Translation is a form of betrayal, it has often been said, perhaps a particular form of Steiner’s idea of “aggression,” in that it is a traduction, a reconstitution made of sacrifice and revision. There are translators who would rather be original than right, and those who struggle endlessly with meaning, with pondering grand concepts behind each allusion. Others simply come up with the sum of dictionary definitions, the work of the mere “reworder.” And there are readers who pick up errors as if they had caught a criminal. Yet we also know that neither are poems approached in innocence, nor with the absence of lubricating afterthought.
This publication is a modest attempt to put together translations of Goenawan Mohamad’s poems, created by the author over the last four decades.
Fifty poems have made it onto these pages. There is no governing basis to the selection other than that the translations “exist,” and judged to have done the original justice. An effort has also been made to cover the breadth of Goenawan’s themes and expressiveness.
This selection, I believe, benefits from a range of insights: four Indonesian native speakers, one Malaysian, and three Americans. Not only have they followed intimately the trajectory of Goenawan’s writing, but, more importantly, they possess a firm grasp of the “sense and spirit” of the poet.
Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom “Catatan Pinggir” di Majalah Tempo.
Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.
Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).
Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. “Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang,” tutur Goenawan.
Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.
Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.
Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.
Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.
Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.
Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).
Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.
honestly i focused more on the indonesian poems (so that five-star rating is more on the actual poems than the translation) but wow goddamn it was amazing. i'm... so glad i finally got to pick it up and read it. his constant imagery with ruang dan waktu (space and time) gets me!!!! so much!!! and the stars, also. A+
but of course, regarding the translation: some of it doesn't really do it justice, but amalia (ed.: marji suandra)'s translations tho!!!! espc for 'gandari'!!!!! it was so good i'm gonna cry!!! lend me your translating skills
favorites include: di beranda ini angin tak kedengaran lagi, afterword, potret taman untuk allen ginsberg*, waktu adalah mesin hitung, lanskap, perempuan yang dirajam menjelang malam, zagreb, di pasar loak, perempuan itu menggerus garam, sirkus, bintang pagi, di sebuah juni, oedipus, nuh, pernah, firman ke-12, taman, februari, di elsinore, gandari, di mercu suar, & tentang maut.
* !!! THIS POEM WAS DRIPPING IN SARCASTIC VENOM FOR RACIST WHITE PPL IM SO MAD THAT THE TRANSLATION DOESN'T DO IT JUSTICE