Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sarinah: Kumpulan Puisi

Rate this book
Kota ini dibangun dari seribu kematian disebabkan angin duduk, Thamrin. Orang-orang memangkas jalan untuk memintas waktu, tapi nasib tetap 24 jam tidak menentu, nasib tetap tersangga di antara getar tiang-tiang plaza tua menunggu runtuh. Orang-orang terus menua dalam bus, bercinta di atas kursi kereta dan berharap masa depan adalah jalur-jalur trem yang dibangun kembali setelah puluhan tahun lalu dirobohkan. Telah aku cintai pula kota ini, Thamrin. Seperti kucintai kota di pedalaman Sumatera, dengan segala kekurangan dan kelebihan, agar ketakutan demi ketakutan dan bala demi bala hanya datang dan bersarang dalam mimpi paling buruk.

100 pages, Paperback

First published August 15, 2016

2 people are currently reading
46 people want to read

About the author

Esha Tegar Putra

10 books5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (11%)
4 stars
13 (30%)
3 stars
18 (41%)
2 stars
7 (16%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for Leonart Maruli.
285 reviews6 followers
October 17, 2020
Kenapa ya saya enggak bisa menikmati buku kumpulan puisi ini. Banyak diksi yang ndakik tidak seperti ketika saya membaca puisi Sapardi atau Jokpin bahkan Szymborska dan Bukowski. Saya lebih suka dengan puisi liris tanpa bunyi karena bagi saya puisi yang berima-rima agak mengganggu kognisi saya. Selain itu bagi saya, rima yang malah mengacaukan makna membuat puisi menjadi jelek.
Profile Image for Gloria Fransisca Katharina.
207 reviews6 followers
October 12, 2016
Nafas-nafas syair Ibu Kota dan senyawa pedesaan Sumatera, menuju Serang, Banten.
Syair seorang pengelana, ditulis untuk pengembara yang tidak akan selesai. Diksi-diksinya bikin mata terkesiap, dan merasa dilempar tempat asing. Good Job Esha Tegar Putra! Like it much!
Profile Image for Joshua Vincentius.
8 reviews
January 18, 2020
Cara bertutur mas Esha begitu mengalir. Diksi yang ia gunakan pas dan terasa enak untuk dinikmati. Salah satu buku puisi yang menjadi favorit saya. Sayangnya buku ini gagal di pasaran. Bahkan saya mendapat buku ini hanya dengan harga 10 ribu rupiah dalam promo diskon pameran buku.
Profile Image for Noep.
49 reviews28 followers
July 22, 2018
Mari, kita belajar tentang perjalanan dan persinggahan. Banyak sekali ceritera dan makna yang diam-diam menyelimuti; sesekali kita perlu melihat lebih dalam dan dalam lagi. Kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain; kita berada dalam satu ruang waktu ke ruang waktu yang lain. Kita bertemu seseorang, kita merefleksikan tempat berdiri, kita mengagumi keindahan dan kegetiran. Aku suka cara Uda Esha dalam berceritera refleksi-refleksinya menyoal sebuah perjalanan dan bagaimana menemuinya dalam kehidupan yang kompleks ini. Puisi-puisinya sangat santai dan tutur bahasanya sederhana dan begitu mengalir seperti cerita seorang Bapak kepada anaknya. Cukup detil dalam menggambarkan apa-apa yang dilihatnya, tetapi tetap tidak meninggalkan refleksi-refleksi abstraknya.

Puisi yang justru membuat saya merasa pedih sekaligus membekas malah berjudul "Cikini sebuah pagi". Saya suka saja digambarkan sebuah kondisi yang berbeda: dulu dan sekarang, serta perubahan-perubahan yang justru membikin kenangan.

Berikut puisinya:


CIKINI, SEBUAH PAGI

Stasiun ini seakan sebuah katup
membuka pada pagi
aku ngungun berdiri
kereta bersisihan silih berganti.

Tahun ini mungkin musim buruk
seorang anak bermuka kusut
kulihat melintas mengenakan kostum badut
seekor burung gereja terantuk kaca
tiang dengan jam terus dibiarkan tergantung mati
perempuan dengan gincu tebal dan tubuh mengendapkan
bau peluh semalam mengutuk-ngutuk seseorang lewat ponsel

dan kereta terus lewat,
terus datang dan terus pergi,
silih berganti.

Stasiun ini hanya sebagian tingkah kota
dimana orang-orang terus bertarung
dengan diri sendiri
untuk apa yang mereka sebut sebagai hari depan.
Orang-orang menjual bagian tubuhnya
untuk kemudian membeli sesuatu yang tidak ada.

Dan kereta berhenti lagi
suara rem berdecit panjang
tiang mengeluarkan bunyi sengatan listrik
sementara aku masih ngungun berdiri.

Aku jadi ingat tahun-tahun lalu tak seburuk ini
masih kudengar blues mengalun dari pelantam toko kaset
harum santan hangus dari dapur kedai nasi
dan terus kuingat seorang muda
dengan logat selatan bertanya,
“kereta ini akan menghantarkan kita kemana?”

Jakarta, 2015
Profile Image for Fidelis Eka Satriastanti.
116 reviews2 followers
July 14, 2017
It is prolly personal taste issue... But, I do have a bit of trouble on enjoying the poetry. Not because of the poet or the poetry itself, I suppose it's just 'not my cup of tea'.

In poetry, I rely much on the words and how it flows and how it just filled my brain. Poetry, in my subjectivity, gets to me more than any kinds of arts. This one, just not that much....

It's probably we just have different grammatical approaches. All in all, I find it still refreshing to check out aka read contemporary poetry and take a sneek peak on what people worry about these days...

Happy reading, good people!
Profile Image for Rizky Triputra.
Author 2 books4 followers
December 23, 2017
di buku ini saya melihat gaya penulisan puisi Uda Esha yang terus bereksplorasi, saya temukan pengucapan-pengucapan baru di buku ini. Sejarah, Kota, Kenangan, Cinta, berkelindan di dalamnya. Saya menyukai sajak Esha sejak saya kelas 2 SLTA. Menemukan sajaknya di majalah Horison. Dulu ia masih suka menulis tema cinta, hujan, dan orang yang dicintainya.
Profile Image for Novita Sari.
38 reviews
August 30, 2024
Bukan Sarinahnya Soekarno. Ini Sarinah yang ada di Thamrin Jakarta. Membaca Sarinah sama seperti membaca tentang benak kehidupan Esha di beberapa tempat yang pernah ia singgahi. Puisi tentang perjalanan dan tempat singgah. Bukan puisi yang puitis.
Profile Image for Yuli Hasmaliah.
71 reviews1 follower
March 8, 2017
Saya pikir Sarinah adalah suatu nama sosok gadis yang dulu pernah disampaikan oleh Presiden RI yang pertama, namun bagi Esha, Sarinah bukanlah gadis tersebut, melainkan plaza empat puluh tingkat beraksitektur paruh unggas yang berdiri tegas. Membaca Sarinah sama seperti membaca kisah kerinduan-kepedulian Esha terhadap kampung halamannya di Sumatera Barat sana. Membaca Sarinah sama seperti membaca apa yang dirasakan - apa yang ada dalam pikiran benak Esha tentang kota atau beberapa tempat yang pernah ia singgahi (Thamrin, Depok, Tangerang, Sarinah, Kasablangka, Jakarta, dll). Membaca Sarinah sama seperti membaca tentang kehidupan di mata Esha.
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
February 2, 2017
cikini, sebuah pagi

stasiun ini seakan sebuah katup membuka pada pagi
aku ngungun berdiri sementara kereta bersisihan
silih berganti

tahun ini mungkin musim buruk. seorang anak bermuka kusut
kulihat melintas mengenakan kostum badut, seekor
burung gereja
terantuk kaca, tiang dengan jam terus dibiarkan tergantung mati
perempuan dengan gincu tebal dan tubuh mengendapkan
bau peluh semalam mengutuk-ngutuk sesoerang
lewat ponsel
dan kereta terus lewat, terus datang dan terus pergi,
silih berganti

stasiun ini hanya sebagian tingkah kota dimana orang-orang
terus bertarung dengan diri sendiri untuk apa yang
mereka sebut
sebagai hari depan. orang-orang yang menjual bagian tubuhnya
untuk kemudian membeli sesuatu yang tidak ada. dan kereta
berhenti lagi, suara rem berdecit panjang, tiang
mengeluarkan
bunyi sengatan listrik, sementara aku masih ngungun berdiri

aku jadi ingat tahun-tahun lalu tak seburuk ini. masih
kudengar
blues mengalun dari toko kaset, harum santan hangus dari
dapur
kedai nasi, dan terus kuingat seorang muda dengan logat
selatan
bertanya, ''kereta ini menghantarkan kita kemana?''

saya tidak tau ngungun itu apa, tapi saya nangis baca puisi itu. saya suka pemilihan kata di puisi2 dalam buku ini. tidak terpaksa untuk menjadi rima tapi tetap bernada dengan sendirinya. cantik.

ada sekitar 4 puisi lainnya lagi yang saya suka tapi yang Cikini, sebuah pagi- ini berhasil bikin saya mewek banget. entah mengapa seperti membangkitkan suatu ingatan dan sebuah rasa yang aneh di perut.

cantik.
Profile Image for Wawan Kurn.
Author 25 books36 followers
September 16, 2016
Kali ini puisi Esha Tegar Putra merekam peristiwa di kota-kota yang pernah ia lalui. Menulis beberapa tempat yang mungkin begitu berkesan atau bermakna lebih bagi dirinya. Puisi Sarinah memberikan saya kesempatan untuk melihat kota dan kerumitannya di mata seorang Esha Tegar Putra.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
April 19, 2017
SARINAH

Pada pangkal ketiakmu aku temukan kota mengerut serupa kulit limau purut, Sarinah. Plaza empat puluh tingkat berarsitektur paruh unggas berdiri tegas. Pohon-pohon tumbuh hitam dengan daun tertabur serbuk garam. Kota dengan daratan tiap sebentar turun dikepung air naik ketika gerak gelombang ditarik bulan datang. Kota dengan dinding kedai kopi, kedai nasi, hingga kedai lemang memajang potret orang tua alim lagi bertuah buat menarik orang datang membeli barang. “Belikan kutang, uda. Sehelai kutang baru dengan ragi kain sematang daging mengkudu.”
Dan bengkak dadamu itu serupa tandan kelapa muda dibuai-buai angin limbubu. Puncak sebuah malam dengan tembakan laser gagal membikin bubar iringan awan menggumpal. Getar dadamu itu hasrat purba kuda jantan disiarkan gelombang radio ke arah dusun paling dusun. Aku temukan kota, Sarinah, dari pangkal ketiak hingga bengkak dadamu mengerut serupa seulas papan berulang terapung dan terbenam dipiuh deras arus muara. “Jangankan sehelai kutang, Sarinah. Di langit akan kuputus gantungan bulan, di laut akan kusauk gulungan gelombang, agar kutang seisi kedai itu kau bungkus kau bawa pulang!”
Leher panjangmu itu membuatku berdiri tegak meneropong kota dari ketinggian. Aku melihat kaum penggila emas penggila suasa memberi nama-nama asing untuk setiap gundukan tanah pasir terungguk, serta batu-batu terserak. Kaum dengan kegemaran memandangi air tergenang. Mereka berhimpun dimana ada air tergenang merencanakan siasat bercinta paling gila sambil mengudap goreng pisang raja. Segala padamu adalah takdir dari kota ini, Sarinah. Kota dengan sepasang patung bengkuang gadang terjepit kerampang ditegakkan di gerbang kedatangan dan gerbang kepergian. “Kulit dalam bajuku mengerut, uda, kutang baru dengan lingkaran logam pelancar aliran darah dan pengencang kulit dijual murah di kedai sebelah.”

2015
Displaying 1 - 15 of 15 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.