Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ninevelove: Hanya untuk Satu Orang, Hanya untuk Kamu

Rate this book
Jika cinta bisa tumbuh tanpa alasan, bisakah kebencian juga lahir tanpa alasan? Karena kebencianku padanya sudah bulat dan berkeping-keping bahkan sebelum aku mengenalnya.

Aku tak tahu kenapa laki-laki berbadan kurus ceking itu tak pernah membuat hidupku tenang. Selalu ada saja ejekan dan celaan yang membuat gundukan kebencianku semakin tinggi dan siap meletus kapan pun ia mau. Ya, Joven Sayoeti Chaniago—wartawan junior Majalah Cakrawala sekaligus rekanku di Tinta Kampus—seakan tak rela melihatku bahagia dengan senyum mengembang di pipi.

Aku pun merawat dengan baik kebencian itu. Menyiramnya dengan ledekan juga tawa puasnya, agar suatu hari nanti aku bisa membalasnya. Namun, saat pohon kebencian itu tumbuh dan berbuah, aku benar-benar tercengang. Tak kudapati bara di dalamnya. Hanya candu yang membuat aku terikat, hingga aku tak bisa melepaskan diri darinya.

344 pages, Paperback

First published September 6, 2016

13 people are currently reading
131 people want to read

About the author

J.S. Khairen

18 books689 followers
Usahakan baca minimal 1 fiksi, dan 1 non-fiksi setiap bulan. Fiksi untuk hati, non-fiksi untuk kepala.

Ini juga pesan untuk kawan-kawan yang mencoba merintis jadi penulis. Jika ada yang menganggap karyamu baik, maka syukuri dan jangan terlalu terbang. Rekam itu di ingatan, jadikan dorongan untuk memberi dampak dan membawa pesan-pesan yang seru dan penting.

Jika rupanya ada yang tak suka, memberi kritik, saran, itu tak masalah. Beberapaa kritik malah bisa jadi pelontar yang ampuh untuk karyamu berikutnya. Lagi pula, orang sudah keluar uang untuk beli karyamu, masa mengkritik saja tidak boleh. Selama sesuatu itu karya manusia, pasti ada saja retak-retaknya.

Lain cerita jika menghina. Memang benar tak harus jadi koki untuk bisa menilai satu menu masakan itu enak atau tidak. Namun cukup jadi manusia untuk tidak menghina makanan yang barang kali tak cocok di lidahmu, kawan.

“Karya yang terbaik adalah karya yang selanjutnya.” Bisik seorang sahabat. “Tulislah sesuatu yang bahkan engkau sendiri akan tergetar apabila membacanya.” Sambung sahabat yang lain.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
27 (31%)
4 stars
30 (34%)
3 stars
24 (27%)
2 stars
5 (5%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for Aya Murning.
162 reviews22 followers
October 7, 2016
Full review + giveaway 1 copy Ninevelove
click link below (deadline: 09 Oct 2016)
https://murniaya.wordpress.com/2016/1...

Di fakultas ekonomi sebuah kampus, tiada hari tanpa pertengkaran Dewi dan Joven. Dewi selalu tidak terima dan marah ketika Joven menjadikannya bahan guyonan dan ejekan. Dewi merasa Joven membencinya, maka dari itu ia juga lebih lagi membenci Joven dengan segenap jiwa dan raga. Sebagai lelaki, tingkah Joven yang seperti itu seharusnya hanya masuk kategori usil, tetapi tidak bagi Dewi. Ia sudah terlanjur sentimen dengan lelaki tinggi nan dekil itu. Kalau bisa, ia tak usah dekat-dekat apalagi bertemu dengan Joven.

Di sisi lain, mata Dewi tak pernah lepas dari Guruh. Ia menyimpan nama Guruh dalam hatinya. Ia juga selalu peduli pada Guruh, terlebih karena mereka adalah junior di satu divisi yakni Divisi Jurnalistik di organisasi Tinta Kampus dan bekerjasama membuat artikel tentang pemilu Mapres untuk kampus mereka. Suatu kejadian memalukan menghantam kubu Tinta Kampus karena keteledoran Dewi dan Guruh yang telah membuat dan menyebarkan artikel tentang pemilu Mapres dengan isi yang tidak kompeten. Hal itu membuat banyak mahasiswa lain yang membacanya justru melaporkan mereka pada Gleny–ketua Divisi Jurnalistik–dan kepada Riando–ketua umum Tinta Kampus–hingga ia naik pitam.

Saat Dewi dan Guruh dipanggil untuk ‘disidang’ lantaran keteledorannya tersebut, tak disangka sama sekali oleh Dewi bahwa ada Joven duduk anteng di antara semua anggota dan kandidat pemilu di ruang Tinta Kampus tersebut. Mengapa dia ada di sini? Ada kepentingan apa? Memangnya siapa dia? Anggota Tinta Kampus saja bukan!

Kejadian itu bisa dibilang menjadi awal turning point bagi Dewi kepada Joven. Terbongkar pula kenapa Joven bisa berada di tengah ‘sidang’ anggota Tinta Kampus: karena Joven adalah wartawan junior di Majalah Cakrawala–majalah senior yang sudah sangat terkenal di Indonesia. Namun karena hal itu tak lantas begitu saja membuat Dewi begitu langsung bisa berbaikan dengan Joven. Hingga akhirnya Riando menawarkan–atau lebih tepatnya menyuruh–Joven untuk gabung saja dengan Tinta Kampus karena kemampuan dan idenya yang cemerlang saat memberi solusi pada ‘sidang’ Dewi dan Guruh. Riando merasa Tinta Kampus butuh orang seperti Joven. Hal ini tentu saja tidak diamini oleh Dewi, bahkan Dewi juga dapat dukungan dari Gleny yang tidak mau jika Joven bisa langsung masuk begitu saja ke organisasi tersebut. Nampak sekali Gleny tidak suka pada Joven sejak awal.

Joven sebenarnya malas untuk bergabung, apalagi dia sudah punya kerjaan yang levelnya jauh di atas organisasi Tinta Kampus. Tetapi ada hal lain yang membuatnya bersedia menerima tawaran Riando. Itu karena Dinda, si adik tingkat yang mau bergabung juga di Tinta Kampus. Joven telah mengamatinya sejak pandangan pertama dan Joven langsung suka pada Dinda. Ia ingin mendekati Dinda, maka cara terbaik adalah dengan menjadi anggota Tinta Kampus juga.

“Pipi dan hidung kamu boleh aku petik gak? Buat jadi gantungan kunci nih. Boleh, ya?” — Joven (hlm. 167)

Setelah mereka berdua resmi menjadi anggota Tinta Kampus, Joven dan Dinda makin akrab saja sejak hari pertama. Rencana Joven untuk mendapatkan Dinda tinggal menunggu waktu yang tepat saja karena Dinda pun terlihat sangat terbuka menerima kehadiran Joven yang selalu berusaha berada di sisinya. Tetapi, siapa sangka kalau hubungan mereka ternyata ada yang tak merestui.

Siapa? Mengapa? Bagaimana kelanjutan nasib hubungan mereka?

***

Untuk hal perseteruan hingga keakraban persahabatan mereka satu sama lain, itu tidak usah diragukan lagi. Segala interaksi mereka sanggup membuatku tersenyum bahkan tertawa. Hanya saja untuk bagian romannya kurang ambil bagian. Sekali pun itu dari Joven dan Dinda. Sikap mereka justru lebih mirip seperti kakak adik yang saling mengisengi ketimbang sebagai dua sejoli yang memadu kasih.

Saya berharap si penulis dapat lebih memperkaya bagian roman ini karena tetap saja novel ini masih mengangkat unsur cinta terhadap lawan jenis. Kalau untuk Joven dan Dinda, mungkin itu karena memang bawaannya karakter si tokoh yang suka absurd dan saling usil sehingga cita rasa romannya tidak begitu jelas di antara mereka. Tetapi kalau menilik di bagian ending, bagi saya masih kurang ‘nendang’. Mengapa langsung diakhiri seperti itu saja?

Kesan

• Segala sajak puitis dan narasi indah yang Uda Jombang tulis, itu sudah jadi nilai plus plus plus dari saya. Uda juga dengan sangat telaten mendeskripsikan segala hal yang ada pada organisasi Tinta Kampus dan lika-liku kepengurusannya sehingga saya sangat paham dengan jalan cerita yang dimaksudkan. Bagian yang menyangkut Tinta Kampus termasuk bagian yang saya suka karena Uda mampu membangun emosi dan konflik yang sangat realistis di sana. Entah ini murni fiktif atau memang diangkat dari kehidupan nyata yang pernah Uda alami di kampus?

• Soal beda pendapat penyebutan onde-onde dan klepon antara Joven dan Dewi di halaman 156-158, itu salah satu intermezzo yang menarik–setidaknya untukku sendiri. Sebenarnya saya memihak pada Dewi. Dewi menyebutnya klepon, sementara Joven ngotot itu onde-onde. Karena saya orang Palembang, saya juga nyebutnya klepon lho, sementara onde-onde itu adonan yang isinya kacang dengan baluran wijen di luar lalu digoreng. Bahkan ada juga yang jual namanya onde-onde mini karena ukurannya hanya sebesar ujung jempol tangan. Tapi, Dinda kan ada juga juga di situ dan ia berasal dari Palembang, mengapa Dinda nggak protes dengan kengototan Joven? Justru Dinda juga menyebutnya onde-onde. Harusnya dia juga tahu soal perbedaan penyebutan ini untuk di daerah lain seperti di daerah asalnya.

• Salah satu hal yang saya suka membaca fiksi dari penulis lelaki adalah saya jadi lebih tahu bagaimana dunia lelaki pada sehari-seharinya. Apalagi di sini ceritanya sangat ‘anak muda’ dan segala tetek bengek tentang lelaki seperti obrolan, umpatan, banyolan khas lelaki juga ada. And those jokes are very entertaining!Beda sama penulis wanita yang jarang sekali mengangkat dunia keseharian lelaki. Yang pasti hal yang saya tangkap adalah para lelaki paling males bahas soal wanita dengan siapa pun, bahkan sahabat sendiri–itu pun kalau nggak penting-penting amat. Berbanding terbalik dengan wanita, seperti pada POV Dewi dan Dinda, di mana mereka sering curhat soal lelaki–meski baru jadi lelaki idaman–kepada teman dan ibunya. Tapi, saya salut untuk yang satu ini. Uda Jombang mampu mengangkat keseharian Dewi dan Dinda serta mengorek isi hati mereka dengan penuturan yang sangat mulus. Nampak sekali sepertinya Uda Jombang pandai mengerti isi hati wanita. Benarkah?

Kritik & Saran

Berhubung ini pertama kalinya saya baca karya Uda Jombang, saya nggak punya banyak kritik atau saran karena saya sudah sangat menikmati kisah mereka. Tetapi, seperti yang sudah sempat saya singgung di bagian chemistry dan ending novelnya, alangkah lebih baik kalau di bagian akhir bisa menyuguhkan sesuatu yang lebih berkesan bagi pembaca. Yang sudah ada ini bukannya jelek, hanya saja masih kurang ‘dalam’ meninggalkan jejak akhir di benak saya tentang para sekawan ini.

P.S.: review selengkapnya bisa dibaca di blogku, link-nya ada di atas. :)
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
October 4, 2016
J.S. Khairen
Ninevelove
Gramedia Pustaka Utama
344 halaman
7.0

Ikuti blogtour + giveaway di sini untuk mendapatkan satu set Ninevelove secara harates alias gratis.

Kehidupan berorganisasi saat sedang berkuliah memang menyenangkan ketika kita semua bisa bebas beropini dan mengemukakan pendapat dan ide yang keren dan idealis, tanpa takut apa pun karena perlindungan tembok kampus. Meskipun saya kuliah di institut teknik, terkadang saya terkejut dengan pemikiran-pemikiran anak teknik yang ternyata terkadang masih peduli (itu mungkin juga karena adanya anak seni nan kunst yang memiliki pola pikir yang begitu luar biasa) dengan urusan nonakademis. Saya sendiri sewaktu kuliah ikut radio kampus dan, boy I assure you, meskipun kelihatan seperti sekumpulan pelawak, orang-orang radio ternyata sangat kritis dan peka terhadap isu-isu kampus dan terkini. Ketika sekarang saya bekerja di bidang media (agensi wkwk), saya teringat perkataan teman saya dari Filipina, "We're working from the powerful side of the world." Saya mengamininya. Media is indeed powerful.

Mungkin itu juga yang dirasakan oleh Dewi, Guruh, Joven, dan Dinda, keempatnya anggota Tinta Kampus, organisasi jurnalistik di fakultas mereka. Menyadari bahwa media adalah sesuatu yang powerful membuat Tinta Kampus sendiri terkesan menjadi organisasi yang serius. Tapi apalah organisasi serius jika mahasiswa adalah penggeraknya, pasti akan hal-hal konyol yang terjadi. Dan itu juga yang terjadi di Tinta Kampus dalam Ninevelove, karya J.S. Khairen, yang sebelumnya sempat membukukan kisah perjalanan mahasiswa Rhenald Khasali dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor. Tentu tidak mengherankan ketika Khairen menyelipkan perintah Rhenald Khasali untuk pergi ke luar negeri bagi para mahasiswanya di Ninevelove ini.

Tapi membaca Ninevelove terasa seperti nostalgia bagi para orang yang sudah lulus dari dunia perkuliahan dan juga menjawab mimpi-mimpi orang yang membayangkan bagaimana kehidupan perkuliahan. Melalui adegan-adegan di Tinta Kampus, saya tiba-tiba saja merindukan kehidupan saya di radio kampus dulu yang luar biasa menyenangkan. Saya juga rindu kehidupan akademis kampus, yang meskipun melelahkan, tetapi tidak semelelahkan kehidupan nyata. Meskipun saya tidak merindukan kehidupan asmara (because I don't have any, zero, nada, zilch), Ninevelove memberikan gambaran yang tepat ketika kehidupan asmara di kampus mungkin masih sedikit kekanak-kanakan yang masih dibawa saat SMA, tetapi sudah mengarah menuju kedewasaan.

Ditulis dari empat sudut pandang para karakter tokoh utamanya, Ninevelove membuat kita lebih mudah merasakan apa yang karakter-karakter tersebut rasakan, tetapi itu jugalah yang membuat character development di Ninevelove kurang terbangun dengan baik, ketika perasaan mereka dengan mudah berubah di chapter yang lain tanpa adanya turning point yang drastis.

Membaca Ninevelove ini juga terasa seperti membaca kehidupan pribadi Khairen, karena saya bisa merasakan begitu dekatnya dunia Ninevelove ini dengan dunia nyata sang penulis yang seorang mahasiswa jurusan ekonomi, suka naik gunung, dan menulis. Ketika para karakternya juga pergi ke Sumatra Barat, saya juga merasakan betapa akrabnya Khairen dengan lingkungan Sumatra Barat. Tentu saja menulis dari pengalaman yang paling dekat dengan kita membuat menulis itu menjadi lebih gampang dan personal, dan Khairen sudah membuktikan itu.
Profile Image for Hana Bilqisthi.
Author 4 books279 followers
October 8, 2016
giveaway Ninevelove di Hana Book Review :D
Dari tanggal 1-3 Oktober 2016
:D
Hana Book Review
https://hanabilqisthi.wordpress.com/2...

Ketika akun instagram Gramedia memberi tahu akan menerbitkan Ninevelove, aku langsung tertarik. Judulnya unik. Sampulnya ada warna pink dan biru, yang merupakan warna favoritku. Selain itu ada amplopnya. Aku bertanya-tanya apakah ini tentang surat cinta lagi. Oh! Aku suka surat cinta! Jadi ketika Raafi menghubungiku apakah aku berkenan menjadi host blogtour dan giveaway Ninevelove, aku langsung mengiyakan. Terima kasih Raafi, JS Khairen dan Gramedia atas kesempatannya. :D

Ternyata novel ini terinspirasi dari kisah nyata sang penulis JS Khairen.

Ok. Ternyata Ninevelove bukan tentang surat cinta.

Membaca Ninevelove bisa dibilang mengajarkanku akan kesempatan kedua dan memaafkan.

Membaca 30 halaman pertama terasa membosankan karena aku gagal bersimpati dengan Dewi. Aku merasa Dewi mudah marah dan sulit memaafkan. Aku merasa Dewi hanya menyulitkan dirinya sendiri. masalah yang Dewi alami tidak akan terjadi jika Dewi tidak mudah marah dan mudah memaafkan. Selain itu, romantic interest Dewi adalah Guruh, cowok pinter dan cool. Kalau aku membaca novel ini saat SMP atau SMA,aku mungkin suka. Masalahnya aku membacanya sekarang dan bisa dibilang aku bosan dengan karakter cowok pintar dan cool yang ada di novel-novel romance. Ketika membaca Guruh bahkan tidak membalas sapaannya Dewi. I was like "Are you serious you like this guy?! He even did not treat you properly"

Intinya aku gagal memahami Dewi sehingga ceritanya terasa membosankan. Namun, aku teringat temanku ayu, dia bilang dia menerapkan peraturan 100 halaman dalam membaca buku. Dia akan menentukan apakah buku tersebut layak dibaca atau tidak jika sudah membaca hingga halaman keseratus. Aku jadi teringat Attachments by Rainbow Rowell, Big Little Lie by Liarne Moriarty, dan P. s. i like you by kasie west. Novel-novel tsb pada awalnya membuatku ingin menutup buku,namun karena penasaran mengapa ratingnya tinggi, aku terus membaca dan menemukan ceritanya makin membaik. Aku bahkan memberi mereka 4-5 bintang.

Jadi aku pun mencoba membaca kembali Ninevelove (memberikannya kesempatan kedua) dan menemukan ternyata semakin ke tengah, ceritanya semakin membaik. Semakin mengenal karakter-karakter dalam novel ini, aku semakin menyukai mereka.


*spoiler alert*



Meskipun Ninevelove dipasarkan sebagai genre romance, aku merasa novel ini lebih cocok dibilang novel persahabatan karena konten tentang persahabatannya kental sekali. Aku juga dibuat tertawa dengan lawakan-lawakan yang dilontarkan.

Plotnya sendiri unik, sehingga tidak mudah ditebak dan membuatku menikmati cerita ini. Selain itu, Ninevelove berhasil membuatku bernostalgia akan kehidupan kampus.

3 bintang untuk Ninevelove!
Profile Image for K. R..
Author 2 books11 followers
November 26, 2016
hahaha. semacam tau perasaan dewi yang ga tahu kenapa rasa-rasa kesel banget sama joven. saya juga kesel banget sama penulisnya yg tengil dan tiba-tiba nge-like banyak foto ig saya pas saya barusan unfollow ig dia. apaan ga mutu banget. hahaha. balada wahai penulis yg adalah sahabat teman saya, tolong berhenti bikin kesel-kesel penasaran gimana gitu yg sampai akhirnya menghasut untuk "ya udah deh, coba beli bukunya" :))

entah karena yg nulis cowok apa gimana ya, emosi ga terulas dan ga terasa, padahal banyak adegan-adegan yang bagus dan emosional. rasanya macam lompat-lompat ceritanya, masih kurang detail. tapi, sungguh, ada celetukan-celetukan konyol yang bisa bikin meringis "ini otak yg nulis isinya apaan deh" gitu. apalagi pas bagian onde-onde, dengan polosnya saya langsung googling membuktikan. hahaha.

dunno why, saya yakin aja sih suatu saat bakal ketemu dan kenal beneran sama uda yg nulis ini, entah gimana dan kapan, yg pasti bukan di meet 'n greet dia, ya! hahaha. ya sudah, malah curhat ngelantur ke mana-mana.

*edisi akhirnya baca ini karena buku yg pengen segera dikelarin malah ketinggalan di salon dan masih males ngambil*
Profile Image for Yayang.
68 reviews2 followers
December 4, 2016
membaca novel Ninevelove ini berasa seperti habis membaca diari penulis. Karakter bernama Joven bisa dikatakan 'penulis bgt'.. well, dari segi cover novel ini bukan tipe yg bisa membuat aku tertarik. Alasan kenapa aku tertarik membeli dan membacanya adalah rasa penasaran bagaimana jadinya sebuah novel bergenre romance ditulis dari sudut pandang penulis laki-laki yg notabene nya mencintai kebebasan. To be honest, aku suka banget sama setiap kata mutiara ataupun puisi di setiap pengantar bab nya, tapiiii aku kurang puas dengan keseluruhan penulisan dan beberapa adegan serta karakter dalam novel ini. Mungkin nanti aku bakal bahas detail2 apa yang aku suka dan ga suka dari buku ini...
Profile Image for Sasa  Mutiara.
5 reviews
July 3, 2017
Sebuah novel yang berkisah tentang seorang gadis dan dua lelaki dengan kepribadian berbeda. Awal gadis itu berkenalan dengan keduanya pun dengan cara yang berbeda pula. Salah satunya ia kenal karena dia mengaguminya dan mungkin itu bisa dibilang cinta, tapi entahlah. Seorang lelaki lainnya ia kenal dengan awal pertemuan yang langsung diisi dengan kebencian tanpa alasan. Dan cinta si gadis akhirnya berlabuh di salah satu lelaki itu.
Novel yang akan membawamu ke dalam tiga pandangn sekaligus karena ketiga tokoh dalam novel ini oleh penulis memiliki sudut pandang "aku-an" dalam bab yang berbeda. Recommended banget buat yang kepingin baperan. Novel ini bukan hanya berisi kisah cinta anak muda tetapi juga berisi banyak pelajaran hidup tentang persahabatan, keluarga, kerja keras, dan masih banyak lagi.
Profile Image for Zulqa'ida Rizha Rizha Vahlevi.
88 reviews
May 7, 2017
Awalnya saya mengira buku ini isinya seperti klise, percintaan di bangku kuliah, yang diawali dengan benci kemudian galau kemudian jadian kemudian happily ever after.

TETAPI TERNYATA SAYA SALAH BESAR. Saking salah besarnya, memberikan rating bintang 3 pun enggan. Akhirnya saya menambahkan 1 rating dengan kebanggaan. Haha

Saya takjub bagaimana penulis yang notabene laki-laki mampu merangkai kata dengan sangat indah. Mampu menjabarkan semuanya dengan detail. Bukan bermaksud gender-isme, tapi jarang banget ketemu laki-laki yang bisa merangkai kata dengan indah seperti di ninevelove. haha

Cerita di buku ini mengalir dengan lembut, hingga tak sadar aku dibuatnya saat perlahan sifat mereka yang kekanak-kanakan perlahan berubah menjadi kedewasaan dengan begitu mulus. Saya suka gimana Mas J (Oke, saya panggil penulis begitu haha) menjabarkan per masing-masing Point of View (Tetep yang saya suka bagian Joven).

Apalagi masa-masa di mana Joven dan Dinda masih unyuk munyuk cwit-cwit gitu, tapi waktu baca kok aku yang jadi nelangsa sama mereka berdua haha

Tapi Mas J, saya heran kok tiba-tiba Dewi di bab akhir berubah drastis dengan temenan sama geng tukang iri lalu tanpa sebab musabab jelek-jelekin Guruh dan Joven. Lalu Dewi tiba-tiba berubah kembali seperti tidak terjadi apa-apa saat wisuda. Saya juga nggak habis pikir saat Dewi mengirim pesan untuk menjauhi Joven, tanpa saya tahu maksud Dewi apa. Saya rasa eksekusi ending seperti buru-buru atau ... entahlah.

Baiklah, saya rasa sekian review dari saya. Good job Mas J. Ditunggu karya ciamik lainnya.

Ohya, kok aku ngerasa karakter Joven di buku ini seperti menggambarkan kepribadian penulis yah?

Dan yang tertinggal, mengapa buku ini dinamakeun "Ninevelove"? Apa Artinya?

Trims.
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews36 followers
July 27, 2018
Satu-satunya ketertarikan utama mengapa tetap mengkhatamkan buku Ninevelove adalah karena tokohnya berlatar sebagai pengurus lembaga pers mahasiswa. Ya, kisahnya begitu dekat dengan keseharian saya saat juga bergabung dalam lembaga kuli tinta di kampus.

Jadi, Ninevelove menceritakan tiga tokoh utama. Dewi, Joven, dan Guruh. Ketiganya banyak berinteraksi di unit kegiatan mahasiswa pers dalam fakultasnya. Tidak serta merta juga, Joven muncul belakangan setelah memberikan kesan buruk pada beberapa orang, termasuk Dewi.

Benih kebencian Dewi dengan Joven memang sudah tersemai sejak sebelumnya. Kebetulan, mereka berdua (juga Guruh) kerap berada di kelas yang sama. Nah, inti cerita buku ini sebenarnya bukan pada sisi aktivitas jurnalisme mereka. Tetapi, cinta. Cinta segi banyak, sebab selain di antara ketiganya, masih ada tokoh pendamping lain yang turut berpengaruh pada kisah romansa mereka. Ini bagian paling mengesalkan, bagi saya.

Oh iya, kisah mereka yang terlalu bertele-tele juga agak menjemukan. Padahal, ya, beberapa bagian harusnya dipangkas saja. It's just too much.

Lalu, karakter ketiga tokoh ini juga kerap membuat geleng-geleng kepala. Saya sampai tidak bisa menerka tulisan berita mereka dengan melihat sisi Dewi yang kekanakan, Joven yang belagu, dan Guruh yang acuh tak acuh. Oke, barangkali memang mereka memiliki kelebihan khusus pada kompetensi pemberitaan.

Secara umum, saya ulangi lagi, bagian pembahasan aktivitas pers mahasiswa yang tidak seberapa itulah menjadi fokus ketertarikan membaca buku ini. Mengingat kembali betapa "militannya" menjadi aktivis pers mahasiswa membuka kenangan selama berada pada posisi yang sama. Soal asmara, ya, memang ada juga beberapa (tidak banyak) yang langgeng ke hubungan lebih serius. Saya, bagaimana? Guess what? Hehehe.
Profile Image for Yuan Astika Millafanti.
314 reviews7 followers
March 2, 2023
Ninevelove • J.S. Khairen • GPU • 2016 • 348 Hlm. • iPusnas

"Rasa cinta separuh masak milik para remaja tak usah terlalu diributkan benar. Jangan seperti tak pernah muda." Hlm. 59

"Ibu, mungkin aku akan sampai lebih lambat. Mungkin akan tersesat berkali-kali. Namun, bukankah tersesat di jalan yang benar lebih baik daripada melaju mulus di jalan yang salah?" - Hlm. 65

"Aku mengenal banyak gunung dan lembah dan menaklukkannya, tapi aku lumpuh ketika kau datang." - Hlm. 80

--

Dewi jijik betul dengan Joven. Apa pun yang dilakukan atau diucapkan--bahkan tampilan--lelaki itu akan mendapatkan respons tidak menyenangkan dari Dewi. Bagi Dewi, lelaki baik yang layak "dipandangnya" hanyalah Guruh. Di mata Dewi, lelaki berkacamata itu tidak seperti Joven yang terlihat bergajulan dan urakan dengan rambut gondrong serta ucapan yang kasar. Namun, bagaimana jadinya kalau Dewi mendapat kepercayaan memimpin Divisi Jurnalistik Tinta Kampus bersama Joven sebagai wakilnya? Mampukah ia mengesampingkan penilaian pribadinya dan bekerja sama dengan Joven demi kemajuan organisasi? Lalu, bagaimanakah kisah cinta Dewi?

Huhuhu, akhirnya aku berkesempatan membaca karya penulis yang satu ini. Kuduga buku ini dilatari pengalaman pribadi penulis saat duduk di bangku kuliah. Ceritanya begitu mengalir. Sayangnya aku dibuat kesal oleh sikap para tokohnya, ha-ha-ha. Kenapa, sih, Joven seolah hanya mengikuti kata orang tanpa menunjukkan isi hatinya sebenarnya? Kok bisa-bisanya ada lelaki yang mau aja urusan hatinya disetir orang. Kenapa juga Dewi se-"enggak jelas" itu? Kenapa, sih, Guruh se-"telat" itu? Oh, ya, satu lagi, kenapa, sih, Dinda "bocah" banget? Seolah apa yang digambarkan tidak sesuai dengan usianya yang sudah 17 tahun 🤣

Membaca buku ini membuatku mendapat gambaran bagaimana serunya berorganisasi--sesuatu yang tidak kulakukan saat di kampus; serta bernostalgia soal kental--sekaligus tipisnya--persahabatan; asyiknya bergalau soal si dia; serta pusingnya menghadapi tugas kuliah, skripsi, dan kerja lapang. Asyiknya lagi, pembaca juga diajak jalan-jalan; mulai dari memetik durian di Ungaran, menikmati indahnya alam Bukittinggi, sampai menaklukkan Gunung Gede. Seru, kan? Eh, tetapi jangan terkecoh dengan trik mengobati luka bakar dengan odol seperti dalam cerita ini, ya 😁

Sst, karena tokoh kita ini aktif di bidang jurnalistik, tentunya ada isu yang disinggung sebagai topik pemberitaan. Asyik, lo membaca pandangan mereka soal ekonomi dsb.! Selain itu isu soal feminisme dan patriarki juga disinggung tipis-tipis. Pemilihan latar belakang para tokohnya yang beragam sungguh Indonesia sekali dan mengingatkanku akan teman-teman kuliahku dulu yang juga beragam.

Nah, kalau kamu ingin bernostalgia dengan masa-masa seru di kampus atau justru kamu yang masih sekolah dan ingin mendapatkan gambaran kehidupan di dunia kuliah, coba bacalah buku ini!

--

"Jangan pernah berjanji untuk tidak saling menyakiti. Itu Mustahil. Berjanjilah untuk selalu ada saat salah satunya tersakiti." - Hlm. 99

"Mungkin benar kata pepatah, saat tak ada lagi yang bisa menolongmu, mungkin kau butuh menolong seseorang." Hlm. 103

"Kaulah pemegang penuh kendali atas hatimu sendiri, bukan orang lain. Memang ada rambu-rambu dalam hidup, di situlah hatimu dituntut untuk dewasa." - Hlm. 151

"Saat sahabatmu menangis, maka kau hanya perlu menghiburnya. Tak usah menasihati terlalu jauh, pasti dia sudah tahu cara terbaik untuk masalahnya sendiri. Tugas yang sederhana, namun tak semua orang mau melakukannya. Karena dia sederhana, karena itulah ia disebut persahabatan." - Hlm. 251
Profile Image for Fety Niza.
109 reviews4 followers
March 29, 2018
Terimakasih Udaaa, novel nya seruuuu!!
Dari novel ini gue jadi paham, ternyata manusia berjenis laki-laki itu emang beneran punya hati dan perasaan 😂 And hey guys, janganlah terlalu benci sama orang. Benci sama cinta itu kayak rindu sama melupakan, bedanya tipiiiss. Dan gue dapet pemahaman tentang 'elo musti bisa bedain mana kagum mana suka (atau malah sayang)'.
Novel nya seru banget deh serius walaupun cuma tentang daily life gitu tapi it's real bro. Beberapa kisahnya juga remind me of something. Akhir dari ending si Joven sama Dewi udah ketebak sih sama gue dari awal haha karna konflik orang benci itu ya satu, benci jadi cinta.
Profile Image for 'Izzatil 'Adawiyah.
53 reviews9 followers
May 19, 2020
novel ini bercerita dengan menyenangkan, terasa dekat. membacanya terasa seperti sedang menjadi teman joven, dewi, dkk. namun di akhir terasa ada sedikit bagian yang hilang dan janggal tentang perubahan perlakuan dewi ke joven. meski begitu, saya tetap menikmatinya :)
Profile Image for Alfi.
61 reviews2 followers
December 25, 2021
Sebenernya cerita cintanya kayak cerita pada umumnya, benci jadi cinta, cinlok dalam sebuah hubungan bernama persahabatan. Tapi entah kenapa bang khairen ini bisa mengemas dengan apik kisah2 klise ini.

Bagus bagus aja sih sebenarnya. Sekian. Makasi.
10 reviews
August 22, 2025
Aku pikir joven s chaniago hanya muncul di novel DASI ternyata ada juga di novel ini, dalam novel ini bro yang beliau ini menunjuk kan kemampuannya di ranah asmara, aiihh sadiizzz ketuaaaa....
Profile Image for Imam Rahmanto.
149 reviews8 followers
April 23, 2017
Awal membaca novel ini, sebenarnya agak jengah juga. Beruntung, kebetulan isi ceritanya agak dekat dengan kehidupan saya sebagai alumni organisasi pers kampus. Tetapi, cerita-ceritanya terkesan dibuat mirip dengan kisah penulis (yang juga lulusan lembaga persma).

Saya selesaikan saja bacanya. Kisah romansanya sempat membuat saya tertawa-tawa kecil juga. Bagian "penerimaannya" dalam kisah pacar-pacaran, bisa sedikit mengobati kebosanan saya membaca novel ini. Jadi, ceritanya tak seperti kisah alay cerita romantis. Hahaha....

Okelah buku ini, bisa jadi rekomendasi bagi anak-anak persma kampus dimana saja. *Meskipun sebenarnya di kampus saya dulu, larangan besar dipasang bagi siapa saja yang menjalin asmara dengan teman seorganisasinya.
Displaying 1 - 19 of 19 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.