Brownies, es krim cokelat, dan tiramisu. Itulah arti wanita bagi Will Amethyst Rivendell, mantan vokalis band classic yang memiliki wajah rupawan dan suara luar biasa. Dalam hidup yang tidak pernah mengenal cinta, arti seorang wanita baginya memang tak pernah lebih dari itu.
Namun setelah berjumpa dengan Juliette, gadis cantik yang menderita rabun senja, Will akhirnya mengerti betapa cinta bukan perkara sepele. Dan Juliette dengan cara yang indah telah mengajarkan Will, bahwa cinta adalah sebuah keajaiban yang menakjubkan.
Will & Juliette, sebuah novel romantis yang akan membuat sepasang mata anda berkaca-kaca, dan mengerti arti cinta lebih dalam.
Adalah Will Amethyst Rivendell, mantan vokalis band rock Amerika era ’80-an berumur 33 tahun yang masih saja melajang. Yang daya pikatnya tak pernah lekang walaupun bandnya kini hanya hidup dalam hati dan jiwa para pecintanya. Suara serak dan memukau milik Will-lah yang telah membuat para penggemarnya tetap memujanya dan selalu merindukannya meski kini Frightening Beauty hanya tinggal nama. Tak terkecuali gadis-gadis New York yang tak dapat menyelamatkan diri mereka dari kharisma pria bermata hazel green—cokelat kehijauan—yang menawan ini. Namun Will tak hanya membuat para mantannya memiliki kesan yang indah karena memilikinya—ia juga membuat mereka sakit hati karena di mata Will gadis-gadis itu tak ubahnya seperti brownies, es krim cokelat, dan tiramisu. Mereka tampak menggoda dan menggairahkan pada pandangan pertama, tapi ketika telah mencicipinya Will akan segera merasa bosan dan kemudian akan meninggalkan mereka begitu saja tanpa sedikitpun sesal. Hal ini membuat Cedrella Amaryllis Rivendell, adik Will yang selalu gusar dengan tingkah laku kakaknya yang semakin tak terkendali, menjadi kewalahan dibuatnya. Kegilaan The Amethyst in the Stillness, julukan yang diberikan para penggemar untuk sang vokalis, ini semakin menjadi ketika sebuah perjanjian yang 12 tahun yang lalu dia buat bersama Frightening Beauty kini muncul kembali bersamaan dengan munculnya Vai Rhea Frell, mantan basis Frightening Beauty yang juga pernah menjadi orang terdekat Will, di tengah-tengah mereka. Perjanjian keramat itu membuat The Amethyst dihadapkan pada mimpi buruknya yang selalu berusaha diabaikannya: MENIKAH. Satu kata yang menjadi momok dalam jiwa Will dan hampir tak pernah ada dalam daftar kamusnya. Untuk menyelamatkan dirinya dan nama baiknya dari perjanjian laknat itu, The Amethyst harus bekerja keras mencari wanita untuk segera dinikahinya. Tak seorang wanita pun bersedia untuk menjadi pasangannya, karena mereka tidak mau terlibat dalam permainan gila sang vokalis yang hanya menjadikan pernikahan sebagai ajang pertaruhan sesaat saja. Bersamaan dengan upaya penyelamatan dirinya, benih-benih cinta tumbuh dalam hatinya ketika dia bertemu dengan seorang penderita rabun senja tapi sangat mempesonakan hatinya. Gadis yang tak luput dari rencana jahat The Amethyst itu berbalik menjadi makhluk terindah yang mampu memporak-porandakan hatinya dan hampir membuatnya tidak bisa mengenal dirinya sendiri. Jangan lewatkan perjuangan The Amethyst in the Stillness dalam memperjuangkan cinta sejatinya. Akankah The Amethyst menjadi salah satu dari sebagian orang-orang bahagia yang menghabiskan sisa hidupnya dengan belahan jiwanya, ataukah dia harus rela menerima kenyataan pahit untuk kehilangan separo hatinya sebagai konsekuensi yang harus ia tanggung atas perbuatannya terdahulu? Sang penulis mampu membuat para penikmat buku ini melibatkan berjuta emosi ketika membacanya. Sedih, jengkel, dan ingin tertawa melihat tingkah laku para tokohnya. Fenomena seorang vokalis band rock yang jatuh cinta pada gadis yang berasal jauh dari dunianya. Kisah novel ini menjadi semakin romantis dan mempesona dengan setting kota New York yang indah. Kisah yang sarat pesan moral ini kembali mengingatkan kita pada anugerah yang Sang Penguasa Hati manusia anugerahkan pada setiap hamba-Nya, bahwa cinta tak berpihak dan tak mengenal ruang dan waktu.
What if I had never let you go… Would you be the man I used to know? If I’d stayed, if you’d tried, If we’ve could only turn back time… But I guess… we’ll never know…
Will & Juliette adalah novel kedua Prisca Primasari yang saya baca. Sejujurnya, saya nggak tahu sama sekali kalau mbak Prisca ini sempet menerbitkan novel bertema muslim di Lingkar Pena Publishing. Novel pertama mbak Prisca yang saya baca adalah Paris, dan novel tersebut nggak bertema muslim dan diterbitkan dari Gagasmedia. And I could say I really love her writing style by just reading two of her books :)
Awalnya saya tertarik membaca Will & Juliette karena saya memang sudah janji untuk membaca novel-novel mbak Prisca yang lain. Alasan lainnya karena latar tempat novel ini berada di New York City. Saya selalu tertarik dengan kota tersebut sejak saya masih duduk di bangku SMP, dan mengingat mbak Prisca cukup detail menuliskan lokasi-lokasi dalam novelnya (seperti yang ada di Paris), jadi saya memantapkan hati untuk membeli novel ini. Cukup berat perjuangannya, karena sudah jarang bertengger di toko-toko buku terdekat dan stoknya juga sudah kosong di online bookstore langganan saya. Sepertinya saya berjodoh dengan Will & Juliette karena saya menemukan another online bookshop yang masih menyediakan stok novel ini.
Saya sudah lama nggak baca novel-novel bertema muslim seperti ini. Saya sempat kaget pas tahu kalau novelnya bakal bertema muslim, karena waktu saya lihat sinopsisnya di Goodreads maupun di website online bookshopnya, saya nggak perhatiin penerbitnya. Saya pikir novel Young-Adults biasa. Nggak ada embel-embel bertema muslim. Tapi Will & Juliette, menurut saya, sukses menggabungkan culture yang berbeda dalam satu buku. Latar tempatnya berada di States, namun pemeran utamanya memegang teguh ajaran Islam, which is kinda rare for me (atau saya aja yang jarang baca novel seperti ini? Hehehehe). Saya juga suka dengan tempat-tempat yang diselipkan mbak Prisca sebagai ‘historical place’-nya Will dan Juliette. Konflik yang disuguhkan pun menarik dan cukup rumit untuk membuat saya tetap melanjutkan membacanya. Ini juga dipengaruhi oleh gaya bahasa mbak Prisca yang ringan dan alurnya yang bikin saya enjoy while reading her books. Saya harus bilang bahwa saya benar-benar jatuh cinta sama gaya menulis mbak Prisca, hehehe :p
Walaupun klimaks dan penyelesaian konfliknya menurut saya agak berbelit-belit, semuanya masih oke karena terbayarkan dengan happy ending yang mengharukan. Jujur, beberapa kali mata saya berkaca-kaca dan menitikkan air mata saat membaca Will & Juliette. Mbak Prisca sukses membuat saya ikut tenggelam dalam kegalauan hati si Mr. Rivendell dan sang istri. Overall, 3.6 out of 5 :-)
Cerita yang ringan dan renyah tentang kisah cinta Will, mantan vokalis sebuah band terkenal di NY, dengan Juliette, gadis Muslim yang menderita rabun senja. Kita diajak menyusuri New York City dengan Empire State Building-nya, Rockefeller Center, Park ave, dll.
Setelah Spring in Autumn, sang penulis, Prisca Primasari, sepertinya ingin "mencirikan diri" sebagai penulis yang menulis novel cinta dengan setting Amerika. Novel Will & Juliette lumayan filmis, tapi hmm... terlalu "tell it", saya merasa didikte sekali sebagai pembaca. Juga terlalu banyak kebetulan dan logika cerita yang tidak digarap dengan baik. Tetap semangat buat Prisca, yang udah punya modal bagus, tinggal dipoles biar makin baik :)
nvl ini romantiz skalee...!dari sini q blajar kalau cinta itu ketika diikhlaskan akan datang sendiri...:)q pikir prisca bisa memberikan warna baru bwt nvl-nvl Islami,n nvl ni beda dgn nvl-nvl Islami yg pernah qbaca.kykny wajar aj kl Prisca nls dgn setting luar negri,org di bukunya yg spring dy blg dy g bisa nls degn set indo kok...
naaa...krn ney nvl romantizny bgt,kykny g cocok kl direview ma org yg gak suka genre ini,apalg kl orgnya realis,wue..he...he...n sbaikny kl g suka ma jns romence comedy,g usah bli nvl ini d....buang-buang uang aj...lumayan lho hrgnya...
Jujur,berkarakter.... NoveL yaNg nGaSih BanyaK Pokoknya.... DaRi siNi aKu BeLaJar NgaRgain HiDuP, TeTep KuaT aMa PRinSiP yaNg eMaNg uDa kiTa PeGang daRi aWaL, ga Mo gaMpaNg TeRpengaRuh oLeh KeaDaan dan yaNg PenTing JaDi DiRi SendiRi.... PokoKnya, noVeL yaNg PeNuh...ga Hanya NawaRin SeTTing yaNg LuaR biaSa Tapi Juga CRiTa yang CoLoRFuLL dan paSTinya cuKup mengguGaH Hati.... MuSTi Baca bwT yaNg bLom Baca... ^_^ SuKseS ya bWT PRiSca....
light banget novelnya. terlalu idealis kayaknya. agak kecewa pas baca bukunya. ada hal-hal yang mungkin penulisnya nggak riset sebelum nulis. contohnya: janin umur 2,5 bulan sudah berjenis kelamin. Sejak kapan janin umur segitu udah ketahuan jenis kelaminnya? umur segitu baru berbentuk daging dengan keliatan bentuk menyerupai kepala aja.
Ku pikir ceritanya akan berakhir pada sad ending. Ternyata tidak demikian, cerita kisah cinta yang berlatar di NY terjadi terhadap will dan julitte seperti judulnya. Termasuk novel islam, yah meski aku kurang suka dengan alurnya yang terkesan terlalu dilebih - lebihkan. Namun aku selalu suka pada dasarnya dengan ide cerita yang selalu berbeda disuguhkan oleh mbak prisca^^