Perang di Indonesia tetap saja mambangkitkan emosi yang tinggi pada genarasi berikutnya di Belanda. Situasi tarsebut tidak mengherankan. Saat itu Belanda mengerahkan 220 000 serdadunya untuk suatu perang yang tidak dimenangkan dan yang sesudahnya disebut 'salah'. Dalam debat umum tentang operasi militar Belanda yang pernah paling besar, dibahas terutama tentang tindak-tindak kejahatan perang Belanda. Para vateran memperdengarkan banyak suara mereka dalam perdebatan ini. itu masuk akal, mereka ada di sana waktu itu, mereka mengalami realita yang sebenarnya, mereka tahu apa yang dibicarakan.
Buku ini didasarkan atas pelbagai surat, buku harian, buku kenangan, dan memoar mereka. Apa yang terungkap tentang tindak kejahatan perang itu sering kali mengejutkan. Tetapi juga menyangkut tema-tema lain: ketegangan antara misi Belanda dan realita di tampat yang sulit dikendalikan; sikap mangerti atau tidak mengerti tentang orang-orang Indonesia dan perjuangan mareka untuk merdeka; frustrasi-frustrasi tarhadap pimpinan militer dan politik; ketakutan, rasa dendam dan malu; kebosanan dan seks; marasa asing di tanah Hindia dan juga di rumah sepulang mereka ke nageri Belanda; kamarahan atas tahun-tahun yang hilang dan rasa kurang dihargai.
Datam Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950 cerita-cerita dari para serdadu ini dikemukakan dalam konteks perang dekolonisasi yang lebih Iuas dan cara mengatasinya di Belanda.
Gerrit Jan (Gert) Oostindie, former director of KITLV from 2000-2021 and emeritus professor of Colonial and Postcolonial History at Leiden University is a Honorary Fellow at KITLV. He is presently involved in the government-funded research program ‘Independence, Decolonization, Violence and War in Indonesia, 1945-1950’, two NWO-funded programs, ‘Confronting Caribbean Challenges’ and ‘Traveling Caribbean Heritage’, ‘The Colonial and Slavery Past of Rotterdam’ project commissioned by the Rotterdam city council and the research ‘The Colonial and Slavery Past of The Hague‘ commissioned by the The Hague city council.
Oostindie studied History and Social Sciences at the Vrije Universiteit, Amsterdam (cum laude, 1982), and obtained his PhD at Utrecht University (cum laude, 1989). He has been awarded many research grants and fellowships, served on editorial, scholarly and governmental committees both in the Netherlands and abroad, and is a frequent contributor to the Dutch mass media on his areas of expertise. Between 2006 and 2015, he held the chair as Professor of Caribbean History at Leiden University; between 1993 and 2006, he was Professor of the Anthropology and Sociology of the Caribbean at Utrecht University.
Oostindie’s principal areas of research have been comparative Caribbean studies and Dutch colonial and postcolonial history. He published and edited, mainly in English or Dutch, over 30 books and authored a large number of articles on the colonial history and decolonization of the Dutch Caribbean; on history, ethnicity and migration in the Caribbean and Latin America in general; on Atlantic slavery and its legacies; on postcolonial migrations and the significance of colonial history to Dutch national identity; and on the war of decolonization in Indonesia.
Indrukwekkend boek en mooi onderzoek. Geeft een mooi beeld van de het veelvoud aan belevingen tijdens de oorlog. Ik werd vaak gegrepen door gruwelijke passages van oorlogsmisdaden, maar ook door het ongeloof, de angst en het verdriet van de jongemannen die daar, vaak met tegenzin, hebben moeten dienen. Het geeft een visceraal beeld van de smerigheid van (de) oorlog, en van de banaliteit van het kwaad.
Selalu menyukai bacaan yang bertipe oposisi, seolah-olah bacaan model begini mematahkan seluruh hipotesis-hipotesis yang telah lama kita yakini. Memaksa pembaca untuk mengkaji ulang apakah hiptesis tersebut memang sarat kebenaran atau sarat permainan. Buku ini pun bertipe oposisi, memandang perang dari kacamata seorang Belanda. Memperlihatkan sejarah dari sisi pihak yang salah, banyak hal-hal baru yang tak terdapat dalam arus penulisan sejarah nasional dan itulah yang menjadikan buku ini menjadi kian urgent untuk dibaca.
Perang Kemerdekaan Indonesia dilihat dari sudut pandang serdadu Belanda yang ditugaskan untuk menertibkan kembali negara koloni paska pendudukan Jepang.
Dit boek tracht een nieuwe inkijk te geven in de gebeurtenissen rond de onafhankelijkheidsoorlog in Indonesië. Door het gebruik van egodocumenten krijg je een unieke kijk op de kwesties die al lang ter discussie staan. Het zijn juist deze egodocumenten die de werkelijke impact van de gebeurtenissen enigzins kunnen weergeven. Zoals Oostindie ook aangeeft moet er nog veel onderzoek plaatsvinden. Wel is dit een goed boek voor iedereen die meer wil weten over de discussie rond geweld in de onafhankelijkheidsoorlog in Indonesië.
Ondanks alle verschillende ervaringen en verhalen die de brieven uit het corpus vertellen heeft het me veel verduidelijking gebracht over het soldatenleven van de Nederlandse soldaten in Indonesië. Veel geleerd over ethiek en oorlogsvoering.
Jujur ini buku baru 54% baca tapi udah gak mau dibaca lagi karena lama-kelamaan jadi jengah juga akan terjemahannya yang sangat "bahasa Belanda". Banyak ditemukan struktur bahasanya bukan bahasa Indonesia sehingga walaupun ngerti yang dimaksud namun secara harfiah gak masuk akal. Mulai dari halaman 180an banyak skip ke bagian-bagian yang merasa perlu dibaca aja. Mungkin lelah atau saya gak pinter jadi orang ya, tapi ya sudahlah cukup. Namun demikian ini buku yang bagus sekali deh, menguak fakta-fakta yang gak pernah diajarkan saat dulu sekolah belajar sejarah atau PSPB di SD, SMP dan SMA sehingga jadi punya cara pandang berbeda akan, sebagaimana yang dulu diajarkan, yang disebut: Agresi Militer I dan II Belanda.