Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tiada Jalan Bertabur Bunga: Memoar Pulau Buru dalam Sketsa

Rate this book
Gregorius Soeharsojo Goenito adalah seorang seniman yang tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Setelah belajar kesenian di Perguruan Taman Siswa, Madiun, ia melukis, bermusik, bermain drama dan teater bareng Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada paruh pertama 1960-an. Imbas dari peristiwa 1965 membawanya “tugas belajar” dari penjara ke penjara hingga akhirnya ia diasingkan di Pulau Buru oleh rezim Orde Baru.

Sepuluh tahun ia menjalani pengasingan sebagai tahpol di Buru (1969–1979). Di bawah komando Badan Pelaksana Resettlement dan Rehabilitasi Pulau Buru (Bapreru), Gregorius bersama para tahpol lain harus menghadapi siksaan, mengalami kerja paksa, juga memendam rasa rindu kepada keluarga. Sulit. Tetapi, Gregorius mencoba sabar dan percaya bahwa manusia punya ketegaran masing-masing untuk tetap bertahan.

Di tengah situasi sulit itulah bahan memoar tulisan dan sketsa ini lahir. Gregorius mengekspresikan memori, histori, dan perenungannya sebagai tahpol dalam tulisan dan sketsa ini tidak hanya dengan marah dan meratap, tetapi juga dengan menertawainya. “Aku tak ingin mengenang Pulau Buru sebagai kenangan pahit, nyatanya setiap jalan menuju cita-cita tak selalu indah,” tuturnya.

224 pages, Paperback

First published July 1, 2016

8 people are currently reading
86 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (22%)
4 stars
12 (34%)
3 stars
8 (22%)
2 stars
1 (2%)
1 star
6 (17%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Achmad.
Author 26 books10 followers
August 11, 2017
Buku ini disusun oleh seniman penyintas kekerasan Orde Baru. Bukan sekadar karya, buku sketsa naratif ini menjadi media pemulihan hidup mantan tapol Buru dari traumanya yang sesak, pedih, dan rumit. Dan... sebagaimana karakter penulisnya yang cengengesan, kisah-kisah pilu selama jadi tapol dinarasikannya dengan jenaka, penuh canda.
Profile Image for Sandys Ramadhan.
114 reviews
September 11, 2020
Perkiraan awal sy buku ini akn bnyk mncrtakan soal kesedihan, kerinduan, dn keputusasaan. Trnyta sy salah. Penulis malah ingin kita generasi muda utk tdk larut dlm ksdhan, shingga penulis di buku ini mncrtkan pnglmnny yg unik, menarik, lucu dan jenaka.

Bnyk tkoh seniman yg mnjd tahpol di pulau buru ini, tp yg sy tau sekilas nmnya hny Rivai Apin, Pramoedya A. Toer. Mngkn nnt sy akn mncri tau tkoh2 lainny/mmbca krya2ny. Ad satu tkoh lg yg sy tau yaitu Mochtar Lubis seorng wrtwn dn pnlis trknal. Dn sy pun jg mmbca krya2 beliau.

Kerenny lg buku ini adlh tdk hny brcrta ttg pnglmm Pak Greg sj tpi jg ad termuat puisi dn sketsa yg dibuat oleh Pak Greg sndri ktika ad wktu ksng. Puisi beliau vibeny snggh berbeda, bnyk mncrtakan kerinduan, kesedihan, dn hrapan.

Bgtu jg sketsa yg digmbr oleh beliau, penuh goresan sederhana seadanya krn mmng tdk bnyk bhan yg bs dignakn. Tpi feel dn impactny sngt trsa, seolah kita bs mmbyngkn berad di sana.

Sy merkmndsikn bku ini bgi tmn2 yg ingin tahu perihal pengasingan di pulau buru akibat prstwa 65. Ga akn nyesel dehh.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.