What do you think?
Rate this book


98 pages, Paperback
First published September 5, 2016
Chet Baker mati di kakilima ini. Pada suatu malam, ada suara trompet yang menggigil dari arah lorong pelacuran, dan seseorang jatuh dari jendela di lantai kedua. Dinihari mengeras di seluruh Amsterdam. Kanal seakan terbelah. Suara trem tertahan dari arah Waag.
Portir hotel mengangkat mayat tamu yang dikenalnya itu dan menghapus kokain dari pipinya. Di mulut yang tipis dan berserbuk itu ia sebenarnya ingin dengar sisa suara yang serak suara yang pelan, melankoli, mimpi. Tapi telat.
"You will be OK, Chet, you will be OK", bisiknya.
Ia tahu ia berdusta.
Ketika para pembaca bertanya berapa lamakah Don Quixote mencintai Dulcenia, tokoh novel ini, (tanpa diketahui sang pencerita), menjawab: bertahun-tahun – sejak ladang-ladang terbentang di La Mancha. Di rumah warisan di sudut dusun itu khayal kadang jadi badai, dan badai menghalau penabur, dan penabur merelakan benih di kantungnya: yang ranum jadi gergasi, yang rapuh jadi cacing, yang gabuk entah. Tapi aku pohon gabus yang menyendiri, kata Don Quixote dengan nada rendah. Kulitku tertoreh. Maka kutatah tubuhku mencari Dulcenia.
Ia tahu orkes mereka hanya hujan. Terkadang angin. Terkadang
angin yang mengayun dahan sipres, selamanya berubah.
Tak ada akar. Para dewa tak punya akses ke pedalaman ini.
Lagu. baru saja disiapkan dan kalimat akan tersirat, "Kami
metamorfosis. Kami mengulang yang tak berulang."