Jump to ratings and reviews
Rate this book

Molla Sadra Külliyati #1

The Elixir of the Gnostics

Rate this book
Sadr al-Din Muhammad Shirazi (1572-1640), more commonly called Mulla Sadra, was one of the grand scholars of later-period Islamic philosophy and has grown to become one of the best-known Muslim philosophers. Iksir al-'arifin, or Elixir of the Gnostics, is unique among Sadra's writings in that it reworks and amplifies an earlier Persian work, the Jawidan-nama (Book of the Everlasting) by Afdal al-Din Kashani, or Baba Afdal.

The underlying theme of Sadra's amplification is emblematic of Muslim philosophy: the importance of self-knowledge in an individual's journey of "Origin and Return," the soul's origins with God and its eventual return to Him. Everything, Sadra says, is on such a path, gradually disengaging from the material world and returning to a transcendent essence—all leading to a final fruition in which everything in the universe returns to God and finds permanent happiness. Philosophy, Sadra argues, is the most direct means to self-knowledge—and thus the best tool for navigating this journey.

192 pages, Hardcover

Published October 1, 2002

4 people are currently reading
298 people want to read

About the author

Mulla Sadra

57 books89 followers
Ṣadr ad-Dīn Muḥammad Shīrāzī, also called Mulla Sadrā (Persian: ملا صدرا‎; also spelt Molla Sadra, Mollasadra or Sadr-ol-Mote'allehin; Arabic: صدرالمتألهین‎) (c. 1572–1635), was an Iranian Shia Islamic philosopher, theologian and ‘Ālim who led the Iranian cultural renaissance in the 17th century. According to Oliver Leaman, Mulla Sadra is arguably the single most important and influential philosopher in the Muslim world in the last four hundred years.

Though not its founder, he is considered the master of the Illuminationist (or, Ishraghi or Ishraqi) school of Philosophy, a seminal figure who synthesized the many tracts of the Islamic Golden Age philosophies into what he called the Transcendent Theosophy or al-hikmah al-muta’liyah.

Mulla Sadra brought "a new philosophical insight in dealing with the nature of reality" and created "a major transition from essentialism to existentialism" in Islamic philosophy, although his existentialism should not be too readily compared to Western existentialism. His was a question of existentialist cosmology as it pertained to Allah, and thus differs considerably from the individual, moral, and/or social, questions at the heart of Russian, French, German, or American Existentialism.

Mulla Sadra's philosophy ambitiously synthesized Avicennism, Shahab al-Din Suhrawardi's Illuminationist philosophy, Ibn Arabi's Sufi metaphysics, and the theology of the Ash'ari school and Twelvers.

his main work is The Transcendent theosophy in the Four Journeys of the intellect, or simply Four Journeys.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
20 (62%)
4 stars
7 (21%)
3 stars
4 (12%)
2 stars
1 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Hilal.
43 reviews
July 1, 2011
KUNCI KEARIFAN

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar
- Al-Qur’ân | Fushshilat 41:53

Man ‘arafa nafsah, faqad ‘arafa rabbah
~ Nabi Muhammad

Inna-llâh khalaq âdam min shûrah ar-Rahmân
~ Nabi Muhammad

1.
Kata eliksir (ing.: elixir) berasal dari bahasa Arab, Al-Iksîr. Bahasa Indonesia sepertinya tidak memiliki padanan katanya, sehingga ia mengambil begitu saja dari bahasa Inggris. Artinya adalah “bahan untuk mengubah logam biasa menjadi emas”.

Iksîr al-‘Ârifîn, dengan demikian, bisa diterjemahkan menjadi Eliksir bagi Kaum Arif. Dengan memberikan judul demikian, Mulla Shadra seakan ingin menegaskan tujuan penulisan buku ini: menawarkan resep-resep ajaib yang bisa mengubah manusia biasa menjadi arif-bijaksana.

Judul ini agak mirip dengan salah satu risalah Al-Gazâlî, Kîmiyâ’ as-Sa’âdah. Kata kîmiyâ’ secara harfiah memang mengacu pada ilmu Kimia. Tapi, berbeda dengan ilmu Kimia pada masa kini, pada masa Al-Gazâlî ilmu ini masih memendam obsesi greekian, yakni mengubah besi menjadi emas. Dengan demikian, judul risalah di atas seakan ingin menawarkan ramuan-ramuan khusus untuk mendapatkan kebahagiaan (sa‘âdah).

2.
Kunci kebijasanaan, menurut Mulla Shadra, adalah mengetahui dan mengenal jiwa, sebagaimana diacu oleh hadits di atas. Kata nafsah bisa berarti “jiwa” dan bisa juga berarti “diri”. Tapi, menurut William C. Chittick, lebih tepat mengartikannya “jiwa” dalam konteks buku ini.

Dengan memahami jiwa berarti kita telah memahami al-mabda’ dan al-ma‘âd, The Origin dan Return, yang arti harfiahnya dalam bahasa Indonesia kira-kira “Asal” dan “Kembali”. Untuk memahami keduanya berarti kita harus menelusuri teori Wujud yang rumit dan berliku-liku sebagaimana dilontarkan oleh Mulla Shadra, karena baginya gerak dan perubahan jiwa mengikuti model gerak Wujud yang melingkar (nuzûl dan ‘urûj, descend dan ascend).

Melalui pemahaman yang mendalam terhadap jiwa dalam model Wujud tersebut, dengan sendirinya akan terlihat bahwa Asal dan Kembali adalah satu. Keduanya bukanlah suatu rentang waktu dari satu titik awal menuju titik akhir, melainkan suatu gerak melingkar yang titik awalnya akan bertemu di titik akhirnya. Oleh karena itu, dia yang arif-bijaksana adalah dia yang memahami bahwa dirinya berasal dari Tuhan dan akan kembali pula pada-Nya.

Innâ li-Llâh wa Innâ ilaihi râji‘ûn[]

- Shadr al-Din Muhammad Shîrâzî, dikenal dengan sebutan Mullâ Shadrâ (1572-1640) | salah satu sarjana filsafat Islam era belakangan dan menjadi salah satu filsuf muslim paling berpengaruh di Iran dan India, terutama di kalangan Muslim Syî‘ah. Karya utamanya adalah Al-Hikmah al-Muta‘âliyah fi al-Asfâr al-‘Aqliyyah al-Arba‘ah yang terdiri dari berjilid-jilid tebal.

- Iksîr al-‘Ârifîn adalah salah satu karyanya yang baru-baru ini, tepatnya tahun 2002, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh William C. Chittick dan terbit dengan edisi teks bahasa Inggris-Arab.

[look also at curusetra.wordpress.com]
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.