Berawal dari padang rumput di Asia Tengah, bangkitlah para ksatria Islam Turki Ustmani yang menyandang gelar Ghazi. Mereka menginspirasi umat Islam dan mengingatkan kembali pada janji Rasulullah Saw untuk menaklukkan Konstantinopel.
Sepak terjang mereka menggentarkan musuh-musuh Islam, dari garis keturunan merekalah lahir seorang penakluk besar, Muhammad Al Fatih, juga kegigihannya dalam berjuang mewujudkan janji Rasulullah Saw, Penaklukan Konstantinopel.
Melanjutkan keseruan dari Battle of Varna, komik Al-Fatih 1453 jilid kedua karya Handri Satria ini menurunkan sedikit tempo peperangan berskala besar, namun justru menaikkan tensi strategi, persiapan, dan intrik politik.
Jika jilid pertama berfokus pada pembuktian diri, jilid kedua ini menyoroti pendewasaan dan konsolidasi kekuatan. Kita diajak melihat bagaimana Mehmed II menghabiskan waktunya di Manisa untuk menempa diri secara fisik, taktik, dan spiritual. Wafatnya Sultan Murad II menjadi titik balik di mana Mehmed kembali naik takhta, bukan lagi sebagai anak kecil yang diragukan, melainkan sebagai Sultan muda yang visi penaklukannya tidak bisa dibendung siapa pun. Jilid 2 adalah persiapan besar sebelum badai.
Jika di Jilid 1 Anda merasa sketsa wajah kurang konsisten, di Jilid 2 ini biasanya pembaca merasakan adanya peningkatan kualitas visual dari Handri Satria dan tim. Karakter Mehmed sudah terlihat lebih dewasa dan desain karakternya mulai lebih konsisten dibanding saat ia masih kecil di jilid pertama.
Sesuai dengan judul buku nya yaitu Muhammad Al Fatih Kebangkitan, ini buku ke 2 lanjutan dari Muhammad Al Fatih Perang Varna dan mengisahkan bagaimana Muhammad Al Fatih dapat bangkit lagi untuk melanjutkan mimpi dan cita-cita dirinya beserta umat Islam terdahulu yaitu menaklukkan konstantinopel.
Ilustrasinya bagus sekali sehingga terlihat nyata saat menelusuri perjuangan Muhammad Al Fatih untuk terus bangkit menggapai impian. Warna yang kontras juga membuat mata nyaman dan beberapa penjelasan yang ada membantu ku memahami sejarah kebangkitan ini dengan baik. Membaca sejarah Islam dengan ilustrasi menarik seperti ini tidak membuat bosan malah bikin ketagihan dan terus mengikuti bagaimana kelanjutan dari perjuangan Muhammad Al Fatih ini.
Buku Kedua dari Serial Muhammad Al-Fatih. Muhammad Al-Fatih beranjak dewasa, dan di tahun 1451 diangkat kembali menjadi sultan menggantikan ayahnya. Mengapa diangkat kembali? karena sebelumnya sudah diangkat tetapi karena dianggap belum mampu, maka jabatan tersebut diserahkan kembali kepada ayahnya.
Al-Fatih mulai menjalankan siasatnya dalam mencapai cita-cita menaklukkan Konstantinopel.
“Ada cara yang menyenangkan untuk mengubah kepribadian anda agar menjadi selevel para ksatria islam yang terpisah zaman dan waktu; bacalah sejarah” (Felix Siauw, dalam bukunya Muhammad Al-Fatih 1453)
Buku ini adalah sebuah upaya baik untuk industri kreatif indonesia: komik.
Satu hal yang mengganjal bagi saya mengenai seluruh serial Muhammad Al-Fatih adalah sedikit sekali sumber2 ilmiah yang dapat dijadikan rujukan, satu kesempatan untuk mengedukasi dengan pendekatan scientific pun menghilang.