Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya. Kemudian, satu orang tersebut akan menjadi bagian terbesar dalam agendamu. Dan hatimu takkan memberikan pilihan apa pun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata bahwa risiko dari jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan. Yang paling menggiurkan setelahnya adalah berbaring, menikmati kepedihan dan membiarkan garis waktu menyeretmu yang niat-tak niat menjalani hidup. Lantas, mau sampai kapan? Sampai segalanya terlambat untuk dibenahi? Sampai cahayamu benar-benar padam? Sadarkah bahwa Tuhan mengujimu karena Dia percaya dirimu lebih kuat dari yang kau duga? Bangkit. Hidup takkan menunggu. Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu. Namun tiada guna, garis waktu takkan memperlambat gerakkannya barang sedetik pun. Ia hanya mampu maju, dan terus maju. Dan mau tidak mau, kita harus ikut terseret dalam alurnya. Maka, ikhlaskan saja kalau begitu. Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu yang menyakitimu secara perlahan.
Fiersa Besari, biasa disapa “Bung”, ialah seorang lelaki beruntung kelahiran Bandung, 3 Maret 19XX. Didasari oleh kecintaannya pada dunia musik, setelah menyelesaikan pendidikannya di jurusan sastra Inggris di STBA Yapari ABA Bandung, Bung malah menjauhi disiplin ilmu yang ia pelajari selama ini dan berujung membuka studio rekaman. Di studio rekaman inilah ia mengenal banyak musisi, sekaligus mengembangkan karir musiknya. Bung kemudian merilis beberapa album solo sejak tahun 2012, sebelum mengalami fase patah hati dan akhirnya berkelana keliling Indonesia selama tujuh bulan untuk mencari jati diri. Sekembalinya Bung di penghujung 2013 membuat dirinya lebih mencintai dunia tulis-menulis. Meski seringkali terendus aroma cinta dalam karya-karyanya, namun Bung selalu menyisipkan pesan humanisme dan sosial. Karya pertama Bung berjudul “Garis Waktu”, berisi rangkuman beberapa tulisannya dalam kurun waktu 2012-2016. Sementara, “Konspirasi Alam Semesta” merupakan album musik yang pernah ia rilis pada tahun 2015, yang kemudian dipadu padan dengan naskah hingga akhirnya dilahirkan kembali dalam bentuk buku pada tahun 2017. Selain menulis, Bung juga aktif sebagai pemain musik, penangkap gerak, dan pegiat alam.
Sudah lama sekali aku penasaran membaca Garis waktu, apalagi aku salah satu follower Kak Fiersa di twitter, dan aku suka dengan twit-twitnya yang puitis. Akhirnya, aku bisa juga membaca novel ini dan aku dibuat jatuh cinta berulang kali selama membaca novel ini.
Sejak membuka halaman awal saja, aku sudah dibuat hanyut dengan tulisan Kak Fiersa yang puitis. Kisah sederhana tentang perjalanan kehidupan tokoh AKU, dimulai dari pertama kali bertemu dengan KAMU, kemudian jatuh cinta, tetapi ternyata KAMU sudah bersama yang lain. Kemudian hanya bisa menahan perasaan atas nama PERSAHABATAN, sambil menemani KAMU dengan segala keluh kesahnya. Sampai di suatu titik mereka akhirnya jadian, tetapi kemudian harus terpisah jarak karena MIMPI dan CITA-CITA. Ternyata semua tidak mudah, perasaan pun berubah, ada orang lain lagi yang masuk ke kehidupan mereka. Hingga suatu titik, hanya ada 1 pilihan melepaskan atau memperjuangkan????
Ah, membaca buku ini di perjalanan pulangku dengan commuterline Juanda-Depok, dan akhirnya sampai di Depok aku berhasil menamatkan buku ini. Sebuah buku dengan kisah-kisah pendek, dari tahun ke tahun mengenai AKU dan hubungannya dengan KAMU. Setiap kisah akan bergulir dengan lancar, banyak momen-momen yang akan mengingatkanmu tentang jatuh cinta dan patah hati, momen-momen yang terasa familiar dan pernah dirasakan oleh setiap makhluk.
Aku jatuh cinta dengan tulisan Fiersa dan tidak akan ragu untuk membaca karya-karya selanjutnya. Recommend buat kamu yang suka dengan kisah romansa sederhana dengan kata-kata puitis di dalamnya :D
Garis Waktu berisi kumpulan cerita yang saling berkaitan dan diatur sedemikian rupa seperti curhatan dengan waktu ikut berperan.
Berawal dari sosok "aku" mulai merasakan perasaan tumbuh untuk "kamu", lalu perasaan itu berkembang sampai akhirnya jadilah suatu kisah yang cukup panjang. Mulai dari tahun pertama hingga tahun kelima.
Isinya bukan curhatan biasa. Selain dihidangkan dengan bahasa yang sangat indah, aku juga menemukan banyak sekali pelajaran yang memberi hikmah. Baper tapi nggak menye. Baper tapi nggak bikin galau. Beberapa kali aku merasa ada luka lamaku yang mengelupas karena baca ini, tapi kemudian langsung dilapangkan lagi oleh buku ini.
Garis Waktu seolah mengajakku untuk menjadi dewasa karena waktu. Garis Waktu seolah mengajakku dewasa karena hal-hal yang aku lalui di masa lalu.
Terima kasih bukunya. Aku suka. Aku merekomendasikan buku ini untuk kamu yang suka dengan tulisan apik, rima cantik, isi penuh dengan pelajaran menarik. Buku ini cocok juga untuk kamu yang ingin belajar dewasa, belajar memahami makna, belajar menjadi lebih terbuka.
"Kalau dia tidak bisa menghargai kesempatan baik yang kau beri, beri dirimu sendiri kesempatan untuk mendapatkan kisah yang lebih baik." Hlm. 53.
"Nyata yang menyakitkan jauh lebih baik daripada fiksi yang menyenangkan." Hlm. 57.
"Pelajari sebelum berasumsi. Dengarkan sebelum memaki. Mengerti sebelum menghakimi. Rasakan sebelum menyakiti. Perjuangkan sebelum pergi." Hlm. 133.
"Sekarang aku mengerti, di balik rencana yang gagal, tersembunyi hikmah yang indah." Hlm. 202.
Sejujurnya, saya baru kenal Fiersa Besari baru-baru ini via instagram. Beberapa pemikiran yang Bung Fiersa share, entah kenapa berasa klop, seperti bertemu jodoh *eh. Dan rasanya kurang lengkap tanpa kenal Bung Fiersa lewat karya-karyanya. Pemilihan kata-kata di buku ini bagus. Sepertinya 1 buku ini bisa di jadikan potongan quotes.
Tapi sayang, saya kurang berjodoh dengan buku ini. Seperti kurang matang, seperti membaca potongan curhat saya di tumblr berjuta tahun yang lalu (tidak seindah kata-kata Bung tentu saja. Jauuuuuh :( ). Hanya berupa potongan perasaan yang hanya bisa dimengerti dan dirasakan oleh si penulis. Pdahal saya ingin jatuh cinta juga dengan 'si dia'. Ingin membenci 'si dia' juga yang sudah menyakiti 'si aku'.
"Jika kita berjodoh, walaupun hari ini dan di tempat ini tidak bertemu, kita pasti akan tetap dipertemukan dengan cara yang lain" (Garis Waktu, hal. 13)
Semoga saya berjodoh dg karyamu yang lain, Bung.... (selanjutnya ke Catatan Juang)
mengetahui buku ini dari timeline twitter, sampai sekarang juga masih suka dengan cuitan mas ((ceilah, mas)) Fiersa ((kok keingetnya sama merk nugget)) ((maafkan)) tapi buku ini jauh dari bayangan saya sebelumnya. buat saya terlalu picisan.
isinya lebih ke perjalanan cinta, mulai dari terpesona~~~~~ ku pada pandangan pertama, pedekate, penolakan, perjuangan, bersama dan berpisah. sesuai judulnya, garis waktu. sayang, menurut saya kisahkisahnya terlalu di-sajak-kan. usul, mas Fiersa mungkin mau coba bikin novel yang benarbenar novel? sisipkan kalimatkalimatmu yang romantis bertenaga itu, namun jangan terlalu banyak begini.
Ya Tuhan....akhirnya selesai juga.... baca ini benar-benar menyiksa secara pemikiran, diselesaikan hanya karna selalu berprinsip: “selesaikan apa yang sudah dimulai” dan “jangan pernah menilai sebuah buku sebelum buku itu dibaca sampai selesai, apalagi hanya melihat dari cover”
Buku ini terlalu umum untuk saya. Meskipun author punya pandangan hidup yang berbeda dari yang lainnya, tapi cara dia mendiskripsikan atau dia berpendapat akan hal-hal yang dia alami itu sangatlah biasa, ya seperti dia memandang cinta itu apa, sahabat itu apa, orang tua itu apa, cita-cita itu apa, semua itu dia deskripsikan sama seperti orang-orang pada umumnya, ya meskipun ada satu, dua hal pendeskripsian yang membuat dia terlihat cerdas. Setelah 207 halaman saya baca, yang saya bisa simpulkan hanyalah: “bahwa mencintai tidak harus memiliki”.
Lelah sekali bukan? dari semua kalimat yang terkesan “menye-menye”, banyak pemborosan kata yang jadinya terkesan lebay, rayuan-rayuan yang buat geli, dan banyak kalimat yang kurang saya paham, dan lagi......ah sudahlah ini buku terlelah yang pernah saya baca di tahun 2018.
Untuk author terimakasih untuk karyanya dan maaf saya hanya memberikan kritik tanpa bisa memberikan saran, dan belum mampu meciptakan karya karna masih berjuang untuk keluar dari zona nyaman.
"Garis Waktu" sekilas menyerupai dokumentasi, catatan sebuah bentuk ungkapan tertulis sebuah nostalgia atau piciknya sebuah kemirisan rasa yang kandas tak berlabuh. Adalah seperti pencerminan sebuah kemantapan untuk berbesar hati, berlapang dada, mengikhlaskan sesuatu yang bukan hak genggaman kita. Ataupun juga refleksi sebuah motivasi bagi diri sendiri dan manusia lainnya yang mungkin atau kemungkinan pernah, akan, sedang, atau terjebak dalam sebuah perjalanan menghapus luka dan bangkit menuju terangnya semangat hari esok yang lebih baik.
"Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya. Kemudian, satu orang tersebut akan menjadi bagian terbesar dalam agendamu. Dan hatimu takkan memberikan pilihan apapun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata bahwa resiko dari jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa." ( hal.4)
"Garis Waktu" juga disusun dalam bentuk penulisan yang santai, namun indah dengan kalimat puitis dan selalu terselip kalimat motivasi disetiap akhir sub ceritanya, lengkap disertai foto ilustrasi hitam putih yang semakin menyentuh perasaan yang terdalam.
"Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan pegangan. Yang paling menggiurkan setelahnya adalah berbaring., menikmati kepedihan dan membiarkan garis waktu menyeretmu yang niat-tak niat menjalani hidup. Lantas, mau sampai kapan ? Sampai segalanya terlambat untuk dibenahi ? Sampai cahayamu benar-benar padam ? Sadarkah bahwa Tuhan mengujimu karena Dia percaya dirimu lebih kuat dari yang kau duga ? Bangkit. Hidup takkan menunggu." (hal.124)
"Ketika kesetiaan menjadi barang mahal. Ketika maaf terlalu sulit untuk diucap. Ego siapa yang sedang kita beri makan ? Entah.." (hal.208)
Nikmati setiap sensasi getir, manis, pilu setiap kalimat di tulisan #GarisWaktu
"Ketika orang lain memakai sepatu keluaran terbaru dan kau tetap memakai kets butut, tak perlu meminta mereka untuk mengerti. Ketika orang lain betah mengobrol di dunia maya dan kau tidak betah berlama-lama di depan telepon genggam, tak perlu meminta mereka untuk tetap mengerti. Ketika orang lain melakukan sesuatu untuk disukai dan kau melakukan sesuatu karena kau suka, tak perlu meminta mereka untuk mengerti. Ketika orang lain memilih untuk terikat dengan rutinitas dan kau memilih untuk terikat dengan kebebasan, tak perlu meminta mereka untuk mengerti. Tak perlu menyeragamkan diri dengan kebanyakan orang. Tak perlu kekinian (karena yang kekinian akan alay pda waktunya) :D Tak perlu repot-repot menyamakan diri dengan orang lain, kau diciptakan untuk menjadi unik. Sudah terlalu banyak orang yang sama seperti kebanyakan orang" - Garis Waktu, Fiersa Besari
Ini pertama kalinya aku baca buku Fiersa Besari. Udah lumayan lama aku jadi followernya di Twitter. Dan suka banget aku sama tweet-tweetnya. Sayang nggak punya bukunya, huhu. Untungnya temenku punya dan aku dipinjemin, yeay!
Entah kenapa baca ini tuh kayak baper sendiri, si "aku" ini bener-bener ngaduk perasaanku. Aku merasa sakit, sekaligus kayak dapet kekuatan gitu sih buat melawan rasa sakit itu. Kalau ini bukuku udah kutandain semua kali, hahaha. Banyak banget kalimat-kalimat yang kusuka :)))
Ini pertama kalinya aku baca buku karya Fiersa Besari. Buku nya bagus, banget, aku suka. Suka karena rangkaian kata-katanya yang indah, terlihat jujur hingga mengena ke hati. Curiga berasal dari pengalaman pribadi penulis. Ok, gaya penulisan nya bukan seperti novel yang banyak dialognya, lebih seperti tulisan curhatan gitu (maaf, belum nemu istilah yang tepat. punya masukan mungkin?). Jadi, mengalir begitu aja pas dibaca. Di setiap pergantian bab ada foto, menurut aku, yang menggambarkan isi bab selanjutnya.
Isinya tentang cinta dan melupakan. tentang aku, kamu, menjadi kita lalu terpisah. Perjalanan seseorang memperjuangkan cinta nya, bukan memaksa, yang bertepuk sebelah tangan hingga akhirnya berhasil juga. Lalu, harus rela melepas cintanya karena kehadiran orang ketiga.
Kurangnya? pasti ada. Ada satu, hanya satu buat aku ya, bagian dimana kening aku berkerut. Ini dia : Semestaku sebelum kau datang adalah konstalasi yang sistematis; mengandung stagnansi yang konservatif Well, konstalasi yang sistematis? stagnansi yang konservatif? kayak bagaimana ituuu?!?!? *bingung Maklumlah, otakku nggak begitu bisa paham sama kata-kata ilmiah begitu. hm.. mungkin ada yang bisa bantu menggambarkannya seperti apa?
Quote favorite? ada... banyaaaak malah, sampai bukunya warna-warni karna aku kasih bookmark. Salah satunya : Mereka menyukaimu karena tampangmu. Aku menyukaimu karena pemikiranmu. Wajah akan menua, tapi otak akan mematang.
Akhir kata, buku ini recomended banget buat kamu yang masih gagal move on atau buat kamu yang udah ngaku move on tapi masih aja sering stalking timeline facebook mantan. Dibaca sore-sore, sambil ngopi atau nge'teh', selonjoran kaki di atas kursi sambil diiringi suara rintik-rintik hujan. Mantap itu sepertinya. Selamat melakukan perjalanan, perjalanan menghapus luka.. pada akhirnya, jemari akan menemukan genggaman yang tepat, kepala akan menemukan bahu yang tepat, hati akan menemukan rumah yang tepat
[ulasan ini bersifat subjektif. you've been warned.]
Akhirnya saya menyelesaikan buku dengan ketebalan 207 halaman ini! Jujur aja, saya kaget karena butuh waktu hampir sebulan untuk menyelesaikan Garis Waktu.
Pertama-tama, saya suka banget sama kovernya. Dude, white is my kind of aesthetic color!
Namun, saya harus dibuat agak kecewa lagi sama ekspektasi tinggi saya terhadap buku yang saya baca. Oke, ekspektasi saya emang nggak tinggi-tinggi amat, tapi saya berpikir mungkin akan menyukai buku ini.
Yah, saya memang menyukainya sih. Saya menyukai gaya penulisan Fiersa Besari yang puitis. Tapi di sisi lain, emosi yang coba disalurkan malah nggak nyampe ke saya.
Lalu... hmm, ini pendapat subjektif sih. Tapi menurut saya buku ini terlalu "romantis". Oke, saya sebenernya suka suka aja sama cerita romantis, tapi kadar keromantisan di buku ini terlalu banyak. It's just too much for me, sorry. 😂
Nggak berarti buku ini buruk, ya. Tapi ya memang bukan my cup of tea. Hehe.
Suka dengan bukunya. Sekali lahap. Ringkas. Manis. Tetapi, isinya benar-benar mencurahkan hati si penulis.
Apalagi kalau sudah ditemani karya lagu ciptaan si penulis sendiri, dua album; Tempat Aku Pulang dan Konspirasi Alam Semesta. Sajiannya berasa lengkap; musik di telinga, kisah di depan mata. Ini seperti menikmati buku serupa milik Dee.
Seandainya beberapa "curahan hati" bisa menunjukkan secara spesifik pada bagian lagu yang mana, bisa kian sempurna. Hanya beberapa bagian tulisan yang saya tahu melahirkan lagu yang mana. Sisanya, saya harus menebak-nebak. Sesekali membalik kembali ke halaman sebelumnya dan memutar lagunya.
Bagi yang suka banyak kalimat indah nan bijak, ini bisa jadi satu rekomendasi. Apalagi bagi orang-orang yang pernah sukarela jatuh ke dalam lubang cinta, dan tak tahu lagi caranya sembuh dari patah hati.
"Di langit yang engkau tatap, ada rindu yang aku titip."
Buku ini terlalu puitis. Bukan pula dalam bentuk cerpen. Jadi, kalau dibaca dalam sekali waktu bisa cepat merasa jenuh. Tapi buat saya ini cocok dibaca buat mereka yang ingin nostalgia masa-masa remaja tanpa merasa alay :p
Buku ini menceritakan bagaimana seseorang mulai mengenal seorang wanita. Lalu memadu kasih. Dan akhirnya ia harus rela melepaskan. Banyak quotes yang menginspirasi. Tak hanya tentang cinta, namun buku ini juga menyuguhkan rentetan kata untuk kita sebagai anak, peraih cita cita, dan pengingat diri
Di antara perjumpaan dan selamat tinggal, kau dan aku pernah menjadi kita (halaman 9). Ternyata (hampir) sebagian besar isi buku ini pernah saya baca di twitnya Fiersa. Mungkin karena faktor inilah, efek 'surprised'nya kurang saya rasakan. Buku ini berisi kisah tentang seseorang dengan (wanita) pujaan hatinya, mulai dari perjumpaan hingga perpisahan. Pada sebuah garis waktu, mereka dipertemukan. pada sebuah garis waktu juga akhirnya mereka harus berpisah. Hal pertama yang mendorong saya membeli buku ini adalah: karena penulisnya Fiersa Besari! Saya mengenal nama ini sejak pertama kali mengenal Revolvere Project (Kau yang Mengutuhkan Aku). Buka saja di youtube. Bagus. Saya jatuh hati. Hal kedua yang membulatkan tekad saya mengambil buku ini dari rak di Gramedia adalah sampulnya. Saya suka sekali dengan warna putih dan desain minimalis. Jika keduanya digabungkan, maka akan menjadi magnet yang kuat untuk saya. ha! Untuk saya pribadi, buku ini manis sekali. sangat manis sampai-sampai saya gak kuat menghabiskannya sekaligus. Karena kalau memaksakan menghabiskannya sekaligus, saya akan bosan (pokoknya persis banget makan cake cokelatnya Harvest deh). Berarti bukan karena gak bagus ya, tapi karena untuk saya ini berlebihan manisnya, makannya harus sedikit sedikit biar tetap bisa menikmati. Tahu sendiri Fiersa puitis dan pandai merangkai kata-kata. Tapi ternyata ketika semua isi buku berupa kalimat puitis, saya tidak terlalu suka. Entahlah, mungkin karena saya merasa sudah bukan masanya ya merasakan yang picisan picisan gitu wkwk. Melihat beberapa review lain, ternyata banyak kok yang begitu 'into' buku ini. Bukan page turner book bagi saya, tetapi tentu saja suatu hari nanti ini salah satu buku yang akan saya buka untuk dibaca-baca kembali. Oh ya, di akhir buku pembaca mendapatkan lagu "Garis Waktu" yang bisa didownload setelah men-scan QR code. Saya sendiri cukup suka dengan lagu-lagu Fiersa.
Ulasan ini diikutsertakan dalam Tantangan Resensi @lima_alinea
◤━━━━━━━━━━━◥
Buku ini mengisahkan perjalanan menghapus luka. Oh, tetapi bukan dengan pepatah-pepatah maut, melainkan dari hal yang dekat dengan kehidupan kita. Ya, luka diawali dengan kenangan yang manis nan hangat. Aku sempat merasa takut untuk melanjutkan buku ini, karena kukira aku akan semakin terperosok disaat seharusnya aku bangkit.
Sepenggal cerita ini bermula dari kedatangan seorang laki-laki yang tak henti mengagumi wanita yang bukan miliknya. Ketika raga dan hatinya dapat dimiliki, tinggal bagaimana dapat mempertahankan rasa tersebut. Butuh komitmen, kepercayaan, dan kesabaran. Sabar dengan tingkah lakunya, juga saat mimpi-mimpi itu dipandang sebelah mata oleh orang lain. Disela romansa, tentu ada kisah persahabatan, keluarga, dan makna hidup.
Selayaknya catatan kehidupan seseorang, setiap chapter ini ditandai dengan Bulan dan tahun. Perjalanan berisikan manisnya angan-angan, hingga pahitnya kekecewaan. Kita bisa melihat bahwa ada kemarahan yang terbalut dalam cerita ini. Kemudian berganti menjadi sebuah intropeksi diri, "𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶? 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱𝘢𝘯𝘬𝘶?". Kenangan-kenangan yang muncul memang menyakitkan. Tetapi sama seperti tokoh disini, kita jadi banyak belajar. Salah satunya, menghargai kenangan.
Banyak renungan dan filosofi yang bisa diselami dalam buku ini. Yang paling menarik bagiku, ketika membahas titipan Tuhan. "𝘒𝘦𝘴𝘶𝘬𝘴𝘦𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘵𝘪𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵𝘢𝘯". Ini menjadi cara menghargai martabat luhur yang dimiliki setiap insan, seperti diskusi dengan seorang suster tempo hari.
Terakhir, buku ini mengandung banyak permainan kata. Setiap kata bukan hanya sebatas metafora/pengandaian terpisah, tetapi bagaimana kata tersebut bisa menghidupi perasaan tokohnya.
Walaupun dilabeli "kumpulan cerita" di sampulnya, aku lebih suka menyebut buku sejenis Garis Waktu ini sebagai kumpulan prosa. Tipe buku yang kalau dibaca remaja perempuan, akan membuat bibir mereka ditarik sedikit ke atas. Senyum-senyum gemashhh, saking banyak kalimat manisnya.
"Tidak perlu bersama selamanya. Selamanya itu terlalu lama. Seumur hidup saja. Untukku, itu sudah lebih dari cukup."
Uwuwuuw~
Sebetulnya aku paham kalau buku ini isinya prosa bebas, kontemplasi penulis, curahan hati tentang berbagai hal. Yang agak sulit kupahami, dari deretan diksi dan kalimat puitis yang dipakai Fiersa Besari, ada kalanya terdengar disonansi. Seperti menulis kata "chat" dikursif alih-alih memakai padanan "obrolan" biar sedap dibaca. Malah ada juga "mention-mentionan" .... kata puitis macam apa itu!
Tapi setidaknya tulisan-tulisan Bung Fiersa di sini lebih bertenaga dibanding prosais lain yang suka menempatkan diri sebagai korban dari kisah patah hati yang ditulisnya.
Membaca Garis Waktu adalah perjalanan menemukan, mencintai, memahami dan melepaskan. Saya suka cara berpikir tokoh "Aku" di buku ini. Sudut pandang yang dipakai dalam melihat dan merangkai sebuah kata menurutku hal yang baru. Diksi dan permainan rima yang digunakan menurutku sangat ramah "sosial media". Sepertinya memang sudah hal yang di sengaja kata-kata dalam buku ini di susun supaya mudah di capture lalu di upload di insta story. Atau supaya kata-katanya mudah dikutip lalu di jadikan status untuk menyinggung mantan yang sudah meninggalkan.
Bagaimanapun, Garis Waktu seperti yang dikatakan sampulnya adalah sebuah "Catatan Perjalanan Penghapus Luka" bagi anak remaja yang baru mengenal buku bacaan, mungkin membaca buku ini adalah sebuah perjalanan yang luar biasa puitis. Bagi saya sendiri terkesan biasa-biasa saja. Bahkan menurut saya buku ini terlalu dipaksakan untuk di jadikan narasi sebuah cerita. Membaca Garis Waktu seperti membaca puisi yang bersambung-sambung.
"Aku, biarlah seperti bumi. Menopang meski diinjak, memberi meski dihujani, diam meski dipanasi. Sampai kau sadar, jika aku hancur.. Kau juga" Hal 137
Tersenyum, terdiam, perih dan sesekali mengernyitkan dahi. Itu beberapa dari sekian emosional yang keluar saat membaca buku ini.
Ah.. Begitulah pria sastra selalu berhasil membuat suasana hati turun naik.
Kalau dibilang curahan hati, buku ini memang isinya curahan hati. Tapi saya menemukan banyak motivasi dalam buku ini. Tak hanya tentang kesedihan dan kerapuhan. Banyak juga pesan moral yang saya ambil pada bait-bait tulisannya.
Proses demi proses dipaparkan secara jujur. Disajikan begitu ringan. Namun penuh makna. Selamat atas karya yang tak sekedarnya ini.
Bagaimana ya... sebenarnya saya terlalu terkecoh dengan review milik orang lain yang bilang buku ini bagus. Mungkin karena ekspetasi yang berlebih itu sehingga harapan saya pada buku inipun tinggi. Namun saat membacanya hal yang terbersit malah "hmmm... kok gini banget". Ceritanya standar sih perjalanan cinta dari pendekatan sampai ke tahap melepaskan, kemudian dibumbui dengan penceritaan yang dibuat serba puitis. Malah karena terlalu puitis kadang jadi terkesan dipaksakan, dan bukunya jadi terkesan picisan dan menye. Well mungkin karena buku pertama, sepertinya penulis masih mengembangkan gaya penulisannya. Semoga untuk karya selanjutnya akan jauh lebih baik.
Wah! Buku pertama Fiersa Besari yang bisa dikatakan bahwa buku ini tak jauh dari 3 album lagunya yang sudah rilis. Penulis hebat dalam menggunakan kata-kata, selain menambah wawasan, buku ini juga mendidik dan memotivasi dalam hal apapun, tidak hanya masalah cinta, namun cita-cita, menyayangi orangtua, dan masih banyak lagi. Penulis sendiri saat berkata lewat aksara maupun secara visual, rangkaian kata yang disuarakannya tidak seperti dibuat-buat, seolah memang sudah jalan hidupnya mengeluarkan kata-kata yang jenius, menurut saya.
Tertarik dengan penggalan tulisan puitisnya ..."Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada titik-titik kenangan tertentu" ... membuat saya memutuskan membeli buku karya Fiersa Besari.
Membaca tulisan dan petikan puitisnya hingga halaman 125 terasa membosankan dan memerlukan waktu untuk meneruskan membaca tulisan Fiersa. Barulah di halaman 127 hingga akhir, tulisan-tulisannya membuat saya terusik dan merenung.
Saya tidak pernah mengikuti cuitannya, tetapi format bercerita tentang perjalanan batinnya, patut diacungi jempol
Tadinya aku pikir isinya apa, aku pikir ini tentang menghapus luka yang lain, aku pikir ini tentang sebuah perjalanan yang lain. Tapi ternyata, ini menyoal tentang mengejar cinta, bertepuk sebelah tangan, patah hati, dan move on. hahahaha. Salah satu topik buku yang aku agak hindari untuk dibeli... Tapi apresiasilah sama bahasanya, entah kenapa gaya bahasanya mengingatkan aku sama diriku yang kaku. maybe 2.5 out of 5 stars
akhirnya selesai baca buku ini. bagi yang suka cerita dibalut puisi, nuansa romantis, mungkin akan menyukai cerita yang dibawakan Fiersa Bersari. Tapi bagi saya yang kurang menyukai hal-hal romantis agak kesusahan dalam menyelesaikan buku ini.
"Ketika kau melakukan usaha mendekati cita-citamu, di waktu yang bersamaan cita-citamu juga sedang mendekatimu. Alam Semesta bekerja seperti itu." (Hlm. 107)
Ini buku Fiersa Besari lainnya yang akhirnya saya baca. Garis Waktu terbit jauh sebelum Konspirasi Alam Semesta terbit. Namun, pada waktu itu saya lebih tertarik membeli buku Konspirasi Alam Semesta terlebih dulu karena kepincut sama judulnya yang estetik dan nyastra abis. Entah kenapa akhir-akhir ini saya suka sekali melihat buku dari judulnya.
Sejak jatuh cinta pada buku Konspirasi Alam Semesta, saya juga jadi jatuh hati pada penulisnya. Bagi saya dia salah satu penulis, penyair, dan penyanyi yang punya kelas tersendiri di dunia seni. Kalimat-kalimatnya di media sosial selalu punya sense of sastra yang apik yang bikin saya selalu ingin meretweet ataupun merepost-nya. Baru-baru ini saya tahu kalau dia ternyata memang lulusan sastra.
Garis Waktu punya sampul berwarna putih yang sederhana. Deretan gambar di sampulnya punya kaitan dengan cerita di dalamnya. Ada banyak cerita yang Bung Fiersa suguhkan di dalam buku ini dan tentunya dilengkapi dengan gambar. Selain sampul, yang saya suka dari buku ini adalah pembatas bukunya yang punya ukuran sebesar kartu pos. Kenapa? Nggak tau kenapa, ya saya suka aja.
Menggenapi rasa penasaran, setelah membaca prolognya, ternyata buku ini bisa dibilang sebagai semacam memoar cinta dari si penulis. Ia bilang kalau tulisan di dalam buku ini dikumpulkan dari catatan-catatan yang berserakan di media sosial pribadinya. Setelah tambal sana sini—menambahkan ini itu—akhirnya buku Garis Waktu bisa diterbitkan dengan sebuah kisah utuh soal perjalanan waktu... dan cinta.
"Menaruh hati di atas ketidakpastian sikap sama saja dengan menaruh tangan di atas tangan seseorang yang sama sekali tidak ingin menggenggam." (Hlm. 49).
Bagi sebagian orang, bentuk buku berupa memoar semacam ini bisa jadi terasa membosankan. Terlebih di dalamnya hanya ada tokoh "aku" dan "kamu" tanpa dilengkapi dengan nama. Seolah-olah memang cerita ini merujuk pada si penulis dan si perempuannya. Atau lain hal, cerita ini bisa jadi dirasakan oleh siapapun yang menjadi "aku" di luar sana. Baiknya, buku ini tidak perlu repot memikirkan nama tokoh yang harus mempunyai karakter. Cukup dari tokoh "aku" dan "kamu" saja karakter bisa tergambar dengan sendirinya.
Bagi saya, buku Garis Waktu terasa menyenangkan. Membaca tulisan Bung Fiersa sudah seperti mendengarnya bicara. Saya jadi ingat kata-kata Mbak Pungky soal blogging (beda konteks, tapi hampir sama), "Tulislah kayak kita lagi ngomong sama orang. Jadi orang bacanya pun kayak lagi dengerin kita ngomong". Dan itu berlaku buat tulisan Bung Fiersa di buku ini. Setiap kali membaca satu cerita, di beberapa paragraf saya seperti merasa dia sedang berbicara pada saya.
"Sebenar-benarnya cemburu yang menyakitkan adalah cemburu pada seseorang yang tidak peduli akan perasaan kita." (Hlm. 32).
Bung Fiersa selalu menggunakan bahasa sederhana. Sesekali menggunakan majas yang membuat tulisannya makin berwarna. Nggak heran, ini pelajaran sehari-hari yang dia dapat di jurusan sastra, mungkin. Tulisannya rapi, dalam artian logika kalimatnya teratur, sehingga apa-apa yang saya baca mudah sekali dimengerti tanpa harus mengerutkan dahi terlebih dahulu. Penggunaan majasnya pun cukup sederhana.
Lalu, apa lagi, ya?
Oh, ya, meski di awal Bung Fiersa bilang kalau tulisan ini adalah karyanya yang tersebar di dalam media sosialnya, saya masih belum menyakini apakah ini fiksi atau bukan. Atau mungkin... ini adalah kehidupannya yang difiksikan? Bisa jadi.
Sejauh ini, saya teramat jatuh hati pada tulisan Bung Fiersa dimanapun itu. Khusus untuk buku Garis Waktu, saya menyukainya karena ia memberikan gambar di setiap awal mula ceritanya. Hampir mirip dengan buku kumpulan cerita Hidup Berawal Dari Mimpi milik Fahd Djibran dan BondanF2B dulu itu. Yang membedakan hanyalah quotes yang diselipkan di setiap akhir cerita yang bisa dikutip siapapun. Bagi saya, ini cukup menyenangkan karena saya sangat-sangat suka dengan kata-kata Bung Fiersa.
"Karena... aku menyayangimu tanpa 'karena'" (Hlm. 85).
Buku Garis Waktu memang benar-benar perjalanan cinta di sepanjang waktu kehidupan. Mulai dari tahun pertama hingga berakhir di tahun kelima yang penuh dengan lika-liku cinta; pertemuan, jatuh cinta, kesedihan, kegembiraan, kebahagiaan, kepatahhatian, hingga mengikhlaskan seseorang. Sebuah fase umum ketika seseorang mulai membuka diri dan perasaannya untuk orang lain. Garis Waktu memberitahu kita kalau waktu terus berjalan, sesulit apapun atau seindah apapun hidup kita. Benar begitu?
Novel yang tercipta berawal dari tulisan secara sporadis di media sosial yang kemudian dikumpulkan hingga menjadi sebuah karya yang memiliki alur cerita untuk dinikmati para pembaca. Novel ini secara garis besar berisi tentang masa perkenalan, kasmaran, patah hari, hingga pengikhlasan, namun juga tak jarang banyak diselipkan tentang dimensi humanisme, spiritualitas dan sosial. Yang menarik dari novel ini adalah makna dalam setiap pemilihan kata dan sudut pandang dalam menilai suatu problema menurut saya dengan movitasi optimistik yang tinggi, di beberapa kalimat kadang juga terkesan altruistik yah..hehe Pengarang novel ini yang akrab disapa Bung Fiersa, awalnya saya hanya tau sebatas dari konten youtube-nya tentang pendakian yang bertema petualangan, narasi yang digunakan dalam konten tersebut juga rapi, penuh makna diselingi canda namun tak lepas dari eseni pesan yang ingin diutarakan. Loh2..ternyata sudah 6 karya tulisan yang sudah diterbitkan, luar biasa, gak main-main ternyata kalo urusan karya.
Saya tidak terlalu berfokus pada dialektika tokoh dalam novel ini, namun lebih kepada bagaimana sikap yang diambil dalam setiap kondisi yang dialaminya serta cara meluapkannya kedunia nyata..hehe, dalam novel ini banyak kalimat-kalimat menarik yang kadang sering kita ucapkan dengan maksud yang sama namun diucapkan dengan kalimat yang berbeda dan jauh lebih dalam...hehe, menarik sekali untuk dicerna lebih dalam dalam untuk menambah pengejawantahan makna dalam hidup.
Thanks Bung! Terus Berkarya, Salam Literasi, Salam Lestari, Melaporkan dari atap Negeri.....Eh Salah..hehehe ^_^
Kutipan: "Hidup adalah serangkaian kebetulan. "Kebetulan" adalah takdir yang menyamar"-Hal:9 "Perasaan" laksana hujan; tak pernah datang dengan maksud yang jahat. Keadaan dan waktulah yang membuat kita membenci kedatangannya"-Hal:21 "Menyangimu sangatlah mudah, aku bisa melakukannya berulang kali tanpa pernah merasa bosan. Yang sulit itu cara menunjukkanya"-Hal:25 "Tak Perlu repot-repot menyamakan diri dengan orang lain, kau diciptakan untuk menjadi unik. Sudah terlalu banyak orang yang sama seperti kebanyakan orang"-Hal:28 "Rasa yang tidak terbatas takkan mempermasalahkan ketika tidak berbalas"-Hal:37 "Nyata yang menyakitkan jauh lebih baik dari fiksi yang menyenangkan"-Hal:57 "Adalah sejarah yang membuat masa depan belajar menghargai"-Hal:63 "Rasa" hanya mengikat tanpa pernah mengekang"-Hal:65 "Bahasa terindah adalah keheningan. Huruf terindah adalah kerinduan"-Hal:67 "Sebuah kebahagiaan tidak membutuhkan penilaian orang lain"-Hal:80 "Karena...aku menyayangimu tanpa "karena"-Hal"85 "Aku tidak lahir ke bumi ini sekedar menumpang lewat. Titik kecil ini menandai eksistensiku sebagai manusia"-Hal:104 "Kakimu bisa kautaruh di tempat tertinggi, tapi apakah hatimu bisa kautaruh di tempat terendah?"-Hal:119 "Pelajari sebelum berasumsi. Dengarkan sebelum memaki, Mengerti sebelum menghakimi. Rasakan sebelum menyakiti. Perjuangkan sebelum pergi"-Hal:133 "Takkan mulia kau menunggu permintaan maaf. Takkan hina kau meminta maaf terlebih dahulu"-Hal:141 "Ketika kata maaf terlalu sulit untuk diucapkan, ego siapa yang sedang kita beri makan?"-Hal144 "Tidak ada yang abadi, baik bahagia maupun luka. Suatu saat kita akan tiba di titik menertawakan rasa yang dulu sakit atau menangisi rasa yang dulu indah"-Hal:159 "Terkadang, pertemuan dan perpisahan terjadi terlalu cepat. Namun, kenangan dan perasaan tinggal teralu lama"-Hal:163 "Bisa bertambah tua dibarengi pemikiran yang dewasa, jiwa yang muda, dan imajinasi yang kekanakan adalah hal yang sangat menyenangkan"-Hal:170 "Kalau tidak bisa dinikmati kisahnya, nikmati rasanya. Kalau terlalu menyakitkan petih hikmahnya"-Hal:175 "Ubah apa yang masih bisa diubah, lepaskan apa yang sudah tidak bisa diubah"-Hal:177 "Kehidupan memberikan pelajaran di setiap langkah yang kita ambil. Tidak semua pelajaran menyenangkan"-Hal:178 "Cinta takkan pernah habis meski wujud telah habis"-Hal187 "Semua akan berujung pada: meninggalkan atau ditinggalkan, menangisi atau ditangisi. Semoga kita bisa lebih menghargai waktu"-Hal187 "Gunung tidak diciptkan untuk memuaskan harga diri kita. Ia diciptkan agar kita lebih merunduk dan merendahkan hati"-Hal:189 "Beberapa orang tinggal dalam hidupmu agar kau menghargai kenangan. Beberapa orang tinggal dalam kenangan agar kau menghargai hidupmu"-Hal:203