''Belajar itu di sini Wati, di tengah kehidupan, bukan di sekolah!'' (Dunia Sukab bagian 2, cerita 6, Wati Memakai Sepatu Tinggi).
Dibaca sambil menunggu proses pembuatan BPJS dari antrian 19 sampai 43. Isinya ringan tapi tidak ringan.
Buku ini berisi 17 cerita pendek. Terbagi menjadi 3 dunia. Tidak semua tokoh dalam cerpen-cerpennya ada Sukabnya ya.
Saya tidak tau atas dasar apa pembagian ''dunia'' dalam buku ini, tapi saya cukup suka.
di dunia 1, cerpen2 yang ada masih ringan, bahkan ada beberapa yang masih mampu membuatmu nyengir dan tertawa tanpa suara.
di dunia 2, cerpennya mulai getir. mulai mampu membuatmu tidak sabar menunggu tanda titik agar bisa bernapas sejenak.
di dunia 3, ah. bagaimana menjelaskannya ya.
yang jelas saat masuk ke dunia 3, saya benar-benar harus menahan emosi saya dengan baik supaya gak nangis-yang sayangnya gagal. untung saya gak diberi tatapan aneh oleh pengunjung kantor bpjs yang lain.
ada 5 cerita yang sudah pernah saya baca di beberapa buku lain. sisa cerita lain baru kali ini saya baca. dan baik yang sudah atau belum saya baca, semuanya apik dan mampu membuat saya kembali ''membumi''. indah.
cerita yang paling favorit yang HooiyyAAAiyyOOO!, Banjir, Potret Keluarga, dan Jakarta 14 Februari 2039. ambyar. saya sampai mengulang 2x di cerita-cerita itu. saya membaca sambil memikirkan, apa yang ada di pikiran Oom Seno saat membuat cerita-cerita itu???
***
''Warni oh warni, betapa aku selalu menunggumu di jembatan itu. Bau bedakmu yang murahan, kaos oblongmu yang kampungan, dan hidungmu yang pesek menggiurkan, betapa aku rindu padamu Warni..''
''Kecantikan seorang wanita bukan di wajahnya, Marni, tapi di dalam kepalanya, otaknya'' kata ibu selalu.
''Budi, kamu jangan mimpi''
''Aku tidak mimpi. Aku berjuang''
''melarat amat, sih, kamu? Dasar gembel!''
''Gembel, ya, jangan dirampok,''
Saya beli melalui playbook seharga 29.000. jadi pengen beli versi cetak untuk koleksi hh.
bagus. rekomen!