Ternyata tidak mudah menjadi Full Time Mother. Aku jenuh, aku butuh sesuatu yang lain untuk mengaktualisasikan diri. Bukan maksudku untuk menolak menjadi seorang ibu rumah tangga full time. Bukan aku tidak mensyukuri semuanya. Syukur itu sudah aku tanamkan sejak aku menetapkan pilihan ini. Tapi aku bisa apa saat ternyata semua menjadi tak mudah?!
Dan kau tahu apa yang terjadi denganku? Aku menjadi sangat labil! Gampang marah, sensitif. Apakah wanita-wanita yang lain juga mengalami hal yang sama? Atau hanya aku yang tak normal?
Curahan hati Agnes ini mewakili berjuta wanita yang pada mulanya mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keluarga, full time. Namun pada titik tertentu, kesadaran adanya "ruang-ruang kosong" dalam diri menuntut adanya eksistensi. "Ruang-ruang kosong" itu harus diisi, begitu tekad Agnes.
Dengan bahasa yang sederhana dan apa adanya, Agnes berhasil mengangkat kisah kehidupannya sebagai fulltime mother dengan begitu memikat. Bahasa yang mengalir membuat kita tak bosan berlama-lama membaca buku ini sampai tuntas. Juga salah satu bahasannya tentang pengobatan rasional membuka cakrawala pemikiran kita bahwa kita tak harus 'menelan' segepok obat hanya untuk menurunkan panas yang merupakan proses alamiah tubuh untuk memperbaiki daya tahan tubuh.
Oh No! (Agnes said) ketika harus ikut mendampingi suaminya di Belanda, ternyata banyak pelajaran berharga yang ia dapat terlebih penyesuaian diri ketika di Indonesia, bekerja dan mandiri, ternyata di Belanda harus jadi FTM (Full TIme Mother)... yang lucu pas Agnes n anaknya naik kereta yang biasa dipenuhi mahasiswa, eh ternyata dia ikut untuk anter anaknya sekolah... =)