Nietzsche adalah salah satu pemikir terbesar dalam filsafat modern. Gagasan-gagasannya memberontak kemapanan dan mengejutkan banyak kalangan. Ia melawan arus zamannya yang dikuasai oleh ketundukan pada otoritas agama dan ilmu. Ia berteriak sinis pada kekuasaan, ketika banyak orang takluk dan menghamba pada negara.
Buku ini merupakan telaah pertama tentang pemikiran filsuf kntroversial itu. Secara komprehensif, St. Sunardi menguraikan dasar-dasar ajaran Nietzsche tentang Tuhan, manusia, dan moralitas, berikut pengaruhnya terhadap para pemikir sesudahnya, seperti Karl Jaspers, Martin Heidegger, Michel Foucault, Jacques Derrida, dan Muhammad Iqbal.
Ajaran-ajaran Nietzsche yang rumit disajikan gamblang, lewat pemaparan yang jernih dan mendalam.
St. Sunardi’s works on Nietzsche offers a clear and accessible interpretation of the philosopher’s complex ideas. Published in 1996 by LKiS Yogyakarta, it covers Nietzsche’s life, his philosophical methods, and his core concepts.
The book focuses on three major ideas: Will to Power, Übermensch, and Eternal Recurrence. Sunardi explains these in a way that makes them easier to understand, especially for readers who are not experts in philosophy.
The final chapter explores how Nietzsche influenced other philosophers like Heidegger, Jaspers, Foucault, Derrida, and Iqbal. This shows the wide impact of Nietzsche’s thought on modern philosophy.
An essay by Goenawan Mohamad is also included at the end, adding extra insight into Sunardi’s work.
Overall, this book is a great introduction to Nietzsche. It’s engaging and informative, and I’m excited to read Romo Setyo Wibowo’s interpretation next. Highly recommended for anyone looking to understand Nietzsche’s ideas more deeply.
ST Sunardi hebat!, Dia tidak terperangkap dengan paradigma para filsuf Indonesia yang merasa takut dan rendah hati ketika membaca filsuf barat. Hal ini menjadikan karakteristik penulis itu agak emosional dalam membaca filsuf dari barat. Pemikiran Nietzche banyak berbeda dengan filsuf lainnya. Polanya sering tidak sistematis dan runtut. Sering kali identitasnya dianggap sebagai sastrawan daripada filsuf. Gaya ketidakteraturan dalam gaya penulisannya sering kali menuai komentar pedas dari kalangan filsuf lainnya. Pandangan St Sunardi dalam membandingkan dengan filsuf lainnya, tulisan Kant dan Hegel bisa diibaratkan musik klasik, sementara tulisan Nietzche bisa diumpamakan seperti musik jazz.
Oleh karena itu, mengulas pemikiran Nietzhe perlu hati-hati supaya tidak salah dalam mengartikannya. Tidak perlu tergesa-gesa untuk masuk ke perangkap teorinya. Menurut penulis yang menelaah pemikiran Nietzche secara mendalam, pendapatnya tidak sepenuhnya mengandung nilai-nilai atheisme, melainkan juga ada unsur teologis. Sekalipun Nietzche itu sendiri diklaim sebagai orang atheisme, tapi sebelum beranjak sejauh itu, amat penting untuk mengartikan secara bahasa agar tidak terjadi simpang siur penafsiran teori Nietzche. Maksud Tuhan telah mati (the god is dead), bukan kepada ”Tuhan” sebagai objeknya, melainkan kepada manusia itu sendiri yang menjadi subjek.
Menurutnya arti ”kematian” adalah bentuk ketidakmampuan manusia untuk menjalankan norma-norma agama. Dari sini, sedikit ditemukan benang merah dari pendapatnya yang sangat aneh, sebab Nietzche lahir dari keturunan agamawan, yakni kalangan Protestan Lutheran Jerman. Namun, dari fenomena inilah yang menjadi akal permasalahannya karena dia telah tahu kehidupan orang beragama. Literatur agama yang memberikan nilai-nilai kebenaran dan keyakinan hanya sebatas pemahaman belaka, tidak bisa dipraktikkan di dunia nyata. Ini menunjukkan, manusia masih tetap mengikuti hasrat nafsunya yang rakus, segalanya merasa kurang.
Banyak orang menganggap Nietzche adalah salah satu filsuf dengan palu godam yang menggelisahkan pemikiran-pemikiran mapan. Metode filsafat aforisme ia pakai untuk menjelaskan kritik-kritiknya atas nilai, nihilisme, dan narasi “tuhan-tuhan yang telah mati”. Aforisme adalah metode berfilsafat yang jauh dari bentuk sistematis. Sebaliknya hanya serupa paragraf, bahkan sepenggal kalimat yang berbeda dengan sebelumnya. Nietzsche pun berpendapat jika analisis yang sistematis dan saling berkaitan satu sama lain itu juga mengandung reduksi. Bahkan, menurutnya, seorang filsuf harus berani menyangkal pendapatnya yang terdahulu.
buku ini merupakan buku yang 'nempel' dalam pikiran pembaca termasuk saya dalam pembahasan mengenai pemikiran Nietzsche. buku ini bukanlah buku biografi sang filsuf yang berisi mengenai perjalanan hidupnya, perjalanan sejarahnya di dunia perfilsafatan. buku kece ini menceritakan perjalanan pemikirannya terhadap hidup, terhadap sejarah manusia di dunia ini, terhadap eksistensi dirinya sebagai manusia atau manusia sebagai dirinya.
Buku yang membuatku tahu siapa itu Nietzsche dan membuatku jatuh cinta akan apa yang ia bawakan, St. Sunardi! Akan kutulis namamu dalam jiwaku karena telah menjembatani diriku dan seseorang dari masa lalu—Nietzsche—, bukumu yang menemani hari-hariku di masa sekolah dan masa di perpustakaan. Aku, Kau, dan Nietzsche. Terima kasih, St. Sunardi!
Tulisan S.T Sunardi, Dosen Kampus Sanata Darma, buku ini juga adalah adaptasi dari Tesis S1 beliau, sangat komprehensif memperkenalkan Nietzsche kepada orang awam. 🍔
Di kalangan peminat pemikiran filsafat dan humaniora di Indonesia, Nietzsche adalah salah satu filsuf yg namanya paling kerap disebut, di samping nama-nama seperti Michel Foucault, Jacques Derrida, Karl Marx atau Roland Barthes.
Kerap disebut belum tentu berarti pemikirannya pun dipahami secara luas. Banyak yg mengidolakan Nietzsche hanya karena pernah membaca atau mendengar kutipan pernyataannya yg terkenal, "Tuhan telah mati" atau samar-samar pernah mendengar gagasannya tentang Manusia Super atau Uebermensch. Saking populernya, kutipan-kutipan pernyataan Nietzsche bahkan dicetak di kaus oblong yg dijual di distro-distro dan banyak dikenakan oleh anak-anak muda.
Nama Nietzsche juga menjadi begitu populer di Indonesia seiring merebaknya arus pemikiran yg disebut "posmodernisme" pada era 1990-an. Pemikiran Nietzsche dianggap sebagai salah satu pelopor pemikiran posmodern, jauh sebelum istilah posmodern itu sendiri diperkenalkan oleh para pengusungnya. Nietzsche bahkan juga dianggap sebagai salah satu tokoh dalam bidang Kajian Budaya--arus pemikiran lain yg juga populer di Indonesia sesudah posmodernisme.
Buku yg ditulis St. Sunardi ini merupakan semacam pengantar untuk memahami pemikiran Nietzsche--yang memang tak mudah dipahami. Saya tidak tahu apakah sekarang ini sudah ada buku-buku pengantar lain ke pemikiran Nietzsche yg ditulis dalam bahasa Indonesia. Jika tidak, buku St. Sunardi inilah satu-satunya buku pengantar terbaik dalam Bahasa Indonesia yg perlu dibaca oleh siapapun yg ingin memahami lebih jauh pemikiran Nietzsche. (*)
Nah, buku inilah yang membuat saya 'terjun bebas' dari anti-buku menjadi gaul-buku, meski saya yakin kalau tak cukup kutu buku. Saya dahulu membacanya 3-4 kali dengan maraton. Dan baru beberapa waktu kemudian, bisa mencerna isi dan perlahan menerapkan ke keseharian. Jika mengenai isi, saya kira St Sunardi sudah dengan tepat dan pas meletakkan isinya, melakukan perbandingan-perbandingan dengan pemikir lain (Kant, misal), dan menata alur berpikir pembaca. Tapi sebagaimana biasa, saya hanya mau memberi bintang 3 untuk buku pengantar. Karena saya percaya, buku bagus pasti bukan buku pengantar menuju ...., dan buku pengantar menuju .... bukanlah buku bagus. Tapi bukan berarti tak layak baca, hanya tak layak dibilang sangat bagus.
buku pengantar yang bagus bagi para pembaca yang tertarik dengan pemikiran Nietzsche, sebelum membaca tulisan Nietzshe sendiri. Dalam buku ini bahasa yang digunakan cukup mudah dipahami bagi yang pembaca awal yang tertarik dengan pemikiran Nietzsche. Kenapa bahasa yang gampang?, karena memang hampir semua karya Nietzsche menggunakan gaya bahasa yang sukar dipahami oleh para pembacanya. Dalam karya ini juga dibahas mengenai beberapa tokoh lain yang terpengaruh dengan Nietzsche seperti Foucault, Derrida dan beberapa tokoh lainya.