Sebenarnya saya baca ini berselingan sama Für Immer Dein, Ian, jadi kelihatannya cepat selesai di Goodreads. Kalau nggak salah dari dua atau tiga hari lalu. Saya pinjam ini di iPusnas, tempat yang sama dengan waktu saya pinjam novel berlatar Jerman terbitan Grasindo lainnya, Pain(t). Dan sepertinya novel ini yang terpendek di antara novel lokal berlatar Jerman lain yang pernah saya baca.
Sejauh ini ada enam buku lokal berlatar kota-kota di Jerman yang saya temui:
- Heidelberg: Pain(t) – Jee
- Würzburg: A Day to Remember – Kireina Enno
- Köln/Cologne: Love Lock – Pia Devina
- Hamburg: Alster Lake – Auryn Vientania
- München/Munich: Für Immer Dein, Ian – Valerie
- Frankfurt: Frankfurt – Ninna Rosmina
Sama seperti FIDI, di Frankfurt kita tidak hanya menemukan kota Frankfurt saja, tapi juga München dan Berlin (kayaknya tiga kota itu deketan, ya? Coba ah nanti lihat di peta). Saya lowkey nungguin Bayern Munchen disebut di FIDI tapi ternyata saya malah ketemunya di buku ini. Tempat wisata populer juga lebih banyak disebut di sini seperti Goethe Haus dan Frankfurt Book Fair, sedangkan FIDI mengambil latar taman, supermarket, dan apartemen.
Meski dibuka dengan adegan di Frankfurt, bagian jalan-jalannya baru ada di setengah ke akhir. Dan cerita intinya lebih ke misteri dibalut elemen supranatural. Omong-omong soal romance novel trope, buku ini lebih cocok untuk yang suka atau nggak masalah dengan insta-love, love triangle, dan cousin main/second lead (saya nggak mau spoiler terlalu jauh hehe, tebak sendiri aja). Alurnya campuran dan semua kilas baliknya penting. Yang cocok sama cerita to-the-point sepertinya bisa menghabiskan buku ini sekali duduk.
Tokoh utamanya, Calibri (lucu banget kayak nama font 😆) memiliki gift bisa melihat sesuatu—bukan hantu, kok—dan Radiant yang setahun lalu mengalami peristiwa tragis merasa hanya Calibri yang bisa memahaminya. Keseringan mantengin subreddit AITA membuat saya paham bahwa di dunia nyata ada orang yang bisa move on dalam waktu singkat. Sisi turunnya, orang itu mungkin akan kurang mendapat simpati. Paling itu yang bisa saya bilang soal Radiant, karena peristiwa tragisnya benar-benar tragis. Dan meski tahapan duka seseorang nggak selalu urut, jika sesingkat itu, saya jadi meragukan perasaannya pada Calibri, apa dia benar-benar tulus atau hanya karena gift-nya.
Hawa Jermannya sendiri cukup terasa dari percakapan Deutsche-nya yang mengalir alami, dilengkapi pemilihan latarnya. Kalau dari sikap dan keputusan dan takdir para tokohnya sendiri, karena mereka orang Indonesia, jadi lebih ke Indonesia sih ketimbang cool dan sat-set-sat-set-nya Jerman, meski buku ini singkat dan proses jatuh cintanya tergolong cepat. Cuma karena saya belum pernah ke sana, saya kurang tahu valid nggak opini saya ini wkwk. Ya, buat pribadi, menemukan bahasa Jerman yang lebih banyak dari bacaan saya sebelumnya yaitu FIDI cukup melegakan. Oh ya, di Love Lock, tokoh-tokohnya juga pergi ke kebun binatang, seperti Calibri-Radiant-Emil. Ada apa dengan Jerman dan kebun binatang? Hmmm.
Buat yang mau icip-icip novel magical realism (? koreksi kalau saya salah) lokal berlatar luar negeri yang ada di iPusnas, mungkin bisa ambil buku ini.