Memahami Sepakbola ? : Sebuah Coretan Tak Lazim
wis suwe aku ngenteni kowe
rina wengi ora nyambut gawe
persebaya kudu dimenangke
arek bonek mendem rame-rame
terj.
telah lama kumenantimu
siang malam tak ada kerjaan
persebaya harus dimenankan
arek bonek mabuk rame-rame
Riuh rendah terdengar nyanyian dari para bonek setiap Persebaya, kesebelasan asal kota Surabaya menjamu lawan-lawan mereka di Stadion Tambaksari. Bagi saya sendiri itu adalah salah satu nyanyian suporter yang orisinil dari Surabaya di tengah nyanyian suporter Indonesia yang sudah mengglobal seperti 'sore ini kita harus menang', 'di mana kau berada kami selalu ada', 'cucak rowo versi bola','mars slank ala sepakbola' dlsb yang hampir selau dinyanyikan kelompok suporter sepakbola di tanah air, yang dipeopori oleh kelompok suporter kera ngalam penggemar fanatik kesebelasan AREMA Malang, yang menamakan diri mereka sebagai aremania dan aremanita. Inilah kelompok suporter kreatif yang menular ke seluruh pelosok nusantara. Anda bisa saja merubah lirik lagu2 tersebut sesuai nama kesebelasan anda ataupun lawan kesebelasan anda. Kendatipun begitu, di beberapa tempat bisa kita jumpai nyanyian khas seperti nyanyian bonekmania di atas. Jadi mari kita mulai dari sebuah nyanyian, ya nyanyian. Seorang Ahmad Tohari pun mengawali Ronggeng Dukuh Paruk di bab pertama dengan sebuah nyanyian, sebuah 'pass over song' khas Jawa, yang digubah oleh Sunan Kalijaga (atau Siti Jenar?) : Ono Kidung Rumekso ing Wengi
“Football without fans is life without sex” , demikian kata Jock Stein, manager Glasgow Celtic yang membawa tim ini menjadi tim Skotland pertama yag merajai Eropa di 1967, sekaligus terpilih dalam salah satu jajak pendapat sebagai the greatest scottish football di tahun 2003.
Kembali ke lapangan,
Memahami (globalisasi) dunia lewat sepakbola, demikianlah tawaran buku ini. Franklin Foer mengambil sampel dari beberapa kutub dunia sepakbola, dengan permasalahan khas dari tiap-tiap mereka. Rentang waktu sekitar dekade 90-an dan awal dekade 2000-an bisa dikatakan cukup untuk menggambarkan maksud buku ini. Dalam beberapa hal saya lebih senang bila konteks-nya dikawinkan dengan negeri kita. Sebut saja ini adalah bab ke-11 dari buku ini,hehehe....
Agresivitas politik ?
Bagaimana sepakbola memberi implikasi politik bagi suatu daerah? Talah sejak lama, di beberapa tempat dengan animo dan fanatisme akut pada sepakbola, adalah menjadi kebanggan sekaligus sebuah ironi, ketika segelintir kaum memanfaatkannya untuk tujuan politik mereka. Kebanyakan penggemar bola atau masyarakat akan merasa baik-baik saja selama tim sepakbola mereka berjaya. Saya masih ingat ketika membaca berita di Jawapos awal-awal saya kuliah di Surabaya, disebutkan sekitar medio 2000 atau 2001 atau 2002 (highlander selalu pelupa) anggota DPRD II Surabaya menolak dan memberi rapor merah untuk Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Walikota yang waktu itu dijabat (alm) Sunarto Sumoprawiro, kecuali soal Persebaya, seluruh masyarakat dan anggota dewan memberi nilai 9 untuk persebaya !!!!
Kita bisa melihat bahkan sampai sekarang, ketika kritik begitu deras kepada klub-klub sepakbola dan pemda untuk tidak mengucurkan APBD buat biaya hidup klub sepakbola, masyarakat pun terbelah, jika tidak ada kucuran APBD -sebagian klub Indonesia adalah klub amatir yang menyusu ke pemda yang dipaksakan ikut liga, yang katanya profesional- satu sisi, banyak yang tidak setuju, alasan yang diajukan tentu saja menyangkut ketidaksiapan klub-klub untuk mandiri. Mereka khawatir kehilangan tontonan,hiburan sekaligus ikon daerah.
Pihak yang berseberangan sangat menganjurkan kemandirian klub-klub sepakbola, coba bayangkan saja kucuran dana itu tak bisa dibilang kecil.
Rp 10,7 miliar yang diberikan APBD Surabaya untuk Persebaya lebih tinggi dari Rp 7 miliar yang dialokasikan APBD Surabaya untuk jaminan kesehatan daerah (jamkesda) yang dikelola Dinkes Surabaya. Bila digabung dengan dana APBD Pemprov Jatim bagi jamkesda Surabaya yang Rp 7,1 miliar, total dana untuk jamkesda Surabaya mendapai Rp 14,1 miliar. Dengan demikian, kucuran untuk Persebaya setara dengan 75,8% total dana untuk jamkesda.(Surabaya Post, 29 Mar 2010).
Inilah salah satu harga mahal yang musti dibayar ketika di tahun 1994 PSSI dengan alasan profesional menggabungkan dua kutub sepakbola perserikatan yang amatir dan sepakbola galatama menjadi satu dalam tajuk Liga Indonesia. Adanya badan-badan sejenis PT untuk mengelola klub-perserikatan ini pun masih belum optimal.
Franklin menulis soal Arkan di kawasan Balkan dan Berlusconi di Italia yang berhasil melambungkan dirinya di kancah politik dengan 'menginjak' lapangan sepakbola dan masyarakatnya. Ada sebuah 'fenomena' menarik terkait politisasi sepakbola ini. Bila Adang Daradjatun tak jadi gubernur DKI dalam pilkada beberapa tahun lalu adalah wajar karena meski dalam kampanye-nya sering memakai yel-yel dan lagu-lagu Jakmania, komitmen dan fanatisme dia soal Persija belum terbukti. Bang Kumis Foke pun sama, dari kalangan Jakmania belum melihat gairah yang membara soal Persija, dukungan dari Jakmania-bila ada yang mendukung-lebih karena Sutiyoso aka Bang Yos yang cinta gila pada Persija.
Nah, fenomena yang saya maksud terjadi di kota Kediri, Jawa Timur. Sudah menjadi rahasia umum ketika seorang Iwan Budianto, mantan manajer Arema Malang yang kemudian pindah menjadi manajer Persik Kediri berhasil membangun tim Persik menjadi kekuatan baru di Liga Indonesia. di musim 2002, mereka menjuarai liga divisi I untuk promosi ke divisi utama di musim 2003. Ajaib!!! baru satu musim berkiprah, mereka langsung menggondol piala Presiden ke kota tahu tersebut, setelah sebelumnya dalam turnamen pemanasan mereka menjuarai pilal gubernur Jatim. Bersama Jaya Hartono, sang pelatih dan dukungan sang mertua yang menjadi Ketua Umum sekaligus walikota Kediri, HM.Maschut, Persik menjadi simbol kesuksesan warga Kediri. Nama-nama seperti Danilo Fernando, Ronald Falgundez, Erol Fx Iba, Budi Sudarsono, Christian 'el locco' Gonzales menjadi buah bibir di sejumlah media. Tercatat selama kepemimpinan Iwan, Persik memperoleh gelar juara 2 kali, di tahun 2003 bersama pelatih Jaya Hartono dan di tahun 2007, kali ini berduet dengan pelatih tambun asal Semarang, Daniel Roekito yang di final nan dramatis sebuah gol sundulan Gonzales di akhir masa perpanjangan waktu membungkam ribuan Suporter PSIS Semarang yang nglurug ke Stadion Manahan Solo.
Anomali itu terjadi pada 2008 ketika Iwan mencalonkan diri menjadi walikota Kediri, di luar dugaan ia kalah oleh seorang dokter dalam pemilihan tersebut. Barangkali Iwan didukung ribuan Persikmania yang rata-rata berdomisili di Kabupaten Kediri bukan di Kotamadya. Siapa yang tahu? Sebuah kekalahan yang berdampak buruk buat prestasi dan keberlangsungan Persik, barangkali inilah salah satu hal yang memicunya hengkang dari Persik dan hinggap di Persisam Samarinda.
Di sebagian daerah, bila seorang walikota atau bupati atau gubernurnya seorang maniak bola maka hampir bisa dipasikan mereka akan jor-joran mengumbar rupiah bagi klub sepakbola tersebut. Bagi pemimpin daerah yang 'kurang' maniak bola, bisa dipastikan klub sepakbola kota tersebut bagai hidup segan mati tak mau, apalagi prestasinya. tengoklah yang terjadi dengan PSIS Semarang, Persebaya Surabaya sekarang!!
Tak jarang para pemimpin ini yang terjerat kasus korupsi dan manipulasi.Dengan jitu Frank melukiskan hal ini, inilah gaya yang telah direduksi sedemikian rupa sampai menjadi aforisme lumrah untuk membenarkan dukungan kepada mereka,"ia memang mencuri tetapi ia menghasilkan sesuatu"(hal 130).
Kartolo(i) menjadi Cartolas
Frank menulis dengan bernas soal sepakbola di dunia ketiga, dengan mengambil analisis persepakbolaan Brasil.
Ketika Portella dan saya duduk mengobrol, ia tidak bisa menutupi rasa pesimisnya akan masa depan sepak bola Brasil. Tapi ketika melihat portella bermain bola, ia seperti menyangkal argumennya sendiri. bahkan orang yang sudah ketuaan ini pun masih bermain dengan penuh gaya. mereka mengumpan sambil melakukan gerak tipu, menendang dengan tumit, mempertunjukan keahlian menggocek bola dengan kecepatan tingi. Meskipun budaya korupsi tetap bertahan, fanatisme Brasil terhadap sepakbola sepertinya tidak bisa surut. Sumber daya alamiah sepakbolanya tidak terlihat akan habis. Sepak bola sudah terlanjur menjadi bagian hakiki dari kepribadian bangsa. Saat kesebelasan Portella mencetak gol, bapak-bapak separuh baya ini mencium emblem seragam mereka dan saling berpelukan, tumpang tindih di lapangan. Bahkan di kalangan akuntan, sopir taksi dan teknokrat pemerintah, momen-momen seperti inilah yang membuat mereka ingin berlutut memanjatkan puji syukur kepada Sang bunda Kemenangan.(hal 135)
Tidak ada lelucon yang lebih absurd daripada sepakbola kita. Lihatlah pengurus PSSI, sejak saya masih di dalam kandungan seorang Nugraha Besoes sudah menjadi pengurus, dan sudah berapa generasi dia menjadi sekretaris PSSI??. Ketuanya?? menyebut namanya saja sudah haram. mereka berdua bener2....... tai babi. Dalam hal ini saya sepakat dengan aremania yang menyanyikan :
...
di neraka gak ada aremania
di neraka gak ada aremanita
di neraka yang ada pssi bangsat
dihukum cambuk malaikat
...
sepakbola, social conscience?
Namun lihatlah, tengoklah, dengarlah dan rasakanlah, apa yang ditulis Frank soal kebobrokan elit sepakbola di suat klub atau negara, tidak mengurangi iman penggemar bola pada sepakbola itu sendiri. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, disadari atau tidak ada dua agama besar di negeri ini. yang pertama adalah bulutangkis dan yang terbesar diantaranya adalah sepakbola. ya, football is our religion, demikian tulis Andi Bahtiar Yusuf, kolumnis bola dan sutradara 'the Conductors' yang mengangkat cerita seorang Yuli Sumpil, dirigen aremania.
Benarlah yang ditulis Frank, estadio Maracana adlah sebuah katedral, penuh dengan berbagai kenangan akan pahlawan, martir dan santo pelindungnya :Pele (hal 123) dan mujizat, keajaiban-keajaiban yang terjadi di dalamnya.
Adalah benar dan menjadi kewajiban penggemar bola menjaga agar sepakbola menjadi semacam social conscience bagi suatu masyarakat. Jadi, secara provokatif dan spekulatif (hahaha) benahi sepakbola terlebih dulu baru negara akan beres. basmi korupsi di sepakbola terlebih dulu, ini akan menjadi bola salju dalam pemberantasan korupsi di negeri ini. Suksesnya revolusi sepakbola menjadi simbol suksesnya revolusi suatu bangsa.*halah*
Inilah agama yang mempersatukan agama-agama macam Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dlsb. Inilah komunitas yang mempersatukan bermacam lapisan dan kelas masyarakat. Masih segar dalam ingatan kita akhir pekan lalu, ketika tim Thomas kita bertanding di final melawan China, betapa ribuan suporter Indonesia memerahkan stadion Bukit Jalil, laiknya istora Senayan saja!!! *gosipnya salahsatu gudrider ada yg nonton langsung hlo :)) -ngelirik ceuceu* sebagian dari mereka mungkin mahasiswa, mungkin pula para buruh migran, jika benar maka mereka bukan cuma pahlawan devisa, mereka adalah pahlawan sejati. tapi itu khan bulutangkis, bukan sepakbola? ah..khan sama, sama2 dua agama besar. hehehe
Sebuah pertanyaan menarik diajukan penulis, menyinggung ciri penting dari globalisasi : kecenderungan untuk mengagungkan segala hal yang bersifat 'asli', bahkan ketika mereka sesungguhnya layak untuk ditinggalkan di masa lalu.(hal 94) Jadi jika sudah begini apakah kita mau membuang begitu saja mars slank ala aremania berikut :
....
disini aremania mendukung singo edan
singo edan pasti juara
disini bukan bonek-bonek jancuk
...
atau membuang nyanyian bonekmania dan viking berikut :
viking-bonek kita sodara
viking-bonek kita sodara
arema/persija jancuk dibunuh saja...
Ah, saya mau nyanyi 'yen ing tawang ono lintang' saja hahahaha
Jadi menurut anda kalau ada pertanyaan, pertandingan bola mana di muka bumi yang paling seru?
dulu saya selalu menganggap laga barca vs madrid sebagai pertandingan paling yahud, selain derby dela capitale antara Lazio vs AS Roma. Tapi semua itu berubah setelah saya menyaksikan sebuah tontonan pertandingan yang paling menarik sekaligus menghibur di bulan April atau Mei tahun 2000, ya 10 tahun lalu, saya dan seorang teman berbekal harga tiket 1000 rupiah, di Lapangan Wijaya kusuma (?) Purwokerto, dalam sebuah laga eksebisi di tengah-tengah turnamen amatir antar kampung Piala Kapolres (kalo tidak salah, ingatan jadulers emang cemen hehehe). Pertandingan apakah itu?? yay...itu adalah pertandingan sepakbola antar waria Wonosobo vs Cilacap (klo tak salah lagi :p). Seruuuuuu!!!! beruntung yang bertanding bukan tim Bandung, saya khawatir klo yang maen tim bandung pasti ada satu diantara mereka yang pakai kaos pinky.huahahaha
Oh iya, sepakbola di Asia belum dibahas Frank di buku ini, ia mengambil Iran sebagai contoh sepakbola di dunia Islam dan Brasil sebagai dunia ketiga. Yang perlu dibahas lagi barangkali sepakbola dan wanita. banyak pahlawan sepakbola wanita macam Mia (bukan Miaaa) Hamm, Martha dan kesebelasan Putri Mojolaban. hehehe.
(gonk)
cat.
(i) kartolo, seniman ludruk Surabaya