Di mana pun orang bicara politik negeri ini, mulai dari warteg sampai ke resto-resto bergengsi. Mereka ngobrol untuk mencari kejelasan dengan cara menarik kesimpulan umum dari peristiwa-peristiwa yang terjadi, bisa dengan santai di warung kopi, bisa pula dengan debat panas di sosial media. Dan tak pernah kekurangan bahan!
Buku ini berisi kolom-kolom politik Seno Gumira Ajidarma dalam kurun waktu 2014-2016. Ditulis dari sudut pandang multidisipliner, Jokowi, Sangkuni, Machiavelli, menyindir, mengajuk, dan mengajak kita untuk mengingat bahwa masih banyak hal yang lebih penting daripada sekadar perbedaan pandangan politik dan masalah dukung-mendukung idola politik.
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
Sebelum saya membaca buku ini saya sempat ngobrol ngalur ngidul dengan si penulis. "Kowe wis moco bukuku sing anyar?" "Mbok tukokno," dengan logat Jawa kental. "Iyo Mas. Ngko tak cari ning toko buku," jawab saya agak malu. Mengingat mungkin sudah lama sekali saya tidak membaca karya sastra atau bacaan Bahasa Indonesia, dengan standar ukuran kualitas dan apakah bacaan itu bisa memberikan memori yang kuat bagi saya.
Buku ini memang bukan buku terbarunya. Tapi ia meminta saya untuk membacanya, karena ia pikir ada beberapa ide yang penting untuk bisa diobrolkan dalam kemungkinan-kemungkinan perjumpaan selanjutnya.
Saya menemukan gagasan politik yang ia mulai dari buku karangan Miriam Budiarjo, "Dasar-Dasar Ilmu Politik". Buku ini adalah jurus dasar bagi para mahasiswa ilmu politik strata 1 hampir di semua universitas di Indonesia. Ia mengembangkan bacaan Budiarjo dalam sejumlah esai yang ia tulis dari medio 2014 hingga 2016. Saya mulai tersenyum-senyum ketika menemukan SGA memulai esainya dengan karya Ibu Budiarjo setelah sekian lama buku itu saya tinggalkan dari bangku kuliah.
Meski ini buku bukan kategori longform essay, gagasan tulisan esai SGA memang sangat luas. Seluas samudera informasi yang penting untuk kita serap. Ada tajuk dengan tema politik, ketokohan, Machiavelli -si moralis realis-, soal catur dan taktik hidup, hingga beberapa etika Jawa yang SGA representasikan tanpa kehilangan kritisisme. Figur-figur pewayangan dan beberapa cerita Jawa-India seperti Bharatayudha adalah esensi kisah yang masih aktual untuk mengawal kritisisme kita sebagai warga yang biasa-biasa saja ini.
Banyak topik politik di sana sini tapi SGA masih punya nafas panjang dan gesit dalam menyusun struktur kalimat. Termasuk kepiawaiannya dalam menyadurkan peristiwa-peristiwa politik yang monoton dan cenderung mengalahkan akal sehat bisa ia hadirkan secara kuat dan bermakna.
Di penghujung buku ia membawa esai kuat berjudul, "Meski Hanya Satu Nyawa". Esai lawas namun begitu berkesan.
Ini adalah buku kumpulan esai SGA yang sebagian besar pernah tayang di Kolom Politik di Koran Tempo. Esai-esainya tidak panjang, hanya sepanjang kurang lebih 5000 cws. Jadi relatif pendek. Tapi bagaimana Seno yang budayawan dan sastrawan mengomentari "kancah politik" menjadi sangat menarik diikuti. Seperti perkataan Seno di pengantar bahwa dunia politik tidak bisa dilewatkan begitu saja. Karena satu hal itu mengurusi banyak kepentingan manusia. Terbutki dalam buku ini Seno tidak hanya membahas soal politik hangat tetapi juga soal Pulau Komodo, media, jurnalistik, permainan catrur bahkan LGBT.
Seno yang berangkat dari budayawan-sastrawan mencoba membuka dengan esai yang sangat menarik soal tradisi kroniisme-nepotisme. Dalam dunia peawayangan setiap klan keluarga akan mendapatkan posisi penting baik dalam posisi kerajaan atau sebagai adipati atau posisi pengampu ksatrian. Dan inilah yang menjadi bibit KKN hingga sekarang.
Wayang telah menjadi hal mendarang-daging dalam publik INdonesia. Maka tidak aneh bila Seno memakai beberapa perumpaan dari cerita wayang yang masyhur untuk mengomentari kondisi politik kekinian. Misal bagaimana saat gonjang-ganjing terima-tidak terima kemenangan pilpres 2014, Seno mengungkapkan ada 4 tipe penerimaan kekalahan yang dicatat, yakni Sumantri, Yudhistira, Suyudana, dan Aswatama. Sangkuni dan Gandari menjadi simbolisasi yang apik.
Dan tentu ada bahasan Ahok. Bacalah, saya terhibur dan nambah nutrisi otak.
Mungkin agak telat saya baru membaca kumpulan esai tentang politik ini karena berisi dinamika politik dari awal 2014 sampai akhir 2016. Lebih lanjut, SGA membahas tentang politik dari berbagai faktor, mulai dari filsafat, kisah pewayangan, sampai permainan catur. Perjalanan politik yang dibahas di sini juga mulai dari awal Jokowi sebagai "primadona" rakyat Indonesia yang menganggapnya sebagai harapan baru sampai kabar bahwa saat itu Ahok akan mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta lewat jalur independen. Oh iya, ada juga yang membahas tentang Aksi Kamisan yang sering dilakukan di dekat Istana Negara. Betapa para ibu atau anggota keluarga lainnya yang berjuang menuntut keadilan terhadap kematian anaknya, bahkan sampai sekarang masih "dicuekin" oleh negara.
Selain itu, membaca kumpulan esai ini membuat saya jadi bernostalgia tentang keramaian politik yang terjadi pada rentang waktu 2014-2016 karena ternyata sekarang dinamika politik sudah sangat banyak yang berubah.
Buku yang berkaitan erat dengan pemilu 2014 tapi masih sangat relevan dengan pemilu 2019 mendatang. Isu yang belum basi? Politikus yang tidak punya hati? Masyarakat yang tidak peduli? Apa pun itu, cukup lah kegaduhan politik ini berlangsung 5 tahun sekali. Semoga ambisi segera mati bersama dengan kekalahan ke 2 kali.
Saya adalah penggemar setia Seno Gumira Ajidarma walaupun tulisan-tulisannya dalam buku ini melulu soal harapan pada sosok seorang Jokowi. Ada banyak tendensi ke arah penggiringan wacana dalam kancah perpolitikan nasional medio 2014 lalu.
Ah, apapun itu, entah SGA mau membahas Jokowi atau Ahok sekalipun, saya akan tetap membaca SGA. Alasannya, sudah jelas, bahwa SGA sendiri pernah bilang bahwa pengarang telah mati ketika tulisannya sampai ke tangan pembaca.
"Pasar politik sama saja dengan pasar bisnis, para pemimpinnya dipasarkan terutama melalui media, dan para konsumen menanggapi trik-trik pemasaran ini seperti menghadapi barang komoditas sehari-hari: bahwa para konsumen itu membeli berdasarkan politik identitasnya sendiri, yakni seberapa jauh pemimpin yang dipasarkan itu dapat mengukuhkan keberadaan dirinya."