Jump to ratings and reviews
Rate this book

Fragmen: Sajak-Sajak Baru

Rate this book
Sajak-sajak yang terkumpul di sini belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku. Beberapa di antaranya ditulis di tahun 2016. Ini merupakan kumpulan puisinya yang ke- 9. Kumpulan puisi pertama, Pariksit, terbit empat puluh lima tahun yang lalu.

Selain menulis puisi, Goenawan dikenal sebagai esais, terutama prosa pendek Catatan Pinggir, yang sampai sekarang sudah terbit dalam 10 jilid. Di samping itu, ada lebih dari 10 buku berisi pemikiran sastra, seni dan filsafat yang sudah diterbitkan.

Setelah Surti dan Tiga Sawunggaling, Surat-Surat Karna, Visa, dan Tan Malaka, karya lakon paling baru Goenawan adalah Amangkurat, Amangkurat.

98 pages, Paperback

First published September 5, 2016

7 people are currently reading
140 people want to read

About the author

Goenawan Mohamad

110 books507 followers
Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom “Catatan Pinggir” di Majalah Tempo.

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.

Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).

Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. “Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang,” tutur Goenawan.

Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.

Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.

Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).

Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.

(from tokohindonesia.com)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
31 (18%)
4 stars
71 (42%)
3 stars
57 (33%)
2 stars
8 (4%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 37 reviews
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
136 reviews84 followers
October 31, 2016
SEANDAINYA MALIN KUNDANG MENULIS SAJAK

SEANDAINYA Malin Kundang menulis sajak, ia akan menulis tentang kematian seorang peniup trompet Amerika di Amsterdam:

Chet Baker mati di kakilima ini. Pada suatu malam, ada suara trompet yang menggigil dari arah lorong pelacuran, dan seseorang jatuh dari jendela di lantai kedua. Dinihari mengeras di seluruh Amsterdam. Kanal seakan terbelah. Suara trem tertahan dari arah Waag.

Portir hotel mengangkat mayat tamu yang dikenalnya itu dan menghapus kokain dari pipinya. Di mulut yang tipis dan berserbuk itu ia sebenarnya ingin dengar sisa suara yang serak suara yang pelan, melankoli, mimpi. Tapi telat.

"You will be OK, Chet, you will be OK", bisiknya.
Ia tahu ia berdusta.


Sajak Almost Blue di atas berlatar satu peristiwa saat Chet Baker, peniup trompet jazz, ditemukan meninggal setelah jatuh dari lantai dua kamar nomor 210 Hotel Prins Hendrik. Di kamarnya, juga di tubuhnya, ditemukan heroin dan kokain. Chet punya karir cemerlang, sebelum sekelompok gangster menghajarnya dan membuat gigi depannya lepas. Cacat itu telah membuatnya kesulitan menghasilkan udara tiup yang memadai.

Seandainya Malin Kundang menulis sajak, ia memang mungkin menulis tentang orang-orang atau peristiwa dari dunia yang jauh tempat dirinya mengembara. Saya kira di situlah sajak-sajak Goenawan Mohamad, sang Malin Kundang, menunjukkan diri untuk tak tunduk dari apa yang dinamakan lokal atau nasional: ia seorang yang merdeka dalam mencipta.

Dalam esai Potret Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang yang ditulisnya sekitar tahun 1970-an, Goenawan menceritakan kebebasan seperti apa yang digenggamnya. Bermula dari masa lalu di sebuah desa nelayan, ia telah merasakan keinginan untuk mengembara: ia menikmati buku terjemahan Treasure Island saat yang lain masih terpaku pada cerita Damarwulan yang kerap dipentaskan rombongan ketoprak amatir desa. Pada usianya yang kesebelas, ia menulis sajak tentang bulan dalam bahasa Indonesia. Ia tak biasa menulis dengan bahasa Jawa pesisir yang, tulisnya, hanya layak "buat kata-kata kotor di tembok sumur balai desa".

Pada saat itu, sajak yang dikenalnya pertama-tama adalah sajak Chairil Anwar. Dengan demikian ia berpangkal pada puisi modern yang, bisa dikatakan, mengedepankan individualitas. Ketika orang ramai-ramai bicara sastra yang "bercorak nasional", Goenawan merasa bahwa sajak-sajaknya bukan bagian dari itu. Sajak-sajaknya telah kena kutuk sebagai sajak yang tak berarti, tak membangun. Ia telah menjadi Malin Kundang: sajak-sajaknya mungkin selamanya tak akan dimengerti oleh orang-orang di desa asalnya atau desa mana pun.

Dari sana ia menulis tentang "kebebasan pertama seorang pencipta" dan bahaya "lingkungan kolektivisme" yang hanya menghasilkan "tukang proyeksi" belaka. Ia berpegang pada satu azas, yaitu kemerdekaan, sebagai satu jalan maju untuk kesusastraan.

Oleh karena itu kita akan sulit mengamati apa yang-lokal atau yang-Indonesia dalam bait-bait sajak Goenawan, termasuk kalau hal itu berarti tempat atau kultur "yang-Indonesia". Pada buku kumpulan puisi Fragmen, kita membaca sajak-sajak berlatar luar yang bertebaran di sana-sini: Jembatan Karel, Praha; puisi Marco Polo yang menyebut Ponte Rialto dan Plaza San Marco; Di Hari Kematian Baradita Katoppo yang menyinggung Hamlet; Dengan Sepatu Kecil Anak-anak yang Menyeberang yang menyebut Kos (nama sebuah pulau di Yunani), Laut Merah, dan Palestina.

Dengan kemerdekaan semacam itu karangan-karangan Goenawan terus bermunculan, bersama kualitas yang meyakinkan. Saya ingat bagaimana Borges menengok Shakespeare yang tidak membatasi dirinya dengan karya-karya yang harus memiliki latar dan kultur Inggris (Hamlet, misalnya, malah bertema Skandinavia).

Jika ada satu ciri yang dapat kita cari pada sajak-sajak Goenawan, mungkin ciri itu adalah tendensi Goenawan untuk memilih latar seorang yang kalah dan punya cerita sedih.

Sejak kumpulan puisi-puisinya terbit 45 tahun yang lalu, Goenawan sering mengambil tokoh yang kalah atau pasrah terhadap nasib: Pariksit yang melawan kutukan Crengi tapi akhirnya mati (sajak Pariksit), Anglingdarma yang dihukum karena tak setia (Dongeng Sebelum Tidur), Gatoloco yang ditinggalkan Tuhan (Gatoloco), Damarwulan yang meninggalkan Anjasmara untuk berperang (Asmaradana), Sita yang menyerahkan diri dalam api (Menjelang Pembakaran Sita), Aung San Suu Kyi yang dipenjara (Aung San Suu Kyi), Sukra yang dihukum dengan keji (Penangkapan Sukra), juga Frida Kahlo yang terluka dan terasing (Untuk Frida Kahlo). Dari situ kita tahu Goenawan terbiasa mengambil anomali yang sedih dari cerita-cerita sejarah dan legenda.

Pada kumpulan sajak Fragmen, anomali sedih itu mengambil cerita Aylan Kurdi yang tergeletak mati di pinggir pantai dalam satu pelarian pengungsi dari Turki (Dengan Sepatu Kecil Anak-anak yang Menyeberang), hari berkabung untuk Baradita Katoppo (Di Hari Kematian Baradita Katoppo), cerita Akhiles membunuh Hektor (Perisai Akhiles), Sjahrir yang diasingkan (Sjahrir, di Sebuah Sel), atau Sugas pegawai rendahan yang bertugas menjaga manekin (Pada Suatu Hari dalam Hidup Sugas).

Bukan hal yang mengherankan jika Goenawan pernah menampilkan Don Quixote sebagai tema pokok dalam satu buku kumpulan puisi, dan mengulanginya kembali dalam Fragmen yang menyertakan Pertanyaan-pertanyaan untuk Don Quixote:

Ketika para pembaca bertanya berapa lamakah Don Quixote mencintai Dulcenia, tokoh novel ini, (tanpa diketahui sang pencerita), menjawab: bertahun-tahun – sejak ladang-ladang terbentang di La Mancha. Di rumah warisan di sudut dusun itu khayal kadang jadi badai, dan badai menghalau penabur, dan penabur merelakan benih di kantungnya: yang ranum jadi gergasi, yang rapuh jadi cacing, yang gabuk entah. Tapi aku pohon gabus yang menyendiri, kata Don Quixote dengan nada rendah. Kulitku tertoreh. Maka kutatah tubuhku mencari Dulcenia.


Sajak di atas memperlihatkan ciri lain himpunan sajak Goenawan yang, seperti kata Zen Hae dalam esai Se(r)ikat Puisi dari Tanah Air Tanpa Batas, menampilkan “tegangan yang terus-menerus antara puisi yang cenderung memadatkan dan prosa yang menguraikan”. Pada sajak itu kita melihat Don Quixote yang terasing. Puisi tidak pernah kehilangan daya untuk menemani mereka yang diam dan sepi. Segalanya adalah sah: yang tabah maupun yang kisah. Puisi liris adalah pembesaran yang santun untuk menunjukkan cinta yang beruntung dan tak beruntung.

Memang tak melulu sedih. Sebab sebuah tulisan adalah suatu dialog dalam relasi yang tak terhitung. Satu puisi barangkali tak berbicara apa pun tapi tetap menyimpan kejeniusannya. Sementara satu puisi lainnya mungkin saja mengandung pengamatan yang cerdas tapi memancarkan ketololan. Hal itu memberi kemungkinan bagi setiap orang untuk melihat Don Quixote sebagai tokoh yang kalah dan konyol atau, di sisi lain, seseorang yang gagah dan pemberani. Siapa yang menganggap Malin Kundang sebagai bocah celaka yang terkutuk mungkin juga telah salah pilih untuk tidak memahami perasaan-perasaannya terlebih dahulu.

Satu hal yang pasti: sekali kita mengaguminya, kita tak akan pernah ingin berhenti menikmati puisi.
Profile Image for Zalila Isa.
Author 15 books54 followers
January 6, 2020
Membaca sajak-sajak Goenawan Mohamad dalam naskhah ini (sajak-sajak baharu yang tidak pernah diterbitkan lagi) membuatkan saya terpinga-pinga dengan gayanya. Mungkin kerana tidak begitu akrab dengan karya-karya Goenawan (barangkali ada bukunya tapi belum sempat membaca lagi - akibat kegilaan dengan buku-buku Indonesia ketika ke Jakarta dan Jogja dulu).

Saya jadi lesu membaca naskhah ini kerana banyak sajaknya yang tidak saya fahami. Mungkin hanya satu yang benar-benar saya suka iaitu sajak bertajuk 'Sebenarnya'.

Dan kemudian apabila membaca bahagian kedua buku ini bertajuk Fragmen: Peristiwa, barulah saya sedar bahawa sajak-sajak dalam naskhah ini kebanyakannya bersifat 'peribadi' Iaitu hanya penulis yang memahaminya kerana ia pengalaman peribadi penulis itu sendiri. Ya, pengalaman yang berbeza memungkinkan pemahaman yang tidak kesampaian. Walau bagaimanapun saya pasti, jika baca berulang kali atau mengambil inisiatif Google setiap elemen asing yang ditemui itu, saya akan lebih menghayati puisinya dan mendapat pengalaman baharu. Juga catatan Fragmen ini seperti nota menulis sajak kepada saya yang masih mentah.

Bak kata Chairil Anwar (dalam catatan Fragmen), "Puisi ini adalah sebuah ikhtiar agar dunia privat bisa diungkapkan dan tak punah tertindas oleh bahasa orang ramai Dunia privat saya adalah nasib saya. dan nasib adalah kesunyian masing-masing."
Profile Image for Dita Hero.
14 reviews
February 17, 2021
Saya kasih bintang 3 karena saya menikmati membaca setengah terakhir buku ini yang membahas tentang puisi, fragmen, dan arti. \saya sendiri merasa kesusahan memahami beberapa gagasan Gonawan Mohmad. Tandanya saya masih harus banyak belajar.

2 atau 2,5 untuk puisi-puisinya. Sebagian puisi di buku ini seperti puisi esai, beberapa suisi seperti terasa dipaksakan, beberapa ada yang saya sukai, beberapa lagi membuat saya berpikir kalau saya sedang membaca tulisan anak-anak indie ala-ala penikmat senja.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,110 reviews18 followers
August 4, 2025
Sebagai kumpulan puisi kesembilan dari Goenawan Mohamad (GM), Fragmen: Sajak-Sajak Baru adalah perayaan atas keabadian kata, waktu, dan refleksi yang terus mengalir dari pikiran seorang penyair. Buku ini menghimpun 25 puisi yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku sebelumnya (beberapa ditulis sejak tahun 2016) dan menjadi semacam jembatan antara narasi sejarah, kontemplasi eksistensial, dan pencarian tentang makna kebebasan.

Puisi-puisi di sini adalah fragmen kehidupan, jejak-jejak pemikiran, dan bahkan gema dari ruang hampa yang perlahan diisi suara manusia. Selain menulis puisi, GM juga merawat ingatan dan membingkai ulang pengalaman menjadi tafsir yang terbuka.

Pada "Marcopolo", misalnya, kita diajak menyusuri waktu tujuh abad silam, menyentuh kerinduan sang pengelana yang tak pernah selesai kepada kampung halamannya. Di sisi lain, "Tentang Seorang Orang Tua" menghadirkan keletihan batin manusia yang telah terlalu lama hidup. Sedangkan puisi seperti "Sjahrir, di Sebuah Sel" membawa pembaca kembali ke tahun 1965, menembus kabut sejarah dengan suara seorang tahanan yang merindukan arti kemerdekaan.

Kekuatan utama buku ini ada pada kepiawaian GM mengolah diksi dan narasi. Tiap bait adalah percakapan (kadang dengan tokoh sejarah, kadang dengan diri sendiri), dan tak jarang, dengan pembaca. Puisinya mengandung kedalaman yang tak bisa ditafsir dalam sekali baca.

Penutup berupa esai "Fragmen: Peristiwa" menjadi simpul yang memperkuat keseluruhan isi buku. Esai ini merupakan refleksi dan argumentasi filosofis tentang puisi, bahasa, serta proses kreatif itu sendiri. GM bahkan mengutip Kafka, bahwa “menulis” adalah ketegangan antara menemukan dan menemui bahasa.

Sebagai penyair yang telah berkarya sejak 1971, GM membuktikan bahwa usia bukan batas dalam berkarya. Fragmen adalah bukti bahwa puisi bisa terus hidup, tumbuh, dan menua bersama penulisnya, tetapi tak pernah kehilangan daya hidupnya.
Profile Image for Fira.
147 reviews
May 6, 2025
*menulis review setelah menghela nafas panjang* ini buku puisi Pak Goenawan Mohamad pertama yang saya baca, jadi ini pertama kalinya saya mencicip gaya bahasa puisi beliau. Selain saya merasakan kesenjangan referensi yang sangat jauh, tentu ini membuat saya merasa bodoh jadi saya memutuskan tetap melanjutkan membaca walaupun saya hampir tidak mengerti seluruh makna puisi-puisinya.
Tibalah saya ke tulisan inti buku ini yang juga merupakan judul buku: “Fragmen”, akhirnya ada pencerahan kenapa puisi-puisi Pak Goenawan sangat susah dimengerti😭😭😭 karena memang beliau tidak fokus ke pemaknaan, ia hanya sedang menuliskan perasaan, hal & fragmen kedalam sebuah bahasa yang terbatas yang tak bisa memeluk/merepresentasikannya seutuhnya.

Gila, saya baru saja menuliskan sebuah puisi dengan kalimat yang mencoba menerangkan itu. Oleh karena itu, saya lumayan mengerti apa yang ingin disampaikan Pak Goenawan dalam “Fragmen” ini tapi memang kefasihan beliau sudah diluar batas sih wkwk😭. Asli penuh filsafat & saya baru mengerti itulah kenapa puisi-puisinya abstrak abies. Banyak tokoh yang diangkat Pak Goenawan pada tulisan terakhir yang akhirnya familiar dan saya tahu & memang sangat menyenangkan saat referensinya dimengerti tapi untuk nama-nama yang baru saya baca juga ada hal baiknya karena akhirnya saya penasaran dan menambah wawasan saya.
Saya sampai menyimpulkan kemungkinan mbti pak goenawan ini 70%+ adalah seorang “N”😭🙏🏻.
Profile Image for Rafik Nurf.
39 reviews4 followers
February 17, 2020
Buku kedua ini rampung saya baca di ipusnas yg mengasyikan dan menggema -- lagi-lagi G.M membuatku terpukau -- dg puisi-puisinya.
Banyak hal baru dlm perpuisian yg saya tahu di buku ini. Buku kumpulan sajak-sajak baru G.M yg mungkin lebih bergerak ke arah privat dirinya. Ini dijelaskan di bab terakhir (fragmen: peristiwa) setelah berpuluh sajaknya membuatku berpikir & hanyut ttg angan-angan, juga bayang. Berasa sesak dan ingin tahu lebih banyak.

Di bab terakhir itu, dijelaskan olehnya bagaimana puisi juga hadir dalam rana privat. Tentang sebuah "arti" dan "pengertian", kehadiran puisi modern, perkenalan nya pertama kali dg puisi: sebuah sungai dan sejumlah senja, keberartian (yg menyeretnya dlm perdebatan kecil, lagi-lagi dg pram dan juga Takdir), dll. Dibungkusnya dalam sebuh esai yg menarik dengan gaya tulisan beliau yg khas.

Kita cuplik di sebagian sajaknya ini:

Ia tahu ia tak bisa lagi menggosok-gosokan otot punggungny ke gigir tebing.

Kau terlalu lama hidup.

Mungkin.

Umur membuatmu sendirian.

Agaknya.
(Tentang seorang orang tua, h.36)
Profile Image for Stella.
474 reviews143 followers
March 15, 2023
Ia tahu orkes mereka hanya hujan. Terkadang angin. Terkadang
angin yang mengayun dahan sipres, selamanya berubah.
Tak ada akar. Para dewa tak punya akses ke pedalaman ini.
Lagu. baru saja disiapkan dan kalimat akan tersirat, "Kami
metamorfosis. Kami mengulang yang tak berulang."


Goenawan Mohamad menyihir sesuatu yang sederhana dan selalu kita temui seperti hujan dan angin menjadi hidup dan bernapas. Sajak-sajaknya adalah buah observasi dari alam dan kejadian di sekitarnya, dari literatur dan penulis yang ia gemari, tak ada nada menggurui, hanya apresiasi akan sesuatu yang menggugah.
Profile Image for Eva Novia Fitri.
165 reviews1 follower
March 23, 2023
GM menulis puisi selalu tentang seseorang, sebuah tempat, kejadian nyata, peristiwa. Seperti esai-esainya. Seperti kritik-kritiknya, membaca puisi GM rasanya tetap seperti membaca peristiwa. Begitupun esai-esainya tidak pernah tidak nyastra dan puitis. Menarik.

Fragmen tidak berbeda. Dibuka dengan cantik, sebuah puisi tentang Jembatan Karel di Praha. Untunglah saya tidak pernah melihat jembatan itu seperti apa, sehingga bisa membayangkan suasana lewat puisi ini sepenuhnya. GM memilih bingkai senja yang temaram saat memotretnya pakai kata. Ditambah kisah menunggu kekasih di bawah gerak "bulan yang lambat", jembatan karel seutuhnya indah tertangkap bagi yang belum pernah melihatnya. Saat kemudian google menunjukkan bentuk nyatanya, ia memang indah, klasik, dan seanggun penghayatan GM.

Joan Miro pun tak pernah dengar namanya, tapi GM mengenalkannya, menyandingkannya dengan komposisi favorit saya: "Bluette"nya David Bruebeck, dan menyitir part paling manis di komposisi ini: liukan maut saxophone Paul Desmond

Beri aku siang yang tak ringkas
Sax yang samar
Jam yang tak membekas

(Ternyata Joan Miro adalah pelukis 😅)

Kematian Chet Baker yang tragis, terasa menusuk nusuk saat GM mengangkatnya kembali di "Almost Blue". Too blue, for sure. One of my favorite.

Achilles, Mixima, Don Quixote, atraktif sekali kisah ini lewat kacamata GM, lewat sajian puisi2nya. Dan kejutan, ternyata di akhir buku GM mengupas tuntas pemikirannya. Kerennya, karena posisinya di akhir, kesannya seolah pembaca diijinkan menikmati puisi puisi ini sepenuhnya dengan caranya sendiri. No clue.
Tak sepenuhnya benak sempit saya mampu mencerna bicara sang jenius sastra, tapi 1 hal yang sangat terasa dan saya cemburui, GM sejak awal memiliki indra yang langka dalam menghayati kata. Sebuah kata baginya adalah pintu ke demikian banyak sensasi keindahan yang dengan susah payah berusaha ia sampaikan dan tuliskan kembali.

"Apa yang saya tulis akhirnya hanyalah sebuah kompromi dengan keniscayaan yang tak bisa dielakkan oleh bahasa, hasil laku pragmatis, dan bersifat sementara. Dengan kata lain, fragmen. Tapi diam pun satu bentuk fragmen lain.
Diam juga sebuah karya. Wittgenstein menulis sepucuk surat menjelang musim dingin 1919: "Karyaku terdiri dari dua bagian: yang satu yang disajikan di sini plus segala hal yang belum kutulis. Dan justru bagian kedua itulah yang penting".

Ah...kalau yang berusaha dia terjemahkan dalam kata sudah begitu indah, entah seindah apa yang tak mampu ia suarakan.

Untuk menggambarkan betapa ia sangat mengagumi lukisan Rusli, GM memakai ukuran tak tanggung-tanggung: Rembrandt. Ciamik sekali bagaimana dia berusaha menjelaskan sesuatu yang tak bisa dijelaskan kata pada lukisan-lukisan Rusli. Something beyond words. Undescribable. Mengintip sedikit seperti apa lukisan Rusli, baiklah saya tak bisa sedikitpun merasakan sensasi seperti GM. Hanya 1 clue yang mungkin masih bisa nyambung: menurutnya, lukisan lukisan Rusli semenghanyutkan puisi Sapardi. I can deal with it 🤣.

Membaca perbandingan cantik, tajam, dan akurat antara karya-karya yang menitikberatkan pada "kebergunaan", "muatan" (GM menyebut Sutan Takdir Alisjahbana dan Pram di kubu ini) dengan karya karya maknawi (ala-ala Chairil Anwar dan Walter Benjamin) sangat menarik. Sedikit banyak saya mulai paham mengapa GM tetap nyastra saat menulis essai, dan tetap faktual saat menulis puisi, mungkin karena beliau adalah sedikit dari penulis yang posisinya di irisan kedua kubu ini. Another level.
Profile Image for Journal Space.
54 reviews1 follower
December 24, 2018
Cukup menyenangkan membaca kumpulan puisi dan fragmen di buku ini. Menarik ketika kita dibawa ke ayudya lalu ke romawi, ini lucu atau mungkin absurd? Tak ada tema yang spesifik tapi ini semua murni sebuah pemikiran.
"Sebab saya tak mengerti, apa yang dapat ditulis tuntas di zaman ini." -Hal 58

Ada 2 fragmen yang saya sukai, yaitu : Pada Suatu Hari dalam Hidup Sagas dan
Pertanyaan - pertanyaan Untuk Don Quixote.
57 reviews9 followers
June 13, 2021
"Puisi menebus kembali apa yang hilang dalam sesuatu yang tanpa nada – dalam tulisan. Puisi, sedikit atau banyak, mengembalikan kelisanan sebuah teks. Puisi memulihkan kata sebagai 'peristiwa'.

Sebuah sajak adalah ibarat gema: ia saksi bahwa kita tak berada di ruang yang hampa, kita tak hanya punya satu sisi, dan di sana ada yang memperbanyak suara kita ke arah lain. Ketika gema terdengar, kita tahu bahwa ada "arti" atau makna yang lebih luas ketimbang "pengertian"."
Profile Image for Randa Muhammad.
96 reviews4 followers
March 8, 2021
diawali dgn puisi, diakhiri dgn esai, mungkin. atau apalah jenis tulisannya yg menjadi judul buku ini. Traveling bkn sekadar menikmati pemandangan, kuliner, dan tempat wisata. Lebih dr itu, memperhatikan dan membaca manusia dan peradaban d mana kita singgah.
Dalam fragmen (tulisan terakhir) jg dijelaskan tentang pengertian, kemustahilan utk menulis dan utk tidak menulis, dll.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Lidia.
91 reviews
June 9, 2021
Ini buku puisi Goenawan Mohamad yang kali pertama saya baca, itu pun saya temukan di aplikasi Ipusnas. Jujur, saya masih merasa asing dengan puisi2 beliau ini.

Diksi yang kurang bisa saya pahami, dan tempat2 yang diceritakan di buku ini pun sangat asing bagi saya. Tapi saya cukup menikmati puisinya.
Profile Image for bojfischer.
99 reviews7 followers
January 7, 2018
Dua orang penyair mengatakan hal serupa di kesempatan yang berbeda, "Kalau mau bisa nulis puisi, ya banyak baca puisi." Membaca buku ini adalah salah satu usaha untuk itu.

Puisi-puisi di sini begitu rumit untuk dimaknai. Tetapi saya suka pilihan katanya.
Profile Image for Hadiwinata.
50 reviews
November 18, 2020
Goenawan rajin dan rutin mencatat hal-hal yang terjadi dalam hidupnya, atau yang dilihatnya, atau yang dibaca ke dalam puisi. Membaca puisi GM seperti membaca dunia, yang jauh dan mungkin belum kita ketahui.
Profile Image for Faisal Zawi.
Author 9 books36 followers
May 8, 2017
Buku nya cantik, saya suka buku sajak saiz poket begini. Tapi sajak-sajak Pak Goenawan kali ini tak menghadirkan perasaan yang sama waktu baca 70 sajak GM. Saya mengharapkan yang lebih lagi dari GM.
Profile Image for Dian Hartati.
Author 37 books35 followers
July 26, 2017
Subjudul "Sajak-Sajak Baru" membuat saya agak bingung karena puisi "Epilog" ada dalam kumpulan puisi Gandari.
Profile Image for Puri Kencana Putri.
351 reviews43 followers
July 29, 2017
"Ia tahu ia tidak bisa lagi menggosok-gosokkan otot ke gigir tebing. Kau terlalu lama hidup. Mungkin. Umur membuatmu sendirian. Agaknya." Potongan fragmen tentang seorang orang tua, halaman 36.
Profile Image for Wawan Kurn.
Author 37 books36 followers
November 1, 2017
Sebuah usaha untuk menjadi baru, namun selalu saja hal yang baru punya ruang untuk mengingatkan kita pada hal yang terlampau lekat dan terasa tak sepenuhnya baru.
Profile Image for Nanaku.
155 reviews9 followers
January 10, 2018
Puisi-puisi indah diakhiri dengan satu esai tentang sastra yang disatukan dalam sebuah Fragmen.
Profile Image for Panca Erlangga.
116 reviews1 follower
May 12, 2018
Entahlah, saat saya membaca buku ini, seringkali saya membaca ulang sajak-sajaknya. Barangkali, sajak yang berjudul "Sjahrir, di Sebuah Sel" dan "Anak-Anak, adalah sajak yang terbaik bagi saya.
Profile Image for Noep.
49 reviews28 followers
August 23, 2018
Aku tak akan tua

Aku tak akan tua
dengan tujuh kwatrin

Mungkin di ujung
ada patah kata lain

Aku tak akan jalan
ke arahmu

Aku mungkin jalan
ke arahmu

Jangan
kau tunggu

di utara itu.
Profile Image for Chelsea.
103 reviews1 follower
May 20, 2019
Banyak baca ulangnya tapi bagus ❤
Profile Image for Ulfah Jaziilah.
6 reviews
April 3, 2021
sepertinya butuh kecerdasan dan intuisi lebih untuk menafsirikan puisi beliau. sekian.
Profile Image for reas.
94 reviews4 followers
December 21, 2022
Dari halaman 58 sampai ending aku pusing, belum lagi banyak gagasan yang nggak aku pahami😭
Profile Image for tia.
240 reviews7 followers
April 29, 2023
—terakhir baca puisi yang agak njelimet, udah lama banget. Dan baru ketemu yang njelimet tapi seru lagi ya baru buku puisi yang ini. Aura misteriusnya kental banget. Suka parah😭
Profile Image for Raisyah Antony.
31 reviews
October 12, 2024
Baru kali ini saya baca sastranya bung GM sebenarnya dalam rangka tugas ternyata cukup bagus juga ya, juga saya lihat bung GM punya kemiripan dengan Kafka
Profile Image for Ahmad Hanif.
38 reviews
November 23, 2024
Otak saya kelelahan membaca tulisan ini. Seharusnya dengan kapasitas kemampuan saya seharusnya membaca yang ringan-ringan saja😬🤯
Displaying 1 - 30 of 37 reviews