Analisis Bacaan/Buku :
Berdasarkan kasus atau narasi tentang LGBT yang ;dikemas’ Kak SInyo dengan inisial ‘Klien’ yang beragam seperti Lesbian atau Gay atau Korban Kecanduan Pornografi. Aku menarik garis besar pada umumnya LGBT terjadi sebab Keluarga inti, dan Lingkungan.
Pada sisi keluarga seperti terjadinya Broken Home, dan Anak merasa tidak mendapat panutan dari Ayah atau Ibunya. Selanjutnya, Lingkungan betapa ini begitu ‘penting’, lingkungan yang ‘sehat’, lingkungan yang dapat ‘mendorong’, dan memotivasi anak menjadi lebih baik dari segi Agama, Kesehatan mental, dan segi sosial. Akupun turun miris pada anak-anak yang harus hidup ‘terpaksa; di lingkungan yang tidak ramah anak-anak, lingkungan perang (perang sebenarnya, perang keluarga, atau tidak ada percontohan yang baik pada segi bertetangga).
Aku jadi ingat salah satu kisah Ayah, dan Anak yang mendatangi Rasulullah. Ceritanya ada seorang ayah datang mengeluhkan pada Rasulullah bahwa anak laki-lakinya Durhaka padanya. Sebagai penengah, dan orang yang dimintai solusi maka, Rasulullah mendengarkan perseptif ayah, dan anak tersebut. Didapat bahwa ya menurut penjelasan ayah, anak ini durhaka.
Namun, Rasulullah tidak berhenti pada penjelasan ayah tersebut saja, anak tersebut bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, saya ingin bertanya apa Hak seorang anak?”, kemudian Rasulullah dengan detail dapat penyampaian yang penuh Kasih menjelaskan Hak anak adalah Ayah mencarikan Ibu yang baik, Nama yang baik, dan lingkungan yang baik.
Maka jelas saja anak tersebut menjawab, maka sebelum saya disebut anak durhaka maka ayah saja jelas lebih dulu durhaka sebab beliau tidak memberi Ibu yang baik pada saya Ya Rasulullah, Beliau juga tidak memberi saya Nama yang baik (nama itu adalah doa orang tua untuk anaknya,Nama itu harus punya arti, tidak sembarang ingin terdengar ‘keBarat-baratan atau karna pernah terdengar di Al Quran dan sembarang saja seperti Qurun, Firaun, padahal tokoh tersebut bukanlah tokoh panutan, dan masih banyak lagi aku temui orang tua menemai anaknya sembarang saja, maka sembarang pula doa tersemat pada anaknya),
Terakhir lingkungan, ada hak anak yang harus dijamin orang tua untuk menempatkan lingkungan yang baik (lingkungan tinggal, lingkungan sekolah, dan lingkungan bermain anak yang perlu dijamin). Apabila tiga hal hak anak tersebut telah terpenuhi oleh Ayah maka, bila anak tetap atau menjadi Durhaka, terlepaslah ‘dosa[ tersebut bukan tanggungan ayah atau ibu.
3 hal penting ini akan aku sangkutkan pada analisis aku.
Pertama keluarga, ada satu cerita dalam buku ini yang kalimat akhirnya membekas dihati aku, bahwa “kamu fokus belajar kembali, berusaha memahami bahwa sebenarnya keluarga, dan sekolah sangat perhatian pada kamu, mungkin caranya saja yang masih kurang tepat, hlm.28”.
Keluarga jika kamu tidak mendapat panutan dari ayah, dan ibu kamu (aku ingin kamu, dan kita sadari Bahwa orang tua tidak ada yang sempurna, dan tidak ada anak yang sempurna, hanya selalu ada kekuatan untuk terus belajar lagi dan lagi menjadi yang terbaik versi mereka), ada memberimu solusi tarik garis wali ayah dan ibu kamu (ambil panutan dari Kakek pihak ayah, paman, wawak, Pak Cik, Pak wo, Om atau apapun yang biasanya kamu memanggil mereka.
Jika tidak dari pihak ayah (tarik garis wali dari Ibu, ambil panutan dari kakek pihak ibu, Om kamu, wawak, paman atau apapun yang biasanya kamu nyaman memanggil mereka). Sadari bahwa kita masih manusia yang punya kecenderungan berbuat salah terus, dan ilmu terbatas. Jadi harus legowo mau belajar terus, dan berguru disini jangan cari yang guru baik saja, cari guru atau panutan TER-Baik, terbaik, terbaik (sampe tiga kali saya ingin tegaskan hal ini).
Selanjutnya JIka aku engga dapat panutan dari keluarga inti, dan keluarga besar?? Ohh tenang sista atau bro, Ambil panutan dari tetangga, liat kanan kiri kamu, cari tetangga yang punya sisi baik dalam pengajarannya. Engga dapat juga? Ambil panutan dari guru, dosen, ustadz, atau tokoh masyarakat yang punya sisi baik yang dapat kamu ambil. Terkahir adalah ambil dari sisi teman akrab.
Segi teman akrab, ini sangat rentan. Kenapa? Kamu punya hak untuk selektif memilah teman. Untuk perempuan yang memang punya kecenderungan lebih ‘pemilih dan memfilterI circle perteman, mungkin tidak susah memiliah teman sholehah yang selalu mengingatkan minimal ayo udah waktunya sholat, memenuhi panggilan Dia yang menciptakan kamu, minimal bisa ngaji yak. Dua pokok hal penting jika kamu ‘tersesat’, dua cara untuk kembali pada-NYA.
Untuk para laki-laki, aku tahu dibanding perempuan kaum laki-laki kurang bisa selektif memillah teman (hipotesis aku ya sebab lali-laki gengsi juga kalo memillah-milah teman, atau temannya sedikit) , tapi jangan khawatir, menurutku ini bisa jadi solusi untuk laki-laki jika kamu di posisi menyimpang atau tidak bahwa ingatlah ini.” Sebejat atau sebrengsek teman kamu sadari bahwa Allah pasti memberikan minimal 1 kebaikkan dalam diri teman mu itu, entah dalam segi agama, sikap jujur, segi sosial empatinya yang tinggi, dan lainnya.
Bersyukur jika kamu diberi anugrah lebih untuk melihat sisi kebaikan teman mu itu, yang mungkin tidak diperlihatkan Allah pada yang lain, special lah kamu itu. Nah ambil 1 kebaikan itu untuk kamu implementasikan dalam hidup kamu, dan keburukan teman karib yang kamu jadikan evaluasi pembelajaran untuk kamu jangan mencontohnya minimal jika kamu belum bisa mengingatkan atau menggerakkkan temanmu dijalan kebaikan. Selalu berdoa pada Dia yang Maha BIjaksana, dan Maha Pengasih untuk melindungi hati, dan pikiran kamu dari penyakit hati, LGBT, dan berdoa untuk selalu di’peluk; allah pada keimanan, dan takwa pada-NYA. Teguhkan ajaran agama kamu.
JIKA kau dia bilang tidak menjunjung hak asasi manusia oleh LGBT, Tegaslah mengatakan bahwa ada HAK, dan Kewajiban jelas harus kau tahu. JIka keberadaan mu sudah mengganggu kenyaman kami, Maka, jelas kamipun punya hak untuk menentang keberadaan eksistensi mu disini. Kami akan dengan tangan terbuka Bedoa untuk kebaikan kamu agar kembali ke FItrah kamu. Doa adalah Senjata terkuat yang tidak akan terkalahkan, dan mengecewakan kami.
Serta jika kamu mau mengambil tantangan untuk kembali ke fitrah kamu, kami bersama mu, ingatlah you’re not alone, ada Allah, DIa yang Maha Kuasa pembolak hatimu, ada keluarga besarmu (ambil garis wali ya wali ayah, dan ibu yang masih Sangat bisa kamu ambil mereka sebagai panutan kamu), tetangga yang bisa kamu ambil sebagai panutan, sahabat karib yang mendukung kamu untuk kembali ke fitrahnya, lingkup sekolah dan perguruan tinggi yang mendukung, dan sangat peduli padamu.
Penilaian Penulis Mengenai Cerita Ini :
Kelebihan dari buku ini adalah termasuk buku ‘sekali duduk’. Halaman buku juga tidak terlalu tebal, terdapat ilustrasi gambar pendukung. Bahasa yang digunakan sederhana, jelas, dan mudah dipahami . Mungkin juga sebab sasaran buku ini untuk Remaja, karenanya dikemas dengan bahasa sederhana, dan ilustrasi gambar pendukung agar tidak bosan membacanya.Terdapat pula bagian intervensi singkat bagaimana mengenali apakah kamu punya kecenderungan LGBT atau tidak sedari dini, tapi aku tetap menyarankan intervensi lanjutan langsung ke Ahlinya (Ustadz atau Psikolog yang Kontra LGBT).
Kekurangan, kurang tebal halamannya.