Aku akan memberitahumu sebuah cerita yang membuatku sangat tidak nyaman. Semuanya dimulai ketika aku menemukan sejumlah kaset peninggalan mendiang Mama. Mendengar kembali suara orang yang seumur hidup kau cintai menghangatkan hati dan jiwamu. Tapi yang aku temukan tak hanya itu. Mama bilang, ada sesuatu yang mencurigakan tentang rumah yang sedang aku tempati ini. Sesuatu yang belakangan membuatku terlibat dalam urusan masa lalu yang belum tuntas.
Sepanjang cerita, aku akan menyebutkan sejumlah karakter; ada yang penting, dan ada juga yang hanya selewat lalu. Ada yang membuatku berdesir hangat, ada juga yang berniat menikamku dan mewarnai akhir cerita ini dengan lumuran darah.
Di situ jugalah letak masalahnya: aku benar-benar tak bisa membedakan mereka....
Demi meredakan rasa sedih karena kematian Shava, ibu tirinya, Nina pindah ke rumah Belanda, rumah yang pernah ibunya tempati dan kini adalah miliknya, untuk sementara waktu. Saat membereskan barang-barang bekas ibu tirinya, Nina menemukan empat buah kaset yang merupakan audio diary ibu tirinya sejak beliau mash muda.
Dalam kaset-kaset itu, Nina mendengarkan kisah masa lalu Shava. Masa lalu yang melibatkan kematian adiknya, misteri penculikan anak, serta makhluk lain penghuni rumah Belanda.
Saya agak kaget waktu pertama kali melihat nama Eve Shi dan Penerbit Twigora di sampul buku ini. Nama Eve Shi identik dengan novel horor (walau dia juga pernah menulis novel remaja), sementara Penerbit Twigora lebih identik dengan novel romans kontemporer. Saya jadi sempat bingung, apakah Eve Shi menerbitkan novel romans kontemporer, ataukah Penerbit Twigora yang menerbitkan novel horor?
Jawabannya? Yang kedua.
"The Bond" kembali menampilkan penokohan yang kuat. Karakter-karakter di dalamnya punya cerita dan masalahnya masing-masing. Saya suka dengan perjuangan setiap tokohnya dalam menghadapi masalah. Suka juga dengan chemistry para tokohnya. Dengan menampilkan nostalgia, perasaan kehilangan Nina terasa tanpa sering dibicarakan.
Tegangnya juga masih dapat. Walau novel ini lebih fokus pada drama keluarga, tapi tetap ada selipan adegan horor yang membuat deg-degan.
Yang saya kurang suka dari novel ini adalah misterinya. Soal kematian Daven dan misteri rumah Belanda kurang mulus dalam penguraiannya. Ada terlalu banyak tiba-tiba yang terjadi, khususnya soal identitas salah satu tokohnya. Rasanya penulis kurang bermain adil dalam memberikan potongan teka-tekinya.
Catatan tambahan: ada selip kecil dalam cerita ini. Di halaman 82, Nina berasumsi bahwa "Bu Tuti tahu Daven tidak bunuh diri". Padahal ini adalah info yang tidak bisa Nina ketahui. Nina baru ingat siapa itu Daven di halaman 76 dan di antara halaman 76-82, tidak ada infomasi bahwa Daven bunuh diri. Jadi, dari mana Nina tahu soal ini?
Secara keseluruhan, "The Bond" adalah drama keluarga dengan unsur horor yang baik. Sayang penelusuran misterinya masih kurang kuat dan belum mengajak pembaca untuk menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
Saat pengampunan tak terjangkau, kedamaian akan menjadi pengganti yang setimpal. (hal. 234)
Aakk senangnya bisa membabat salah satu TBR lama. Rasanya tuh macam berhasil mengerjakan PR yang sekian lama tertunda gitu wkwk
Awalnya aku nggak berekspektasi apa-apa pada novel ini, selaim genrenya horor. Ya pasti ada serem-seremnya. Ternyata lumayan seru dan lumayan bikin ada yang berdesir-desir juga, mana aku bacanya menjelang tengah malam hahahahah
The Bond bercerita tentang Nina yang menemukan empat kaset diary voice mamanya yang baru saja meninggal. Kaset rekaman itu membawa Nina kepada sebuah rumah belanda yang menyimpan banyak cerita, Daven (omnya yang baru dia ketahui dan sudah meninggal), dua remaja bernama Eira dan Taruna, juga orang-orang lain yang nggak bisa melepaskan rumah belanda itu.
Penceritaannya super duper page turner dan nyaman dibaca. Nggak heran sih karena Kak Eve Shi adalah penulis senior. Aku juga suka banget dengan setting tahun 80-annya yang kental banget. Karakternya juga seru, terutama keluarga Shava. Karakter favoritku adalah Bunda. Terbayang sih Bunda ini adalah ibu-ibu heits pada zamannya. Wkwk. Keren aja gitu baik style maupun interaksinya dengan anak-anak. Terutama celetukannya yang wow banget "Kapan ya ada majalah dewasa untuk wanita?" pas dilapori kalau anak cowonya barusan beli majalah dewasa. Hahahah aku padamu banget, Bunda!
Bagian awal hingga menjelang akhir aku nggak ada masalah, tapi justru agak mengernyit ketika sampe bagian reveal kebenaran. Gimana Nina bisa tahu semua itu ujug-ujug banget, kayak out of the blue gitu. Ya aku pun sebenernya udah menduga sih kalo merekalah orangnya, tapi proses penalaran Nina ini nggak ada. Tahu-tahu, tahu gitu aja. Ini yang sedikit berasa antiklimaks.
Buut, overall, ini seru banget. Kalau nggak ngantuk banget semalam, mungkin aku bisa selesai dalam sekali duduk.
BTW, ini random tapi agak mengganjal, apakah remaja di era 80-an umum bernama Shava, Daven, Eira, dan Taruna? 🤔
Novel Mbak Eve yang ini beda dibandingkan yang sebelum-sebelumnya. Ceritanya lebih ke bikin galau dan sentimentil daripada seram.
Seorang cewek bernama Nina mendapati diri ditipu sama koleganya. Lalu dalam kesuntukannya, untuk sementara dia menempati rumah lama milik mendiang ibu tirinya, yang kebetulan juga baru meninggal. Rumah itu, gampangnya, menyimpan sejarah tersembunyi. Terus narasinya jadi kembali ke masa lalu dari sudut pandang ibu Nina waktu masih muda, pas roh-roh yang menempati rumah itu nyata-nyata masih ada.
Kayak biasa, aku suka novel-novel Mbak Eve lebih karena potensi yang terkandung di dalamnya ketimbang cerita jadinya sendiri. Ini lagi-lagi novelnya yang sebenernya bisa menghanyutkan andai dikembangkan lebih lanjut dan lebih dikasih waktu biar lebih matang.
Bagian awal sampai ke tengahnya agak susah dibaca karena temanya menurutku kurang menarik. Tapi pas menjelang akhir, penyelesaiannya menurutku benar-benar bagus.
Yang terutama aku suka dari novel ini adalah pemaparan kota Bogor yang jadi latar serta nuansa tahun 90annya yang kental. Sekali lagi, ceritanya lebih bikin baper daripada tegang. Tapi aku ga akan bilang novel ini jelek.
Novel ke 5 karya Eve Shi yang saya baca (6 kalau sama cerpen). Dan seperti biasa, tidak mengecewakan.
Lebih ke misteri daripada horror. Ada horrornya sih, soalnya pemecahan misterinya dari penampakan-penampakan di rumah Belanda warisan turun-temurun keluarga. Tapi dibanding novel Eve lain yang pernah saya baca, penampakan ini sama sekali gak bikin merinding.
Disampaikan dari beberapa point of views, alur maju mundur tergantung pov, diksi ringan. Plot ringan juga tapi bikin penasaran. Sebenernya kalau dari plot aja, saya cuma kasih bintang 3. Tapi ada unsur lain yang bikin plot itu malah menggugah rasa penasaran sampe-sampe gak sabar pengen tau lanjutannya.
Saya beresin buku ini dalam beberapa jam aja, in one sitting (Iya gabut, gak ada kerjaan lain juga). Emang seseru itu novel nya.
Shava, Daven dan Nina keterikatan yang terjadi karena sebuah rumah. Rumah yang ternyata memiliki sebuah kisah yang menyedihkan. Buku ini ga hanya menyajikan cerita horor tetapi seperti judulnya menceritakan sebuah ikatan yang terungkap melalui sebuah kaset rekaman. Dan kaset rekaman tersebut juga yg telah mengungkapkan berbagai kisah masa lalu.
Ide cerita yang dibawa cukup menarik. Sayangnya tidak sesuai harapan, suasana horor yang dibawa oleh author kurang kena gitu. Padahal unsur-unsur horor seperti cermin dan kolam renang sudah oke bila dikembangkan. Alur ceritanya kadang agak membingungkan, tapi akhirnya bisa dimengerti. Ada part-part yang lebih menarik bila diceritakan kejadiannya daripada lewat penjelasan.
Tidak hanya menyuguhkan bacaan bernuansa seram sebagaimana cover yang ditampilkan (trully, don't judge books by its cover), buku ini lebih menampilkan emosi dan duka cita.
Saya pun tidak dapat menahan airmata ketika sampai pada kematian Daven. Saya memposisikan diri sebagaimana Shava dan ibunya harus menerima kenyataan yang menyedihkan itu.
Ketika membereskan lemari milik almarhumah Mamanya, Nina menemukan empat buah kaset tua yang teronggok di sudut tertutupi tumpukan kain. Belum seminggu Mama meninggal, Nina yang kini sendirian tanpa saudara kandung dan Papa yang telah terlebih dulu meninggal, merasa hidupnya amat menderita. Melihat kaset-kaset tersebut membuat Nina penasaran sekaligus membangkitkan kenangannya tentang sosok sang Mama.
Bertahun-tahun bergelut di bidang sulih suara, Shava -nama Mamanya Nina- telah menghasilkan banyak karya. Nina memang tidak terlalu dekat dengan Shava karena wanita itu sebenarnya Mama tirinya, tapi Nina sangat menghormati dan menyayanginya dengan sepenuh hati. Tidak banyak hal yang diketahui Nina tentang masa lalu Shava, terutama mengenai kehidupan pribadinya. Maka ketika Nina mendengarkan kaset yang ditemukan tadi, ia terkejut karena kaset itu bagian dari rahasia masa lalu Shava.
Shava memiliki dua buah rumah, yang satu berada di tengah kota dan yang satu lagi berada di pinggiran kota Bogor. Rumah di pinggir kota itu sebenarnya merupakan villa yang hampir tidak pernah ditempati oleh Shava semenjak ia menikah. Nina memutuskan untuk menyendiri ke rumah tersebut sambil menenangkan dirinya dari rasa kehilangan terhadap sang Mama, ysekaligus mengatasi rasa penasarannya tentang empat kaset yang ia temukan.
Di rumah tersebut, bukan hanya rahasia Shava yang terungkap lewat kaset-kaset lama, tetapi Nina juga mulai mendapati keanehan pada rumah tersebut. Dihantui masa lalu Mamanya serta arwah tak tenang secara bersamaan, mampukah Nina mencari tahu apa hubungan antara keduanya?
Sebagai penulis cerita Horor, Eve Shi selalu pandai meramu ide ide cerita yang awalnya tampak sederhana menjadi cerita yang kompleks dan membuat penasaran pembacanya. Dibandingkan Aku Tahu Kamu Hantu dan Lost -dua novel Eve Shi yang pernah saya baca- The Bond memiliki kedekatan "pengalaman" tokoh utama terhadap pembacanya. Bermula dari sebuah kaset dan kematian Ibunda, sosok dan tragedi yang dihadapi Nina lebih mudah dibayangkan untuk benar terjadi di kehidupan nyata. Karena itu rasa takut yang hadir terasa lebih alami meski berhubungan dengan makhluk tak kasat mata.
Konflik yang dibangun juga diceritakan dengan apik dan penuh misteri. Unsur kejutan juga membuat pembaca betah melahap kata demi kata bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi di rumah tua tersebut.
Adanya dua alur serta tokoh utama yang berbeda di tiap alurnya tidak lantas membuat cerita ini sulit diikuti. Peralihan kisah dibatasi oleh bab bab yang berbeda dan mempunyai judul siapa tokoh utama dalam bab tersebut. Meski menurut saya porsi Nina masih kurang banyak, tetapi saya puas dengan cara penulis menjalin dua kisah berbeda menjadi sebuah cerita yang berikatan dan menguatkan misteri satu sama lainnya. Persis seperti judulnya, The Bond.
Saya tak akan banyak bercerita lagi daripada nanti keceplosan spoiler.
Tiga setengah bintang untuk The Bond. Bagi kalian penyuka kisah horor, masukkan buku ini di wishlist kalian segera!
Komen saya setelah menutup buku ini cuma satu; HONOGURAI (Dark Water) BANGET, YA!? Tentu saja, bukan saya ucapkan dalam arti meremehkan atau mengkritik. Menurut saya Honogurai nggak ampas, kok. Cuma seremnya keterlaluan... Dari segi itu, Bond setidaknya lebih bikin saya baper, dan rindu sama Mama...
Singkatnya, ini kisah tragis yang menimpa sebuah keluarga, yang kemudian jadi semacam efek domino, dan melibatkan entitas dunia lain, mengundang tragedi baru. Sekian!
GJ pengarang, bikin saya baper setelah selesai bacanya!
Pesan nggak penting: Kalau mau nuansa horor yang maksimal, jangan baca ini setelah nonton trailer Resident Evil 7 "The Bakers", karena akan bikin syaraf horormu ketinggian.
Kata orang, seri Lockwood & Co itu cerita horor. Kataku engga. Semacam cerita petualangan berlatar hantu.
Demikian juga The Bond. Boleh-boleh saja dikategorikan cerita horor, tapi menurutku sih tidak. Cerita keluarga iya, dengan latar hantu. Oya, plus kriminal. Tapi tidak menakutkan.
Kenapa?
Karena sikap tokohnya! Kalau tokohnya digambarkan takut, pembaca di'setir' untuk turut takut. Kalau tokohnya tak takut hantu, maka pembaca pun digiring untuk tak takut.
Hubungan yang tak lazim yang terjadi antara Daven dan Eira antara percaya dan tidak percaya. Bagaimana tidak, hubungan antara dunia nyata dan dunia entah berantah (dunia roh mungkin (?). Bagaimana menururt kalian??.
Secara keseluruhan, buku ini sangat rekomended untuk kalian yang menyukai cerita drama, keluarga dan horor yang di barengi dengan pemecahan misteri yang tak terduga dan menegangkan. Buku ini juga bisa dibaca untuk semua kalangan usia kok :)
Saya selalu suka gaya bercerita Eve yg pelan dan mengalir, walau ada typo dan bagian-bagian yg membuat saya mengerutkan kening.
Saya juga suka bagaimana Eve menempatkan hantu nggak selalu sebagai scare-factor, poin yg ada hanya untuk menakut-nakuti. Ini kenapa saya memberi bintang demikian :)
Ternyata gak seseram yang gw kira sebelumnya. Sempet was-was juga sih coz ada unsur cermin & kolam renang. Tapi bisa gw atasin ketakutan gw sendiri. Atau karna nuansa horor yang disajikan oleh penulis kurang terasa ya? hahaha Agak kecewa dengan endingnya, gw sih berharap lebih ada "kejutan2" lain.
"Cinta memang jauh lebih rumit dan besar daripada pihak-pihak yang saling mencinta"
Aku suka ceritanya yang mengungkap misteri di Rumah Belanda. Awalnya memang agak bingung, ketika pengenalan tokoh. Tapi lama-lama jadi paham melalui alur cerita. Aku sudah review lengkap di blogku: http://www.vindyputri.com/2016/11/the...
Ini cocok untuk yang suka misteri mengungkapkan sesuatu.
The Bond adalah buku pertama Eve Shi yg saya baca. Ceritanya menarik dan ringan. Bercerita tentang Nina yang baru saja kehilangan Mamanya. Dan disaat membereskan barang-barang Mamanya, Nina menemukan voice diary Mamanya. Voice diary itulah yg membawa Nina menelusuri kembali kepingan masa lalu keluarga yg ternyata menyimpan rahasia.
Banyak sekali berbagai pertanyaan dan misteri di dalam novel ini sehingga menuntut saya untuk segera merampungkan membacanya. Dan tanpa terasa saya sudah berada di akhir cerita. Ketimbang rasa takut atau horor saat membaca novel ini, saya justru merasa sedih. The Bond ini mengingatkan saya pada novel Tak Kasat Mata karya Rudiyant, sama-sama tentang manusia yg jatuh cinta pada hantu. Walaupun mungkin di The Bond kisah Eira dan Daven ini tidak diceritakan serinci Vebby dan Rifa'i. Tapi tetap saja cerita ini menyimpan luka. Walaupun semua misteri sudah berhasil dipecahkan tapi tetap saja baik Daven, Eira, Taruna ataupun Shava, mereka semua sudah meninggal. Kini tinggal Nina yang harus terus hidup menata kehidupannya kembali. Walaupun jujur sih saya sempat merinding sedikit saat bayangan wajah Daven dan Eira yg penuh lebam berlumuran darah muncul di cermin kamar kos Nina. Walaupun keduanya sambil tersenyum, tetap aja serem kalau sampai kejadian di kehidupan nyata. Haha.....
Novel ini recomended buat yg suka novel horor tingkat ringan. Kalau yg sudah level super serem mah pasti kecewa. Tapi over all saya suka saya novelnya.
The Bond, adalah novel horor Indonesia kedua yang aku baca setelah Danur (mungkin? Lupa juga sih). Ada dua hal yang membuatku suka (pada pandangan pertama) kepada suatu buku, yaitu kover dan sinopsis. Jujur, aku nggak begitu suka dengan kover The Bond meski cocok sama ceritanya sih, kuno, rumah Belanda, dan cermin yang meski disebut hanya sekilas.
Tetapi dari sinopsisnya, sumpah, keren pake banget!
Novel ini bercerita tentang Nina, seorang freelance designer yang ditinggal mati ibunya. Di rumah mendiang ibunya, dia menemukan empat kaset di dalam lemari. Di dalam kaset itu ada rekaman suara seorang gadis muda, bernama Shava, yang tidak lain tidak bukan adalah ibunya sendiri ketika masih muda.
---
Awalnya, aku cukup heran karena sudut pandang di sini menggunakan sudut pandang orang ketiga dari sisi Nina (sekarang) dan Shava & Daven (th 1989). Kupikir, Nina akan menjadi tokoh utama dari novel ini, tapi menurutku yang jadi tokoh utama itu adalah Shava dan Daven.
Meski Nina yang hidup di masa sekarang dan didapuk menyelesaikan masalah yang belum tuntas, peran Shava dan Daven lebih menonjol karena mereka hidup di mana konflik terjadi.
Rekaman suara itu berisi curhatan Shava tentang keseharian mereka berdua di rumah Belanda yang mulai dipenuhi mistis. Sebagai penggambarannya, dibuatlah POV dari sudut pandang Shava dan Daven.
Jujur, silsilah keluarga Shava sampai ke Nina membuatku agak bingung. Kehadiran Oma Detta sebagai pemeran pembantu adalah hal yang paling membuatku pusing (entah akunya emang lagi nggak konek), yang jelas beberapa kali aku harus bulak-balik halaman depan untuk memastikan, siapa sih Oma Detta itu dan dia berasal dari pohon keluarga yang mana. HAHA.
(Psst, aku sampai buat bagan keluarga mereka di selembar kertas!)
Karena ini novel horor, tadinya aku berpikir akan menemukan gaya bahasa yang rumit, dan mengajak pembaca untuk berpikir dua kali tentang plot-twist atau semacamnya, tapi aku tidak merasa begitu. Gaya bahasa yang dipakai lancar jaya, membuatku menikmati lembar demi lembar yang disajikan.
Secara keseluruhan, plot yang dipakai sangat menarik. Aku juga terkejut ternyata Daven yang pemurung itu bisa dengan ‘cepat’ berteman dengan hantu hanya karena sentuhan-sentuhan kecil yang seharusnya bikin merinding.
Hal. 195 aku baca saat itu hampir pukul 12 malam dan aku nyaris menjerit (untung masih bisa kutahan), langsung aku tutup novel ini karena mau lanjut baca juga takut nggak bisa tidur karena kepikiran. Horor banget! Scene mistis paling hebat yang ada dalam keseluruhan novel ini!