Seperti kata pepatah, ada yang pergi ada pula yang datang. Nah, kalau cinta pergi, yang datang apa? Tentu saja patah hati! Ada saja penyebab patah hati gue—dari masalah kecocokan, pekerjaan, agama, atau suku.
Dan rasanya semakin susah saja buat gue untuk tertarik dengan seorang cewek. Banyak yang hanya berakhir di sebuah coffee date, tanpa pernah ada kisah selanjutnya. Terkadang alasannya dari pihak cewek, tapi sering kali, gue adalah penyebab utamanya.
Intinya, cinta tak berpihak pada gue. Kisah cinta Romeo sungguhan dengan Juliet saja nggak happy ending, apalagi gue yang cuma menjadi seorang Romeo Gadungan! ------------------------------- Tirta Prayudha berbagi cerita tentang patah hati-patah hati terbaik yang dialaminya—cinta karena beda agama, tarik ulur seperti layang-layang, di-PHP-in gebetan, sampai cinta monyet zaman SD.
Personal literature yang dikemas secara komedi ini memberikan warna baru dalam penulisan buku komedi romantis.
Medsos penulis bisa ditemukan di Twitter/FB/ask.fm @romeogadungan
Penulis setengah matang. Mulai menulis secara acak sejak 2006 dan serius menekuni dunia blogging sejak 2010.
Sudah menerbitkan satu novel kolaborasi berjudul Traveloveing 2 pada tahun 2013. Buku solo nya (bukan, bukan buku tentang wisata kota Solo) antara lain: 1. Newbie Gadungan (2015) 2. Romeo Gadungan (2016)
Life is a story, make yours a best seller. Kisah di buku ini semacam bukti dari kalimat itu. Tirta berhasil membuat decisions dari setiap kisahnya jadi jalan dan endingnya selalu bikin amaze. Tirta benar, kisah-kisahnya terasa familiar. Kita semua pernah jatuh cinta dan patah hati. Tapi ga semua bisa membungkus jatuh cinta dan patah hatinya semenarik ini untuk diingat. Secara bahasa, ini ringan banget. Bisa dibawa nemenin macetnya Jakarta di hari weekend hehehe Good job, Tirta! I like it
Sejujurnya, aku masih bingung kenapa sampai membeli buku ini. Khilaf, mungkin. Tapi kok ya sampai sebegitunya, membeli buku yang aku tak kenal siapa penulisnya, tak mengikuti dia di platform apapun, dan review-nya di Goodreads juga tidak glowing. Membaca buku ini dengan ekspektasi rendah, dan hasilnya adalah kecewa. Iya, masih kecewa, karena isinya "Gitu doang?". Aku tidak tahu seberapa religius seorang Tirta Prayudha, tapi jika membaca bagaimana dia menekankan pentingnya menjalin hubungan dengan yang satu agama dan satu suku, di dalam benakku kubayangkan dia adalah seorang konservatif puritan.
Disclaimer: 1. Gua nggak pernah tertarik buat seriusin buku-buku dari Genre Pelit (Personal Literature) apalagi yang bahasannya cinta-cintaan, siapa situ sampe penting buat tahu soal kehidupan percintaan situ.
2. Gua nggak pernah tertarik buat beli buku penulis "karbitan" dari situs ask.fm. Harga buku makin mahal dan gua nggak mau uang gua habis cuma buat beli buku yang isinya joke-joke slapstick, jomblo dan kisah hidup yang didramatisir berlebihan. Mending gua mantengin Instagram Ridwan Kamil kalo cuma buat baca begituan.
But, For this one, I made an exception, seperti halnya album musik, pasti dirilis dong single-single buat test ombak, buat bikin penasaran orang, biar akhirnya beli bukunya. Kalo loe suka Single-nya loe bakalan beli albumnya, kalo nggak ya udah loe lewatin dan cari album laen. Gampang, nggak pake ribet.
Jadi, itu juga awalnya yang bikin gua mutusin buat beli buku ini, setelah membaca "Kilometer 0, Sepatu Kiri", dan banyak tulisan-tulisan Bang Tirta (risih gua nulis Tirta doang) di blog-nya gua jadi oke buat beli bukunya, again buku sekarang mahal bro, kudu selektif.
Seperti halnya LP yang isinya beberapa lagu bagus dan banyak lagu filler, gua ngerasa Bang Tirta lebih fokus ke chapter Layang-Layang dan Sepatu Kiri, chapter-chapter lainnya hanya berasa seperti untuk nebel-nebelin bukunya doang, No?
But, kudos for those 2 chapters, I can really relate to them, like in a personal way. trying to hold on onto something that you know it would broke your heart into pieces. Been there. Trying to get that closure to make your heart at peace, done that.
Man, we don't really do that curhat things like Women do. We just "Baru putus" or "Ditolak" and laughing, meski hati ini udah semacam menjerit-jerit minta belaian dan pelukan, but I guess it would be super awkward to get pelukan dan belaian from your bro..
Membaca buku ini seperti membaca curahan hati yang tak bisa keluar karena terhalang tembok "maskulinitas" yang entah siapa yang bangun. And, I thank You for that. I really do.
And I like the writing skill better than in Newbie Gadungan. It's better.
TL:DR this book is a good one, membaca buku ini terasa familiar, seperti melihat kisah sendiri yang dimainkan oleh orang lain. Except for the Illustration, Sorry to say but it feels a little bit off 🙈🙈
Satu hal yang selalu aku suka dari tulisan Kak Tirta, yaitu caranya menyampaikan cerita dan isi ceritanya yang selalu disisipi moral value. Oke, itu dua hal. Tapi aku kehilangan hal lain. Ternyata Kak Tirta nggak lucu di buku ini.
Bukan berarti Romeo Gadungan ditulis dengan garing, tapi memang sepertinya Kak Tirta nggak berusaha melucu di sini. Kalau dalam persentase, mungkin kadar lucunya cuma 10%. Jadi buku ini memang bukan memoar komedi. Mungkin karena cuma sedikit yang bisa ditertawakan dari kisah patah hati, ya?
Jadi, Romeo Gadungan berisi kumpulan cerita pengalaman patah hati dari penulis. Aku paling suka bagian cerita tentang Sepatu Kiri [kalau nggak salah, pernah baca spin off-nya di Trave(love)ing 2]. Entah kenapa di bagian ini serasa baca adegan di novel fiksi roman, tapi yang ini versi nyata. Kalau dipikir-pikir, Kak Tirta potensial banget kalau nanti bikin novel kayak Gege Mengejar Cinta-nya Adhitya Mulya.
Terlepas dari isinya, menurutku buku ini masih banyak cacat teknis. Masih ada beberapa typo, layout-nya kurang nyaman di mata, lalu ilustrasinya yang masih terlalu kasar. Padahal ilustrasi di buku Newbie Gadungan dulu bagus. Terus, sampul bukunya juga kurang nyambung; terlalu kekanakan untuk buku yang isinya cenderung dewasa.
Masih ditunggu tulisan selanjutnya Kak Tirta. Novel komedi, how?
Jika saja saya tidak pernah membaca tulisan di personal blog-nya, ataupun tidak pernah tahu akun ask.fm-nya Tirta, saya tidak akan tertarik membaca buku ini, karena jujur saja, cover untuk buku ini tidak menarik perhatian saya. Untuk tulisan sebagus ini, saya rasa cover-nya kurang merepresentasikan isi bukunya :) Sejujurnya saya kurang suka buku yang bertema romantis, jika ada buku romantis yang saya pernah baca, banyak didominasi oleh buku-buku bertema sastra yang dalam penulisannya pun cukup membuat otak saya berpikir keras dalam mencerna setiap kalimatnya. Dan novel romeo gadungan ini layaknya cotton candy, manis, ringan, setiap kalimatnya sangat mudah dicerna, part paling favorit dalam buku ini: Perseid Meteor, karena saya bisa membayangkan betapa serunya menikmati suasana pantai dimalam hari, sambil melihat bintang-bintang dilangit, satu hal yang selama ini hanya bisa saya bayangkan setiap hari sebelum tidur. Part Bower Bird juga salah satu part favorit saya dibuku ini, dimana dalam part ini, saya suka penuturan Tirta dalam memandang sebuah ketertarikan terhadap lawan jenis, tidak terkesan berlebihan, gaya tulisannya pun sarat dengan logika dan fakta.
Tirta, cowo yang bisa dibilang keren, pintar, lulusan master dari Aberdeen Inggris, tapi kayaknya no luck buat urusan cinta-cintaan. Sebenernya sih, para cewe yang pernah dia dekatin, rata-rata suka dan menyambut cinta Tirta, sayangnya, adaaaa aja penghalang yang akhirnya bikin mereka ga bisa nyatu. Mulai dari si cewe pindah sekolah, terlalu menghayati teknik tarik ulur layang-layang, yang malah bikin cewenya sebel sendiri 🤣. Paling naas, ketika jatuh cinta ama cewe yang udah perfect dalam semua kriteria, kecuali satu, beda Tuhan yang disembah 😅.. . Lagiaaaaan, cari penyakit sih. Udah jelas-jelas beda, ya mending dari awal ga usah dideketin. Pacaran dengan pasangan beda agama, solusinya cuma 2, cari pasangan lain, atau ganti Tuhan ... Silahkan aja kalo mau tetep jalan masing-masing sesuai keyakinan, tapi balik lagi ke pertanyaan, diizinin agama ga 😁?
Menikmati bab per bab kisah Tirta dan cewe-cewenya, paling suka saat membaca hubungan dia dengan si Sepatu Kiri, cewe yang berbeda keyakinan tadi. Keliatan aja kalo Tirta bener-bener sayang dengan cewe ini. Sampe-sampe di hari terakhir sebelum Sepatu Kiri terbang ke Denmark untuk mengambil beasiswa master, Tirta abis-abisan nunjukin perasaan, dengan melakukan semua hal yang mereka ingin lakukan terhadap pasangan. Contohnya, candle light dinner, menari waltz dengan iringan musik Enchanted, sampai menonton teater. . Seneng memang, tapi sebenernya hanya menambah sakit hati, saat tiba waktunya berpisah ... 😭 . Paling kocak, cerita ketika dia dibujuk untuk install Tindler. Zaman gini yeeee, cari jodoh udah semudah jentikan jari. Cukup swipe left or right foto-foto yang sesuai kriteria user, untuk nemuin pasangan yang tepat. Namun, kali pertama pakai Tindler, Tirta udah dapet zonk 🤣. Cewe yang 'matched' dengan dia, ternyata pemadat. Malah dengan santainya ngajakin Tirta ke apartmen, hanya untuk ngobat bareng 🤣. . Sejak itu, bagi Tirta, mending menikmati proses mencari cinta dengan cara konservatif deh. Ga usah pake aplikasi segala. Ga jodoh ama pacar, itu memang bikin sedih, tapi digrebek BNN cuma gara-gara terjebak drugs, itu bener-bener aib yang ditanggung seumur idup 🤣..
Buku pertama yang memperkenalkan aku sama "love story" yang nggak menye-menye. Realistis ya, apalagi dibaca sama yang udah masuk diusia 20-an. Cinta nggak cuma dibangun karena aspek "aku suka sama kamu, kamu suka sama aku" hal-hal lain diluarnya juga ikut mempengaruhi. Bahkan campur tangan pihak lain juga nggak bisa dihindari ketika mau masuk jenjang pernikahan.
The best part about this book is about giving us some "lessons" without trying too hard. Ceritanya terasa dekat, jadi ada beberapa bab yang 'this is so me' at some point. Kekurangannya adalah kurang tebal dan entah kenapa harusnya di bab terakhir ada satu cerita yang happy ending. Overall, I give this book 3.5/5.
Saya selalu suka baca tulisan Tirta di Blognya, tapi entah mengapa 2 buku terbitannya dia kurang masuk ke dalam selera baca saya. Untuk buku Romeo Gadungan ini seakan kehilangan "arah", apakah pasarnya di usia pekerja (22++) atau mahasiswa/pelajar. "Feel" yang didapatkan dari baca blognya Tirta gak kerasa di buku ini. Hanya 1 cerita tentang Sepatu Kiri yang menurut saya layak untuk diberikan apresiasi tinggi, sebagaimana tulisannya di Blog, cerita sepatu kiri memang lebih "ngena". Selebihnya terasa sangat biasa saja. Pemilihan cover juga berpengaruh, ketika memilih di toko buku, teman kantor saya bilang kalo itu terlihat seperti buku abg yg gak cocok dibaca sm saya. Memang sih saya juga kurang suka dengan warna cover bukunya, lagi-lagi Tirta kebingungan menentukan pangsa pasarnya itu siapa, mungkin kalo yg diincar adalah anak sekolahan, warna ini eye catching banget.
Pada akhirnya, buku Romeo Gadungan ini belum berhasil menggambarkan kualitas tulisan yang biasa Tirta bikin di blognya. Saya cukup kecewa sebenarnya, tapi semoga Tirta tidak berhenti menulis karena dia adalah salah satu penulis yang karyamya bisa kena di hati pembaca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dari awal memang suka sama tulisannya kak Tirta. Mulai dari ask.fm lalu blognya. Aku tipe orang yang males beli buku kalo emang tulisannya ngga pas di aku. Tapi gatau kenapa mau baca ngebuku ini aja (mungkin karena lagi patah hati jg hahaha). Isi bukunya ringan dan aku suka, aku pun ikut ngerasain patah hatinya pas baca bagian sepatu kiri dan yang lainnya. Kalo kalian suka bacaan ringan, definitely this one's the winner. But, aku kurang suka sama covernya, kurang mempresentasikan isi bukunya. Kalo bukan karena aku tau tulisan kak Tirta sprt apa aku pun ragu bakal belinya. TAPI TAPI TAPI aku suka! Jadi cover ngga merubah apapun dari penilaian aku. Terus berkarya kak Tirta, Allah bless you. :) ps. skrg aku mau beli newbie gadungan karena terkena 'virus' tulisanmu. Please I need that book like ASAP, aku cari di gramedia online maupun offline udah ngga ada. Any suggestion? :(
buku keren. apalagi dibaca di saat patah hati seperi sekarang ini. ketika kamu membaca kamu seperti sedang mendengarkan temanmu berkisah tentang patah hatinya. seketika itu kamu berpikir bahwa patah hatimu belum seberapa dibandingkan dengan penulis. kamu bisa bangkit dan akan menemukan orang yang pantas kamu labuhkan hatimu. buku romeo gadungan ditulis dengan bahasa yang apik, sangat ringan dibaca oleh semua kalangan. Excellent!
tau buku ini dari ask.fm kak tirta ini kaya selebask gitu ya hehe. terus penasaran karna suka aja jawaban2 nya di ask.fm. lalu beli deh bukunya! sukaaaa! aku jadi tau "wah ternyata gini ya sudut pandang cowok ketika pacaran" "wah gini ya sudut pandang cowok setelah putus" thanks kak tirta for write this book. menghibur, ada bagian lucu, sedih. my favorite part is sepatu kiri. kalian yang belum baca harus baca yaa!
Buku nya kalo dibilang bagus, terlalu biasa... INI SANGAT AMAT BAGUSSSS. Ada beberapa story yang mirip dengan kisahku jadi ya pas baca kebawa suasana mellow nya. Ada beberapa typo yang aku temuin, dan ilustrasinya bagus banget. Humor nya juga ya ampun aku baca ini pas lagi di bis dan senyum senyum sendiri hahaha... tapi satu kekurangannya sih, kurang tebel bukunyaaaaa. Sukses terus untuk kak Tirta ditunggu buku berikutnya.
Ok..akhirnya mendapatkan buku ini juga, setelah bersabar menunggu selama 2 minggu buat nyampek Gramed di Malang. ... Manis. Itu kesan pertama baca buku ini. Meskipun beberapa cerita sudah pernah aku baca di blog penulis, tapi tetap asik aja untuk dibaca. Dua bab pertama bikin aku ngakak. Tapi untuk bab selanjutnya, bikin garuk tanah. Cerita paling favorite jatuh pada Layang-Layang dan Fast Car
Buku kedua ini jauh lebih bagus dari buku (solo) pertama Tirta Prayudha, Newbie Gadungan. Rasa yang biasa muncul ketika baca tulisan di blog Tirta, bisa dapet juga waktu baca buku ini, hampir di setiap chapter-nya bisa bikin bawa perasaan.
Buku yang selesai di baca "sekali duduk", sebagai pembaca setia blog Kak Tirta ada beberapa bagian yang terasa sangat familiar tapi ada beberapa lelucon yang ditempatkan di tengah dan agak sedikit 'merusak' flow emosi-nya. Mungkin ini pendapat ga umum, tapi saya lebih suka blog-nya sih....
Review tentang buku ini udah gue tulis di blog gue sebelumnya... baca aja sendiri yaa http://wp.me/p5qqIG-ap :) Oh iya satu lagi, cover bukunya harusnya bisa lebih baik dari ini.