak hal. Salah satu sajak yang mencolok dalam bab tersebut adalah Pulang Dari Pemakaman Teman yang Sapardi tunjukkan langsung pada salah satu kawannya yang mungkin saja sudah almarhum, ia bernama Wyslawa Szymborska. Yang menarik, sajak tersebut berisi delapan bait yang tiap-tiap baitnya dituturkan dari narator yang berbeda-beda. Masing-masing berbicara mengenai ‘kesan terakhir’ untuk sang mendiang yang saat itu diistirahatkan untuk yang terakhir kalinya. Sungguh puisi berat dan penuh simpati.
Pada bab terakhir alias Kitab Ketiga, hanya tersedia satu puisi saja yang judulnya teramat panjang begitu pun isinya yang tercetak di sepanjang 13 halaman. Puisinya termasuk puisi prosaik dengan judul Berbicara tentang Perkara yang Meskipun Mungkin Tidak Ada Kait-mengaitnya dengan Kamidan Tidak Berguna tapi Kalau Tidak Dijalani Tidak Akan Pernah Diketahui Berguna atau Tidaknya.Puisi ini berisi simbolisasi yang sulit diterka maksud tersembunyinya. Puisi ini mengenai petualangan sebagian orang ke negeri batu yang ajaib, mistik, dan aneh.
Agaknya, Sapardi sebagai penyair, kini tidak memain-mainkan diksi sederhana lagi dan makna yang mudah ditangkap pembaca lewat karya-karyanya. Seakan, ia sengaja ingin pembacanya melewati satu level lebih tinggi dalam wahana pengapresiasian puisi-puisi buah karya beliau. Meskipun begitu, buku Babad Batu masih layak dinikmati para pencinta dan penggiatbuku-buku sajak Indonesia.[]
(Baca kali kedua)
Masih enggak ngerti😱
February 6, 2017
** Books 46 - 2017 **
2,1 dari 5 bintang!
Awal-awal halamannya menarik dan saya tertarik untuk membacanya dan makin kebelakang semakin absurd dan saya tidak memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Pak SDD ini.
Maksud ingin memahami tetapi malah tidak mengerti =__=a *garuk2 kepala
2,1 dari 5 bintang!
Awal-awal halamannya menarik dan saya tertarik untuk membacanya dan makin kebelakang semakin absurd dan saya tidak memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Pak SDD ini.
Maksud ingin memahami tetapi malah tidak mengerti =__=a *garuk2 kepala
December 11, 2016
Rindu sajak-sajak dan puisi-puisi sederhana yang seperti dulu.
September 21, 2026
"Yang tadi kita timbuni tanah itu tentunya sudah bahagia, makanya tidak bakal mau pulang ke rumah lagi dan ketika diturunkan ke liang lahat tadi saya liat dia tersenyum meskipun sudah disumpal kapas. Bapak liat gak?"
Judul: Babad Batu
Panduan Usia: 17+
Genre: Puisi
Author: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 86 halaman
Rating: 3.5/5 ⭐️
***
Kau mendobrak
ke sisa ruang
menggelandang bayang-bayang
menggelandang jarak
yang ternyata hanya bayang-bayang
menggelandang bayang-bayang
yang tak kenal jarak
menggelandang jarak dan bayang-bayang
mengikatnya di ruang
yang tak menyisakan helaan napas kita
sejak itu kita tahu tidak akan pernah
bisa berpisah
telah kita eja setiap helaan
dan hembusan agar bebas batas
agar rasa pedih leluasa
menafsirkan tanda
Babad Batu, Sapardi Djoko Damono
***
Membaca dan menginterpretasikan puisi itu ternyata susah sekali, ya. Ini pertama kalinya aku membaca buku kumpulan puisi karya Sapardi Djoko Damono, dan hampir semuanya sulit kupahami. Aku harus membaca kata demi kata dan kalimat demi kalimat berkali-kali sampai menemukan makna yang bisa kupetik sendiri. Oleh karena ini adalah pengalaman pertamaku, mohon masukannya bila kalian memiliki pendapat yang lain. Sudah pasti apa yang akan kutuliskan berikutnya belum tentu benar.
Aku mengambil gambar-gambar puisi yang sekiranya bisa kupahami sedikit maknanya (kuharap aku tidak salah tangkap). Sekalipun aku salah tangkap, kurasa juga bukanlah hal yang buruk karena aku mendapatkan banyak topik untuk direnungkan seusai membaca buku puisi ini.
Salah satu favoritku adalah kutipan yang kusebutkan di atas. Kutipan itu aku ambil dari puisi yang menyuarakan isi hati seorang teman yang pulang dari pemakaman temannya. Ia memandang bahwa kepergian temannya merupakan suatu hal yang membuatnya iri. Bahkan, ia mengatakan ia melihat temannya bahagia begitu dikebumikan. Jika aku membaca bagian tersebut secara keseluruhan, aku menangkap bahwa segala urusan duniawi ini membuatnya lelah karena penuh dengan janji palsu, baik janji mengenai proyek dan pekerjaan maupun kepura-puraan dalam menunjukkan duka dan belasungkawa. Mau tidak mau, aku pun setuju dengan tokoh yang menyuarakan isi pikirannya ini. Aku juga menyukai cara penyair menggunaka kata 'liat' dan bukan 'lihat' untuk membuat pembacanya seakan-akan menjadi si tokoh yang menyuarakan pikirannya. Penyair bnar-benar detail dalam menuliskan puisinya.
Ada juga puisi yang menyuarakan kepedihan akibat berubahnya kegiatan anak-anak kecil. Yang dulunya dengan ramai bermain di luar rumah, sekarang hanya bisa menatap layar. Aku juga jadi merenungkan masa kecilku yang ternyata cukup beruntung karena masih dipertemukan dengan berbagai permainan tradisional seperti lompat tali dan petak umpet. Aku justru kasihan dengan anak-anak generasi sekarang yang disumpali tablet/ponsel oleh orang tuanya. Mereka tidak bisa merasakan masa kecil yang menyenangkan tersebut.
Aku juga sempat memaknai beberapa puisi sebagai pertanyaan mengenai keyakinanku pribadi. Apakah berdoa dan mengikuti segala macam tata cara ibadah ada artinya? Apa benar segala yang tertulis di kitab itu bisa dipastikan kebenarannya? Bagaimana kalau semua itu hanya omong kosong yang ditanamkan dalam diri kita? Bagaimana jika itu hanya narasi oknum tertentu untuk mengendalikan manusia? Berbagai pertanyaan itu muncul dan membuatku termenung. Terlepas dari ketidakpercayaanku pada kebenaran sebuah kepercayaan, aku yakin bahwa yang berusaha diajarkan oleh mayoritas setiap keyakinan adalah hal-hal yang baik adanya.
Juga ada sebuah puisi yang kumaknai sebagai berikut, bahwa apa pun yang kulakukan sebenarnya tidak ada yang memperhatikan. Semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Dan puisi yang kumaknai ini menggunakan para hewan sebagai contoh. Kurasa memang hal itu benar adanya, agar aku juga tidak ambil pusing mengenai apa yang orang lain pikirkan tentangku.
Ada juga suara hati ketika rumah seseorang digusur. Sekuat apa pun menyangkal, kita tetap membutuhkan sebuah rumah fisik. Yang kutangkap, identitas kita pun jadi hilang ketika rumah kita diratakan dengan tanah. Rumah secara fisik juga merupakan bagian dari diri kita. Aku setuju dengan hal ini.
Terakhir, sebuah kutipan puisi juga menyadarkanku bahwa kadang kita harus kehilangan sesuatu terlebih dahulu untuk menyadari keberadaannya. Ini membuatku lebih awas akan hal-hal yang masih kumiliki saat ini sekecil apa pun. Memang benar, bahwa sering kali kita kurang bersyukur dan melupakan berkat-berkat kecil yang kita dapatkan. Semoga melalui puisi ini, aku bisa ingat untuk terus menghargai apa yang kumiliki, sekecil apa pun itu.
Masih ada satu lagi buku karya beliau yang belum kubaca yang berjudul 'Dukamu Abadi'. Kedua buku ini murni kubeli hanya karena covernya yang berwarna soft pink dan hijau. Tetapi, ini juga menjadi pengalaman baru dan menarik bagiku yang biasanya membaca novel dan non fiksi. Yuk, coba baca juga!
Judul: Babad Batu
Panduan Usia: 17+
Genre: Puisi
Author: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 86 halaman
Rating: 3.5/5 ⭐️
***
Kau mendobrak
ke sisa ruang
menggelandang bayang-bayang
menggelandang jarak
yang ternyata hanya bayang-bayang
menggelandang bayang-bayang
yang tak kenal jarak
menggelandang jarak dan bayang-bayang
mengikatnya di ruang
yang tak menyisakan helaan napas kita
sejak itu kita tahu tidak akan pernah
bisa berpisah
telah kita eja setiap helaan
dan hembusan agar bebas batas
agar rasa pedih leluasa
menafsirkan tanda
Babad Batu, Sapardi Djoko Damono
***
Membaca dan menginterpretasikan puisi itu ternyata susah sekali, ya. Ini pertama kalinya aku membaca buku kumpulan puisi karya Sapardi Djoko Damono, dan hampir semuanya sulit kupahami. Aku harus membaca kata demi kata dan kalimat demi kalimat berkali-kali sampai menemukan makna yang bisa kupetik sendiri. Oleh karena ini adalah pengalaman pertamaku, mohon masukannya bila kalian memiliki pendapat yang lain. Sudah pasti apa yang akan kutuliskan berikutnya belum tentu benar.
Aku mengambil gambar-gambar puisi yang sekiranya bisa kupahami sedikit maknanya (kuharap aku tidak salah tangkap). Sekalipun aku salah tangkap, kurasa juga bukanlah hal yang buruk karena aku mendapatkan banyak topik untuk direnungkan seusai membaca buku puisi ini.
Salah satu favoritku adalah kutipan yang kusebutkan di atas. Kutipan itu aku ambil dari puisi yang menyuarakan isi hati seorang teman yang pulang dari pemakaman temannya. Ia memandang bahwa kepergian temannya merupakan suatu hal yang membuatnya iri. Bahkan, ia mengatakan ia melihat temannya bahagia begitu dikebumikan. Jika aku membaca bagian tersebut secara keseluruhan, aku menangkap bahwa segala urusan duniawi ini membuatnya lelah karena penuh dengan janji palsu, baik janji mengenai proyek dan pekerjaan maupun kepura-puraan dalam menunjukkan duka dan belasungkawa. Mau tidak mau, aku pun setuju dengan tokoh yang menyuarakan isi pikirannya ini. Aku juga menyukai cara penyair menggunaka kata 'liat' dan bukan 'lihat' untuk membuat pembacanya seakan-akan menjadi si tokoh yang menyuarakan pikirannya. Penyair bnar-benar detail dalam menuliskan puisinya.
Ada juga puisi yang menyuarakan kepedihan akibat berubahnya kegiatan anak-anak kecil. Yang dulunya dengan ramai bermain di luar rumah, sekarang hanya bisa menatap layar. Aku juga jadi merenungkan masa kecilku yang ternyata cukup beruntung karena masih dipertemukan dengan berbagai permainan tradisional seperti lompat tali dan petak umpet. Aku justru kasihan dengan anak-anak generasi sekarang yang disumpali tablet/ponsel oleh orang tuanya. Mereka tidak bisa merasakan masa kecil yang menyenangkan tersebut.
Aku juga sempat memaknai beberapa puisi sebagai pertanyaan mengenai keyakinanku pribadi. Apakah berdoa dan mengikuti segala macam tata cara ibadah ada artinya? Apa benar segala yang tertulis di kitab itu bisa dipastikan kebenarannya? Bagaimana kalau semua itu hanya omong kosong yang ditanamkan dalam diri kita? Bagaimana jika itu hanya narasi oknum tertentu untuk mengendalikan manusia? Berbagai pertanyaan itu muncul dan membuatku termenung. Terlepas dari ketidakpercayaanku pada kebenaran sebuah kepercayaan, aku yakin bahwa yang berusaha diajarkan oleh mayoritas setiap keyakinan adalah hal-hal yang baik adanya.
Juga ada sebuah puisi yang kumaknai sebagai berikut, bahwa apa pun yang kulakukan sebenarnya tidak ada yang memperhatikan. Semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Dan puisi yang kumaknai ini menggunakan para hewan sebagai contoh. Kurasa memang hal itu benar adanya, agar aku juga tidak ambil pusing mengenai apa yang orang lain pikirkan tentangku.
Ada juga suara hati ketika rumah seseorang digusur. Sekuat apa pun menyangkal, kita tetap membutuhkan sebuah rumah fisik. Yang kutangkap, identitas kita pun jadi hilang ketika rumah kita diratakan dengan tanah. Rumah secara fisik juga merupakan bagian dari diri kita. Aku setuju dengan hal ini.
Terakhir, sebuah kutipan puisi juga menyadarkanku bahwa kadang kita harus kehilangan sesuatu terlebih dahulu untuk menyadari keberadaannya. Ini membuatku lebih awas akan hal-hal yang masih kumiliki saat ini sekecil apa pun. Memang benar, bahwa sering kali kita kurang bersyukur dan melupakan berkat-berkat kecil yang kita dapatkan. Semoga melalui puisi ini, aku bisa ingat untuk terus menghargai apa yang kumiliki, sekecil apa pun itu.
Masih ada satu lagi buku karya beliau yang belum kubaca yang berjudul 'Dukamu Abadi'. Kedua buku ini murni kubeli hanya karena covernya yang berwarna soft pink dan hijau. Tetapi, ini juga menjadi pengalaman baru dan menarik bagiku yang biasanya membaca novel dan non fiksi. Yuk, coba baca juga!
August 26, 2020
buku bacaan 2020 ke 39
perempuan-perempuan menanti kami
di pantai: membayangkan keringat dan mani
tapi yang berlabuh adalah para pelawat
tak pernah terekam dalam gambuh dan kinanti
kami masih mengayuh jauh di laut
semakin sayup semakin sepi
kami tak lagi yakin apakah yang berkeliaran itu
adalah anak-anak yang lahir dari benih
yang menetes bersama anyir keringat kami
betapa cantiknya mereka! kami jatuh cinta
dan menulis puisi panjang di pasir dan angkasa
di atas itu salah satu puisi favorit diantara yang lainnya Mula Batu 6 & 7, Ziarah Batu 1, dan Gerimis di Jendela Kaca. dan juga sajak tentang kematian yang ditujukan untuk Robert Frost berjudul Memilih Jalan, yang kufavoritkan ada pada sajak pertama:
jalan kecil ini berujung di sebuah makam dan kau bertanya,
"kenapa tadi kita tidak mengambil jalan yang satunya?"
tapi kenapa kau tidak bertanya, "untunglah kita tidak
mengambil jalan itu tadi?"
memang absurd, jalan ini kenapa ada ujungnya dan tidak
menjulur saja terus-menerus sampai pada batas yang seharusnya
juga tidak perlu ada.
pada puisi Gerimis di Jendela Kaca, eyang dengan halus menyinggung manusia yang kerap tak mengamati gerimis yang datang:
selalu!
kau selalu pura-pura tidak memperhatikan gerimis yang suka menjengukmu lewat jendela kaca.
selalu pura-pura sibuk mengerjakan ini-itu dan kalau ditanya
kenapa tidak memberikan perhatian sedikit pun terhadap gerimis
kaujawab, apa perlunya?
(semoga ketika nanti gerimis datang dengan sopan, kau bisa meluangkan sedikit saja waktu mengamatinya, ya)
di baca bagian, saya mempertanyakan apa, ya, makna, "dengan hu"? juga di halaman 76, "...menyulap boneka-boneka menjadi gerak-gerik di kelir yang membentang dari ha sampai nga...", dengan pengulangan serupa di halaman 7 dan 15? kalau kautahu, sila beri tahu saya, ya.
seperti judulnya Babad, kau akan membaca semacam cerita rakyat, hikayat, cerita sejarah dengan tokoh-tokoh yang eyang ciptakan dengan balutan puisi.
"sejak itu kita berjanji untuk beriman pada kata", larik pertama dalam buku ini yang indah.
perempuan-perempuan menanti kami
di pantai: membayangkan keringat dan mani
tapi yang berlabuh adalah para pelawat
tak pernah terekam dalam gambuh dan kinanti
kami masih mengayuh jauh di laut
semakin sayup semakin sepi
kami tak lagi yakin apakah yang berkeliaran itu
adalah anak-anak yang lahir dari benih
yang menetes bersama anyir keringat kami
betapa cantiknya mereka! kami jatuh cinta
dan menulis puisi panjang di pasir dan angkasa
di atas itu salah satu puisi favorit diantara yang lainnya Mula Batu 6 & 7, Ziarah Batu 1, dan Gerimis di Jendela Kaca. dan juga sajak tentang kematian yang ditujukan untuk Robert Frost berjudul Memilih Jalan, yang kufavoritkan ada pada sajak pertama:
jalan kecil ini berujung di sebuah makam dan kau bertanya,
"kenapa tadi kita tidak mengambil jalan yang satunya?"
tapi kenapa kau tidak bertanya, "untunglah kita tidak
mengambil jalan itu tadi?"
memang absurd, jalan ini kenapa ada ujungnya dan tidak
menjulur saja terus-menerus sampai pada batas yang seharusnya
juga tidak perlu ada.
pada puisi Gerimis di Jendela Kaca, eyang dengan halus menyinggung manusia yang kerap tak mengamati gerimis yang datang:
selalu!
kau selalu pura-pura tidak memperhatikan gerimis yang suka menjengukmu lewat jendela kaca.
selalu pura-pura sibuk mengerjakan ini-itu dan kalau ditanya
kenapa tidak memberikan perhatian sedikit pun terhadap gerimis
kaujawab, apa perlunya?
(semoga ketika nanti gerimis datang dengan sopan, kau bisa meluangkan sedikit saja waktu mengamatinya, ya)
di baca bagian, saya mempertanyakan apa, ya, makna, "dengan hu"? juga di halaman 76, "...menyulap boneka-boneka menjadi gerak-gerik di kelir yang membentang dari ha sampai nga...", dengan pengulangan serupa di halaman 7 dan 15? kalau kautahu, sila beri tahu saya, ya.
seperti judulnya Babad, kau akan membaca semacam cerita rakyat, hikayat, cerita sejarah dengan tokoh-tokoh yang eyang ciptakan dengan balutan puisi.
"sejak itu kita berjanji untuk beriman pada kata", larik pertama dalam buku ini yang indah.
November 6, 2023
Buku ini dibeli sekitar tahun 2016, kalau tak silap ketika mengunjungi Pesta Buku Antarabangsa Indonesia di Jakarta. Beli kerana bertemu Pak Sapardi di reruai Malaysia dan saling bertukar kata seketika.
Banyak buku yang dibeli ketika itu, memungkinkan buku yang ini seolah-olah tidak disentuh ketika itu, atau ... (sudah baca tapi tidak mengkhatamkannya).
Hari ini, tidak semena-mena membuka kotak buku dan bertemu pandang dengan buku ini lagi, setelah Pak Sapardi pun sudah dijemput Ilahi. Al-Fatihah.
Kerana kurang berakrab dengan sajak-sajak pak Sapardi, maka bacaan ini sekadar menikmati bauh fikir penulis dengan lenggok bahasa dan penyampaian yang tenang. Saya suka sajak pertama dan beberapa sajak lagi..
.... sejak itu kita berjanji untuk beriman pada kata ...
Dan sajak-sajak seterusnya yang sudah tentu memberi pesanan lewat aksara dalam liuk nada.
Banyak buku yang dibeli ketika itu, memungkinkan buku yang ini seolah-olah tidak disentuh ketika itu, atau ... (sudah baca tapi tidak mengkhatamkannya).
Hari ini, tidak semena-mena membuka kotak buku dan bertemu pandang dengan buku ini lagi, setelah Pak Sapardi pun sudah dijemput Ilahi. Al-Fatihah.
Kerana kurang berakrab dengan sajak-sajak pak Sapardi, maka bacaan ini sekadar menikmati bauh fikir penulis dengan lenggok bahasa dan penyampaian yang tenang. Saya suka sajak pertama dan beberapa sajak lagi..
.... sejak itu kita berjanji untuk beriman pada kata ...
Dan sajak-sajak seterusnya yang sudah tentu memberi pesanan lewat aksara dalam liuk nada.
November 8, 2021
Aku tidak ragu memberikan 5 bintang pada buku ini. Karena sungguh pemilihan kata yang digunakan beliau elok. Walau banyak puisi dan cerita diakhir buku ini membuatku bingung, aku tetap bisa menikmatinya. Aku merasa kata-katanya cantik bahkan saat membaca sajak pertama.
Covernya cantik dan sederhana, aku tak mengerti kenapa tempat yang digunakan untuk menaruh batu-batu itu adalah sepatu perempuan, dan kenapa warna covernya didominasi kuning dan biru. Karena kontras dengan isinya yang cenderung "dark"
Kualitas kertas baik, ketebalan cover standar, font nyaman dibaca, font size standar.
Buku ini tersedia di Ipusnas. Copy-nya ada 19pcs. Silahkan dibaca 💜✨
Covernya cantik dan sederhana, aku tak mengerti kenapa tempat yang digunakan untuk menaruh batu-batu itu adalah sepatu perempuan, dan kenapa warna covernya didominasi kuning dan biru. Karena kontras dengan isinya yang cenderung "dark"
Kualitas kertas baik, ketebalan cover standar, font nyaman dibaca, font size standar.
Buku ini tersedia di Ipusnas. Copy-nya ada 19pcs. Silahkan dibaca 💜✨
October 25, 2018
127 - 2018
Kali ini saya harus sepakat dengan beberapa teman-teman yg ngereview kalo buku ini tuh beda dengan kumpulan puisi SDD yang lain, sulit dipahami.
Di bagian awal masih bisa saya nikmati, puisinya masih enak, tapi bagian pertengahan sampe akhir sepertinya bukan lagi puisi tapi cerita pendek yang walaupun sudah dibaca 2 kali pun masih sulit dimengerti apa artinya.
Kali ini saya harus sepakat dengan beberapa teman-teman yg ngereview kalo buku ini tuh beda dengan kumpulan puisi SDD yang lain, sulit dipahami.
Di bagian awal masih bisa saya nikmati, puisinya masih enak, tapi bagian pertengahan sampe akhir sepertinya bukan lagi puisi tapi cerita pendek yang walaupun sudah dibaca 2 kali pun masih sulit dimengerti apa artinya.
July 8, 2017
well, gue selalu suka dengan cara pak Sapardi merangkai kata. selalu indah. walaupun ada beberapa yang gue ga ngerti di buku ini (khususnya yang no.15) , tapi tetap aja kalimatnya indah . Kayaknya harus research tentang "babad". Nanti kalo ada kesempatan re-reading, semoga ratingnya bisa nambah ❤️
September 14, 2017
Sapardi selalu 'tenang' dalam sajaknya..
October 18, 2017
Nggak ngerti.
June 23, 2018
Terbaik. Setelah Ayat-Ayat Api dan Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita.
IMO.
IMO.
October 21, 2018
Beberapa puisi masih penggal dalam usaha pemaknaan saya.
Mungkin begitulah puisi.
Ada yang baru dapat kita mengerti setelah mengalami.
Mungkin begitulah puisi.
Ada yang baru dapat kita mengerti setelah mengalami.
August 13, 2021
kali ini berhasil menyelesaikan salah satu buku karya eyang Sapardi yang lumayan sulit dipahami.
October 20, 2021
Kumpulan puisi yang di dalamnya terbagi atas 3 bagian. Puisi-puisinya berat, sulit dimengerti maknanya.
March 16, 2022
2,75 bintang.
Masih sama dengan Ayat-Ayat Api. Setelah membaca buku ini, aku nggak tahu maksudnya apa. Apalagi bagian yang terakhir. 😅
Masih sama dengan Ayat-Ayat Api. Setelah membaca buku ini, aku nggak tahu maksudnya apa. Apalagi bagian yang terakhir. 😅
November 7, 2022
Aku enjoy aja sih di kitab pertama dan kedua, tapi pas masuk kitab ketiga pusing bukan main. Gak paham semua maksudnya😭
October 4, 2016
Agak sulit rupanya untuk menikmati secara sederhana buku kumpulan sajak ini. Entah imajinasi saya yang terlalu berkurang, atau memang karya SDD tidak semudah dan sesederhana dulu ketika awal-awal saya membaca karyanya. Namun setidaknya saya bisa mengapresiasi Kitab Kedua perihal Pulang dari Pemakaman Teman. Adarasa getir, konyol dan berujung pada pemakluman hidup yang semakin pelik. Saya kutipkan di sini:
"Yang tadi kita timbuni tanah itu tentunya sudah bahagia, makanya tidak bakal mau pulang ke rumah lagi dan ketika diturunkan ke liang lahat tadi saya liat dia tersenyum meskipun sudah disumpal kapas, Bapak liat gak?"
"Yang tadi kita timbuni tanah itu tentunya sudah bahagia, makanya tidak bakal mau pulang ke rumah lagi dan ketika diturunkan ke liang lahat tadi saya liat dia tersenyum meskipun sudah disumpal kapas, Bapak liat gak?"
June 5, 2017
Sejarah melahirkan kita.
Kita yang pongah menjentikkan mata dan menghapus banyak tanda agar tak terbebani dengan yang dianggap dosa dosa.
Oleh kebaruan konstruksi kita mendesain banyak hal untuk melucutinya dengan argumen ilmiah.
Batu batu yang sangat berarti bagi nenek moyang, kita tumpuk tumpuk sebagai mercusuar hari ini.
Sehimpun ritual untuk alam semesta disebut sebagai berhala bagi sesembahan kepada dewa.
Sungguh keyakinan yang purba dan kepercayaan kuno hanya tinggal namanya.
Pasak pasak akan roboh satu demi satu.
Saat kita berpaling dari yang inti.
It,
Kita yang pongah menjentikkan mata dan menghapus banyak tanda agar tak terbebani dengan yang dianggap dosa dosa.
Oleh kebaruan konstruksi kita mendesain banyak hal untuk melucutinya dengan argumen ilmiah.
Batu batu yang sangat berarti bagi nenek moyang, kita tumpuk tumpuk sebagai mercusuar hari ini.
Sehimpun ritual untuk alam semesta disebut sebagai berhala bagi sesembahan kepada dewa.
Sungguh keyakinan yang purba dan kepercayaan kuno hanya tinggal namanya.
Pasak pasak akan roboh satu demi satu.
Saat kita berpaling dari yang inti.
It,
August 21, 2016
"Keluarlah, raga
Keluarlah, jiwa"
Saya membayangkan Pak SDD membuat sajak2 ini saat ia tengah tak fit. Berbagai pertanyaan dan juga diskusi nurani ttg hidup, tuhan, waktu, mungkin berkecamuk di benaknya dan tertuang dalam kata-kata.
Beberapa bait..membuat saya nyaris meneteskan air mata.
"Jiwa yang penggal dari bayang-bayangnya
Bergetar di kelir yang tumbang
Sendirian saja
Ya, jiwa kami ini"
Moga sehat terus ya pak
Keluarlah, jiwa"
Saya membayangkan Pak SDD membuat sajak2 ini saat ia tengah tak fit. Berbagai pertanyaan dan juga diskusi nurani ttg hidup, tuhan, waktu, mungkin berkecamuk di benaknya dan tertuang dalam kata-kata.
Beberapa bait..membuat saya nyaris meneteskan air mata.
"Jiwa yang penggal dari bayang-bayangnya
Bergetar di kelir yang tumbang
Sendirian saja
Ya, jiwa kami ini"
Moga sehat terus ya pak
August 19, 2016
Setelah membaca ini, salah satu hal yang ingin saya terka dari paman Sapardi adalah; Wislawa Szymborska menjadi seseorang yang ia cintai.
Catatan lainnya semoga dapat saya selesaikan dan post di blog pribadi, www.wawankurn.com
Catatan lainnya semoga dapat saya selesaikan dan post di blog pribadi, www.wawankurn.com
Displaying 1 - 30 of 35 reviews































