The Art of War-Sun Zi adalah buku perang pertama di dunia. Buku yang terdiri atas 5.900 huruf klasik Tiongkok ini disajikan kembali oleh Andri Wang dengan penjelasan yang akan memudahkan pembaca dalam memahaminya.
Tidak hanya dibaca oleh kalangan angkatan bersenjata, buku ini juga menjadi pedoman bagi para pelaku bisnis dalam menjawab persaingan masa kini yang begitu ketat. Strategi dan taktik perang yang relevan untuk persaingan sepanjang masa ini akan membantu kita dalam memenangkan segala kompetisi.
Bulan lalu, ketika aku mengunjungi toko buku, aku menemukan buku berjudul The Art of War. Judul buku itu membuka kembali ingatanku saat aku SMA. Judul yang sama pernah ku lihat di sebuah majalah remaja. Detik itu juga, aku teringat kata-kata “cepat seperti angin, tenang seperti hutan, dahsyat seperti api, diam seperti gunung.”
Kata-kata itu rupanya pernah ku baca di Detective Conan vol. 59. Dalam sejarah Jepang, kalimat ini dikenal dengan sebutan “Furinkazan”. Furinkazan yang terdiri dari gabungan kanji Angin, Hutan, Api, Gunung ini merupakan strategi perang daimyo Shingen Takeda yang terinspirasi dari Sun Tzu. Ingatan tentang kalimat itu membuatku ingin membaca buku itu. Sayangnya, saat itu aku tidak bisa membelinya karena uangku sangat terbatas. Kemudian aku menemukan versi terjemahannya di iPusnas.
Awalnya aku bingung kenapa di versi ini namanya diubah menjadi Sun Zi. Aku sempat meragukan apakah benar ini The Art of War yang sama dengan yang ku lihat di toko buku. Yang ku lihat di toko buku adalah versi terjemahan Bahasa Inggris, sementara yang ku pinjam dari iPusnas adalah versi terjemahan bahasa Indonesia. Aku baru yakin ini buku yang sama setelah menemukan penjelasan lengkap mengenai taktik Furinkazan pada halaman 38:
“Manuver perang haruslah seperti angin yang bertiup kencang. Lakukanlah gerakan tanpa suara dengan tenang seperti berada di dalam hutan rimba yang sunyi senyap. Ketika menyerang, kita harus seperti semburan api yang besar. Jika mempertahankan diri, kita harus kokoh seperti gunung yang tak tergoyahkan. Jika sedang bersembunyi, lakukanlah seperti berada dalam cuaca yang mendung dan gelap. Apabila ingin menyerang musuh, lakukanlah seperti kilat yang menggelegar.”
Usai membaca penjelasan ini, aku paham mengapa daimyo Shingen Takeda menggunakan ini sebagai standar taktik perangnya. Bagian ini sangat berguna ketika kita hendak memasuki dan menyerang wilayah musuh. Bagian ini juga bisa diterapkan pada bidang lain, seperti bisnis.
Buku ini tidak hanya menjabarkan taktik serangan dan bertahan. Salah satu poin yang kerap ditekankan buku ini adalah perencanaan. Berulangkali Sun Zi menekankan pentingnya perencanaan sebelum berperang. Tidak hanya rencana untuk menang perang, tapi juga rencana logistik serta mempelajari seperti apa musuh yang dihadapi. Karena isinya yang detail, dari perencanaan hingga pelaksanaan perang, tidak heran The Art of War menjadi panduan bagi banyak tokoh dalam berbagai bidang.
Menurutku, The Art of War sangat cocok dibaca bagi mereka yang kesulitan membuat perencanaan atau taktik berbisnis. Namun satu hal yang perlu diingat. The Art of War ditulis berdasarkan situasi pada masa peperangan. Untuk memahami isinya, kita perlu membacanya beberapa kali sehingga kita tidak salah menginterpretasikannya.
Sebenernya lagi baca Stephen King, tapi ke-distract sama buku ini karena halamannya cuman 100-an. Yaudah cus pinjam online di iPusnas.
Kenapa aku baca ini? Karena aku suka game perang. Bukan yang perang 5v5 atau yang dikit ya, tapi perang kolosal yang kayak perang kuno jaman doeloe. Kerajaan lawan kerajaan. Contohnya Rise of Kingdoms. Main game itu emang beneran butuh taktis yang dijelasin di buku ini.
Ehhh buku ini gak cuman buat perang yang kek aku sebutin gitu ya. Aku juga pernah baca kalo buku ini juga cocok dibaca kalo kalian emang ingin terjun di dunia bisnis. Yakkk perang dagang! Bisa nyontoh dari sini juga.