Jalan seni memang terjal. Meski berbekal tekad yang kuat dan kerja keras, Alang masih terseok-seok untuk menggapai mimpi sebagai musisi. Bapaknya bukanlah tipe penuntut, tapi ia menginginkan anaknya memiliki cita-cita yang membuat hidupnya lebih sejahtera dibanding kehidupannya sekarang.
Bapaknya hanyalah seorang tukang becak dan ibunya berjualan sayur di pasar pagi. Hobi dan cita-cita Alang dianggap Bapak sangat mahal dan tidak menjanjikan. Ada banyak kasus di kampungnya yang memberi contoh bahwa pekerja dan penikmat seni hanyalah pekerjaan tak jelas. Seni tak hanya membuat mereka melarat karena tak bisa memberi penghasilan yang layak, seni bahkan dapat membuat mereka bermasa depan suram hingga generasi berikutnya.
Alang ingin manut, tetapi ia juga tak bisa mengalihkan pikirannya ke selain menjadi seniman. Hanya ada dua pilihan: tinggal dan pergi untuk tak pernah kembali.
Kisah Alang akan membuka mata kita betapa untuk menjadi dewasa, ada hal-hal yang harus kita putuskan dan tanggung risikonya seorang diri.
Novel The Strawberry Suprise-nya (2013) difilmkan layar lebar dengan dua bintang utama Acha Septriasa (Aggi) dan Reza Rahadian (Timur) dengan judul Strawberry Surprise (2014).
Karya-karyanya yang pernah diterbitkan:
Novel:
Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku (Hikmah, 2007) * Terbit di Malaysia, 2008 * Diadaptasi ke FTV Religi oleh Starvision, 2010
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu (Hikmah, 2008) * Terbit di Malaysia, 2009
Girl-ism (Gramedia, 2009)
Pukul Sebelas Malam (indie, 2012)
On a Journey (Bentang Pustaka, 2013)
The Strawberry Surprise (Bentang Pustaka, 2013) * Diadaptasi ke film layar lebar oleh Starvision, 2014 * Official trailer film Strawberry Surprise https://www.youtube.com/watch?v=0urlJ...
Jogja Jelang Senja (Grasindo, 9 Mei 2016)
Alang, (Republika Penerbit, Agustus 2016)
Membunuh Cupid (Falcon Publishing, Februari 2017)
Mimpi Kecil Tita (Republika Penerbit, Mei 2017)
Cerpen:
"La Vie" - Koran Tempo, 2011 Heute Herbst - Koran Tempo, 2011 Ayahmu Mati - Jawa Pos, 2011 CLOS E - Koran Tempo, 2012 Skarf - Koran Tempo, 2012 Gelas Kopi ke - 124 - Majalah Femina 2013 Mozarella - Jakarta Beat, 2014 Gembok - Media Indonesia, 2015 Pai Apel Musim Panas - Cerber Majalah Femina, 2015 Pemain Biola - Cerpen Majalah Femina, 2015 Di Tikungan Jalan - Suara Karya, 2015 Begitu Luka, Begitu Dini di Bromo - Suara NTB, 2015 Kopi Rena - Cerber Majalah Femina, 2015 Cireng Dua Juta - Majalah Kawanku, 2015 Janji di Perpustakaan - Minggu Pagi, 2015 Ros - Cerber Majalah Kartini, 2016 Nasi Kuning - Cerpen Majalah Horison, 2016 Duwet - Cerpen Minggu Pagi, 2017 Pertarungan Terakhir - Cerber Majalah Femina, 2017
Pentas dan menulis naskah Teater:
Pentas monolog naskah Sang Primadona - cerpen A. Mustofa Bisri, sebagai presentasi program beasiswa keaktoran Actor Studio 2, Teater Garasi. 2008.
TUK - naskah Bambang Widoyo SP, sebagai presentasi program beasiswa Actor Studio 2, Teater Garasi. Sutradara Gunawan Maryanto. 2008.
Tempat istirahat - naskah David Campton, sebagai presentasi program beasiswa Actor Studio 3, Teater Garasi. 2009.
Kura-kura Bekicot - naskah Eugene Ionesco. 2010.
Menulis naskah Menjaring Malaikat (adaptasi dari cerpen Danarto: Mereka Toh Tak Mungkin Menjaring Malaikat) untuk @JaringProject, tampil di Mimbar Teater Solo dan Festival Teater Jakarta - Dewan Kesenian Jakarta, 2016.
Novel ini sangat ringan untuk dibaca. Buku ini berisi tentang kisah seorang anak laki-laki bernama Alang yang harus membuktikan pada orang tuanya bahwa menjadi seniman bukanlah sebuah kesalahan. Dia ingin membuktikan bahwa dia dapat hidup dari kerja sebagai seniman.
Juga tentang seorang anak perempuan bernama April yang harus mematikan mimpinya menjadi seorang penulis dan melanjutkan hidup berdasarkan dengan arahan orang tuanya.
Buku ini memberikan kita gambaran tentang seni dan dunia menulis. Yang keduanya sering dianggap sebelah mata oleh orang-orang. Dengan membuktikannya kepada orang-oranglah yang dapat membuat seni dan menulis menjadi sesuatu yang bermasa depan baik.
Mimpi itu hanya untuk seorang pemenang, bukan pecundang. Pemenang itu artinya ia yang tidak mogul atau berhenti ditengah jalan – pada apa pun pilihannya. Pemenang itu juga tidak cengeng. Meski cita-cita dan cintanya kandas, ia akan segera bangkit pulih. (hal. 195)
Ini novel bener-bener jleb banget. Saya terasa disindir. Dan saya setuju dengan kisah Alang ini. Bahwa semakin berani kita mengambil keputusan dan menerima semua resiko ke depannya maka kita semakin dewasa dan paham arti sebuah kehidupan yang sebenarnya. Karena hidup tanpa pilihan itu bukan apa-apa (bukankah begitu?).
Banyak banget yang bisa di petik dan dijadikan pedoman untuk hidup kita sehari-hari di novel ini. Karena novel ini tidak hanya sekadar menghibur pembaca, novel ini juga banyak memberi pemahaman-pemahaman tentang pilihan hidup, rasa tanggung jawab, betapa pentingnya pemahaman tentang literasi, bakat yang dimiliki seseorang, kerja keras, pendidikan dan juga cinta.
Novel Alang menceritakan tentang memperjuangkan mimpi. Melalui tokoh Alang, April, dan Arif, penulis menggambarkan sisi-sisi yang beragam mengenai cara menyikapi cita-cita. Alang adalah anak dari tukang becak. Ia suka musik dan kemudian ia belajar tekun bermain gitar. Perjuangannya menjadi musisi terhalang oleh ketidaksetujuan Bapaknya. Di pikiran Bapaknya, seniman tidak akan membuat hidup menjadi layak dan kaya. Pertengkaran dan perang dingin menjadi jurang antara Alang dan Bapaknya. “Begitulah bila terlalu menggemari kesenian. Tidak akan memberi hasil apa-apa kecuali keburukan!” (hal. 19).
Berbeda dengan Alang, April mengalami tekanan batin dalam keluarga. Mamanya selalu membandingkan prestasi April dengan kakaknya, Mbak Kartika. Pilihan masa depan menjadi penyair pun ditentang sang Mama. April pun memperjuangkan mimpinya hingga ia harus rela drop out dari kuliah kedokteran demi mengejar impiannya itu.
Arif punya kisah sendiri. Ia yang jadi cucu dari kakek mantan tahanan politik pada masa lalu, masa depannya sudah suram. Orang yang memiliki keterkaitan dengan sejarah tahanan politik tidak punya kesempatan untuk menjadi sukses. Dengan kondisi begitu, Arif melihat hidupnya dengan sangat realistis. Selepas lulus SMA, Arif memilih bekerja dari pada kuliah.
Apakah benar semua cita-cita harus diperjuangkan?
*** Poin besar novel ini membicarakan mengenai pandangan terhadap seniman. Citra menjadi seniman tidak bisa kaya, memang sudah berakar dari zaman dulu. Dan penulis mencoba memberi jawaban pada paradigma tadi. Dengan tema keluarga, persahabatan, roman, dan seni, penulis membuat kemasan yang bagus sehingga pada beberapa bagian cerita bisa membuat saya berkaca-kaca.
Klimaks cerita merangkap di eksekusi cerita. Setelah perjalanan panjang Alang mengejar cita-citanya, ia kembali ke titik dimana semua dimulai dan memutuskan memulai kembali. Adegan ini sukses membuat saya nangis. Saya paham pergulatan batin Alang yang menentang pendapat Bapaknya. Tidak ada yang mudah jika berkaitan dengan perusakan hubungan keluarga. Saya punya pengalaman sendiri, dan karena itu mudah sekali cerita di novel ini mempengaruhi emosi saya (dan emosi kalian). “Alang...” suaranya serak. “..minta maaf... nyuwun ngapunten.” (hal. 233).
Untuk setting cerita yang mengambil kota Madiun dan Jakarta, belum tergali maksimal. Saya tidak bisa menggambarkan lokasi-lokasi ketika tokoh-tokoh tadi diceritakan. Setahu saya, Madiun menjadi lokasi yang asri dan tenang, sedangkan Jakarta penuh dengan kekacauan. Dengan modal pengetahuan ini, saya coba meresapi kisahnya.
Tokoh utama novel ini adalah tiga karakter yang di awal saya sebutkan; Alang, April, dan Arif. Alang itu pemuda yang pekerja keras dibuktikan dirinya mau mencari belalang demi tujuan punya recorder, keras kepala karena ia tetap kuliah jurusan musik meski Bapaknya tidak pernah setuju, sedikit labil ketika dibutakan perasaan suka pada April sehingga sempat menanggalkan daya juang mengejar cita-citanya, dan berani meminta maaf dan memaafkan ketika kesadaran menghampiri mengenai kekeliruan yang sudah ia lakukan.
April itu gadis yang jutek dan tegas untuk urusan pergaulan sehingga semasa SMP dan SMA ia tidak punya banyak teman, tekun dan berpikir sempit untuk pendapatnya kenapa pelajaran sastra di sekolah jamnya sedikit hingga ia kerap menggunakan jam pelajaran lain untuk mengasah kemampuan menulisnya, dan mudah terpengaruh keadaan ketika fasilitas orang tuanya dicabut, ia kelimpungan untuk mengejar cita-citanya lalu lebih memilih mundur.
Arif itu pemuda yang realistis dan pesimis. Ia selalu berpikir untuk hidup berada di area jangkauannya dan tidak pernah memimpikan hal diluar kemampuannya. Sehingga kehidupan Arif terbilang stagnan. Sedangkan karakter lain yang berkesan buat saya ada Siska, Mia, dan Ibunya Alang.
Kover novel Alang terbilang sederhana. Hanya gambar gitar saja yang punya korelasi dengan isi cerita. Dan saya tidak bisa berkomentar pemilihan kover dengan gaya lukisan cat air ini (di mata saya terlihat begitu) karena penerbit memang punya ciri demikian untuk buku-bukunya. Padu padan pemilihan warna setidaknya tidak membuat mata sakit dan itu sudah lebih dari cukup sebagai kover yang aman.
Pesan yang coba disampaikan penulis adalah untuk realitis menggantungkan mimpi dan mengejarnya dengan penuh tanggung jawab. Sebab tanpa kerja keras, mimpi akan tetap jadi mimpi yang suatu hari akan menghadirkan penyesalan. Dan penulis juga menegaskan pentingnya untuk serius bersekolah.
Novel ini memberi pemahaman-pemahaman tentang pilihan hidup, tentang tanggung jawab, tentang pentingnya literasi, tentang bakat, tentang kerja keras, tentang sekolah juga tentang cinta.
Ada dua novel ini gratis, mau? Ikutan giveawaynya di link ini! :)