Hororis Causa adalah kumpulan cerpen yang ditulis oleh teman-teman yang tergabung dalam Komunitas Literasi Fiksimini. Berkat aktivitasnya di Fiksimini, beberapa teman mencoba untuk mengembangkan karya yang lebih panjang dari sekadar 140 karakter. Hasilnya adalah kumpulan cerpen bergenre horor. Sederhana saja ketika genre ini dipilih. Sebab kami adalah penulis pemula, maka genre horor lebih mudah dalam membangun drama, ketegangan, sekaligus kejutan. Tentu masih banyak kekurangan, namun siapa pun yang membaca buku ini, semoga mendapatkan hiburan lewat kengerian yang muncul dari setiap halamannya.
Hororis Causa ini jenis buku yang bisa langsung kubaca habis dalam beberapa jam dan akhir minggu jadi waktu ideal untuk marathon.
Aku suka beberapa cerpen dalam buku ini. Kebetulan beberapa nama aku kenal melalui akun twitter, di antaranya: Ade Sibangor dan Mel Puspita. Walaupun jarang aktif di media sosial, aku sering blog walking di blog cerpen milik mereka. Dan tulisan mereka memang khas sekali. Sangat lokal dan lugas. Tanpa perlu banyak berpikir, pembaca bisa langsung paham apa maunya penulis. Ontran-ontran Perempuan, Memburu Harta Karun Kartosoewirjo, dan Kelabang Hitam Pengasihan jenis cerpen yang aku suka.
Ontran-ontran Perempuan - meskipun bukan jenis yang terlalu horor tapi ada poin-poin scene menyentuh. Endingnya terasa lembut, manis, tapi sekaligus bikin patah hati.
Aku Terlalu Malas Mencari Judul yang Cocok Untuk Cerita Ini - Cerpen ini termasuk segar tapi bikin ngilu. Gaya bahasa yang terlalu gaul, aku kurang suka, tapi memang sangat cocok untuk cerpen ini.
Burung-burung Hitam di Mata Mahla - aku harus membaca ulang untuk paham. Tapi ilustrasinya top-notch!
Lelaki Tudung Hitam - suka!
Kabur dari Neraka dan Ritual Salin Nyawa - so so. Aku akan lebih bisa menikmati jika ada detail yang lebih deskriptif.
Misteri Buku Harian - Ini KEREN! Endingnya suka.
Perempuan Pemilik Aroma Kematian - baru di awal cerita langsung disuguhi adegan horor.
Ini seperti derap langkah di lorong rumahmu. Tubuh samar-samar mengintai di jendela itu. Kata-kata, katanya diketikkan. Diketukkan menjadi ketakutan demi ketakutan.
Ini seperti. pisau berkarat diseret di dalam kepalamu.
(Firman A)
Jujur pertama kali ditawari membaca buku ini aku sempat berpikir cukup lama, bukannya karena buku ini tidak bagus atau apa, tapi karena buku ini masuk dalam genre yang jauh dari genre favoritku. Tapi tahun ini, aku sudah menantang diriku untuk membaca lebih banyak bacaan multi genre, dan aku rasa buku ini bisa menjadi salah satu pilihan yang menarik untuk dicoba.
Sejak mendengar judulnya yang mengusung tema horor, aku sudah membayangkan akan disuguhkan kisah-kisah yang akan membuatku ngeri dan membuat bulu kuduk merinding saking seramnya. Apalagi ditambah cover yang benar-benar mendukung sekali, baru melihat covernya saja aku sudah membayangkan bahwa kisah di dalamnya pasti akan menyeramkan dan mengerikan.
Buku ini merupakan hasil kolaborasi 13 penulis yang tergabung dalam komunitas Literasi Fiksimini dan beberapa ilustrator yang mengusung tema horor. Setiap kisah akan membawamu ke dalam pengalaman kengerian dengan kadar yang berbeda. Masing-masing tulisan punya keunikan masing-masing, sulit untuk membandingkan satu dengan yang lain, karena setiap kisah punya kekhasannya masing-masing. Membaca kisah demi kisah dalam buku ini akan membuatmu merasakan sensasi mencekam dan kengerian, karena banyak sekali darah, makhluk gaib, bau anyir dan hal-hal mistis lainnya yang sulit untuk dinalar dengan logika.
Aku sengaja membaca buku ini secara perlahan-lahan agar bisa meresapi setiap kisah dengan baik. Jujur aku sama sekali tidak berani membaca buku ini di saat malam hari, jadi aku mensiasatinya membaca saat pagi dan sore hari di perjalanan keretaku saat berangkat dan pulang kerja. Aku tidak bisa membayangkan jika membaca di malam hari, mungkin aku akan terbayang-bayang dengan adegan demi adegan dalam buku ini.
Ada 13 kisah dalam buku ini, yaitu:
1. Burung-Burung Hitam di Mata Mahla. Kisah ini menjadi cerita pembuka dari buku ini, mengisahkan tentang Mahla yang bisa melihat dan mendengar suara-suara lain yang tidak bisa dilihat maupun didengar oleh orang lain. Hal ini membuat dirinya menjadi sering didatangi oleh orang-orang untuk meminta bantuan. Mahla seakan bingung dengan dirinya sendiri, bingung menentukan sedang berada di mana dirinya saat ini, seakan dirinya mengabur dan terjebak di antara masa lalu, masa kini dan masa depan.
2. Memburu Harta Karun Kartosoewirjo Mengisahkan tentang 2 sahabat yang akhirnya silang pendapat dalam memburu kelompok pemberontak. Alih-alih mencari pemberontak, Komandan Ateng malah mengajak anak buahnya untuk mengejar harta karun Kartosowwirjo yang katanya diamankan di Lembah Jejaden, sebuah lembah yang tak ada di peta. Komandan Ateng pun bersiteru dengan Sersan Jalu, sahabatnya dan mengerahkan segala cara untuk mendapatkan harta karun yang diincarnya itu.
3. Lelaki Tudung Hitam Mengisahkan tentang seorang gadis bernama Rena yang sedang dalam perjalanan ke Jogja menggunakan bis. Namun, di dalam bis Rena bingung melihat para penumpang sedang tertidur pulas, namun dirinya seperti mendengar suara tangis, raungan anak-anak dan sedu sedan orang-orang tapi hanya dirinya yang terganggu. Rena pun sempat bercakap-cakap dengan penumpang di sebelahnya, bahkan sempat berbagi musik bersama.
4. Aku Terlalu Malas Untuk Mencari Judul Yang Cocok Untuk Cerita Ini Mengisahkan tentang Friska dan Alfan yang sedang mencari kado untuk sahabatnya yang berulang tahu. Tanpa sengaja Friska menemukan boneka Voodoo dan jarinya tertusuk paku yang tersembunyi dalam boneka itu akhirnya darah pun mengucur. Takut disuruh mengganti rugi, Friska pun segera meletakkan kembali bonekanya. Namun, tak disangka banyak kejadian aneh setelahnya. Apa yang sesungguhnya terjadi?
5. Kabur Dari Neraka Mengisahkan tentang 2 orang sahabat, Eugenia dan Krisna yang pergi ke Bali untuk mengumpulkan materi penulisan biografi tentang pemusik di kota ini. Mereka pun akhirnya tinggal di sebuah penginapan, namun mereka merasakan aura hotel yang aneh. Apalagi di setiap kamar dipasang kemenyan dan ada beberapa lukisan yang membuat bulu kuduk merinding.
6. Pernikahan Raga Mengisahkan tentang Raga yang membunuh seorang gadis dan menguras seluruh isi tasnya. Raga pun kabur dan berusaha menutupi semuanya. Raga kembali ke kehidupan normalnya dan malah merencanakan pernikahan dengan Alisa, kekasihnya. Sayangnya, semakin hari mendekati hari pernikahannya, Raga merasakan keanehan pada dirinya.
7. Ontran-Ontran Perempuan Mengisahkan tentang kematian Ronggeng Sumarah dan banyak istri yang bahagia karena kematian Sumarah yang dianggap penggoda suami-suaminya. Kematian Sumarah membawa kesedihan tersendiri bagi Prasojo, karena dirinya sempat dekat dengan Sumarah yang membuat istrinya, Delimah cemburu.
8. Perempuan Pemilik Aroma Kematian Mengisahkan teror makhluk jadi-jadian yang mengincar bayi-bayi. Ternyata di balik teror itu ada kisah tentang ilmu dan tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi.
9. Misteri Buku Harian Mengisahkan tentang Alex dan teman-temannya yang melakukan pendakian menuju Puncak Gunung Arjuno. Namun, tak disangka keanehan demi keanehan terjadi kemudian satu demi satu teman pendakian Alex menghilang tanpa jejak sama sekali. Padahal sebelumnya, menurut buku harian yang Alex temukan, jangan pernah mendaki Gunung ini namun tetap saja mereka melakukannya.
10. Ritual Salin Nyawa Mengisahkan tentang persiapan pernikahan Ujang, dan Ujang yang sering bermimpi buruk dan mulai sering berhalusinasi melihat penampakan di sekitarnya. Hal ini membuat Ujang bingung, apalagi ibunya seakan terus mendongengkan tentang ruh-ruh senja.
11. Trinitas Mengisahkan tentang Meghan yang selalu merasa ada yang sedang mengawasinya, padahal dirinya sudah senantiasa berdoa seperti yang diajarkan. Apalagi ketika Meghan pun tak kuasa untuk menolong Mario, buah hatinya Meghan pun semakin terpuruk. Meghan pun semakin giat berdoa sayangnya tetap saja dirinya merasa makhluk itu senantiasa ada di dekatnya.
12. Marni Mengisahkan tentang Marni, seorang biduan dangdut yang sangat digemari oleh para pria, mulai dari tua hingga muda. Sayangnya, Marni hanya mengincar uang dari para pria tua dan Marni hanya mau dekat secara fisik dengan pria-pria yang jauh lebih muda saja. Ternyata ada alasan di balik sikap Marni itu.
13. Kelabang Hitam Pengasihan Kisah ini menjadi penutup dari buku ini, mengisahkan tentang Sukowati yang menjadi korban pemerkosaan 7 aparat keamanan. Marni pun bertemu dengan sosok makluk yang akhirnya terjalinlah janji untuk saling membantu membalaskan dendam Marni kepada para pemerkosanya.
Membaca setiap kisah disini kamu akan diajak berkenalan dengan tulisan masing-masing tokoh. Setiap kisah ditulis oleh penulis yang berbeda, dengan gaya bercerita yang berbeda dan menimbulkan efek kengerian yang berbeda pula. Setiap kisah pun didukung oleh ilustrasi yang sungguh mengerikan dan menggambarkan isi dari kisah itu, yang lumayan membuat bulu kudukku merinding.
Walau setiap kisah dalam buku ini cenderung pendek makanya disebut Fiksi Mini, tapi sama sekali tidak mengurangi isi cerita. Setiap penulis mengeksekusi ceritanya dengan cukup baik, malah kadang-kadang aku dibuat terkejut dengan twist yang diberikan, karena benar-benar jauh dari perkiraanku.
Sebagai sebuah karya kolaborasi, buku ini benar-benar menarik. Aku yang bukan penggemar kisah horor pun bisa menikmati buku ini dan lumayan ngeri juga membaca setiap kisahnya, apalagi ditambah ilustrasinya yang keren membuat aku menikmati kisah ini.
Buat kamu yang ingin menantang diri membaca buku yang berisi kisah-kisah kengerian nan mencekam, silahkan baca buku ini dan buktikan sendiri seberapa mengerikan setiap kisahnya.
Satu kata yang menurut saya tepat menggambarkan buku ini adalah: lengkap
Ditulis oleh tiga belas penulis dengan latar belakang berbeda, kumpulan cerpen ini menawarkan kengerian dalam berbagai rupa. Beragamnya setting tempat, waktu dan budaya, tidak akan membuat pembaca bosan hingga tiba di halaman akhir. Apalagi tokoh seramnya tidak melulu hantu.
Gaya bercerita yang berbeda sudah pasti membentuk atmosfer seram yang berbeda pula. Jika saya bisa mengidentikkan horor dengan warna hitam, maka pembaca bisa mendapatkan warna hitam dengan gradasi yang berbeda-beda dalam buku ini.
Diksi yang dipakai di “Burung-Burung Hitam di Mata Mahla” dipilih sedemikian rupa hingga membuat kisah ini tersaji dengan apik, meski topiknya tidak bisa dibilang baru.
“Lelaki Tudung Hitam” dan “Perempuan Pemilik Aroma Kematian” memiliki kejutan yang tidak saya duga di awal cerita. Sebaliknya, “Pernikahan Raga” tidak menyediakan jebakan apapun sehingga ceritanya mudah ditebak.
Ide di balik “Kabur dari neraka” membuat cerita ini terasa baru dan berbeda. Sementara “Misteri Buku Harian” mungkin akan terasa lebih mencekam, jika diceritakan dengan pace yang lebih lambat.
Penggemar horor klasik seperti film-film lawas yang dibintangi Suzanna tentu akan terhibur dengan cerita “Marni” dan “Kelabang Hitam Pengasihan”. Sedangkan penyuka aliran gore, akan menikmati warna merah di “Memburu Harta Karun Kartosoewirjo” dan “Aku Terlalu Malas Mencari Judul Yang Cocok Untuk Cerita Ini”
Dari kesemuanya ada tiga cerita yang berhasil menarik perhatian saya. Pertama, “Ritual Salin Nyawa” dengan detilnya yang disturbing. Kemudian, “Trinitas” dengan ironinya yang memilukan. Terakhir, dan mungkin yang terbaik, adalah “Ontran-ontran perempuan”. Ending cerita ini tak hanya memberi rasa dingin yang membuat bulu kuduk meremang, tapi juga membuat tenggorokan tercekat kesedihan. Saya pun sukses mewek. Mungkin karena penulisnya tak hanya menyampaikan amarah, dendam dan pengkhianatan. Ia juga menyusupkan secuil cinta dan kesedihan di sana.
In the end people, I dare you to read this book. Malam hari. Dan taruhan, kamu akan sesekali melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja.
Saya kurang bisa menikmati cerpen, karena ceritanya yang rata-rata singkat jadi kurang bisa membangun keterikatan(?). Tentang Hororis Causa, tadinya saya kira temanya horor yg hantu-hantuan, ternyata lebih beragam, lebih ke cerita2 mistis dan mahluk2 gaib.
Cerita favorit saya adalah Lelaki Tudung Hitam dari mbak Dian. Traditional ghost story, dan bikin mikir di endingnya. Misteri Buku Harian juga menarik, tapi plotnya terlalu cepat.