Aleppo adalah buku pertama karya Rusdi Mathari yang berisi kumpulan artikel terbaiknya. Baginya, buku ini tak penuh berbicara soal Aleppo, kota yang hari-hari ini telah menjadi wabah, menularkan kemarahan dan kesumat, melahirkan orang-orang yang setiap hari berpikir dengan membunuh dan kepada Tuhan mereka merasa berbakti. Buku ini hanya semacam wabah yang lain, yang ia harapkan bisa merambatkan rasa cinta lalu menumbuhkan saling pengertian, karena seperti yang pernah disampaikan Gunawan Mohamad: tak ada satu orang pun yang bisa memonopoli kebajikan dan ketidakbajikan. Orang baik mestinya tetap baik.
Rusdi Mathari menekuni profesi jurnalistik sejak 1990-an. Ia telah melanglang karier sebagai wartawan di Suara Pembaruan, lalu bekerja di InfoBank, detikcom, Pusat Data dan Analisa Tempo, dan Trust. Pada 1999, dia terpilih sebagai salah satu wartawan investigatif terbaik versi ISAI dan dikirim ke Bangkok untuk mengikuti crashprogram penulisan jurnalistik tentang HAM.
Saat ini, ia masih aktif menulis di beberapa media. Termasuk menulis catatan dan pengalamannya yang dimuat blog pribadinya maupun status-status di dinding Facebook-nya. Di blognya, kita akan menemukan banyak tulisan-tulisannya yang serius. Sedangkan di Facebook, kita menemukan tulisan-tulisan yang sederhana seputar keseharian, pada sosok yang dijumpai, imajinasi pada tempat-tempat yang jauh, juga corat-coret pendeknya atas satu isu yang menurutnya gatal untuk menuliskannya. Gaya menulis yang mudah dipahami dan sudut pandang yang menarik adalah ciri khas tulisan-tulisan nonfiksi Cak Rusdi.
Membaca Aleppo berarti membaca sosok Rusdi Mathari: kumpulan kisah mengasyikkan dari pribadi seorang pemuda yang nakal, suami yang mesra, ayah yang pengasih, wartawan yang keras kepala, dan manusia yang layaknya manusia.
Mengenal Cak Rusdi lebih dekat lewat buku Aleppo. Nyesel baru kesampaian baca buku ini. Aku kira buku ini isinya essai tapi ternyata tidak. Suka sekali dengan gaya tulisan Cak Rusdi. Gak kerasa udah tiga tahun kepergian beliau. Karya-karya beliau memang keren-keren.
Awal baca Aleppo aku ikut menagis, mengingatkan almarhumah nenekku yang Desember kemarin telah pergi meninggalkan dunia bertemu sang pencipta.
Namun di cerita selanjutnya aku di buat tertawa dan diajak keliling berbagai kota/daerah maupun negara. Tapi, di bagian akhir aku sedikit kurang mood bacanya... Heheh
Awalnya dikira bahasa di buku ini baku macam essay. Ternyata enggak. Baca buku ini seperti menyelami kisah Cak Rusdi, dari masa kecil hingga ia menjadi seorang ayah. Dari menceritakan pengalaman sekolah sampai pandangannya terhadap agama dan politik. Salah satu bab yang paling berkesan dan bikin saya 'wah' adalah Mogok. Karena relate banget sama apa yg saya alami
Gaya penulisan di buku ini tidak terlalu baku. Penulisan pengalaman-pengalaman yang dialami Rusdi Mathari disini juga tidak begitu detail. Sehingga kadang pembaca kurang bisa membayangkan pengalaman yang ditulis. Bagaimanapun buku ini cocuk untuk menjadi bacaan ringan.
Kisah hidup seseorang yang “bukan siapa-siapa” ternyata bisa semenarik ini. Saya membaca buku ini barengan sama Karena Jurnalisme Bukan Monolopi Wartawan. Ada tulisan yang beririsan, tapi sumbangan pengalaman dan gagasan Cak Rusdi menambah ketertarikan saya di bidang jurnalistik.
Bagian awal hingga ke tengah banyak yang menarik. Semakin ke belakang saya seperti membaca buku lain atau mungkin seperti itu perkembangan batin Cak Rusdi.
It's interesting how he told about his daily life,not like a book that i just read recently 😂 The most mesmerizing thing is how he used Bahasa Indonesia and i found some new words in Bahasa Indonesia
Benar memang buku ini diatur agar bisa dibaca sekali duduk, tapi nyatanya saya tidak bisa menyelesaikannya sekaligus. Tapi, buku ini bisa jadi opsi untuk yang sedang mencari bacaan-bacaan ringan tapi bermutu.
Saya pikir, ini adalah kumpulan esai yang rumit, ternyata tidak. Topik yang dibahas lumayan sederhana: kehidupan pribadi dan sosial (keluarga, kawan, seluk-beluk profesi wartawan yang ia jalani serta soal media), pandangan terhadap isu-isu tahun 2015-an, serta beberapa sajak karyanya.
Buat saya, wajar jika beberapa bagian buku ini seolah "menggiring" opini tertentu, karena--sekali lagi--ini adalah kumpulan esai. Kalian bisa setuju, bisa tidak.
Saya mengambil buku ini dari rak toko buku karena judulnya dan sedikit review di belakangnya. Sangat menyesal memutuskan tanpa menengok sedikitpun ke laman google atau goodreads untuk mecari bahan pertimbangan dari review pembaca mengenai isi buku secara keseluruhan. Saya tidak mengira bahwa tulisan tentang Aleppo yang menjadi judul buku ini hanya ditulis di bab terakhir saja. Awalnya saya mengira bahwa dari awal sampai akhir akan membahas Aleppo dengan kemasan sastra yang unik.
Mengenai tulisan-tulisan Rusdi Mathari di dalamnya, banyak juga yang bisa dinikmati, dijadikan bahan renungan, bahkan membuka pikiran saya tentang hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Cocok untuk teman minum kopi!
Rating tidak sempurna karena tidak sesuai ekspektasi.
Jauh dari ekspetasi, ketika melihat judul dan kutipan cerita di belakang novel ini, saya berharap mendapatkan banyak cerita mengenai aleppo ternyata buku ini hanya membahas aleppo sedikit sekali.
Tulisan beliau memang bagus tapi buku ini bukan untuk saya