Di Bawah Lentera Merah menarasikan satu periode krusial dalam sejarah Indonesia yaitu ketika benih-benih gagasan kebangsaan mulai disemaikan, antara lain lewat upaya berorganisasi. Melalui sumber data berupa kliping-kliping koran antara tahun 1917-1920an dan wawancara autentik yang berhasil dilakukan terhadap tokoh-tokoh sejarah yang masih tersisa, penulisnya mencoba melacak bagaimana bentuk pergerakan Indonesia, apa gagasan substansialnya, serta upaya macam apa yang dilakukan oleh para tokoh Sarekat Islam Semarang pada kurun waktu 1917an.
Di bawah pimpinan Semaoen, para pendukung Sarekat Islam berasal dari kalangan kaum buruh dan rakyat kecil. Pergantian pengurus itu adalah wujud pertama dari perubahan gerakan Sarekat Islam Semarang dari gerakan kaum menengah menjadi gerakan kaum buruh dan tani. Saat itu menjadi sangat penting artinya bagi sejarah modern Indonesia karena menjadi tonggak kelahiran gerakan kaum Marxis pertama di Indonesia.
Pertimbangan lain mengapa "Di Bawah Lentera Merah" menjadi penting adalah karena buku ini memotret bagaimana gagasan transformasi modernisasi berproses dari wacana tradisional ke wacana modern. Lebih khusus lagi Soe Hok Gie, melalui buku ini, mengajak kita mencermati bagaimana para tokoh tradisional lokal tahun 1917an mencoba menyikapi perubahan pada abad ke-20 yang dalam satu dan lain hal, punya andil menjadikan wajah bangsa Indonesia seperti sekarang ini.
Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.
Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin.
Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).
Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.
Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).
Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama.
Hok Gie meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis, di puncak Gunung Semeru akibat menghirup asap beracun gunung tersebut.
John Maxwell menulis biografi Soe Hok Gie dengan judul Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesian Intellectual (Australian National University, 1997).
Pada tahun 2005, catatan hariannya menjadi dasar bagi film Gie.
“Manusia tidak pernah bisa melepaskan diri dari keadaan sekelilingnya, dari mana ia hidup, dibesarkan oleh bumi dan dari mana ia berakar. Nilai-nilai yang didukung oleh lingkungannya, nilai yang dihayatinya sejak kecil, selalu membekas dalam pikiran dan pandangan-pandangannya.”
Dalam catatan pembacaan yang semula ditulis sebagai skripsi yang diajukan untuk menempuh gelar sarjananya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI, melalui buku ini Soe Hok Gie menarik mundur riwayat organisasi besar yang sempat tumbuh dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia (dulu Hindia) saat melawan penjajahan Belanda pada circa 1917-1920.
Organisasi itu bernama Sarekat Islam Semarang, yang diketuai oleh Semaoen, sebagai propaganda gerakan sosialis-revolusioner yang secara konsisten melancarkan kritik-kritik pedas terhadap pemerintah—yang bersekutu dengan Belanda—melalui berbagai gerakan dan tulisan-tulisan tajam di surat kabar.
Nyatanya, sejak dulu media massa seperti surat kabar selalu efektif menjadi alat untuk menentang kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap kepentingan rakyat. Gie sampai mengutip, “Napoleon pernah mengatakan bahwa 4 surat kabar yang memusuhi Pemerintah lebih berbahaya dari beribu-ribu tentara.”
Lewat laporan risetnya, Gie menjelaskan bahwa sejak abad ke-16 di Jawa telah tumbuh 3 akar kekuatan yang akan menjadi sendi-sendi kekuatan masyarakat di kemudian hari. Kelompok pertama adalah kaum priyayi (aristokrasi), merupakan kelompok berkuasa yang berakar pada kebudayaan Jawa-Hindu, dan berpusat di kantor-kantor. Dengan berkembangnya Islam, kemudian muncullah kaum santri yang berakar pada masyarakat di sekitar pesantren dan sebagai Islam, mereka merupakan kaum yang "ortodoks".
Persaingan di bidang politik antara kedua kelompok tersebut, terlihat jelas selama abad ke-16 dan ke-17, di mana kaum santri yang merupakan kekuatan pantai bertempur menghadapi kekuatan agraris yang lebih merupakan penerus kekuatan kerajaan-kerajaan pra-Islam.
Maka kemudian muncul kelompok ketiga, yakni masyarakat pedesaan Jawa yang mendukung nilai-nilai kebudayaan zaman pra-Hindu, walaupun unsur-unsur Hindu serta Islam tetap dianut. Kelompok itu disebut kaum abangan, dan merekalah yang lantas diperebutkan oleh kaum priyayi dan kaum santri. Namun, singkat cerita, kaum priyayi justru bergabung dengan kolonial Belanda sejak Indonesia mulai diduduki, yang membuat kaum santri berserikat dengan kaum abangan yang saat itu sangat kontra pemerintah.
Pada akhir catatannya, Gie menyimpulkan bahwa sejak dahulu Islam selalu menjadi sumber kekuatan gerakan-gerakan rakyat untuk mengusir penjajahan selama abad ke-18 dan ke-19 di Indonesia, dimulai dari Perang Diponegoro sampai pada Perang Aceh. Sampai dengan 1910, dengan pengecualian Gerakan Samin, kerusuhan-kerusuhan melawan Belanda selalu berputar di sekitar tokoh-tokoh agama. Tak hanya Sarekat Islam Semarang, bahkan organisasi lain seperti Boedi Utomo dan PKI pun lahir dari bibit perjuangan tokoh Islam.
Saya jadi bertanya-tanya, ke mana para tokoh Islam kita hari ini, di saat pemerintah tampak terobsesi membuat kebijakan yang berpotensi menyengsarakan rakyat?
Membaca skripsinya koh Gie ini menimbulkan banyak peer baru buat saya. pertanyaan-pertanyaan baru. Membaca tulisan ini membuat saya tahu, wow, ternyata awal mula PKI adalah sebuah entitas yang mengusung nama Islam di dalamnya,tanpa adanya penonjolan unsur Islam itu sendiri (keterangan pada Bab V, Catatan. Saya pake e-book jadi mungkin halamannya ngga pas). Ternyata entitas seperti itu bukan hanya JIL aja ya, hem.
Oke,nyimpang.
Saya paling suka kalimat ini: "Manusia tidak pernah bisa melepaskan diri dari keadaan sekelilingnya, darimana ia hidup, dibesarkan oleh bumi dan darimana ia berakar. Nilai-nilai yang didukung oleh lingkungannya,nilai yang dihayatinya sejak kecil, selalu membekas dalam pikiran dan pandangan-pandangannya."
Adapun pendapat lain, masih berputar-putar dalam otak saya. Tak mampu saya tuangkan karena sudah dalam fase setangah sadar setengah tertidur -____-
boeat orang jang merasa perboeatannja baik goena sesama manoesia, boeat orang seperti itoe, tiada maksoed takloek dan teroes tetap menerangkan ichtiarnja mentjapai maksoednja jaitoe HINDIA MERDIKA DAN SLAMAT SAMA RATA SAMA KAJA SEMOEA RA'JAT HINDIA (semaoen)
di bawah lentera merah, ntah mengapa diberi judul demikian. pergerakan semaoen dengan melalui sarekat islam mencoba diabadikan oleh gie sebagai usaha kecil untuk mencoba melihat salah satu pergerakan rakyat indonesia. indonesia? sedikit merasa janggal dengan penggunaan kata ini.
tulisan yang merupakan laporan pembacaan ini mengambil rentang waktu kejadian 1917-1920. apakah saat itu sudah terbentuk indonesia? sebagai kutipan pembukaan, bahkan masih digunakan istilah hindia oleh semaoen. mungkin untuk mempermudah pengucapan na, gie yang menuliskan na pada tahun 1964 selalu menyebut hindia dengan indonesia.
sebagai pembaca yana kurang menggeluti sejarah, jadi bertanya-tanya, sebenar na kapan kata indonesia muncul sehingga rakyat hindia menggunakan na. apakah saat proklamasi kemerdekaan, atau jauh sebelum itu? banyak pernyataan di sini yang mengundang tanya. sungguh membuktikan bahwa rhe benar-benar tidak paham sejarah. bahkan kaitan atara judul dan isi pun tidak tau sejarah na.
berlatar belakang liberalisme yang mengeksploitasi kekayaan indonesia (saat itu masih hindia) menyebabkan kesengsaraan rakyat. kaum priyayi yang memimak belanda semakin membuat kaum tani tertindas. kaum tani (disebut juga kaum abangan) yang diperebutkan oleh kaum priyayi dan santri akhir na memihak kaum santri (melalui sarekat islam) karena merekalah yang lebih membela hak-hak kaum tani.
SI yang awalna merupakan pergerakan pada pedagang akhir na bergeser menjadi pergerakan kaum tani. pergerakan rakyat untuk masalah agraria dan kemelaratan kaum tani. namun masalah ini bergeser lagi ketika pergerakan memasuki kota dengan masalah-masalah perburuhan sampai didirikan na organisasi buruh.
pada kelanjutan na, gerakan sosial nasionalis ini mengambil konsep dari rusia sehingga melali kongres istimewa disepakati perubahan nama sebagai partai komunis.
sosialisme didorong oleh kebencian terhadap diskriminasi sosial dan perlakuan kesewenang-wenangan pemerintah terhadap rakyat kecil. sedangkan komunisme merupakan keinginan menghapus barang-barang kepunyaan menjadi milik orag banyak, dibagi sama rata, supaya jangan dikuasai seorang saja.
pada dasar na kegiatan na masih tetap sama yaitu membela 'yang terhina dan yang lapar'. namun pada akhir na, para pendiri na justru meninggalkan partai komunis.
bangoenlah bangsa jang tertindas. bangoenlah kaoem jang lapar. kehendak jang moelia dalam doenia. linjaplah adat fikiran toea. hamba ra'jat sadar, sadar doenia telah berganti roepa... (suwardi suryaningrat)
bacaan ringkas untuk memberikan gambaran mendalam pergerakan yang ada pada saat itu. di usia masih dini (19-20 tahun) mereka sudah berjuang demi kepentingan orang banyak, kepentingan rakyat yang sering diabaikan oleh pemerintah na. banyak orang cerdas saat itu. mungkin sebenar na saat ini juga. namun pada kasus yang sama, saat kepentingan rakyat banyak terabaikan oleh pemerintah, kemanakah golongan-golongan muda? budaya konsumtif rupa na telah menumpulkan pikiran mereka.
lifestyle yang berbeda namun permasalahan tetap sama. lalu apakan yang bisa kita lakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang tak kunjung terpecahkan juga?
Seandainya saya kenalan dengan (tulisan-tulisan) Soe Hok Gie sejak SMA dulu, mungkin guru PLH saya bakal berkurang alasannya untuk menarget saya, hehehe.
DI BAWAH LENTERA MERAH adalah karya tulis (makalah?) mendiang Soe Hok Gie tentang pergerakan Sarekat Islam Semarang dari tahun 1917 sampai 1920. Membaca buku ini dan mendapati beberapa nama yang familier (Darsono, Abdoel Moeis, dkk) membuat saya merasa, "Ini nyata; orang-orang ini pernah ada dan berjalan di muka Bumi ini, berjabat tangan dengan orang lain dan berargumentasi dengan orang lain."
Yang paling menarik bagi saya adalah di bagian akhir, ketika Soe Hok Gie mengatakan bahwa ideologi yang banyak tampak jelas dalam perbuatan dan aksi-aksi tokoh-tokoh Sarekat Islam Semarang tampak lebih seperti "terinspirasi" dari Marxisme dan sosialisme alih-alih sepenuhnya berlandaskan kedua ideologi tersebut. Saya yang awam terhadap identitas-identitas politik hanya dapat memikirkan sebuah komentar dalam diskusi daring yang pernah saya temui: Setiap ideologi politik tidak ada yang baik atau buruk, hanya perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan wilayahnya. Mungkin Semaoen dan kawan-kawan merasa bahwa paham Marxis yang "sejati" tidak sepenuhnya cocok untuk iklim dan kebutuhan Hindia Belanda (Indonesia) saat itu, sehingga yang terlihat adalah sebuah gerakan yang terinspirasi, bukan terlandaskan.
Lentera Merah dikenal sebagai majalah kampus yang memiliki tulisan-tulisan kritis yang tajam dalam menyikapi keadaan kampus maupun kondisi pemerintahan yang terjadi pada masa itu.
Lentera Merah hanya berpihak pada kebenaran, begitulah mottonya. Terbit sejak Universitas Nasional Indonesia (UNI) berdiri tahun 1930-an, Lentera Merah atau LM merupakan salah satu media penggerak kemerdekaan Indonesia.
Untuk masuk sebagai Anggota LM, haruslah melewati persaingan yang cukup ketat. Risa, Lia, Muti, Riki dan Yoga akhirnya berhasil menyisihkan 5 kandidat lainnya. Mereka menjadi 5 terbaik yang bakal mengikuti malam inisiasi yang sudah menjadi tradisi LM, acara yang sempat menuai protes keras dari Rektor UNI.
Malam inisiasi pun dimulai. Para 5 kandidat mengikuti teka-teki ‘permainan?untuk menemukan kebenaran yang malah justru membawa mereka menemui berbagai macam pembunuhan dan hal-hal yang ‘aneh? Sementara mereka memecahkan teka-teki yang diberikan seniornya, teror hantu pun mulai menghantui.
menjawab pertanyaan bagaimana Marxisme mula2 masuk di Indonesia. pemaparan sejarah yg objektif dan otentik, tidak berat sebelah. sumber berupa kliping koran dan wawancara tokoh pelaku sejarah langsung (Semaoen dan Darsono)
memaparkan telaah latar belakang kondisi sosial-ekonomi dan intelektual bangsa Indonesia di masa2 awal pergerakan, yg menjadi penunjang lahirnya gerakan sosialis revolusioner
bagaimana paham sosialis pertama2 diadopsi & diterjemahkan oleh Sarekat Islam Semarang utk menganalisis & menyikapi keadaan
yg jarang diketahui adalah "mengapanya". mengapa dan bagaimana bisa sampai terjadi, bagaimana paham Marxis masuk, diadopsi dan kemudian berkembang di Indonesia
harus digarisbawahi, perlu dibedakan antara paham sosialis dan komunisme dlm pengertian sekarang
untuk saat ini baru bisa berkata, cukup hanya 2 kata: kontroversi dan dahsyat! sebuah skripsi yg disusun untuk meraih gelar sarjana muda...!! wow..wow.. ya ampun seandainya bisa ku menulis seperti ini dahulu..sayangnya enggak!! ya wajarlah kan masih muda waktu itu..(sekarang juga tetep sih.. :) ) Skripsi ini ditulis Soe Hok Gie ketika ia berumur ± 22 tahun..dengan banyaknya catatan kaki..wfeuh sumpah banyak banget..! sumbernya dari berbagai referensi buku dan surat kabar.
wow... sejarah Indonesia pascatahun 30-an dr sudut pandang berbeda. sangat khas aktivis sekali bahasanya (eh, kenapah kata yg baku adalah "aktivis", bukan "aktifis" pdhl di KBBI yg ada kata dasarnya itu "aktif" bukan "aktive", halah gak penting). pantas buku ini sempat dilarang (atau masih? :D)
“Di Bawah Lentera Merah” sesungguhnya adalah skripsi Soe Hok Gie. Skripsi yang demikian menarik sampai layak dijadikan buku.
Aku bukan orang yang menyelami aspek religius terlalu dalam, bahkan cenderung menghindarinya dan membaca seperlunya. Namun, kali ini sifatnya historis. Banyaknya hal baru yang aku pelajari linear dengan banyaknya pertanyaan yang lahir.
Aku selalu mengetahui bahwa Islam adalah katalisator perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia. Meski demikian, aku tidak menyangka bahwa kelahiran Marxisme di Indonesia turut diprakarsai oleh Sarekat Islam Semarang sebelum semakin lama berkembang menjadi Partai Komunis Indonesia.
Progresivitas Islam dalam pergerakan di Indonesia turut menimbulkan pertanyaan. Jika Islam pernah seprogresif itu, mengapa banyak pesantren di Indonesia yang masih feodalis sampai saat ini? Adakah kaitannya dengan kedekatan Soeharto dengan kelompok Islam konservatif ketika ia menyadari bahwa kekuatannya melemah dan militer menunjukkan penolakan?
Selaras dengan kedekatannya dengan paham Marxisme, Sarekat Islam Semarang bersandar pada sayap kiri. Bahkan dalam wacana penyerangan Islam konservatif terhadap kelompok yang dianggap “menistakan” Muhammad, Sarekat Islam Semarang tidak mau terlibat. Islam pernah sejauh itu melangkah menuju progresivitas. Apa yang terjadi?
Lebih mengejutkan lagi, sosialis dan kaum Marxis dengan nama-nama besar yang memprakarsai Marxisme di Indonesia melalui Sarekat Islam Semarang justru menolak terlibat dalam Partai Komunis Indonesia. Dalam skripsinya, Soe Hok Gie tidak memberikan penjelasan mendalam mengenai penolakan atas Partai Komunis Indonesia. Tidakkah eksistensi Partai Komunis Indonesia adalah satu langkah lebih dekat menuju tercapainya ideologi mereka? Mungkin akan ku lakukan riset lebih lanjut dan aku tinjau kembali ulasan ini.
Soe Hok Gie membuka mata dan memberikan pengetahuan yang luas mengenai Marxisme mula-mula di Indonesia, diawali Sarekat Islam Semarang pada tahun 1917-1920. Meskipun demikian, tidak ada ideologi yang lahir tiba-tiba. Sekelompok orang hanya akan menerima apa yang familiar. Bacaan yang ringan dengan diksi yang tidak berbelit-belit, meski cukup termakan zaman.
Skripsi dari soe hok gie yang begitu menggelegar! Sebuah skripsi yang bisa dikatakan telah dibaca oleh seluruh mahasiswa Indonesia (yang sadar), yang ga sadar mah terserah, paling bikin jedag jedug dengan dalih self reward. Tolol. 🤣
Penelitian sejarah yang disadari oleh gie sebagai penelitian yang jauh dari sempurna, tapi untuk pembaca sudah begitu sangat membuka mata. Kehadiran SI Semarang, dengan Semaoen dan Darsono mrmbuat gejolak di dalam internal SI. Belum lagi membahas ISDV yang berhasil membawa nilai-nilai marxis ke negara terjajah ini. Persoalan isu nasional sekarang, benturan antara sipil dan militer, hal tersebut telah ditulis oleh gie puluhan tahun yang lalu, demi kepentingan segelintir orang belaka. Tabik untuk gie, masih banyak bukumu yang belum ku baca. Semoga kelak kita berjumpa di surga dan berdiskusi tentang kebejatan para rezim yang sedang singgah di neraka! 🙌🏻
#LibertyLiteracy #LiberatingMinds
This entire review has been hidden because of spoilers.
Short, beautiful and interesting. A good reference to understand the situation in 1917, based on perspectives of a person that lives in the 1960s. Soe Hok Gie argued that 1917-1920 is the best period in the Indonesian history. He saw a democratic movement post-1917 Volksraad. He criticized that SI elite lack of understanding on the Marxist theory which is dangerous due to a tendency to be radicalized (nihilism).
However, ironically, Soe Hok Gie fail to see 1965 PKI revolt and tragically died early. Things that he worried in his analysis came true. A sad story. This undergraduate thesis is relevant until today.
Ini adalah penelitian dari mendiang Soe Hok Gie untuk skripsi S1-nya saat menempuh kuliah di Universitas Indonesia. Yang menarik dari penelitiannya adalah ia mewawancarai tokoh yang terlibat langsung dalam sejarah yang ditelitinya. Lebih lanjut, buku ini membuat saya memahami bahwa masyarakat Indonesia saat itu sudah menyadari ketertindasan akibat Pemerintahan Belanda yang hanya membela kaum pemilik modal tanpa mempedulikan rakyat Indonesia yang bekerja untuk mereka. Dengan begitu, mereka harus melawan kezaliman tersebut. Dimulai dari pemogokan kerja oleh buruh sampai terbentuknya PKI, Semaun dkk. menjadi tokoh penting dari pergerakan tersebut.
Membaca buku ini, saya sembari membayangkan suasana kota lama Semarang di awal abad 20 yang bergejolak dengan semangat perubahan buruh dan kaum kromonya.
Di bawah pimpinan Semaoen dkk, pendukung SI Semarang berasal dari kaum buruh dan rakyat kecil. Gerakan Sarekat Islam Semarang berubah dari gerakan kaum menengah menjadi gerakan buruh dan rakyat kecil, menjadi lebih revolusioner. Sesuatu yang sangat penting bagi sejarah modern Indonesia karena dari sini lahirlah gerakan kaum Marxis pertama di Indonesia.
Buku ini adalah skripsi karya Soe Hok Gie yang memberikan gambaran bagaimana kontribusi orang-orang kiri dalam pergerakan nasional Indonesia. Kontribusi yang "dihilangkan" dari teks sejarah resmi pemerintah.
Buku ini menceritakan mengenai sepak terjang Sarekat Islam Semarang, dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat sekitar tahun 1917-1924. Pada saat itu, penyebab yg ditemui oleh tokoh2nya yaitu adanya feodalisme dan kapitalisme yang menyebabkan tidak berkembangnya taraf hidup masyarakat, jadi itulah yang mereka perangi. Mendapati usaha kaum priyayi dan santri tidak mengalami perkembangan, mereka mencoba menggunakan cara sosialisme, yang saat itu berkembang di Rusia dan CHina, sama rasa sama rata. hingga akhirnya muncul ISDV dan ISDP, dan kemudian didirikan Persatuan Komunis Indonesia.
Saya ngga tahu, kelaliman pemerintah yang baru saja saya baca ini dilakukan pemerintah Hindia Belanda atau pemerintah Indonesia di tahun 2025, karena begitu banyak persamaan.
Buku tipis ini menarik untuk menjelaskan awal mula pemahaman Marxisme masuk ke Indonesia, walau ngga dijelaskan detail. Membaca buku ini terasa seperti membaca garis besar perjalanan organisasi Sarekat Islam menuju menjadi Sarekat Islam Merah. Dan menurut saya, buku ini sangat menonjolkan peran Semaoen dan Darsono yang ngga banyak disinggung dari beberapa buku tentang kemunculan Komunisme di Indonesia yang saya baca.
Setelah sembilan tahun lalu membaca mini skripsi Gie, ada banyak informasi baru yang kudapatkan. Mulai dari kondisi sosial Semarang yang mengenaskan pada waktu itu, hingga munculkan seksi perempuan di Sarekat Islam. Setauku, blm ada penelitian lanjut soal seksi perempuan di tubuh SI ini.
Gie, dalam skripsinya yang masya Allah bagus ini memaparkan sejarah perjuangan kaum Marxist mula-mula hingga membentuk PKI. Buku ini adalah salah satu buku wajib untuk yang berminat dengan sejarah gerakan kiri di Indonesia.
Berisi tentang sejarah Sarekat Islam dalam rentang 1917-1920, masa ketika ide sosialis komunis mulai merangsek ke tubuh aktivis SI. Sangat jelas, padat dan ringkas. Ini merupakan skripsi sarjana muda Soe Hok Gie di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra , Universitas Indonesia.
buku kedua Gie yang gue baca, pertama tamat. lebih karena Catatan Seorang Demonstran tebel. menariknya buku ini adalah kejelian Gie ngebahas sejarah, menggali dan mencoba sebaik mungkin menarik kesimpulan. sejarah bukan hanya sekedar menghafal tanggal dan peristiwa. hebat!
Tulisan Gie yang berisi perjalanan Sarekat Islam Semarang membela kaum tertindas dengan jalan sosialis revolusioner yang dimulai pada tahun 1926. Rangsangan sosialistik yang menarik banyak pemuda untuk bergabung. Hingga pada akhirnya Sarekat Islam Semarang yang jejaknya hampir beriringan dengan ISDV pun mulai melebur, menamakan diri menjadi PKI.
Perjuangan Sarekat Islam Semarang merupakan lembaran-lembaran sejarah yang patutnya dimaknai kembali dalam rangkaian sejarah negeri ini.