773 - 2019
Earth-1610, no Avengers but Ultimates, which is the same thing.
Paska perang dengan Chitauri, di mana sebagian Chitauri yang shapeshifter ala Skrull ternyata masih survive dan ada di mana-mana. Tony Stark berhasil menciptakan alat untuk mendeteksi DNA Chitauri, dan untuk melawannya Chitauri berhasil memanipulasi Steve Rogers hingga bekerja untuk kepentingan mereka.
Dibandingkan Avengers di Earth-616 atau Earth-19999 (baca: MCU), hampir semua anggota Ultimates (kecuali Jan mungkin) adalah certified A-hole. Di antara Bruce Banner yang pas jadi Hulk bisa makan orang, Hank Pym yang pelaku KDRT gegara inferiority complex, Thor yang kewarasannya dipertanyakan karena mengaku dewa Norse (iya, nggak ada yang percaya!), Tony Stark si jenius, milyarder, playboy dan drunken master boleh dibilang normal.
Dan Steve Rogers? Oh, boy... Kalau tidak ada Steve Rogers, novel ini mungkin tidak usah ada, karena ia memang sumber masalah dalam cerita ini. Yah, mungkin karena ia dibangunkan dari es di masa yang salah. Tidak paham politik, tidak paham teknologi, tidak percaya siapapun termasuk Nick Fury dan rekan-rekan Ultimates-nya, sehingga gampang ditipu, dibodohi, dan diperalat oleh pejabat militer yang menurutnya lebih bisa dipercaya (padahal ternyata agen Chitauri yang menyamar).
Novel ini disajikan dari beberapa POV, tapi POV Steve Rogers yang paling dominan sehingga kita bisa tahu pola pikirnya yang pendek, naif dan judgemental. Untungnya ia sadar dan mau mengakui kalau telah melakukan kesalahan, meskipun pada akhirnya tidak ditendang dari tim seperti Hank Pym atau dikurung seperti Bruce Banner. Seperti kata Nick Fury, kalau saja ia tidak menyandang nama Captain America, seharusnya ia dipenjara atau dihukum mati, karena sudah menjadi mata-mata musuh, meskipun di luar sepengetahuannya.
Yang berperan penting dalam novel ini jelas para ilmuwan. Hank Pym, yang statusnya cuma mantan anggota Ultimates, menemukan cara untuk mengerahkan pasukan semut untuk mendeteksi dan menyerang Chitauri dengan menggunakan sinyal radio. Dan tentu saja Tony Stark. Selain menciptakan alat pendeteksi Chitauri, ia juga lebih pantas menjadi The Man with a Plan dengan menyiapkan skenario jebakan maut yang bahkan tidak diketahui siapapun termasuk si masterspy Nick Fury.