Sejatinya, dari buku kita bisa menjelajahi isi kepala orang-orang yang jalan hidupnya tidak sama dengan kita, dan mungkin sampai kapan pun nggak akan sama, ya kan. Kayak buku ini, dari judulnya udah sangat menggambarkan isinya seperti apa, yakni berkisah tentang kehidupan para single mother dengan segala jatuh bangun kehidupan yang mereka jalani.
Ditulis oleh 4 orang (yang tidak dijelaskan apakah mereka ini memang kawan main di kehidupan nyata, atau "hanya" ditemukan di satu komunitas, dsb). Cerita pertama berjudul, "Ya, Saya Janda. Lalu Kenapa?" yang ditulis oleh Budiana Indrastuti sudah hadir dengan kisah hidupnya yang menghentak.
Bagaimana tidak, saat lagi hamil, ia mendapati bahwa ia diselingkuhi. Pasti luar biasa hancur. Walau kemudian ia mengambil langkah tegas dengan bercerai, hidup sebagai single mother jelas saja tantangannya berbeda.
"Suatu ketika, dalam sebuah pembicaraan bersama Paman, tercetus keinginan beliau menjodohkan kakak laki-laki saya dengan kenalannya. 'Tapi.... dia janda. Jadi agak gimana....' lalu beliau melihat saya, dan terperanjat sendiri. 'Maaf.....maaf....nggak bermaksud....'
Saya hanya bisa tersenyum masam. Meski tahu beliau sama sekali tak berniat menyakiti hati saya, tapi kata-kata beliau seperti konfirmasi bahwa memang banyak hal negatif disangkutpautkan dengan status janda. Kalau orang-orang terdekat seperti keluarga saja mendiskreditkan status saya, bagaimana dengan orang-orang lain?" hal.5.
Sebagai single mother, Budiana masih beruntung punya orang tua yang membantu mengurusi anaknya, walapun di satu sisi perbedaan pola didik anak orang lama vs orang tua sekarang juga jadi tantangan tersendiri.
Di cerita kedua "Waktu untuk Anakku" yang ditulis oleh Ainun Chomsun, ia bercerita tentang kegamangannya untuk melepas pekerjaan karena waktu bersama anak sangat terbatas sedangkan di sisi lain ia membutuhkan banyak biaya untuk menjadikan hidup berdua anaknya aman, nyaman dan terpenuhi semua kebutuhan. Kisah anaknya yang jadi korban perundungan juga lumayan deep ketika dibaca.
Nah di cerita ketiga, "Single Fighter and Financially Free" yang ditulis Mia Amalia akunya agak gedeg ketika beliau kena tipu investasi bodong sebanyak 3 kali masing-masing sebanyak 60 juta oleh 3 orang berbeda. Padahal di ceritanya kelihatan banget dia jungkir balik mencari uang, bahkan harus meninggalkan anak dan gak sempat membelikan kue ulang tahun yang diinginkan anaknya.
Walaupun, di sisi lain kejujurannya bercerita tentang ia kena tipu ini harus diacungi jempol dengan harapan semua orang yang baca belajar dari kebodohan dan ketidak hati-hatian yang sudah ia lakukan.
Di cerita penutup, "Terbanglah, Nak" yang ditulis oleh Rani Rahcmani Moediarta, terasa sekali isi hatinya. Dalam teknik menulis rasanya udah paling oke, dan setelah aku cek ternyata Mbak Rani ini memang penulis beberapa buku.
Aku suka buku ini, sayangnya kelewat tipis. Kalau ditulis oleh setidaknya 10 orang akan lebih tebal dan bagus isinya.
Skor 8,0/10