Ketika food writer lain memusatkan perhatian pada rasa dan tampilan, Winona akan menajamkan telinganya untuk menilai pilihan lagu di sebuah tempat makan. Baginya, lantunan melodi memberi pengaruh besar terhadap suasana hati pengunjung. Semakin sesuai musik latar dengan hidangan, semakin tinggi penilaian yang akan Winona berikan.
Hingga kehidupan Winona berubah saat mengunjungi No. 46. Absennya musik latar dan kemisteriusan Aries mengusik benak hingga hatinya. Jerat yang coba dia lepaskan justru menariknya semakin dekat dengan pria yang menyimpan duka dan sepi yang terasa familier baginya. Belum cukup di situ, Winona pun harus berhadapan dengan Ethan—pesona dari masa lalu yang mengisi hidupnya dengan kenangan-kenangan manis.
Di antara iringan musik latar dan hidangan-hidangan lezat, Winona harus memilih: menghadapi rasa takut yang terus dia hindari atau kembali ke tempat ternyaman yang melengahkan?
Awalnya sekitar 10-15 halaman memang membuat saya bosan tapi selanjutnya tidak membuat saya kesal. Para tokohnya menyenangkan. Saking menyenangkannya nggak ada yang bisa dibenci. Ceritanya sangat nyambung dengan judul. Saking nyambungnya saya ga merasakan klimaks yang bikin emosi meluap-luap. Manis tapi terlalu datar.
Dengan 35 bab, buku ini mudah dibaca karena satu babnya kebanyakan 5 halaman, bisa dipastikan adalah sebuah page turner. Sasaran pembacanya sudah cukup jelas jadi kalau kamu suka buku lokal ringan dan tidak memuakkan, ini bisa menjadi opsi :)
Buku seperti takdir--terkadang datang menemui kita dengan jalannya sendiri. Buku juga nasib, karena kita mengusahakannya hingga benar-benar bertemu yang pas. The Playlist kurang lebih takdir sekaligus nasib bagi saya. Awalnya saya berkenalan dengan karya penulis, Lara Miya, dan saya amat menyukainya. Kemudian saya tahu sebelumnya penulis mengeluarkan novel bertema kuliner dan musik, tapi saya menunggu waktu yang pas untuk menikmatinya. Waktu itu akhirnya telah datang.
So, yay!
The Playlist dimulai dengan unik. Penulis resensi tempat makan yang juga eks penulis resensi konser musik menemukan restoran yang membuatnya terkena writer's block karena tak memiliki musik latar. Padahal, ulasannya memuat unsur itu. Dari situlah tokoh utamanya penasaran dengan sang pemilik restoran. Sementara itu, dia memiliki urusan yang belum beres dengan mantan kekasihnya yang berujung pada masalah keluarga. Karirnya sebagai penulis riviu juga terancam karena suatu kebohongan yang ditulisnya tanpa sengaja. Kok bisa?
Idenya juara. Serius. Sebagai penikmat musik ala-ala, saya senang mendapati ilmu baru di sini. Latarnya jelas mendapat banyak perhatian pembaca karena memuat unsur Bandung yang kulinernya ngangenin. Mood cerita di sini juga terbangun dengan baik.
Bagian favorit saya adalah karakternya, terutama satu Akang ini: Ethan. Dia terlalu lovable untuk jadi sidekick, dan kabarnya akan ada buku bagian dia sendiri, so double yay! Jika Winona musik + makanan, Aries makanan, maka Ethan musik. Dan, penggambaran Ethan dengan musiknya lebih masuk ke saya (baca: jodoh) ketimbang dua karakter sebelumnya. Rasanya, dia seperti punya aura anak musiknya sendiri.
Berhubung Lara Miya terbit setelah buku ini, wajar jika buku yang pertama saya sebutkan tadi memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang, bisa dibilang, memperbaiki apa yang sudah ada di sini. Dengan jeda terbit yang singkat, saya hanya bisa ber'wow' ria dengan perkembangan penulis. Contoh bagian yang meningkat di Lara Miya adalah chemistry dan interaksi antar tokohnya. Di sini, duka Winona, rasa kehilangannya, kedekatannya dengan Ethan, serta kemarahan Aries terasa masih bisa lebih digali lagi.
Terakhir, ada satu hal yang unik dan langsung saya tandai begitu selesai membaca buku ini. Vibes tiap bab berbeda-beda, menjadikannya terasa seperti pecahan. Mungkin karena sejarah cerita ini yang dulunya tayang di online platform yang memuat satu bab tiap update. Karena format situs dan buku yang berbeda, feel membacanya pun berbeda. Saya pikir ini cukup menarik untuk dijadikan bahan diskusi. Vibes yang berbeda ini didukung dengan gaya penulisan yang sedikit berubah juga tiap babnya. Contohnya, ada bab yang narasinya mengajak pembaca mengobrol ('Kalian tahu, kan?') tapi bab selanjutnya berjarak dan memberikan ruang sebagai pembaca saja. Ada juga yang bahasa Inggrisnya dicetak miring, lalu selanjutnya disingkat (tho alih-alih though), dan berikutnya tidak dicetak miring. Typo juga masih ditemukan di beberapa tempat seperti hal. 35.
Mengingat keahlian penulis dalam mendeskripsikan sesuatu, kegemarannya memasukkan unsur baru ke dalam cerita, serta kemampuannya yang meningkat dari waktu ke waktu, saya menunggu kejutan lain di buku selanjutnya. The Playlist ini seolah mengatakan bahwa suatu saat karya berikutnya akan membawa potensi lebih besar dan cerita yang makin seru.
Novel ini ditulis dari sudut pandang orang pertama, dari Winona. Itu sebabnya, pembaca akan merasa sedikit terkungkung karena hanya bisa mengamati dari sisi Winona. Meski demikian, penulis berhasil menyajikan latar yang tidak terpusat pada kata “aku”. Lengkap dengan gaya menulis Erlin Natawiria yang supel dan ringan, The Playlist menjelma jadi novel yang asyik.
Ceritanya sendiri banyak menyoal hubungan. Bukan hanya hubungan Winona dan mantan pacaranya, Ethan, tetapi hubungan-hubungan yang lain. Begitu memulai, saya cukup yakin bahwa pembaca akan penasaran pada alasan hubungan Winona dan Ethan berakhir. Namun, penulis menyimpan rahasia-rahasia itu rapat-rapat. Penulis pun mengakhri setiap bab dengan kalimat yang memicu penasaran. Tentu dengan petunjuk di sana-sini.
Seharusnya, aku tidak kembali ke tempat di mana kedua orangtuaku menghabiskan masa hidupnya di dunia. (h. 69)
The Playlist berhasil membuat pembaca penasaran dan ingin bergegas menemukan jawaban. Semakin lama membaca, kamu lalu akan tahu bahwa ada kisah tentang hubungan antarkeluarga di sini. Kalau kamu suka novel ringan yang mengemas rahasia dengan baik, saya sarankan untuk membaca The Playlist.
Satu hal lagi yang terasa sangat kuat di The Playlist adalah latarnya. The Playlist mengambil latar kota Bandung sebagai pusat segalanya. Saya memang belum pernah benar-benar menjelajah Bandung, saya hanya pernah ke kota itu untuk kunjungan singkat, tapi saya merasakan penulis berhasil menampilkan Bandung dengan kuat. Lewat jalan-jalan yang dilalui Winona, lewat tempat-tempat makan yang disinggahi, lewat makanan-makanan, saya bisa merasakan kehidupan Bandung.
Membaca The Playlist membuat saya bertanya, “Apakah semua tempat makan yang dikunjungi Winona ini benar-benar ada di Bandung?” Habis, meski penulis jarang menyebutkan soal nama tempat makan, bisa dibilang saya menemukan beberapa petunjuk yang (sepertinya) otentik tentang tempat makan piza yang populer itu.
The Playlist ditulis dengan gaya bahasa yang asyik. Lengkap dengan cowok jago masak dan dipenuhi makanan, novel ini cocok banget dibaca di akhir pekan. Apalagi buat kamu yang susah lepas dari jerat tokoh cowok misterius. XD
Bukan seperti kisah cinta biasanya, well buku ini agak beda dengan kisah-cinta-klise lainnya. cara penulis mengungkapkan apa yang dirasakan sangat baik tapi sangking misteriusnya banyak yang gak tuntas pada akhir cerita. Khususnya bagian gimana Winona akhirnya baikan sama ibu tirinya. Serius deh itu sebenernya pokok permasalahan si Winona kan, hubungan antara bapaknya dan kelanjutan sama ibu tirinya. Dan penulis men-skip bagian akhir hubungan sama ibu tirinya. Hanya sekilas aja. Padahal yang ngebuat karakter Winona seperti itu kan karena masalah keluarganya. Dan gue udah penasaran banget gimana hubungan akhir Winona sama keluarganya. Mungkin karena bukunya tidak tebal jadi gak cukup untuk menjelaskan semua karakter kali ya. *sotoy mode on
Dan inilah bagian yang gue suka hubungan antara Winona dan Aries. Mereka ditemukan sebenarnya agak klise hanya saja cara penulis mempertemukan pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya. Gue suka banget sih, like seriously unik banget dan patut diacungi jempol!! Apalagi epilog yang manis akh membuat gue bahagia membacanya.
Anyway gue mendapatkan buku ini dari event #blindDateWithaBook yang diselenggarakan oleh kedua host yang gak sabar buat gosip yaitu kak Afifah dan Kak Tya>//
Tebakan gue sih yang ngirim buku ini kak Athaya uname twitter @jeruknipisanget yah semoga bener ok!
Cukup baik sebagai bacaan selingan dikala hectic nya kehidupan ku recently. Karena aku lagi malas baca yang heavy dan asal pinjam aja di Ipusnas. Not bad but not good thoo.
"I think we're meant to be for something else." (hal. 206)
Winona pekerja lepas di Yummyfood. Kerjanya mencicipi makanan dan mereview tentang segala hal restoran atau cafe tersebut. Yang paling unik dari caranya mereview adalah ada penilaian khusus untuk Musik Latar. Yang baginya musik latar itu sangat penting untuk suasana restoran
Sayangnya, ada masalah dengan Reviewnya yang dianggap fiktif alias menipu. Padahal kesalahannya bukan dari Winona, melainkan Chef pemilik La Belle Luna dengan Aries pemilik restoran no.46
Masalah apa sebenarnya diantara 2 orang ini?
Winona sendiri memiliki masalah pada masa lalunya. Bahkan dengan mantan yang masih sering mengusik perasaannya. Tapi, seakan semua saling berhubungan. Membuat dia harus merangkai puzzle yang entah akan meruntut ke arah mana
Akankah semuanya menjadi jelas dimata Winona?
Yay, finish. Kisah ini cukup ringan dan tipis. Premisnya sendiri ringan tapi complicated menurutku Cerita ini kayak kepingan puzzle dan misteri. Yang bikin aku mikir siapa Aries? Siapa Ethan? Tapi perlahan dijelaskan dengan runtut dan rapih. Aku suka pengemasan ceritanya Tokohnya sendiri feelnya dapat abis. Apalagi Winona sendiri yang belum bisa berdamai dengan masa lalunya. Tiap tokoh yang memiliki kisah masing-masing dan penyelesaian yang cukup melegakan Aku jadi baru sadar, kalau memang setiap restoran atau cafe punya playlist musik masing-masing hehe bahkan bisa jadi keunikan gituh Overall, suka dan cukup menghibur
Cerita roman ringan yang menghibur dan dapat dibaca kapan saja adalah kalimat yang cocok menggambarkan keseluruhan isi buku ini. Konflik yang terjadi di dalamnya tergolong tidak begitu rumit menurut saya pribadi, namun yang lebih mendominasi adalah segi kulinernya. Sepanjang membaca saya menanti-nanti dan bertanya-tanya tentang konflik uama dalama buku ini. Terkesan penuh misteri namun tidak, saya rasa konfliknya memang sengaja disembunyikan atau ditampilkan menjelang beberapa bab terakhir cerita. Kisah romantis antara Ethan dan Winona di masa lalu juga sering dibahas dalam bentuk flashback.
Sebenarnya yang menarik dari buku ini bukan konfliknya tapi bagaimana pekerjaan Winona sebagai food writer mempertemukannya dengan laki-laki asing yang di kemudian hari jadi banyak berurusan dengannya, juga bagaimana pekerjaannya membuat ia bisa menyelesaikan masalah pribadinya dengan orang-orang di masa lalunya. Kemudian, karena buku ini memang membahas tentang kuliner, beberapa tempat makan atau mungkin semua yang dibahas benar adanya di Bandung membuatnya jadi menarik. Pembahasan tentang musik sebagai unsur penting dari cerita juga cukup bagus walau memang yang lebih mendominasi tetaplah kulinernya.
The Playlist adalah novel ke-2 Erlin Natawiria yang kubaca. Novel ini mengisahkan kehidupan Winona, seorang food writer. Winona dulunya bekerja sebagai reviewer acara musik di Sound & Beat, hingga kemudian suatu kejadian membuat dirinya harus resign.
Winona yang kehilangan pekerjaan, akhirnya mendapatkan tawaran pekerjaan oleh Ghina, sahabatnya sebagai food writer di YummyFood. Pekerjaan ini membuat Ghina bisa mencicipi makanan dari kafe/restoran dan kemudian memberikan ulasan terkait tampilan dan rasa dari makanan/minuman yang disajikan. Namun, ada yang berbeda dengan ulasan Winona. Tidak seperti food writer lainnya, Winona punya ciri khas tersendiri. Winona memasukkan unsur musik latar di sebuah tempat makan sebagai salah satu unsur penilaiannya. Ide yang sungguh menarik sekali ya :)
Hingga kemudian, Winona mendapatkan kesempatan untuk mengulas sebuah kafe baru bernama No.46. Winona sangat terpikat dengan rasa dari makanannya, apalagi pemiliknya sendiri Aries yang menyajikannya langsung. Namun, tidak seperti kafe lainnya yang pernah dikunjungi dan diulasnya, No,46 sungguh berbeda. No.46 sama sekali tidak ada musik latar dan itu bencana bagi Winona. Ada yang terasa kurang baginya, dan ini berdampak juga terhadap ulasannya. Tiba-tiba saja Winona mengalami writer's block bingung harus membuat ulasan seperti apa, ada saja yang kurang.
"Masalahnya, Ethan, enggak ada aturan yang mewajibkan tempat makan buat memasang musik latar. Hanya saja, ulasanku jadi tidak seragam dengan yang sebelumnya. Datar. Tidak ada ciri khas. It bothers me a lot." (Halaman 37)
Ternyata kunjungan Winona itu bukan pertama kali dan terakhir, karena secara kebetulan Winona akan bertemu kembali dengan Aries, pemilik No.46 dan itu terjadi berulang kali. Pertemuan demi pertemuan dengan pria misterius yang tampan dan jago memasak, yang mengundang rasa penasaran Winona semakin dalam.
Tidak hanya itu, mantan kekasih Winona, Ethan pun hadir kembali. Ethan yang sulit sekali untuk dilupakan. Bagaimana akhir kisah Winona? Dengan siapa Winona akan berakhir, pria misterius seperti Aries atau pria masa lalunya, Ethan?
"Mungkin memang harus seperti ini. Mungkin kita dipertemukan untuk belajar memperbaiki kesalahan, supaya tidak terulang lagi nanti ... saat bersama orang baru." (Halaman 206)
Membaca kisah ini sungguh menyenangkan sekali. Aku benar-benar dibuat penasaran dengan kisah Winona. Kak Erlin benar-benar pandai menyimpan kepingan demi kepingan misteri kehidupan Winona, termasuk alasan Winona dan Ethan putus, rahasia masa lalu Winona, Ethan juga Aries.
Setiap bab ditulis dengan halaman yang tidak cukup panjang, tetapi selalu diakhiri dengan sesuatu yang "menggantung", membuatku tidak sabar untuk terus membaca hingga akhir. Gaya tulisan yang lincah dan mengalir, membuat novel ini sungguh nyaman untuk dinikmati.
Kak Erlin benar-benar mengeksekusi kisah Winona ini dengan cukup baik. Pekerjaan sebagai food writer dan ide tentang musik latar itu suatu hal yang unik dan berbeda, yang aku rasa masih sangat jarang diambil oleh penulis lainnya. Membuat novel ini menjadi segar dan berbeda.
Dari segi karakter, baik Winona, Ethan maupun Aries punya karakter yang kuat dan sama-sama loveable. Jujur, sulit sekali memilih antara Ethan dan Aries, tapi jika disuruh memilih aku rasa aku akan memilih Aries dengan segala pesonanya dan hobinya memasak. Perempuan mana sih yang gak merasa tersanjung jika kekasihnya memasakkan makanan special untuknya. Walaupun Ethan juga pria yang terlalu sulit untuk ditolak.
Unsur makanan dan musik juga memberikan warna tersendiri dalam novel ini. Kayaknya seru juga punya pekerjaan seperti Winona, bisa mencicipi makanan dan minuman kemudian mengulasnya. Cuma tantangannya adalah kalau kita punya alergi terhadap satu jenis makanan, itu akan sangat menyiksa sekali ya :) Membayangkan kafe/restoran yang diulas Winona, seperti aku ikut merasakan cita rasa dari makanan yang disajikan. Apalagi Bandung terkenal dengan surga kulinernya, yang membuat aku selalu kangen untuk berkunjung kesana. Kira-kira kafe/restoran yang ada dalam novel ini sekedar fiksi atau memang terinspirasi dunia nyata ya? Pengen juga merasakan sensasinya sendiri seperti Winona.
Aku pun sependapat dengan Winona, ternyata musik latar juga bisa memberikan sesuatu yang menarik. Rasanya makanan atau minuman yang disajikan bakal lebih terasa nikmat jika musik latarnya pun sesuai. Hal kecil yang mungkin sering luput dari perhatian kita. Kayaknya wajib dicoba sambil menikmati makanan/minuman yang kita pesan, kita juga lebih mendengar musik latar yang diputar.
Secara keseluruhan, novel ini tidak hanya menawarkan sebuah kisah romansa biasa antara Winona dengan 2 pria memikat, Aries dan Ethan saja. Tetapi juga kisah persahabatan antara Winona-Ghina yang sungguh membuat iri, wisata kuliner dan musik latar yang memanjakan lidah dan rahasia masa lalu yang terkuak dan butuh penyelesaian.
The Playlist bisa menjadi pilihan yang tepat untukmu di kala akhir pekan atau saat kamu butuh bacaan ringan yang bisa menghibur, aku rekomendasikan novel ini untuk kamu baca. Selamat menjelajah Kota Bandung bersama Winona :)
4 Bintang, karena kak Erlin bikin aku jatuh cinta sama Aries lagu-lagu Copeland sih. Akhirnya setelah seribu purnama enggak baca buku--sudah mencoba namun gagal di tengah-tengah, akhirnya ku ebrhasil menamatkan inid alam waktu satu minggu :( Padahal ya, novel ini enak dibaca sambil duduk santaiii.
Winona, food writer yang membuat ciri khasnya sendiri--dengan menambahkan penilaian tentang lagu latar yang diputar di tempat makan tersebut. Sama seperti penulis lainnya yang agak misterius, Winona pun begitu, punya masalah dengan keluarga serta love-hate dengan si Ethan.
Oh, jangan lupa sayangku Aries yang misterius, menggemaskan namun peluk-able itu. Sayang sekali karena Aries enggak ada di dunia nyata.
Ethan, duh ya gemesin tapi bikin jengkel juga.
Hidup Winona baik-baik saja, sebelum meliput di La Belle Luna yah walaupun punya masalah, tapi dia bisa menangani masalahnya dengan baik tanpa harus terlibat di banyak drama. Yah untungnya sih dia udah keluar dari penulis ulasan musik, dan terlibat di Yummy Food
Yah, tapi masalah tetap harus diselesaikan bagaimanapun keadaan kita kan? Mungkin awalnya Winona ragu, tapi ada Aries yang yah begitulah, masalah mereka hampir sama, tapi Winona selalu bilang ke Aries "jangan sampai seperti aku."
Kita diajak jalan-jalan di kota Bandung, (sepertinya akan jadi tempat yang cocok untuk jatuh cinta selain Ubud dan Jogja.) ke Braga, Dago, lalu lihat Milky Way..
Kak Erlin bercerita dengan santai, kita nggak diburu-buru untuk segera menyelesaikannya, yah karena pelan-pelan menikmati Aries adalah hal yang menyenangkan kan?
Food writer, demikian yang tertulis dalam buku ini. Pekerjaan yang sedang digeluti oleh Winona yang membuat saya tertarik. Terlebih, saat ini yang namanya Food Blogger sudah mulai banyak, dimana para blogger bebas menilai setiap tempat makan yang mereka kunjungi, tanpa terikat prosedur ini dan itu. Berbeda dengan menulis ulasan untuk majalah dimana sudah tentu kita harus mengikuti aturan yang berlaku di tempat tersebut.
Membaca buku ini, seperti mengikuti rutinitas sang penulis ulasan setiap harinya. Ini mengingatkan saya juga pada beberapa teman saya yang memang seorang food blogger. Dimana blogger ini mengkhususkan dirinya untuk menulis ulasan tentang makanan. Kalau saya pribadi lebih dikenal sebagai Book Blogger, yang sering menulis tentang buku di blog saya.
Ini buku yang bagus banget dari segi penulisan berikut dengan latar belakang sang tokoh utama yang merupakan seorang penulis situs penilai makanan. Uniknya bukan hanya makanan yang dinilai tapi juga playlist musik pemilik restoran atau cafetaria tsb dinilai. Dan bagaimana menceritakan kisah sang tokoh utama mengenai hubungannya dengan mantan dan juga orang yang baru ia kenal cukup menarik, mampu membuat pembaca semakin penasaran serta enggan menutup buku ketika telah mulai membukanya. Endingnya juga ga drama banget, terkesan realistis dan bisa saja dihadapi oleh pembaca lain dalam kehidupan umumnya. Dan salut, sebelumnya judul the playlist ini saya temukan di salah satu situs kumpulan penulis, dan the playlist benar-benar telah muncul di toko buku dalam bentuk buku fisik. Hal tsb ternyata sesuai dengan isi buku yang benar-benar bagus dan recommended banget!
Ada beberapa kalimat yang bikin bingung karena tidak jelas hubungannya dengan kalimat sebelum dan sesudahnya. Baru tahu nyambungnya di beberapa paragraf sesudahnya.
Sebetulnya ceritanya cukup unik karena menggabungkan kuliner dengan musik tapi saya kurang bisa menikmati karena dengan dua tema sekaligus, cerita jadi terasa kurang konsisten.
Sebagaimana novel romantis pada umumnya, tokohnya tampil dengan ciri fisik yang menarik, terutama cowok-cowoknya (tokoh cewek minim deskripsi). Tapi saya suka bagaimana penulis menceritakan darimana asal ciri fisik ala Italy yang dimiliki salah satu tokoh utama cowoknya.
Konflik keluarga yang dimiliki beberapa tokoh cukup menarik, tapi alur romansanya seperti biasa, terlalu indah untuk terasa nyata.
Eh kok bagussss Awal baca udah bikin nagih untuk nerusin baca tanpa terdistraksi bacaan lain Pembukaan rahasianya juga cukup 'ga kepikiran' Lumayan bikin goyah dari awalnya #TeamAries jadi #TeamEthan trus gtu aja ganti2an sampe 3 bab akhir. Bahkan saat bab akhir walaupun udah menentukan tebakan, tapi 10% nya masih mengharapkan sebaliknya wkwk Sempet bikin nyesek juga saat Winona ngelepasin :'''') Untuk penulisannya pas akhir2 sempet nemu formatting yg kacau nih, kaya biasanya kata asing di-italic, eh ini engga Just a minor problem but it makes the flaw for this book But hey, latar yg dipake beneran ga sih? Jadi pengen nyobain yamin pangsitnya btw hahaha
"I think we're meant to be for something else." 😂😂😂
Dibaca dalam rangka mengisi waktu luang waktu lebaran (juga). Awalnya tertarik dengan cover-nya, ditambah blurb-nya juga menarik; membahas kuliner dari musik yang diputar. Premisnya bagus, latar Bandungnya membawa pada tempat yang belum pernah kukunjungi. Tapi untuk plot kurang terasa gregetnya. Hubungan antara Aries dan Chef itu hanya disebutkan dengan Aries yang benci segala hal tentang Italia sebelum terungkap rahasia masa lalu. Untuk penyelesaian hubungan Winona dengan orangtuanya juga tidak dieksekusi dengan baik. Nilai plus dari buku ini adalah latar Bandung dan isi per bab yang sedikit. Sekali lagi, ini jenis buku dengan konflik ringan yang dibaca menemani hari hujan dan kebosanan setelah unjung lebaran.
“Kamu terlalu mikirin pandangan orang lain.” — page 135
•••
Novel ini menurutku sedikit berbeda dan menganut ide yang anti-mainstream tentang seorang Winona— freelancer sebuah majalah makanan yang mengulas restoran. Ciri khasnya, Winona ini menambahkan penilaian lebih berdasarkan musik latar.
At all, aku suka ide ceritanya. Cuma menurutku agak terburu-buru dan penyelesaian konfliknya juga masih membingungkan. Tiba-tiba kok begini, terus kok begini? Dan menurutku suka loncat gitu dari masalah satu ke dua. Terus banyak typo yang bertebaran.
Di samping itu, aku juga suka gaya bahasanya yang mengalir.
Suka banget sama ide ceritanya. Fresh. Jadi mulai dengerin playlist resto2 kalo makan. Selama ini mikirnya kalo mereka asal setel musik aja gitu, soalnya pernah ke sebuah resto, trus ada jeda iklan spotify dong di antara lagu2nya, jd ya yg penting asik didengeraja sih.
Tapi emosi sama Ethannya gak dapet ya, apa saya yang lagi gak konek? Justru sama Aries lumayan dapet meski gak greget banget jg.
Trus racun yang didapat dari novel ini adalah jd pengen ke bandung dong, main2 di jalan Braga yang famous itu. Langsung lah booking hotel dekat Braga buat liburan nanti.
Mengenal Erlin sejak mulai menikmati karyanya di Storial. Menemukan The Playlist ini juga awalnya dari sana. Sabar banget nunggu update chapter demi chapter, sampai akhirnya dia mengumumkan kalo The Playlist akan diterbitkan dalam bentuk fisik. Dulu namanya bukan The Playlist kalo ga salah ya, dan walaupun ada beberapa bab yang ceritanya diubah juga namun cintaku buat Ethan tetaplah sama..
Melihat sisi lain kehidupan seorang foodwriter dalam sebuah novel sungguh berbeda sekali. Jarang sekali novel indo yang mengulas tema seorang foodwriter and the romance actually.
Sangat rekomendasi untuk dijadikan sebagai pendamping di kala waktu senggang dalam balutan cuaca di Indonesia yang lagi musim hujan. Yes, the playlist setelah kubaca setting cuacanya "hujan"
Novel ini juga ngajarin kita cukup banyak hal loh. Mulai dari belajar untuk menyelesaikan masalah, mencari tau titik permasalahannya, dan mencoba mengikhlaskan masa lalu dan berbaikan dengan masa lalu. Yang jelas, nggak nyesel baca ini :)
heart warming, ini perasaan yang pertama aku rasain waktu baca cerita di dalamnya ;) aku suka sekali sama suasana dan emosi yang berhasil dihidupkan dari tiap tokohnya. truss dari cerita ini, aku jadi tau gambaran suasana di Bandung, seru abisss! aku suka sama semua makanan yang dimakan Winona, btw love you Aries dan Ethan!
dulu tau cerita ini dari platform oren. pas mau baca ternyata sudah diterbitkan dan baru punya kesempatan untuk baca novel ini sekarang. wow ga nyangka ternyata aku suka sama novel ini. ide ceritanya oke. bacaan ringan yang bisa selesai cuma dalam beberapa jam aja.
Jalan ceritanya cukup menghibur, namun sayang End nya agak nanggung. Krn ada percakapan Winona dengan Ghina mengenai pernikahan. Saya cukup berharap bahwa ceritanya akan berakhir dengan pernikahan.