Kota ini dibangun dari seribu kematian disebabkan angin duduk, Thamrin. Orang-orang memangkas jalan untuk memintas waktu, tapi nasib tetap 24 jam tidak menentu, nasib tetap tersangga di antara getar tiang-tiang plaza tua menunggu runtuh. Orang-orang terus menua dalam bus, bercinta di atas kursi kereta dan berharap masa depan adalah jalur-jalur trem yang dibangun kembali setelah puluhan tahun lalu dirobohkan. Telah aku cintai pula kota ini, Thamrin. Seperti kucintai kota di pedalaman Sumatera, dengan segala kekurangan dan kelebihan, agar ketakutan demi ketakutan dan bala demi bala hanya datang dan bersarang dalam mimpi paling buruk.
Kenapa ya saya enggak bisa menikmati buku kumpulan puisi ini. Banyak diksi yang ndakik tidak seperti ketika saya membaca puisi Sapardi atau Jokpin bahkan Szymborska dan Bukowski. Saya lebih suka dengan puisi liris tanpa bunyi karena bagi saya puisi yang berima-rima agak mengganggu kognisi saya. Selain itu bagi saya, rima yang malah mengacaukan makna membuat puisi menjadi jelek.
Nafas-nafas syair Ibu Kota dan senyawa pedesaan Sumatera, menuju Serang, Banten. Syair seorang pengelana, ditulis untuk pengembara yang tidak akan selesai. Diksi-diksinya bikin mata terkesiap, dan merasa dilempar tempat asing. Good Job Esha Tegar Putra! Like it much!
Cara bertutur mas Esha begitu mengalir. Diksi yang ia gunakan pas dan terasa enak untuk dinikmati. Salah satu buku puisi yang menjadi favorit saya. Sayangnya buku ini gagal di pasaran. Bahkan saya mendapat buku ini hanya dengan harga 10 ribu rupiah dalam promo diskon pameran buku.
Mari, kita belajar tentang perjalanan dan persinggahan. Banyak sekali ceritera dan makna yang diam-diam menyelimuti; sesekali kita perlu melihat lebih dalam dan dalam lagi. Kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain; kita berada dalam satu ruang waktu ke ruang waktu yang lain. Kita bertemu seseorang, kita merefleksikan tempat berdiri, kita mengagumi keindahan dan kegetiran. Aku suka cara Uda Esha dalam berceritera refleksi-refleksinya menyoal sebuah perjalanan dan bagaimana menemuinya dalam kehidupan yang kompleks ini. Puisi-puisinya sangat santai dan tutur bahasanya sederhana dan begitu mengalir seperti cerita seorang Bapak kepada anaknya. Cukup detil dalam menggambarkan apa-apa yang dilihatnya, tetapi tetap tidak meninggalkan refleksi-refleksi abstraknya.
Puisi yang justru membuat saya merasa pedih sekaligus membekas malah berjudul "Cikini sebuah pagi". Saya suka saja digambarkan sebuah kondisi yang berbeda: dulu dan sekarang, serta perubahan-perubahan yang justru membikin kenangan.
Berikut puisinya:
CIKINI, SEBUAH PAGI
Stasiun ini seakan sebuah katup membuka pada pagi aku ngungun berdiri kereta bersisihan silih berganti.
Tahun ini mungkin musim buruk seorang anak bermuka kusut kulihat melintas mengenakan kostum badut seekor burung gereja terantuk kaca tiang dengan jam terus dibiarkan tergantung mati perempuan dengan gincu tebal dan tubuh mengendapkan bau peluh semalam mengutuk-ngutuk seseorang lewat ponsel
dan kereta terus lewat, terus datang dan terus pergi, silih berganti.
Stasiun ini hanya sebagian tingkah kota dimana orang-orang terus bertarung dengan diri sendiri untuk apa yang mereka sebut sebagai hari depan. Orang-orang menjual bagian tubuhnya untuk kemudian membeli sesuatu yang tidak ada.
Dan kereta berhenti lagi suara rem berdecit panjang tiang mengeluarkan bunyi sengatan listrik sementara aku masih ngungun berdiri.
Aku jadi ingat tahun-tahun lalu tak seburuk ini masih kudengar blues mengalun dari pelantam toko kaset harum santan hangus dari dapur kedai nasi dan terus kuingat seorang muda dengan logat selatan bertanya, “kereta ini akan menghantarkan kita kemana?”
It is prolly personal taste issue... But, I do have a bit of trouble on enjoying the poetry. Not because of the poet or the poetry itself, I suppose it's just 'not my cup of tea'.
In poetry, I rely much on the words and how it flows and how it just filled my brain. Poetry, in my subjectivity, gets to me more than any kinds of arts. This one, just not that much....
It's probably we just have different grammatical approaches. All in all, I find it still refreshing to check out aka read contemporary poetry and take a sneek peak on what people worry about these days...
di buku ini saya melihat gaya penulisan puisi Uda Esha yang terus bereksplorasi, saya temukan pengucapan-pengucapan baru di buku ini. Sejarah, Kota, Kenangan, Cinta, berkelindan di dalamnya. Saya menyukai sajak Esha sejak saya kelas 2 SLTA. Menemukan sajaknya di majalah Horison. Dulu ia masih suka menulis tema cinta, hujan, dan orang yang dicintainya.
Bukan Sarinahnya Soekarno. Ini Sarinah yang ada di Thamrin Jakarta. Membaca Sarinah sama seperti membaca tentang benak kehidupan Esha di beberapa tempat yang pernah ia singgahi. Puisi tentang perjalanan dan tempat singgah. Bukan puisi yang puitis.
Saya pikir Sarinah adalah suatu nama sosok gadis yang dulu pernah disampaikan oleh Presiden RI yang pertama, namun bagi Esha, Sarinah bukanlah gadis tersebut, melainkan plaza empat puluh tingkat beraksitektur paruh unggas yang berdiri tegas. Membaca Sarinah sama seperti membaca kisah kerinduan-kepedulian Esha terhadap kampung halamannya di Sumatera Barat sana. Membaca Sarinah sama seperti membaca apa yang dirasakan - apa yang ada dalam pikiran benak Esha tentang kota atau beberapa tempat yang pernah ia singgahi (Thamrin, Depok, Tangerang, Sarinah, Kasablangka, Jakarta, dll). Membaca Sarinah sama seperti membaca tentang kehidupan di mata Esha.
stasiun ini seakan sebuah katup membuka pada pagi aku ngungun berdiri sementara kereta bersisihan silih berganti
tahun ini mungkin musim buruk. seorang anak bermuka kusut kulihat melintas mengenakan kostum badut, seekor burung gereja terantuk kaca, tiang dengan jam terus dibiarkan tergantung mati perempuan dengan gincu tebal dan tubuh mengendapkan bau peluh semalam mengutuk-ngutuk sesoerang lewat ponsel dan kereta terus lewat, terus datang dan terus pergi, silih berganti
stasiun ini hanya sebagian tingkah kota dimana orang-orang terus bertarung dengan diri sendiri untuk apa yang mereka sebut sebagai hari depan. orang-orang yang menjual bagian tubuhnya untuk kemudian membeli sesuatu yang tidak ada. dan kereta berhenti lagi, suara rem berdecit panjang, tiang mengeluarkan bunyi sengatan listrik, sementara aku masih ngungun berdiri
aku jadi ingat tahun-tahun lalu tak seburuk ini. masih kudengar blues mengalun dari toko kaset, harum santan hangus dari dapur kedai nasi, dan terus kuingat seorang muda dengan logat selatan bertanya, ''kereta ini menghantarkan kita kemana?''
saya tidak tau ngungun itu apa, tapi saya nangis baca puisi itu. saya suka pemilihan kata di puisi2 dalam buku ini. tidak terpaksa untuk menjadi rima tapi tetap bernada dengan sendirinya. cantik.
ada sekitar 4 puisi lainnya lagi yang saya suka tapi yang Cikini, sebuah pagi- ini berhasil bikin saya mewek banget. entah mengapa seperti membangkitkan suatu ingatan dan sebuah rasa yang aneh di perut.
Kali ini puisi Esha Tegar Putra merekam peristiwa di kota-kota yang pernah ia lalui. Menulis beberapa tempat yang mungkin begitu berkesan atau bermakna lebih bagi dirinya. Puisi Sarinah memberikan saya kesempatan untuk melihat kota dan kerumitannya di mata seorang Esha Tegar Putra.
Pada pangkal ketiakmu aku temukan kota mengerut serupa kulit limau purut, Sarinah. Plaza empat puluh tingkat berarsitektur paruh unggas berdiri tegas. Pohon-pohon tumbuh hitam dengan daun tertabur serbuk garam. Kota dengan daratan tiap sebentar turun dikepung air naik ketika gerak gelombang ditarik bulan datang. Kota dengan dinding kedai kopi, kedai nasi, hingga kedai lemang memajang potret orang tua alim lagi bertuah buat menarik orang datang membeli barang. “Belikan kutang, uda. Sehelai kutang baru dengan ragi kain sematang daging mengkudu.” Dan bengkak dadamu itu serupa tandan kelapa muda dibuai-buai angin limbubu. Puncak sebuah malam dengan tembakan laser gagal membikin bubar iringan awan menggumpal. Getar dadamu itu hasrat purba kuda jantan disiarkan gelombang radio ke arah dusun paling dusun. Aku temukan kota, Sarinah, dari pangkal ketiak hingga bengkak dadamu mengerut serupa seulas papan berulang terapung dan terbenam dipiuh deras arus muara. “Jangankan sehelai kutang, Sarinah. Di langit akan kuputus gantungan bulan, di laut akan kusauk gulungan gelombang, agar kutang seisi kedai itu kau bungkus kau bawa pulang!” Leher panjangmu itu membuatku berdiri tegak meneropong kota dari ketinggian. Aku melihat kaum penggila emas penggila suasa memberi nama-nama asing untuk setiap gundukan tanah pasir terungguk, serta batu-batu terserak. Kaum dengan kegemaran memandangi air tergenang. Mereka berhimpun dimana ada air tergenang merencanakan siasat bercinta paling gila sambil mengudap goreng pisang raja. Segala padamu adalah takdir dari kota ini, Sarinah. Kota dengan sepasang patung bengkuang gadang terjepit kerampang ditegakkan di gerbang kedatangan dan gerbang kepergian. “Kulit dalam bajuku mengerut, uda, kutang baru dengan lingkaran logam pelancar aliran darah dan pengencang kulit dijual murah di kedai sebelah.”