Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2020 dan Baca Keliling dunia
4 dari 5 bintang!
Setelah kita sebelumnya mampir ke provinsi Takéo di Kamboja Selatan yang merupakan kota kelahiran Chanrithy Him sekarang kita lanjut ke kota Bati yang merupakan kota kelahiran Haing Ngor penulis buku ini. Bisa dibilang sebenarnya aku malas2an untuk lanjut membaca buku kamboja yang kedua ini karena temanya sama dengan buku pertama yang aku baca yaitu pembunuhan massal rezim Khmer Merah tahun 1975-1977 di Kamboja. Tapi sangat disayangkan kalau dikamboja aku hanya mampir ke satu kota saja jadi aku nambah satu kota lagi. Sebenarnya ada 1 buku lagi untuk kamboja tapi lagi2 temanya sama aku kayaknya mau sekip langsung lanjut cus ke India saja
Aku tidak menyangka kalau aku lebih menikmati membaca buku ini ketimbang buku kamboja sebelumnya. Terjemahannya bagus dan rapi selain itu perasaan dan kata2 yang ingin disampaikan oleh Haing Ngor juga tersampaikan dengan apik. Mungkin karena buku ini dari perspektif orang dewasa makanya lebih menarik dibandingkan buku kamboja sebelumnya yang mengambil sudut pandang dari anak2. Dibuku ini dikisahkan Haing Ngor dan istrinya berpindah2 tempat untuk melakukan kerja paksa baru entah itu menanam padi, membajak sawah dan konsisten diceritakan bahwa pada saat itu banyak orang2 di kamp pada kelaparan dan terserang penyakit disentri karena sanitasi yang tidak layak. Sedangkan Haing Ngor yang berprofesi sebagai dokter tidak bisa membantu apa2 dikarenakan ketersediaan obat yang langka saat itu
Di buku ini tidak kalah banyaknya terdapat adegan gore dan kejam yang dilakukan oleh tentara Khmer Merah mulai orang digantung di papan salib dengan api yang dinyalakan dibawahnya, anggota tubuh yang dipotong atau perlakuan kepada wanita hamil yang membuat saya bergidik ngeri membaca dan membayangkannya. Dan untungnya dibuku ini sebelum masuk ke adegan2 mengerikan udah ada warning alertnya kalau ada pembaca yang tidak kuat hatinya silakan lanjut ke chapter selanjutnya saja.
Aku jadi tak sabar untuk lanjut membaca buku neraka kamboja #3 yang mungkin bulan depan akan aku kelarkan karena aku penasaran dengan nasib Haing Ngor dan istrinya apakah berhasil selamat di jaman rezim Khmer Merah ini?
Buku ini gue kasih bintang lima, karena emang buku ini sangat berkesan buat gue, hingga sekarang.
Terdiri dari 3 seri, buku yang punya nilai sejarah ini, bisa ngebuat gue nggak lepas dari buku ini waktu dulu. Sama ceritanya dengan Senopati Pamungkas karangan Arswendo.
Salah satu scene yang gue inget adalah terjadinya pemerkosaan terhadap wanita-wanita yang ditahan; kemudian ada juga satu scene dimana salah seorang wanita yang mengandung, janinnya diambil dan kemudian digantung. Scary memang; jangankan buat seorang cewek yang masih duduk di bangku SMP, sekarang pun gue agak serem kalo' harus ngebayang'in scene itu lagi.
Gue tiba-tiba inget buku ini, sehubungan dengan berita di The Jakarta Post hari ini, bahwa salah satu survivor dari Neraka Kamboja has passed away; Dith Pran namanya.
Dia berhasil melarikan diri ke Thailand dan kemudian diterbangkan ke Amerika. Dia hidup disana beberapa lama, kemudian dia bernegosiasi dengan UN, untuk mengadili para oknum-oknum yang terlibat di perang tersebut.
Bagi seorang manusia yang hidup di jaman yang (relatif) merdeka, buku ini ngebuat gue jadi lebih semangat untuk menjalani hidup. Apapun masalah yang kita hadapi sekarang, we're now in a far away better stage of life than those refugees for sure.