Pidi Baiq adalah seorang seniman yang punya banyak kelebihan. Selain sebagai seorang musisi dan pencipta lagu, ia juga seorang penulis, ilustrator, pengajar dan komikus. Pidi Baiq mengaku imigran dari surga yang diselundupkan ke Bumi oleh ayahnya di Kamar Pengantin dan tegang.
Dibandingkan Dilan 1 dan 2, saya jauh jauh jauh jauh lebih menyukai Milea ini. Enak aja membaca dari suara Dilan, POV cowok. Malah emosinya lebih dapet, dan saya mengagumi cara Dilan dewasa menceritakan ini. Di novel ini banyak hal yang terungkap setelah di Dilan 1 dan 2 dibiarkan begitu saja membuat pembaca bertanya-tanya. Di sini kita jadi belajar bahwa... yang namanya jodoh ya Tuhan yang mengatur. Seperti kata teman saya, Tuhan punya cara sendiri untuk menjauhkan dan mendekatkan dua orang. Di sini kentara banget bahwa... yah, tak peduli betapa saling cinta dan bahagianya mereka saat pacaran, tak peduli betapa kuat chemistry mereka, tak peduli banyak pembaca nge-ship--Dilan dan Milea memang tidak berjodoh. Itulah hidup.
Tapi di novel ini kita dijelaskan situasinya, dan membaca ini membuat kita paham kenapa Tuhan memerintahkan manusia untuk menjauhi prasangka. Betapa prasangka itu, bagaimanapun remehnya, bisa membawa akibat fatal di kemudian hari. Termasuk dalam kisah Dilan dan Milea.
Novel ini bagus banget, kisah cinta yang realistis. Sangat direkomendasikan bagi mereka-mereka yang masih sulit move on dan masih berusaha menerima kenyataan. Ikhlas itu berat, rasa sakit akibat patah hati pasti susah dihilangkan, rindu susah dikendalikan dan berdamai dengan penyesalan sangatlah tak mudah... tapi kalau itu semua bisa dilewati dan segalanya pada akhirnya dapat dikenang hanya sebagai kenangan indah, semuanya akan baik-baik saja. Kelak, saat menoleh ke belakang, kita akan tahu bahwa jalannya memang harus pahit seperti ini karena semua itu ada alasannya. :')
... kemudian tetap saja semuanya adalah sejarah. (hal. 14)
Lima bintang karena meninggalkan perasaan sedih dan nyesek berkepanjangan.
Ini aku baca super cepat, cuma 2,5 jam. Dan selesai baca aku langsung nulis review, tapi entah bagaimana belum tersimpan di Goodreads... jadi sekarang aku tulis ulang.
First of all... HAHAHAHAHAHA Finally I finish reading Dilan book before my brother, so he cannot fester me with spoilers. But then again, before the book is released, someone from work already told me a minor spoiler. #facepalm
Kenapa aku bisa baca secepat itu? Alasan utamanya, banyak fakta yang diulang-ulang dan aku sudah hafal gaya tulisan Surayah seperti apa, jadi walaupun mataku tidak secara fokus melihat setiap kata yang tercetak di buku, benakku otomatis bisa mengisi dengan informasi yang cukup akurat. Kelemahannya, aku jadi kurang bisa merasakan emosi dan koneksi antar tokoh. Tak masalah, karena aku sedang tidak ingin baper!
Terkait tokoh-tokoh dalam cerita, aku masih tetap pada pendirianku sebelumnya: aku tidak suka Milea. Aku paham Dilan yang akhirnya keceplosan bilang tidak mau terlalu dikekang. Aku pernah berada dalam posisi seperti itu. Oh iya, tidak boleh baper.
Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, kisah Dilan dan Milea, aku yakin bisa menjadi pembelajaran untuk banyak orang yang sedang dan akan menjalani hubungan. Tak ada pedoman yang pasti untuk menjalaninya, jadi berusaha nikmati saja setiap manis dan pahitnya, setiap tawa dan tangisnya. C'est la vie.
Dicarinya buku ini setelah menonton filem Dilan 1990 dan 1991... Suara dari Dilan memberikan pencerahan apa yang berlaku di tahun 1990 dan 1991... Begitu rupanya.. banyak salah faham dan andaian2 yang membuat hubungan mereka terputus..
Terima kasih Ayah Pidi Baiq sudah mau mengangkat cerita ini dari sudut pandang Dilan-nya sendiri. Waktu kemarin, disuguhkan dari sudut pandang Milea yang di dalamnya sungguh emosional, khas perempuan. Tapi, kali ini pembaca (khususnya saya) disuguhkan dengan cerita emosional khas laki-laki. Beda banget rasanya :((
Aku berusaha bersikap netral, tidak memihak Lia maupun Dilan. Mereka berdua sama-sama masih SMA, yang saya alami sendiri adalah masa-masa labil pikiran dan keputusannya. Yang saya sayangkan dan sekaligus saya kagumi, kenapa Ayah Pidi Baiq bisa membuat cerita yang hanya ber-setting kisah kasih SMA menjadi sesuatu yang begitu menyakitkan pada akhirnya.
Jadi inget kata-kata Remi Moore, kalo laki-laki itu gengsinya tinggi, sedangkan perempuan itu saklek dalam menjaga harga diri. Ngena banget, neng Remi :"(
Terima kasih Ayah, gak bisa dikomen apa-apa ah, soalnya buku ini sempurna, dibalik kekurangan & kelebihannya. Nuhun surayah, hati ini udah gak berbentuk lagi. Perasaan campur aduk. Malam minggu + gerimis pula! Mantep buat edisi galau-galauan. he he he
Lewat penuturannya yang lugas, saya jadi paham apa yang dipikirkan Dilan pada masa itu. Satu yang pasti, Dilan yang juga hanya manusia biasa, hanya melakukan sebagaimana yang dia pikirkan pada setiap kejadian yang dia alami, menurut saya itu hal yang sah sebagaimana kita manusia memiliki kebebasan untuk bertindak, memutuskan apa yang memang kita rasa perlu untuk dilakukan. Meski kadang apa yang kita terka pada nyatanya tidak sesuai, toh jalan dari Tuhan sudah seperti itu, kalau kata Si Waktu, sih, begini, "You might not change the past, but you might learn something from it.” Pidi Baiq benar, ini bukan hanya soal asmara, tapi sebagai pelajaran buat mereka yang baca.
Mungkin, biar ada kesan nyata dari sosok Cika, tapi kalau boleh saran, untuk beberapa alasan pribadi, agaknya lebih enak untuk dihapus sajalah bagian Dilan telfonan dengan Cika. Bukan apa, seperti yaa... kurang penting. Nuhun, Cika. Hahahaha. Eh, nuhun itu maaf, bukan, ya?
Melalui buku Dilan pertama, saya dibuat berbunga-bunga banget dengan kehadiran Dilan. Tapi perasaan tersebut berubah kesal setelah baca buku kedua. Separuh karena tingkah Dilan, separuh lagi karena Milea yang menurut saya terlalu dramatis. Makanya begitu ada info kalau Pidi Baiq bakal bikin buku lanjutan tapi dari versi Dilan, saya cukup excited. Saya pengin tahu isi kepala (dan hati) Dilan itu kayak gimana. Kenapa dia melakukan hal-hal yang dia lakukan ke Milea--dan dirinya sendiri. Well, let's just say that I've found my answers and I'm pretty satisfied with them.
Sejak awal "mengenal" Dilan, saya sok-sokan yakin kalau di balik eksterior selengekannya itu, sebenarnya dia cukup melankolis. Lembut. DAN YA TERNYATA MEMANG BENAR ADANYA. Tapi saya nggak menyangka bahwa Dilan bakal semelankolis itu. Pokoknya melalui buku ketiga ini, saya jadi benar-benar bisa memahami Dilan, bahwa sebenarnya dia juga ikutan hancur bahkan sebelum hubungannya dengan Milea putus. Dilan sama sekali nggak malu untuk nunjukkin kerapuhannya itu. Meskipun ada beberapa pilihan kata yang menurut saya agak mbulet, hal tersebut nggak menghalangi saya untuk tetap merasa terenyuh terhadap perkataan Dilan.
Di sisi lain, masih ada hal-hal manis yang bisa saya nikmatin di sela-sela curhatan Dilan ini kok. Dilan beberapa kali flashback ke masa-masa pacarannya dengan Milea dulu, yang nggak ada di cerita versi Milea pada dua buku sebelumnya. Tapi memang sih jumlah percakapan ngebanyol khas Dilan nggak terlalu banyak. Malah sepertinya Dilan lebih banyak bernarasi di buku ketiga ini. Secara keseluruhan, saya lebih nikmatin baca buku ini daripada buku Dilan kedua meskipun efek patah hatinya lebih dahsyat.
Sebenarnya tidak ada hal baru yang disuguhkan dibuku ketiga ini. Isinya juga hanya pengulangan buku pertama dan kedua. Buku pertama dan kedua dari sudut pandang Milea kalau yang ini dari Dilannya.
Tetapi saya paling suka dengan buku ketiga ini ya sudah lebih realistis saja dan terjawab sudah beberapa peranyaan yang membuat saya bertanya-tanya di buku kedua
Lebih senang lagi karena kisah cinta tidak harus melulu berakhir dengan happy ending kalau tidak happy ending ya sudah anggap saja itu jadi bagian pahit dari kisah cinta perjalanan hidup kalian
Cinta itu tidak harus memiliki. Doakan saja dia dari jauh kalau dia sudah menemukan pasangan yang terbaik untuk dirinya
Kalau disuru memilih antara Tim Dilan atau Tim Rangga. Jujur sih saya akan memilih Dilan Mending digombalin ketimbang menunggu tanpa kepastian berpuluh2 bulan purnama. Saya gak suka digantungin meskipun Rangga itu lebih ganteng. Benar kalau kata Istri Manji, Rangga itu ganteng tapi hambar dan gak ngegemesin :D
Mixed feeling. Yang pasti, karya Pidi Baiq ini amat mengesankan. Yang pasti, saya tabik spring sama watak Dilan. Milea, iya kasihan. Dia pernah silap, terlalu takut kehilangan. Dia mungkin masih keanak-anakan, lupa bahawa mati itu pasti. Tidak semestinya anak geng motor pengakhirannya mati. Petani juga bisa mati dipatuk ular, atau terjatuh waktu turun bukit atau macam-macam. Kan ada yang disebut takdir. Kan ada disebut, jagan terlalu mencintai sesiapapun atau apapun, kerana mereka tidak kekal. Ahh, aku pandai-pandai. Sendiri pun rasanya lebih teruk dari Milea. Aku lagi pernah beritahu anak-anakku, kalau Baba (suamiku) ditakdirkan mati dulu, aku akan lari tinggalkan semua. Biar anak-anak hubungi adik-adikku dan abang-kakak suamiku. AKu tak mahu tahu. Sebab? Aku tak akan bisa boleh terima, mengapa? Lagi teruk sihh.
Mungkin juga Milea betul, dia terlalu menyayangi Dilan. Tidak mahu benarkan apapun melukakannya, tidak mahu Dilan diusik malapetaka. Tapi Milea tidak sedar, perbuatannya telah melukakan Dilan. Jika Milea seorang yang berfikiran dewasa, mungkin dia mahu give and take. Jika Milea betul mengenali Dilan, dia akan lepaskan benang perlahan-lahan, biarin Dilan terbang dengan gembira, dengan nayam, menjadi dirinya, dan Milea yang mengawal arah terbangnya Dilan, dan pabila sore, Milea perlahan-lahan menarik kembali benangnya supaya Dilan kembali padanya. Esok main lagi. Namun,.... ahh udah berlalu kan. Buat kata Dilan, tidak perlu dibahasin.
Ayat ini poweful bagiku, "'Aku (Dilan) ingat, aku pernah bilang kepadanya (Milea) jika ada yang menyakitinya, maka orang itu akan hilang. Jika orang itu adalah aku, maka akupun arus hilang'." Kalau aku jadi Milea yang baca ayat ini, rasanya aku tak akan lagi mahu tersenyum apa lagi tertawa. Tambah lagi selepas kahwin dengan orang yang (pada pendapatku) kayu boring seperti Mas Herdi.
Rindu itu berat. Perpisahan itu berat. Penyesalan, super berat. Hanya orang yang kuat kayak Dlan saja boleh survive cemerlang. Cika kelihatannya seperti seorang yang comel, tenang dan manis. Hadiah buat Dilan yang baik, Dilan yang kuat, Dilan yang sabar, Dilan yang Dilan.
Isyy, cerita ini heavy ya. Adakah berdasarkan kisah benar?
Dilan's pov speechless deh, endingnya ya ampun maaakkk...aduh banjir deh ah...perih euy...pengen deh bikin buku yang keempatnya tapi saya aja yang nulis kisahnya dan harus happy ending, pokoknya maunya Dilan sama Milea bersatu titik! tapi jangan salah ya yang endingnya sad itu bukan berarti gak memuaskan atau ngeselin tapi malah di novel ini kita jadi lebih tau banyak hal baik itu dari sudut pandang laki2 maupun perempuan semacam versi2an gitu. Bener kata si Remi Moore "perempuan itu kodratnya nunggu, sedangkan laki2 itu kodratnya gengsi" yak..terus2in aja begitu kelar deh gak berjodoh kan jadinya hufff! begitulah kira2 kisah dua insan ini yang amat menguras kering airmata. Bagus ah ceritanya, you should read, buruaaann lah
"Aku belajar untuk tidak menyerah atau berputus asa dan selalu menjadi diriku sendiri. Kukira, aku tidak akan menjadi bagaimana diriku tanpa pengalaman-pengalaman yang aku dapatkan." (hlm 54)
Kemunculan Dilan di jagat perbukuan anak muda Indonesia benar-benar membawa kesegaran baru. Dilan meneruskan tradisi cowok baik rada badboy yang telah lebih dahulu dimulai oleh Catatan si Boy, Balada si Roy, serta Lupusnya Hilman. Tapi, Dilan bisa menjadi sepopuler seperti saat ini karena dirinya tetap menjadi Dilan. Buku ketiga seri Dilan ini Pidi Baiq seperti hendak menegaskan sosok Dilan yang se-Dilan-Dilannya, yang tidak mau dikekang oleh monotonnya kehidupan dan juga oleh Lia. Begitulah seorang Dilan. Jika di dua buku sebelumnya kita sudah dihibur dengan kisah dari Milea, mari kita dengarkan suara dari Dilan di buku ini.
"Karena aku percaya, di dalam caranya masing-masing, setiap orang melakukan kesalahan. Dan, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk dimaafkan." (hlm. 97)
Milea Adnan Hussain adalah kekasih dari Dilan pada tahun 1990 sebelum mereka putus di tahun 1991. Ketiga seri buku Dilan sendiri memang berisi kisah kasih sepasang sejoli ini. Tapi, yang bikin Dilan beda dari kisah sejenis di pasaran adalah sosoknya yang khas: badboy tapi kocak semu kreatif, dengan romantisme yang khas. Ini yang bikin Milea jatuh cinta kepada cowok itu meskipun secara tampang, Dilan tidak termasuk cowok yang ganteng-ganteng amat (ini diakui sendiri oleh Dilan di buku ketiga ini). Nah, sebenarnya apa yang dilihat Dilan dari Milea sehingga dia bisa jatuh cinta? Di buku ini ada jawabannya. Karena memang ditulis dari sudut pandang Dilan, bisa dimaklumi mengapa cara bercerita buku ketiga ini tidak selincah dua buku sebelumnya. Ini wajar karena Dilan dan Milea adalah dua karakter yang berbeda. Malah akan jadi aneh kalau cara berceritanya sama padahal yang berkisah berbeda.
"Kalau P3K singkatan dari apa? | P3K itu, Pertolongan Pertama Padahal Kedua."(hlm. 162)
Bagi yang belum membaca dua buku seri Dilan sebelumnya, mungkin akan agak sulit mengikuti cerita di buku ini. Penulis banyak mengulang adegan yang sudah dikisahkan di dua buku sebelumnya, hanya saja dari sudut pandang Dilan. Beberapa cerita malah sengaja tidak diceritakan karena sudah diceritakan oleh Milea. Kesegarannya memang tidak seheboh di buku pertama. Tapi tenang, sedikit banyak kita masih bisa menemukan unsur 'kedilanan' di buku ini walau tidak sebanyak di buku pertamanya. Begitu juga dengan setting Bandung era 1990-an yang masih asri, plus sedikit setting di Jogja saat Dilan hendak mendaftar kuliah ke ASRI. Bagian menjelang akhir dari buku adalah yang paling menarik menurut saya karena bagian ini mengisahkan sedikit babak kehidupan Dilan yang belum disinggung, yakni ketika Dilan kuliah kemudian bertemu Milea sebagai sepasang mantan. Pokoknya siap-siap baper bagi yang ngejagoin hubungan Dilan - Milea.
"Aku tidak merasa harus lebih baik dari orang lain, aku hanya berusaha untuk lebih baik dari diriku yang kemarin."(hlm. 352)
Menyelesaikan membaca buku ini, bisa disimpulkan inilah penutup dari kisah Dilan dan Milea. Jika ada yang belum habis dikisahkan di dua buku pertama. Kisah tentang Dilan tentunya belum lengkap kalau Dilannya sendiri belum cerita. Gimana kabar geng motornya setelah mereka lulus SMA, kuliah di mana Dilan dan kawan-kawannya, juga siapa yang jadi pacar Milea setelah Dilan, terus Dilan juga sudah punya pacar baru. Istilahnya, nanggung banget kalau sudah baca "Dia adalah Dilanku Tahun 1990" dan "Dia Adalah Dilanku Tahun 1991" tapi nggak baca Milea ini. Bagi kita yang sama-sama terpukau oleh Dilan, buku ini akan menjawab kangen dan kurang kita akan seorang Dilan.
Saya senang membeli buku di awal-awal buku itu terbit. Jadi, begitu tahu Milea akan keluar, saya bergegas ikut PO di website Mizan. Entah kenapa, membaca buku baru di awal-awal itu ada sensasi tertentu. Dan biasanya saya jadi lebih murah rating dibandingkan ketika saya sudah melihat orang-orang membaca dan jadi terpengaruh oleh penilaian orang lain. Saya lebih senang jadi pihak yang memberikan pengaruh saja :p
Buku ini cukup menyenangkan untuk dibaca. Walaupun demikian, ada beberapa hasil diskusi dengan suami yang kalau dipikir-pikir benar juga. Saya pada awalnya tidak memberikan komentar tertentu. Tapi benar deh, kalau kamu cinta seseorang, kamu harus memperjuangkannya hingga akhir. Cinta dua belah pihak itu harus diusahakan untuk bersama. Jangan takut bilang, jangan berprasangka. Seperti kata Conan, lebih lelah mengira-ngira daripada mencari tahu yang sebenarnya.
Di dalam hati, saya sedikit menyayangkan Milea yang memilih menikah dengan orang lain. Benarkah dia mencintai si akang itu lebih daripada Dilan? *tuh kan jadi baper*
Saya baru percaya bahwa kita memang tidak bisa bersama dengan orang yang kita cintai, setelah mengusahakannya hingga akhir. Kalau belum, please, jangan menyerah :)) *loh ini review atau apa sih ? haha*
Jangan pernah baca novel berseri dari seri ketiga! Tidak akan mengerti. Milea Suara dari Dilan (Pastel Books Mizan, 2016) adalah novel ketiga serial Dilan dari Pidi Baiq. Asli tidak akan mengerti kalau langsung baca buku ketiga. Ini novel apaan sih? Cerita seorang anak SMA bernama Dilan. Yang mengaku didatangi Pidi Baiq pada 15 Agustus 2015 karena tertarik menulis novel Suara Dilan. Novel yang akhirnya terbit satu tahun kemudian.
Serial Dilan Dalam novel 357 halaman ini, Dilan bercerita mengenai banyak kejadian yang diceritakan oleh Milea dalam buku pertama Dilan Dia adalah Dilanku tahun 1990 (Pastel Books Mizan, 2014) dan buku kedua Dilan Dia adalah Dilanku tahun 1991 (Pastel Books Mizan, 2015). Kebayangkan betapa tidak kreatifnya penulisnya. Buku pertama dan kedua judulnya hanya berbeda angka 1. Buku ketiga hanya mengubah sudut pandang. Dari sudut pandang Milea pada buku 1 dan 2, menjadi sudut pandang Dilan di buku ketiga.
Jadi ini novel tentang apa? Tentang kenangan pacaran Dilan dan Milea semasa SMA. Dangkal. Sederhana. Kalau kata emak-emak, nggak mutu dan nggak penting – Semoga anakku jangan baca buku ini. Kalau kata anak muda, inspiratif dan keren – Semoga aku bisa dapat pasangan seperti Dilan/Milea. Kenapa bisa beda pendapat? Makanya harus baca dulu buku 1 dan 2.
Nambah kerjaan banget ya. Maunya sih tidak perlu baca 2 buku pertama, tapi dalam novel ketiga ini banyak sekali adegan yang mengacu pada cerita Milea sebelumnya. Jadi agak bingung untuk menangkap ni anak mau ngomong apa sih? Siapa Dilan? Kenapa Milea begitu mencintainya? Kenapa mereka putus? Semua ada di buku satu dan dua. Banyak bagian diberi penjelasan: … seperti sudah Lia (*nama panggilang Milea) jelaskan dalam buku… atau Lia sudah banyak cerita soal dia di buku itu… Alhamdulillah saya punya tetangga sholehah yang bersedia diembat koleksi kedua novel pertama Dilannya. Thanks bu Sri Mega.
Setelah maraton baca ketiga novel karangan lulusan Seni Kriya FSRD ITB kelahiran 8 Agustus 1972 ini, baru lah kita agak mengerti tentang Dilan dan Milea. Buku pertama tentang Milea bercerita bagaimana Dilan mendekatinya dan akhirnya mereka resmi pacaran yang ditandai dengan deklarasi bermaterai (Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990, hal 327).
Proklamasi
Hari ini, di Bandung, tanggal 22 Desember 1990, Dilan dan Milea, dengan penuh perasaan, telah resmi berpacaran.
Hal-hal mengenai penyempurnaan dan kemesraan akan diselenggarakan dalam tempo yang selama-lamanya.
Sedangkan buku kedua tentang cerita Milea mengenai hubungan mereka yang berakhir putus karena Milea tidak mau pacarnya bergabung dengan geng motor. Padahal Dilan sudah meyakinkan bahwa senakal-nakalnya anak geng motor, mereka sholat pada waktu praktek ujian agama.
Hadeuh!!! Anak muda…
Celoteh Dilan Dilan memulai cerita di seri ketiga dengan latar belakang keluarganya. Ada cerita tentang bundanya yang ia biasa panggil Bundahara jika ia sedang minta uang atau Sari Bunda ketika ia lapar. Ada cerita tentang Ayahnya yang tentara hingga masa kecilnya. Dan hal-hal lain yang luput dari catatan Milea dalam buku sebelumnya. Ia lah, mana mungkin Milea tahu kalau Dilan perlu minta air doa Al Fatihah dari bundanya sebelum mendekati Milea.
Dilan itu sebenarnya pintar dan juara kelas. Tapi ia sempat meragukan arti bahwa G 30 S PKI itu merupakan singkatan dari Gerakan 30 September. Ia kira G-nya ada 30, seperti dalam P3K yang merupakan singkatan dari Pertolongan Pertama Padahal Kedua. Boleh senyum kalau kamu jaim.
Ada juga komentar Dilan saat Milea menyampaikan pendapat Yugo, temannya yang orang Eropa tentang orang Indonesia.
“Iya. Katanya, orang Eropa itu disiplin. Mau sabar buat antri.”
Dilan terkadang memang cukup wise. Seperti yang ia tunjukkan dengan tidak ingin mengekang Milea.
Lia memang sudah cerita soal Kang Adi yang kadang-kadang masih suka nelepon, dan itu sama sekali tidak masalah bagiku. Aku pacarnya Lia, tetapi aku tidak ingin punya hak untuk mengontrol dengan siapa dia bicara atau dengan siapa dia berteman. Aku tidak ingin punya perasaan berkuasa atas dirinya. (hal 153)
Aku pergi mencari tempat duduk sendiri di halaman Yoghurt Cisangkuy karena merasa tidak ingin mengganggu Beni yang ingin bicara dengan Lia. Aku pacarnya Lia, dan Beni hanya mantannya. Apa yang harus aku risaukan jika aku yakin Lia akan lebih suka kepadaku yang tidak pernah mengekangnya, yang tidak pernah berkata kasar kepadanya. (hal 163)
Walau setting novel ini adalah kondisi SMA di Bandung tahun 1990, yang mungkin berbeda dengan masa sekarang, tapi karakter Dilan memang unik untuk anak-anak masa sekarang. Sangat kreatif cara berpikirnya. Bisa jadi agak kontradiktif ya. Penulisnya saya nilai tidak kreatif (alasannya sudah saya sampaikan diatas), tapi ia menuliskan tokoh yang kreatif, imajinatif, sableng, polos, aneh, dan mudah untuk dicintai.
Mungkin kalau dulu – atau bisa dibilang jamannya Dilan SMA, idola remaja itu karakter Lupus-nya Hilman Hariwijaya, karakter Mas Boy-nya Marwan Alkatiri, atau karakter Roy-nya Gola Gong. Nah dalam 2 tahun terakhir ini, sepertinya idola remaja adalah Dilan. Dilan yang pintar, Dilan yang anak geng motor, Dilan yang mencintai dengan cara yang unik. Sosok Dilan dibuat begitu hidup oleh Pidi Baiq dalam novel yang tata bahasa dan plotnya tidak jelas.
Kritik tentang Dilan Beberapa kepingan cerita sering saya tidak mengerti kenapa harus diselipkan disitu. Seperti cerita tentang laki-laki yang mendatangi Disa adiknya Dilan. Namanya Saka. Tapi Dilan menuduhnya memiliki nama panjang Sang Saka Merah Putih yang harus selalu dihormati. Andaikata bagian tentang Saka dihilangkan, tidak akan berpengaruh apa-apa pada alur cerita.
Bisa jadi novel ini tidak nyaman buat dibaca pecinta novel-novel apik rapi seperti karya Dewi Lestari, Andrea Hirata atau Ahmad Fuadi. Tapi daripada mengomeli penulis atau editornya yang payah banget, saya maklumi saja dengan menganggap inilah curahan hati anak SMA yang berusaha ditampilkan sejujurnya.
Walau sebenarnya agak terganggu juga dengan cara menerjemahkan bahasa Sunda ke dalam bahasa Indonesia hanya yang menggunakan kata = atau sekedar diberi tanda kurung. Misalnya:
“Geus titah tiheula,” kata Apud ke aku. “Sugan weh leungit,” Artinya: “Udah, suruh duluan aja, kali aja dia hilang.”
“Gancang pisan leumpangna,” jawab Apud. (Cepat sekali jalannya.”)
“Teu boga bujal sigana mah,” jawab Apud. “(kayanya dia itu gak punya pusar.”)
“Kenapa?”
“Kuda pan teu boga bujal, jadi teru capean,” jawab Apud. (“Kuda, kan gak punya pusar, makanya kuda gak pernah capek.”)
(Milea Suara dari Dilan, hal 251)
Atau bagian:
“Yang pacaran meuni mesra!” kata Bi Eem tiba-tiba (meni mesra = nampak mesra banget).
( Dilan dia adalah Dilanku tahun 1991, hal 327).
Cara penerjemahan yang rasanya tidak akan kita temui dalam novel-novel karya penulis-penulis terkenal lain. Coba saja kita bandingkan dengan cara Ahmad Fuadi menuliskan bahasa daerahnya dalam novel Negeri 5 Menara (Gramedia, 2009).
Pak Etek Muncak dan kenek bersamaan berseru, “Alah kanai lo baliak. Kita kena lagi!” (Negeri 5 Menara, hal 21)
“Ndak ba’a do, sebentar lagi kita sampai!” seru ayah mencoba menenangkan sambil menggamit bahuku. Dalam Negeri 5 Menara – hal 22, yang dilengkapi dengan footnote menunjukkan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
Saya harus mengakui, saya lebih suka gaya pengungkapan Milea yang apik di buku satu dan dua. Mungkin karena perempuan memang lebih jago mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata. Saya sampai lupa ada yang namanya Pidi Baiq dibalik buku ini. Acung dua jempol buat Pidi Baiq yang bisaan membuat sudut pandang perempuan dalam tulisannya. Dengan sempurna! Tokoh-tokoh ini terasa begitu hidup. Bisa jadi karena sepertinya Dilan adalah Pidi Baiq di masa remajanya.
Merekam Sejarah Bandung 90-an dalam Dilan Dengan setting setiap pojok Bandung yang benar-benar ada pada masa itu. Orang Bandung pasti mengenal tempat-tempat tersebut. Seperti Bioskop Regent, Toko Yu, BonBin – Kebon Binatang Taman Sari, Taman Centrum, Galael Dago, Yoghurt Cisangkuy, Aquarius Dago, dan banyak lagi. Banyak tempat memang sudah tidak ada sekarang. Tapi ini seperti menjadi catatan sejarah bagi mereka yang memang pernah ada di awal tahun 1990-an dan akan selalu menjadi memori masa muda dulu.
Jadi teringat quotesnya Pidi Baiq yang dipajang di bawah jembatan Alun-alun Bandung dan menjadi objek selfie para turis:
“Dan Bandung bagiku bukan masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.” – Pidi Baiq
Jadi saya pikir niat Pidi Baiq tercapai. Yaitu menjadikan buku Dilan sebagai buku pelajaran eh tepatnya buku yang bisa menjadi pelajaran buat mereka yang membacanya. Pelajaran? Serius? Dilan sendiri sempat tidak mengerti maksud Pidi Baiq ini (baca hal 18). Penjelasan Pidi Baiq begini. Dalam novel Dilan orang bisa belajar taktik menguasai wanita. Seperti ketika Dilan mengomentari Kang Adi yang berusaha mendekati Milea.
Harusnya, Kang Adi tahu jika benar-benar mencintai dia tidak perlu menjadi seperti orang yang memiliki kekuatan di atas yang lain. Dia cenderung memuji dirinya sendiri daripada memuji Lia. Itu sangat menyebalkan. Dan juga harusnya dia tidak perlu menjadi orang yang ingin dianggap hebat dengan banyak memberi nasihat.
Menurutku, Lia itu seorang yang harus dilindungi dari orang yang memperlakukan dia seperti orang bloon yang tidak tahu apa-apa. Lia itu semacam orang yang ingin dibiarkan menjalani hidup dengan suasana yang luwes, lancar, dan orisinal. Dikasih sedikit campuran Rock’nRoll tetapi yang Lillahita’ala. (hal 146)
Bisa juga belajar pelajaran ekonomi tentang bagaimana cara memberi kado yang murah meriah misalnya dengan memberikan TTS yang sudah diisi. Bukan karena apa-apa, sekedar karena ia tidak ingin Milea pusing mengisinya. Juga ada pelajaran olahraganya dibagian berantem sebagai geng motor. Kan sama-sama melakukan gerakan badan hingga berkeringat.
Nih saya tambahkan satu pelajaran lagi Ayah Pidi, pelajaran sejarah dengan mengenang tempat-tempat legendaris Bandung tahun 1990-an yang mungkin semakin lama semakin banyak menghilang dari kota yang diciptakan Tuhan sambil tersenyum ini.
Dilan lucu sih….tapi…. Saya sejujurnya susah ketawa baca novel ini. Humor-humor khas anak FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) yang ya… gitu deh… Tapi akhirnya menyerah menahan jaim setelah baca puisi cinta yang ditulis Dilan untuk pacar barunya Cika.
Cika
Cika, Cikawao. Cika, Cikalong Wetan. Cika, Cikadut Atas. Cika, Cikarang Selatan. Cika, Cikaso Banjarsari. Cika, Cikahuripan. Cika, Cikajang Garut. Cika, Cikakak Sukabumi, Cika, Cikao Purwakarta. Cika, Cikamuning. Cika, Cikampek Pantura. Cika, Cikander Serang. Cika, Cikapundung Electronic Center. Cika, Cikapayang Dago. Cika, Cikawung Pandeglang. Cika, Cikawao Motor. Cika ada di mana-mana. Cika juga di dalam kepalaku. Cika juga di dalam semua perasaan riangku. (hal 341)
Nggak ada yang bisa bilang bahwa lucunya Dilan sama dengan lucunya Lupus ciptaan Hilman Hariwijaya, atau Cinta Brontosaurus-nya Raditya Dika, atau Jomlo-nya Aditya Mulya. Berbeda! Saya tidak bisa bilang lebih baik atau lebih buruk. Hanya berbeda.
Siapa Pidi Baiq? Bisa jadi keunikan novel ini karena latar belakang penulisnya yang memang berbeda. Kesablengan Pidi Baiq mungkin bisa dilihat dalam buku-bukunya sebelumnya seperti Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan; Drunken Molen: Kumpulan Kisah Tidak Teladan; Drunken Mama: Keluarga Besar Kisah-kisah Non Teladan; Drunken Marmut: Ikatan Perkumpulan Cerita Teladan; Al-Asbun Manfaatul Ngawur; at-Twitter: Google Menjawab Semuanya Pidi Baiq Menjawab Semaunya; dan S.P.B.U: Dongeng Sebelum Bangun. Dari judulnya kebayang lah ya…
Masih belum kebayang? Coba intip blognya di http://ayahpidibaiq.blogspot.co.id/. Disana ada banyak cuplikan-cuplikan novel seri Dilan yang dibagikan dengan murah hati oleh Ayah Pidi. Tinggal kalau penasaran boleh baca lanjutannya dengan meminjam buku tetangga seperti saya. Tapi kalau punya sedikit uang, belilah di toko buku diskon terdekat atau di mizanstore.com. Kalau banyak uang, boleh beli di toko buku besar. Bahkan kalau kaya raya banget, boleh beli beberapa biji untuk disumbangkan ke tetangga. Versi e-book bisa kamu dapatkan di app mizanstore dari playstore di HP Androidmu.
Jangan. Jangan bayangkan aku akan menulis panjang lebar. Bukan. Bukan karena aku nggak sabar. Pikiranku hanya sedang riuh. Sungguh. Kuyakin benakmu pun begitu. Lelah, membawa beban rindu. Tapi itu kan maumu, bukan aku.
***
Bahan siaran sabtu besok. Dapat tema yang lumayan jarang gw baca. Young adult: Romance. Kalau novel perang-perangan sih emang pasti ada unsur pacarannya, tapi kan ga pure romance. Dan demi banget dong, gw nonton film dari buku pertama serial ini, Dilan, Dialah Dilanku tahun 1990. Iqbal mayan dapet ekspresinya, cuma ga tahu kenapa gaya ngomongnya gitu yah? Trus penasaran sama si Wati, kudu bangun jam berapa ya ngeriwilin rambut dulu sebelum ke sekolah? (gapenting). Sama ngebayangin biaya produksinya, ngebloking puncak euy. Hebring eta mah.
Ketika berpisah, hal yang sulit itu dua hal. Pertama, move on. Kedua, mengaku kalau kita susah move on.
Di buku Milea: Suara Dari Dilan Pidi ini, Pidi Baiq ngeles. Pidi bilang buku ini bukan tentang dia. Hahahaha. Saya ga percaya!
Yasudahlah. Ayah Pidi tidak mengakui kisah masa lalunya. Mungkin rasa gengsi masih ada di hatinya. Saya jadi tak heran kenapa kisah Dilan dan Milea berakhir; Gengsi lebih tinggi daripada keinginan memiliki.
Tidak tahu kenapa... seperti tidak ada hal yang di tunggu tunggu ketika sedang membaca novel ini.. Mungkin sebagian besar ada penceritaan ulang dari 1990 dan 1991. Tapi di akhir cukup mengharukan dengan kalimat kalimat lampau dilan.
Ah, sudahlah. Nggak ada gunanya ngubek-ubek masa lalu yang bikin pedih. Toh, mau diubek-ubek seperti apa pun, masa lalu nggak akan berubah. Dikenang boleh, disesali jangan. Diambil hikmahnya, lebih baik lagi. Karena life must go on, my friend.
Penulisan buku ketiga seri Dilan ini lebih bagus daripada kedua buku sebelumnya. Lebih rapi, dan kaidah berbahasa yang baik juga lebih diperhatikan. Mungkin untuk memberikan pembeda yang lebih nyata, karena dua buku sebelumnya ditulis dari sudut pandang Milea, sedangkan buku terakhir seri ini ditulis dari sudut pandang Dilan.
Bagian kocaknya lebih terasa lucu, mungkin karena dipaparkan dari sudut pandang Dilan. Walaupun ada bagian yang mengulang kejadian buku-buku sebelumnya, tapi bagian-bagian itu diceritakan berbeda. Setelah membaca buku ini, kejadian-kejadian dari buku-buku sebelumnya jadi terasa lebih detail. Ketiga bukunya terasa saling melengkapi.
Seri ini sepenangkapan saya berisi curahan hati dari sebuah hubungan remaja putra dan putri. Semua diserahkan ke pembaca bagaimana menyikapinya. Kalau saya, inti dari pemaparan cerita ini adalah untuk menjelaskan salah satu proses kehidupan, yang bisa jadi penuh suka cita, kekeraskepalaan, kesedihan, serta usaha untuk mengikhlaskan. Dan semuanya diceritakan dengan sederhana, sesederhana kejadian yang terjadi saban harinya, yang bakal nggak kentara kalau nggak ditulis.
Baper? Ya, saya setuju kalau buku ini bikin baper. Tapi bagian paling bikin baper menurut saya adalah bagian ketika Dilan menceritakan ayahnya. Di buku sebelumnya, keluarga Dilan yang paling banyak disinggung adalah bundanya Dilan. Sebagai pelengkap, buku ini banyak menceritakan tentang sang ayah.
Kok sosok ayah yang dijabarkan oleh Dilan hampir sama dengan yang saya rasakan, walaupun latar belakang beliau berdua ini sangat berbeda. Bagi saya, sosok ayah adalah sosok yang misterius. Jarang berinteraksi langsung secara verbal (bahkan saat berbicara pun kesannya berteka-teki, sampai saya nggak bisa membedakan kapan beliau serius karena terkesan seperti bercanda), tapi bahasa tubuhnya bisa kentara dibaca. Tapi kalau sudah keluar ketegasannya, sangat bijaksana kalau tidak menjawab balik.
Nah, jadi curhat, kan. Jadi sesenggukan, kan. Jadi rindu, kan. Jadi pengen pulang, kan. Kalau saja saya sekarang sedang nggak diusik oleh “spectra labil yang hanya muncul di durasi tertentu” (abaikan), saya bakal browsing tiket untuk pulang. Tapi rasa tanggung jawab ini masih menahan saya di sini.
Yah, sekali lagi, life must go on. Mau disinggung sesering apa pun, masa lalu nggak akan kembali. Lebih baik diikhlaskan saja, karena memang sudah bukan jalannya (ngomong sih, gampang). Tapi, perasaan yang tertinggal itu tanggung jawab masing-masing. Kalau belum move on, jangan salahkan pihak lain.
Intinya isi dari novel ini penuh dengan Pembelaan, Penyangkalan, dan Pembenaran.
Ah iya, Prasangka.
Kalo kalian gak setuju pendapat itu, itu hak kalian. tapi aku berpikir spt itu.
Gimana? Uda mirip cara Dilan membela dan melindungi diri kan? Ya spt itu kurang lebihnya hhahaaa.
Lebih ke gemes sih bacanya dari awal sampek akhir. Masi sama, utk kasus putusnya Dilan sama Lia, posisi pertama yang saya sebelin adl Lia karena membatasi dirinya dengan sengaja utk menerima penjelasan Dilan. Ok, jangan itu dulu deh. Yang paling pertama adl karena Lia menaruh dirinya di urutan pertama utk diperhatikan (meski itu utk kebaikan jangka panjang Dilan juga, if you know what I mean). Sedangkan ketika itu Dilan sedang berduka mendalam dan butuh sandaran selain pada Tuhan dan keluarganya.
Posisi kedua ditempati Dilan tentu aja. Kenapa? Ya kayak yang Dilan bilang di situ, pikiran-pikirannya bagaimanapun telah dipenuhi prasangka negatif tentang Lia. Mungkin karena masa-masa Dilan berusaha memperbaiki dengan Lia, tapi respon Lia masi gak welcoming. Sehingga sampek ada dugaan Lia punya pacar baru, Dilan pun ngrasa gak perlu repot-repot konfirmasi, langsung ato gak langsung. Alhasil komunikasi mereka jadi berjalan buruk.
Komunikasi! Emang penting dalem suatu hubungan apapun. Dilan pun menyadari itu saat menulis buku Milea. Tapi yang selalu Dilan dan Lia bilang dalem buku masing-masing, saat itu mereka masi 17tahun, masi anak SMA. Saya jadi mikir, apakah 6tahun lalu ketika saya seusia dengan mereka, saya juga memiliki perilaku dan pemikiran-pemikiran spt mereka?
Tapi yang saya suka adl baik Dilan dan Lia, keduanya sangat dewasa saat menghadapi perpisahan dan menerima kenyataan apa yang sebenernya terjadi di masa lalu. No judgements. No dramas. Dan mereka sangat komitmen dengan apa yang saat ini uda mereka pegang dan mereka jalanin.
"All those fairy tales are full of shit" - mungkin satu verse dari lagu Payphone-nya Maroon5 ft Wiz Khalifa ini bisa mewakili perasaan Saya saat baca buku ketiga ini. Why? Yah karena reality's suck, but we still have to deal with it.
Seperti judulnya, buku ini diambil dari POV nya si Dilan Sadam Hussein (LOL). Awal baca agak males gitu karena terkesan kaya baca buku biografi, well Saya lebih prefer ke novel yang lebih banyak dialog ketimbang monolognya. Memang disini Dilan bahkan nggak melulu cerita tentang dirinya sendiri, bahkan sosok Anhar dan Kang Ewok aja diceritakan sama Dia. Begitu masuk ke chapter yang mulai banyak dialognya, cerita jadi seru. Mungkin kita bakal banyak yang kecewa atas sikap Dilan yang terkesan cuek dan nggak mau balikan sama Milea, tapi begitu Dilan udah "curhat" sendiri atas mengapa dia begitu, well menurut saya yah itu wajar aja buat seorang remaja seumurannya.
"Jalani hidupmu dengan mengacu kepada pekiranmu sendiri tanpa harus memaksa orang untuk berpikir yang sama dengan dirimu." - page 142
Ya Dilan, Saya menghormati pendapatmu.
Saya mungkin terkesan membela Dilan, tapi sungguh sebenarnya saya pun sedikit kecewa karena siapa sih yang ngga suka happy ending, rite? Tapi kaya yang saya bilang diopening, Dilan dan Milea pun harus dealt sama masa lalu mereka dan berusaha menjalin hubungan seperti layaknya sahabat.
"Biar Bagaimanapun tidak ada yang akan baik-baik saja tentang sebuah perpisahan, dan itu adalah perasaan sedihnya, bagaimana kita memulai dari awal dan kemudian mengakhirinya di tempat yang sama. Tetapi mau gimana lagi, kita harus tetap melanjutkan perjalanan bersama keyakinan dan harapan di udara." - page 271
Bisa dibilang dari ketiga buku di series ini saya paling suka ya Milea ini. Seperti yang sudah dibaca di ending buku kedua kita tau kan kalau ujung ujungnya mereka berdua gak sama sama alias putus. Menurut saya buku ini oke untuk yang nau nostalgik walaupun ini cerita bukan my cup op tea. Di buku pertama dan kedua saya agak kesel sama karakter Milea walaupun dalem hati sadar kalau kelakuan anak sma dulu dan sekarang kebanyakan emang kayak gitu tapi tetep aja karakter Milea tuh nyebelin menurut saya. Yang buat rasa kesel saya berkurang itu ya plot twist di buku kedua. Sedihnya kerasa banget. Terus baca buku ketiga dari sudut pandang Dilan dengan tutur kata dan pembawaan karakter dia yang sedikit agak dewasa jadinya bisa lebih menghayati cerita ini.
Endingnya sebenernya realistis toh kebanyakan juga di dunia nyata seperti ini beda ama drama drama korea yang happy ending . yah agak sedih karena mereka berdua itu terjebak timing yang tidak tepat dan gengsi.
Buku ini ngingetin saya sama Novel Love Rosie nya Cecilia Ahern yang agak beda sama versi filmnya. Kalian harus baca bukunya. Di situ ya di terangin banget karena di tulis dengan gaya surat/email antara 2 sahabat kecil dan perjalanan cinta mereka yang gak selalu menemui timing yang gak tepat. Sampai akhirnya mereka udah tua udah punya anak remaja. Kalian mesti baca. Saya juga ngerekomendasiin serial tv How I Met Your Mother . must watch
Aku suka si sama beberapa lagu Pidi Baiq seperti "Sudah jangan ke Jatinangor".
waktu membaca novel ini, saya hanya sekedar okeh saya terhibur tanpa maksud mengomentari gombalan berlebihan dan lain-lain. Nyatanya film adaptasi ini sukses. Memang Bandung ada hawa tersendiri. Saya pernah ke Bandung suasananya memang slow-living, kebetulan waktu itu sih adem, logat bahasa memang unik.
Walaupun ujungnya sama Ancika, Milea ini emang rolemodel anak populer SMA. Vibes Sekolah Bandung & motoran, kalau pernah ke Bandung penggambaran Sekuel novel ini yang sama Bandung memang seperti itu.
Saya si ga terlalu kecewa atau gimana dengan endingnya, nyatanya secara karakteristik saya suka Ancika yang tegas. Namun Milea memang punya tempat tersendiri, entah mengapa mungkin mereka berdua bertemu saat sekolahan yang dimana Cinta di sekolah itu apa adanya (tidak terlalu banyak pandang, kalau suka ya suka aja).
Gara-gara film ini, saya sempat motoran hujan-hujan menggunakan seragam SMA. you only live once, you never return memory when you're riding motorcycle in the rain with your uniform. iya tahu kok fomo, tapi minimal coba sih sekali seumur hidup (yang penting tau metabolisme tubuh aja biar ga sakit).
ya itulah takdir, yang bersamamu pada tahun kesekian belum tentu selalu bersamamu pada tahun kesekian.
Astaga, saat baca beberapa bagian dalem buku ini, aku nangis dong:” Sepanjang baca buku ini, yg terus kupikirin tuh “sedih banget loh hubungan Dilan-Milea ga berlanjut”.
Mana selama baca, lagu yg kudengerin tuh cuma Samsons - Bukan Diriku & Tulus - Pamit, pas banget deh, kan makin2 tuh ya:”
Berhubung abis ngalamin yg sama, jadi ya bawaannya baper:(
Ngebayangin Dilan sama pacar barunya, Milea pun udah sama pacar barunya, kok jadi aku yg nyesek:( Berasa ngewakilin perasaan mereka ke satu sama lain nih:”(
Yg bener2 nampar disini tuh, pasangan semanis Dilan-Milea yg kisah cintanya indah aja bisa pisah:”)
Pelajaran moralnya, ya harus tabah2 terima kenyataan. Hidup bukan melulu sebates apa yg kamu mau. Gimanapun, kita harus berdamai sama masa lalu dan jadiin sebagai pelajaran buat lebih baik kedepannya.
Makasii banyak buat Ayah, Teh Lia & Dilan, yg nyadarin aku kalo gabaik kalo terus2an galauin masa lalu, lalu malah lupa berbenah diri di masa kini. Lebih baik ikhlaskan yg sudah lalu, dan kuatin diri hadapi yg akan datang. Buka lembaran baru bersama mereka yg baru dengan mengenang indahnya masa lalu. Terimakasih^^
Sebenarnya telat banget kali ya kalo mau nge-review ni novel padahal udah mau rilis filmnya. Namun sama seperti review saya tentang karya pidibaiq sebelumnya, Dilan selalu membuat saya jatuh cinta. Di dalam Milea yang menggunakan sudut pandang Dilan, sosok keren nan humoris ini benar-benar hidup dalam imajinasi ssaya. Jujur, saya lebih suka membaca bagian Dilan ketimbang dua pendahulunya. bukan karna nggak bagus, tapi yang ketiga ini lebih greget.
Novel ini tetep memakai bahasa sederhana, khas percakapan sehari-hari tapi justru berasa real dan nggak menye-menye. Meskipun hanya mengulang kisah dari dua buku sebelumnya, Milea tetap enak untuk dinikmati sambil menyeduh teh di pagi hari. Ceritanya fresh, nggak begitu banyak konflik tapi bikin baper. tentu saya subjektif ya menilainya, tapi kebanyakan teman yang saya beri saran untuk membacanya merasa sependapat dengan saya.
Dilan akan membekas terutama dalam ingatan saya. tidak ada alasan untuk tidak jatuh cinta pada Karakter uniknya. dibalik misteri hati Dilan yang tak terungkap sebelumnya, saya menjadi paham bagaiman a posisi Dilan di dalam Milea. Pelajaran yang bisa diambil pasti banyak, cuma satu yang paling mengena. Ya, bahwa yang begitu membekas di hati, belum tentu menjadi sosok yang akan menemani hidup kita di hari tua nanti.
Sebagai penutup trilogi novel Dilan karya Pidi Baiq, Milea: Suara dari Dilan berhasil memberi sudut pandang baru yang lebih dalam. Buku ini ditulis dari perspektif Dilan, sehingga pembaca bisa melihat sisi lain dari kisah cinta yang sebelumnya diceritakan oleh Milea. Gaya bahasanya tetap khas Pidi Baiq tetap ringan dan kadang membuat pembaca tersenyum karena humor khasnya tapi di sisi lain juga terasa lebih dalam dan menyentuh. Ceritanya membawa pembaca bernostalgia dengan masa SMA yang manis sekaligus pahit. Meski ada bagian yang terasa berulang dari buku sebelumnya, hanya dengan sudut pandang berbeda. Secara keseluruhan, buku ini menjadi sebagai penutup yang manis dan sangat “Dilan banget” sehingga cocok untuk yang ingin mau memahami cinta remaja dari sisi yang lebih dewasa. Dari buku ini, pembaca bisa belajar bahwa cinta tidak selalu harus berakhir bersama namun tetap indah untuk dikenang.
saya bukan Milea, tapi punya temen yang mirip banget Dilan --yang ngenalin ke Dilan juga, sih.
bacanya di awal-awal bikin males karena rasanya ga ngalir, bikin berhenti-berhenti, tapi pas udah sampai tengah udah ga bisa diletakin lagi, haha. dan, ga nyangka aja endingnya bikin berkaca-kaca. semacam makin berasa kalau kebijaksanaan itu memang bertumbuh sesuai pengalaman (dan usia). ngerasa diaduk-aduk banget pas bagian akhir-akhir tentang tahu kenyataan di masa lalu, mau nyesel tapi ga bisa karena udah masa lalu, yang akhirnya bikin cuma bisa disenyumin sambil disyukuri. hvft.
btw, suka aja sih sama bahasanya yang enteng dan ga ada puitis-puitisnya, tapi tetep bisa terkesan manis dan romantis dalam penggambaran hubungan yang diceritakan. eheheh.