Sebagai jurnalis yang sering bepergian dan pelancong seumur hidup, Desi Anwar sudah mengunjungi banyak tempat di seluruh dunia, bertemu dan mewawancarai tokoh-tokoh internasional serta sosok-sosok penting selama tahun-tahunnya sebagai pembawa acara bincang-bincang dan pembaca berita televisi papan atas Indonesia.
Di Faces & Places Desi mengompilasi sejumlah catatan perjalanannya selama beberapa tahun terakhir, yang awalnya diterbitkan di kolom mingguan dalam harian berbahasa Inggris The Jakarta Globe.
Artikel-artikel itu berisi kesan dan kekaguman pribadi, serta sketsa verbal yang ditangkap saat Desi berusaha memahami dan terhubung dengan lingkungan barunya, entah itu Lingkaran Artik yang dingin bersalju, Turki yang memukau, jalanan kota Paris yang romantis, atau pantai-pantai Belitung yang memesona.
Tulisan-tulisan itu juga mere¬ eksikan pribadi-pribadi yang ditemuinya. Sosok seperti Yang Mulia Dalai Lama, pengusaha terkaya di dunia Bill Gates, pemerhati lingkungan yang mencintai orangutan, politisi, kepala negara, dan banyak lagi.
Sejumlah wawancara dan catatan perjalanan di buku ini juga bisa dilihat di acaranya, Face 2 Face with Desi Anwar, yang bisa ditemukan di YouTube.
Ini benar-benar catatan perjalanan. Di beberapa bagian Desi Anwar menawarkan insight learning yang ia dapatkan saat berjumpa dengan tokoh atau mengunjungi suatu tempat. Tetapi kebanyakan Desi Anwar menuliskan perjalanan semata. Tapi saya selalu sepakat dengan Ibnu Khaldun bahwa dalam sebuah perjalanan terapat pelajaran paling berharga bagi kehidupan.....
Dan saya menemukan fakta menarik, bahwa Desi Anwar kecil ialah seorang yang mudah mabok perjalanan.
Siapa yang tidak kenal dengan Desi Anwar? Kehadirannya di televisi tidak pernah berubah. Dengan rambut pedeknya itu, Desi Anwar menjadi salah satu jurnalis yang kini menjadi legenda.
Menjadi jurnalis dengan beragam pengalaman pasti memiliki keuntungan tersendiri. Terlepas dari bagaimana mereka mengatur waktu antara bekerja dengan menikmati hidup secara penuh. Desi Anwar mengabadikan hal tersebut ke dalam bentuk artikel yang kerap dipublikasikan pada koran Jakarta Globe. Maka, jangan heran apabila buku ini disajikan dalam bahasa Inggris. Bukan karena Desi Anwar ingin menyombongkan kemampuan berbahasa Inggrisnya yang tanpa celah tersebut.
Ekspetasi saya akan buku ini adalah Desi Anwar yang banyak berbagi detail cerita dari setiap tokoh yg pernah ditemuinya dan pengalaman yg dapat mengirimkan pesan/makna mendalam untuk setiap pembacanya.
Tapi yg saya dapatkan setelah membaca habis buku tebal ini hanyalah detail apa yg dilihat seorang Desi Anwar ketika berada pada suatu lokasi (perjalanannya) dan perasaannya dan pikirannya saat itu ketika bertemu tokoh tsb. Tulisan pada setiap chapter yg sangat sedikit membuat cerita terkesan menggantung.
Ekspektasi saya terlalu tinggi pada buku ini dan penulisnya. Setelah saya cermati, sepertinya karena editingnya yang kurang baik (maap ya, Mbak/Mas Editor). Di satu tulisan ada kalimat "karena keterbatasan halaman". Jadi, kemungkinan tulisan-tulisan penulis yang pernah dimuat di media, dikumpulkan, lalu diterbitkan, tanpa diolah atau disunting lebih teliti.
Sayang sekali sih. Padahal, beberapa cerita cukup menarik. Apalagi penulis adalah jurnalis yang cukup legend di Indonesia, dengan pengalaman menjejak begitu banyak negara.
As a Gen Z, I'm so sorry that I didn't know Desi Anwar. Her name is familiar, but I didn't know her until I found some of her books be a recommendation in a book platform. After I recognized more about her, I realized that I've already seen her on TV. She is one of Indonesia's top TV anchors and talk show host in 90's era. How can I didn't know her?.
In this book, Desi has compiled some of her travel writings. It consist of personal impressions, musings and verbal captured of places and individuals that she met. Some of the interviews and travels, featured in this book could also be watched on her show, Face 2 Face with Desi Anwar, available on YouTube. This talk show is much better rather than other TV programs nowadays. Again. I found out lately.
This book gives me a good experience while reading each page. The faces and places with a lot inspirations. From this book, I got to know some of the amazing people, with such a warm-hearted like Dalai Lama and Chanee-The gibbon guy. I know another figure that Gen Z barely knows these days like Joop Ave (The Indonesian Minister of Tourism, Post and Telecommunications between 1993 and 1998) and Moerdiono (The former Minister of State Secretariat under President Soeharto). I know some places that really beautiful like Machu Pichu and The Wadi Rum. I love the story about a whale of time with Sidney, meeting Santa Claus and many more. I love this kind of book. I feel like I traveled around the world, even in reality, I just sit at home. Maybe, if I know her earlier, I wanna become a journalist like her.
Aku suka sekali dengan buku ini karena apa yang ditulis di dalamnya bukan sekedar deskripsi tempat-tempat yang pernah Desi Anwar kunjungi serta tokoh-tokoh yang pernah ditemuinya, melainkan juga kisah menarik dibalik kunjungan dan pertemuannya tersebut. Salah satu yang paling kusuka adalah kisah seorang penjaga perbatasan di Merauke yang begitu berdedikasi menjalankan tugasnya.
Di sana-sini banyak perenungan singkat yang dituangkan oleh jurnalis senior ini. Tulisan-tulisannya mampu membawaku turut serta dalam perjalanan yang dilakukannya. Sebagian besar hasil wawancara dan catatan perjalanan yang terdapat dalam buku ini juga dapat kita tonton dalam acara Face To Face with Desi Anwar di YouTube. Sebagian lainnya juga pernah dimuat dalam kolom migguan di The Jakarta Globe.
Tidak hanya itu, tulisan-tulisan Desi Anwar dalam buku ini juga jadi terasa lebih hidup dan semarak dengan adanya beberapa ilustrasi sederhana dan foto yang menghiasi halaman-halamannya. Sebuah buku yang sangat pas untuk menemani waktu santai dan perjalananmu.
Halaman 306 "Andai ada satu kata sifat yang tak pantas untuk Jakarta, itu adalah "indah"". Dalam arti yang nyata". Salah satu dari kalimat-kalimat dengan nada yang sejenis saya temukan. Menceritakan tentang banyak keindahan negara lain tapi kemudian membanting dengan perbandingan yang berlawanan di negeri sendiri. Seringnya muncul menjadi tidak nyaman untuk dibaca. Pernah membaca buku yang serupa tulisan dari seorang jurnalis juga, menjadi enak untuk dibaca karena memang memfokuskan pada apa yang dibahas serta tidak melebar pada topik lain yang berkaitan dan opini pribadi mengenai topik tersebut.
Terkait dengan halaman 306, hanya opini pribadi, saya merasa Jakarta masih memiliki sisi "indah". Jakarta...Batavia, memiliki sejarah yang unik. Jakarta bukan tempat yang hanya berisi keburukan.
The first time I read this book was in 2016, and I barely understood it because of my limited English vocabulary. I think this was because the writing was part of a newspaper column, so the vocabulary used was uncommon and at a high level (or what I usually call C2 vocabulary – C2 is the highest level of English proficiency, you can Google it for more explanation). I had to look up words in the dictionary as I read.
Now, with a better English, I can understand that Desi Anwar describes everything beautifully, even though it's not very detailed. Yes, each story is only 3 or 4 pages long, which for me isn’t enough and lacks detail, but it’s still good. Even though it's short story, there’s something profound in how these small snapshots of life reveal the richness of human connections and the shared experiences that come with exploring new places.
Kita, pada hakikatnya akan terinspirasi oleh individu yang sukses serta tempat yang menarik.
Disini Desi Anwar memaparkan keduanya, menceritakan tentang orang-orang dengan proses sukses mereka (walaupun akhirnya saya mononton youtube untuk lebih rinci menyaksikan wawancara dengan tokoh-tokoh hebat itu). Dan menceritakan sudut-sudut dunia yang dikunjungi, yang menjadi list; harus dikunjungi sebelum mati (saya semakin semangat untuk berhemat, agar juga bisa mengunjungi tempat-tempat yang menjadi target saya).
Buku Faces and Places menjadi pembuka 2018 saya, semoga tahun ini (setelah terinspirasi oleh buku faces and places) saya bisa semakin banyak membaca buku, bertemu tokoh-tokoh hebat dan berkunjung ke titik-titik indah yang belum saya tapaki).
Yeay! Lumayan tebal juga ternyata ya. Buku yg berisi kisah perjalanan Desi Anwar di berbagai tempat dan beragam tokoh ia temui sebagai jurnalis. Hampir keliling dunia ini kayaknyaaa.
Dari 89 tulisan, ada bbrp yg aku suka. Salah satunya: Mencari Keindahan Lombok. Selain menceritakan ttg Lombok itu sendiri, mbak Desi jg mengaitkan dan mewahnya keindahan alam saat ini. Apalagi bagi masyarakat perkotaan.
Mbak Desi jg menyelipkan opininya ttg kehidupan sosial dibuku ini. Agak mirip sih dgn buku "Hidup Sederhana". Mengajak kita jalan, lalu berpikir. Nggak cuma yg jalan dan pergi begitu saja.
jurnalis adalah salah satu profesi yang aku kagumi, tertarik dengan buku ini karena penulisnya mbak Desi Anwar, bukunya cukup tebal dan kebanyakan menggambarkan kondisi tempat yang beliau kunjungi. sesuai dengan judulnya, buku ini mengajak pembacanya keliling dunia, berdialog dengan tokoh dunia dan menggambarkan berbagai macam perbedaan ekonomi, sosial dan budaya di setiap negara jadi alasan kenapa buku ini worth to read karena pembaca cukup berimajinasi dengan isi kepalanya masing-masing. bagian terbaik versi aku "Karen Amstrong dan Tuhan, Rumah di Desa dan Wajah Sans Fransisco"
Gonna list it as one of my favorite.. Butuh waktu berbulan2 untuk menyelesaikan buku ini. Bukan, bukan karena buku ini membosankan, tapi karena buku ini memang bisa dibaca secara terpisah pisah, dan bagi saya lebih menyenangkan untuk menyelesaikan buku ini secara perlahan. Setiap bab menceritakan tentang suatu tempat dan atau personal, dimana diceritakan secara singkat padat namun tetap bisa membuat pikiran pembaca membayangkan dan mendeskripsikan apa yang tertulis disana. Seperti diajak berjalan-jalan dan bercakap-cakap secara langsung dengan faces and places yang diceritakan di buku ini.
Faces and places adalah buku catatan kesan jurnalis favorit gue tentang orang dan tempat tertentu di dunia. Kesimpulannya, jadi bikin pingin keliling dunia! Dan bahwa menjadi jurnalis bukan pekerjaan mudah. Di balik semua cerita dan refleksi serunya, ga kebayang skala kerja keras dan cintanya pada pekerjaan dan hidup.
Mixed feelings about this one. Some of the stories were so good but there weren't much elaboration so I was a bit disappointed. The rest just wasn't my cup of tea.
My third book from Desi Anwar, not my favourite but still good. I read the english version. So many unpopular words, but that was good, adding so much new vocabularies in my mind. ;)
this is one of a recommended book if u wanna travelling one day. but its not giving so much details. its just mostly like a "diary" of desi anwar rather than a "review".
Kisah-kisah singkat dan penuturannya renyah. Di beberapa bagian serasa terlalu singkat dan malah membuat saya penasaran terhadap tokoh/tempat yang dibahas. Saya terutama suka ilustrasi yang diselipkan di beberapa cerita. Foto-foto di bagian belakang buku, bukannya di cerita yang bersangkutan, so.. yeah.. it's not that kind of travelling book.
Mungkin tahun depan saya akan lupa tentang cerita dalam buku ini. Tapi berhubung singkat dan renyah, tidak akan membosankan untuk dibaca ulang.
Hal pertama yang menarik saya untuk membaca buku ini adalah karena penulis buku ini Desi Anwar, seorang senior jurnalis yang sering saya lihat wara wiri di layar kaca pertelevisian, pastilah menarik tulisannya untuk dibaca.
Buku karangan Desi Anwar pertama yang saya baca ini cukup menarik dan inspiratif karena Ia berbagi cerita mengenai perjalanannya ke berbagai negara, pengalamannya bertemu dengan berbagai tokoh dunia, dan pelajaran yang Ia dapatkan selama perjalanannya yang Ia bagi kepada pembaca buku ini. Selama membaca, kita juga bisa mengetahui sudut pandang seorang Desi Anwar atas suatu masalah yang membuat kita sadar akan hal2 sepele yang sering kita lupakan sekarang.
Buku ini cukup ringan dan mudah dimengerti dan dipahami untuk pembaca awam seperti saya, namun selama membaca ada kata2 yang tidak saya mengerti dan jarang saya temui. Dan lagi karena berisi berbagai bab, terkadang akhir dari ceritanya agak kurang jelas dan detail.
Jadi menurut saya membaca buku ini seperti satu paket lengkap, kita seperti membaca buku travelling, namun ada pengalaman serta pelajaran yang bisa di bagi ke pembaca yang pastinya tidak kita temukan di buku lain .
Judul : Faces & Places Penulis : Desi Anwar Penerbit : Gramedia Cetakan : Agustus 2016 Tebal : ix + 382 hlm ISBN : 978-602-03-2489-0
Buku ini memuat 35 tokoh dan 50 tempat yang menginspirasi. Salah satunya dari Karen Amstrong tentang Tuhan. Menurut Amstrong, sikap welas asih lebih penting dalam menjalani hidup, apa pun agama seseorang, termasuk kalau dia tidak beragama. Dasar segala agama adalah cinta kasih, walau sering terkubur di bawah dogma serta rasa saling takut dan curiga antaragama (hal 63). Pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama menegaskan, orang tak perlu beragama untuk bisa mempraktikkan welas asih. Setiap manusia seharusnya hidup dengan mengikuti kaidah emas Konghucu, “Jangan melakukan kepada orang lain apa yang engkau tidak ingin orang lain lakukan untukmu.”
Saya adalah salah seorang yang mengagumi Desi Anwar. Cara menulisnya sangat sederhana. Pemilihan kata pun juga. Menariknya ia tidak menghilangkan maknanya. Tidak perlu kata yang sulit dimengerti untuk menggambarkan sesuatu dan saya selalu tersentuh.
Mbak Desi pun sering mengajak kita untuk peka dengan hal-hal yang sederhana. Dia mengajarkan kita untuk peka dengan hal sekitar. Saya sangat mengaguminya. Saya menjadi lebih menghargai hal-hal kecil pada diri saya. Karena sebenernya 'hal sepele kita kira, mempunyai nilai tak terduga'. Mungkin kita hanya butuh waktu untuk melihatnya. Hal ini yang saya dapat dari buku-buku Desi Anwar. Salah satunya 'Faces and Places' ini.
Pada buku faces & places ini mengajak kita menjejalah banyak tempat, mengenalkan kita ke banyak tokoh. Meskipun kita tahu ini catatan yang sangat subjektif. Tapi, kita belajar perspektif orang lain. Tidak masalah bukan?
Buku ini berisi mengenai perjalanan desi anwar melancong di berbagai belahan dunia, sekaligus pertemuan desi anwar dengan tokoh-tokoh dunia maupun lokal yang berkesan bagi desi anwar.
Saat mulai membaca buku ini sya tersentak tidak hanya di ajak berkeliling menyusuri keindahan alam di bagian bumi lain, tapi sekaligus di perkenalkan dengan tokoh-tokoh lokal dan dunia yang mungkin sebagian besar belum saya ketahui.
Tapi, ya sangat disayangkan catatan ini membuat saya penasaran mengenai kelanjutan tokoh yang desi anwar ceritakan karena kurang detail dan deskriktif ( namanya aja catatan ) hahaa overall saya suka dengan buku ini :)
Btw Ini buku pertama desi anwar yang saya baca, dan tidak sabar membaca buku yang lain-nya.
seperti halnya buku Hidup Sederhana, saya kembali dibuai dengan kemampuan bercerita mbak Desi Anwar. oshiku memang hhe :3
setelah membaca ini saya langsung buka2 pinterest dan menandai lokasi-lokasi yg mbak Desi ceritakan. langsung cari di tab location instagram juga dan bikin mupeng pengen kesana juga buat foto2 hhe :'(
dan seperti halnya buku Hidup Sederhana, buku berjenis seperti ini adalah jenis buku yang ingin saya tulis di masa depan nanti.
Cerita dan tulisan-tulisan Desi Anwar dalam buku ini adalah sebuah pelajaran untuk semua hal bagi saya. Selain teknik penulisan, diksi, dan gayanya, saya mempelajari makna-makna kehidupan dari setiap cerita.