Ninevelove • J.S. Khairen • GPU • 2016 • 348 Hlm. • iPusnas
"Rasa cinta separuh masak milik para remaja tak usah terlalu diributkan benar. Jangan seperti tak pernah muda." Hlm. 59
"Ibu, mungkin aku akan sampai lebih lambat. Mungkin akan tersesat berkali-kali. Namun, bukankah tersesat di jalan yang benar lebih baik daripada melaju mulus di jalan yang salah?" - Hlm. 65
"Aku mengenal banyak gunung dan lembah dan menaklukkannya, tapi aku lumpuh ketika kau datang." - Hlm. 80
--
Dewi jijik betul dengan Joven. Apa pun yang dilakukan atau diucapkan--bahkan tampilan--lelaki itu akan mendapatkan respons tidak menyenangkan dari Dewi. Bagi Dewi, lelaki baik yang layak "dipandangnya" hanyalah Guruh. Di mata Dewi, lelaki berkacamata itu tidak seperti Joven yang terlihat bergajulan dan urakan dengan rambut gondrong serta ucapan yang kasar. Namun, bagaimana jadinya kalau Dewi mendapat kepercayaan memimpin Divisi Jurnalistik Tinta Kampus bersama Joven sebagai wakilnya? Mampukah ia mengesampingkan penilaian pribadinya dan bekerja sama dengan Joven demi kemajuan organisasi? Lalu, bagaimanakah kisah cinta Dewi?
Huhuhu, akhirnya aku berkesempatan membaca karya penulis yang satu ini. Kuduga buku ini dilatari pengalaman pribadi penulis saat duduk di bangku kuliah. Ceritanya begitu mengalir. Sayangnya aku dibuat kesal oleh sikap para tokohnya, ha-ha-ha. Kenapa, sih, Joven seolah hanya mengikuti kata orang tanpa menunjukkan isi hatinya sebenarnya? Kok bisa-bisanya ada lelaki yang mau aja urusan hatinya disetir orang. Kenapa juga Dewi se-"enggak jelas" itu? Kenapa, sih, Guruh se-"telat" itu? Oh, ya, satu lagi, kenapa, sih, Dinda "bocah" banget? Seolah apa yang digambarkan tidak sesuai dengan usianya yang sudah 17 tahun 🤣
Membaca buku ini membuatku mendapat gambaran bagaimana serunya berorganisasi--sesuatu yang tidak kulakukan saat di kampus; serta bernostalgia soal kental--sekaligus tipisnya--persahabatan; asyiknya bergalau soal si dia; serta pusingnya menghadapi tugas kuliah, skripsi, dan kerja lapang. Asyiknya lagi, pembaca juga diajak jalan-jalan; mulai dari memetik durian di Ungaran, menikmati indahnya alam Bukittinggi, sampai menaklukkan Gunung Gede. Seru, kan? Eh, tetapi jangan terkecoh dengan trik mengobati luka bakar dengan odol seperti dalam cerita ini, ya 😁
Sst, karena tokoh kita ini aktif di bidang jurnalistik, tentunya ada isu yang disinggung sebagai topik pemberitaan. Asyik, lo membaca pandangan mereka soal ekonomi dsb.! Selain itu isu soal feminisme dan patriarki juga disinggung tipis-tipis. Pemilihan latar belakang para tokohnya yang beragam sungguh Indonesia sekali dan mengingatkanku akan teman-teman kuliahku dulu yang juga beragam.
Nah, kalau kamu ingin bernostalgia dengan masa-masa seru di kampus atau justru kamu yang masih sekolah dan ingin mendapatkan gambaran kehidupan di dunia kuliah, coba bacalah buku ini!
--
"Jangan pernah berjanji untuk tidak saling menyakiti. Itu Mustahil. Berjanjilah untuk selalu ada saat salah satunya tersakiti." - Hlm. 99
"Mungkin benar kata pepatah, saat tak ada lagi yang bisa menolongmu, mungkin kau butuh menolong seseorang." Hlm. 103
"Kaulah pemegang penuh kendali atas hatimu sendiri, bukan orang lain. Memang ada rambu-rambu dalam hidup, di situlah hatimu dituntut untuk dewasa." - Hlm. 151
"Saat sahabatmu menangis, maka kau hanya perlu menghiburnya. Tak usah menasihati terlalu jauh, pasti dia sudah tahu cara terbaik untuk masalahnya sendiri. Tugas yang sederhana, namun tak semua orang mau melakukannya. Karena dia sederhana, karena itulah ia disebut persahabatan." - Hlm. 251