Hidup semua orang sangatlah gaib dan ajaib, dengan nasib takdirnya sendiri-sendiri. Gaib dan ajaib dalam suka. Gaib dan ajaib dalam duka. Pengalaman kita tidak akan pernah sama atau berulang. Entah dari mana datangnya, suatu kali aku mendapat pikiran sederhana seperti ini: setiap hari kita terlahir sebagai pribadi baru, dengan pikiran dan impian baru, yang terperangkap pada tubuh yang sama. Dunia yang aku hidupi kemudian terasa fana, dan karena itu aku seperti makin cemas kehilangan segala hal yang telah kujumpai. Itulah yang ingin aku tulis di sini. Seorang wanita dari masa silam. Juru dalang yang mungkin kalah dalam sejarah, namun mencoba bertahan hidup melalui cerita yang dikarangnya. Sebentuk kisah yang, tidak lain, mungkin tentang diriku sendiri… atau sebagian diriku, juga sebagian orang lain.
KALAMATA adalah novel tentang waktu dan pikiran manusia beserta misterinya. Berlatar belakang Tragedi 1965 di Bali, novel ini mengisahkan hidup seorang dalang perempuan kondang bernama Ni Rumyig yang mengalami demensia. Mengapa perempuan yang begitu kuat itu tiba-tiba terpuruk tak berdaya dalam sekejap mata? Mengapa di puncak kariernya yang mencorong dia seperti mendadak hilang dari peredaran? Kalamata mengajak kita membuka tabir kehidupan sang tokoh selapis demi selapis bak menghadapi suatu kisah misteri.
Karya Ni Made Purnama Sari dimuat di sejumlah media massa, seperti Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, Bali Post, Indopos, Jurnal Nasional, dan majalah Femina. Dia juga pernah meraih juara di beberapa lomba penulisan cerpen yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Denpasar (2003), Pusat Bahasa Jakarta (2005), Selsun Golden Award (2006), dan lain-lain. Sebelumnya dia memenangkan kompetisi pembacaan cerpen di Denpasar, yang diraihnya saat masih duduk di bangku SMP dan SMA.
Belakangan, dia lebih kerap menulis puisi. Kumpulan puisinya, Kawitan, menjadi Pemenang II Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015. Setahun sebelumnya, 2014, antologi puisi pertamanya, Bali-Borneo, meraih Buku Puisi Pilihan Anugerah Hari Puisi Indonesia dari Yayasan Sagang dan Indopos.
Made pernah diundang mengikuti Temu Sastra Mitra Praja Utama (Lampung, 2010), Ubud Writers and Readers Festival (Bali, 2010), Temu Sastrawan Indonesia IV (Ternate, 2011), Padang Literary Biennale (Padang, 2014), Emerging Writers Festival (Melbourne, 2015), Salihara International Literary Biennale (Jakarta, 2015), dan Pasar Malam Literary Festival (Paris, 2016).
Wanita kelahiran Klungkung, 22 Maret 1989, ini pernah bergiat di Bentara Budaya Bali, Tempo Institute, dan sebagai kurator fiksi dan budaya di blog publik Indonesiana Tempo.co. Dia juga kontributor media dan asisten editor beberapa buku memoar dan budaya.
Mungkin ini lebih cocok disebut curhatan daripada diberi label 'sastra' oleh KPG. Awal membaca saya tertarik dengan kisah hidup seorang dalang perempuan yang mengidap demensia. Kisah masa lalunya menjadi misteri lantaran sedikit sekali informasi yang didapat mengenai kisah hidupnya ketika menjadi dalang dulu.
Bagian kedua buku, rasa penasaran saya dibuat meletup-letup karena setelah menemui beberapa orang, informasi yang didapat juga hanya seiris. Saya berharap di bagian ketiga buku saya bisa tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Eh, ternyata tidak sulit menemukan jawabannya. Di bagian kedua akhir, adik sang dalang membeberkan semua kisahnya. Padahal dari awal cerita sang adik sudah disana. Lalu, ngapain repot-repot kesana kemari?
Bukunya berjumlah 223 halaman, 70 persen nya berisi.... ungkapan perasaan. Dalam epilog, Made menulis 'Aku tahu tulisan ini terlalu sentimentil, terlalu pribadi. Tentu Anda tidak merasakan apa yang kurasakan ini...' Respon saya: WHO CARES? saya ingin membaca fiksi berlatar sejarah, kebudayaan, dan kisah hidup unik seseorang, bukan obrolan penulis dengan teman-temannya, ataupun curahan hati.
Masih untung saya bisa membaca sampai habis. Argh.
Saya selalu iri dan "sebel" kalau melihat anak muda yang sudah pinter, tulisannya kece, dan gaol. Dan Pur salah satu yang kusebeli. Saya pernah sekali menghadiri acara pembacaan puisinya, dan saya langsung jatuh cinta dengan suaranya yang memang sepertinya ditakdirkan sebagai penyair. Kemudian puisi-puisi di Kawitan yang lembut dan membawa ke permenungan baru. Dan sekarang kita disuguhi dengan novel berjudul megah dan sampulnya yang kece badai KALAMATA. Silakan baca sendiri dan rasakan kejutannya.
Sejujurnya aku bingung mau menilai novel ini gimana.
Berkisah tentang Made yang dimintai tolong untuk menuliskan biografi seorang dalam perempuan Bali, Ni Rumyig, yang dulunya tersohor lalu tiba-tiba saja menghilang di masa kejayaannya. Ni Rumyig sebenarnya masih hidup, tapi dia seakan kehilangan dirinya sendiri karena demensia. Karena ini lah Made mengalami tantangan untuk mendekati, mengenal, dan mengupas kisah perjalanan hidup Ni Rumyig, dan menemukan alasan sebenarnya kenapa beliau mengalami trauma batin yang cukup parah hingga menyebabkannya menjadi manusia yang terlupakan. Bukan hanya dilupakan orang lain, tapi juga dilupakan oleh dirinya sendiri.
Sebenarnya novel ini ditulis dengan cantik. Suasana yang dibangun cukup sendu untuk mendukung kisahnya yang sedih. Cuma bagiku kisah masa lalu dari Ni Rumyig kurang cukup kelam, seperti cuma bagian permukaannya aja yang ditemukan dan dituliskan. Ada beberapa detail seperti ketidaksukaan Ni Rumyig untuk difoto yang bagiku masih belum ditemukan alasannya kenapa.
Over all... Aku menikmati tulisannya meskipun ceritanya masih nanggung bagiku.
A good novel with a common way of narrating and with a simple but deep content. It is so much better than several contemporary fictions with a main focus toward the style instead of other more significant intrinsic elements.
The characters of the novel are well-built psychologically. The conflicts are inner conflicts instead of corporeal ones, showing that the author is a good storyteller with enough confidence about it: it is easy to find out that a bad storyteller commonly uses an amazing corporeal conflicts performed in the form of sophisticated scenes to hide his/her inability of building a character psychologically (if you follow the development of our contemporary author's works, you will find some).
And, i like the way the story is closed: by using a fable, a traditional folk song, and the landscape of contemporary children who recollect the old wisdom. It is the most beautiful scenery, especially because at the same time it is also the rarest one.
Buku kedua dari penulis Ni Made Purnama Sari yang aku baca. Sinopsis serta pembuka cerita yang begitu apik berhasil membuat aku tertarik. Aku pikir, buku ini akan mengulas banyak tentang peristiwa tahun 1965 di Bali.
Membahas Bali, tentu buku ini pekat dengan nuansa Pulau Dewata itu. Aku banyak mengenal tentang Bali karena buku ini, tercerahkan sedikit demi sedikit terkait bahasa Bali. Hal lain yang membuat aku tertarik adalah buku ini membahas tentang dunia pe-dalangan. Hal yang baru, dalang di Bali bagaimana? Selama ini aku hanya baca dan nonton wayang di Jawa. Rasa penasaran ini membuatku menguatkan hati untuk menamatkan cerita Kalamata.
Sayangnya, keluhku masih sama seperti buku penulis yang pernah aku baca sebelumnya, perihal cerita yang terlalu banyak informasi lain (di luar pokok masalah) membuat aku berkali-kali bertanya, "Ini cerita mau dibawa kemana?"
Kalamata menceritakan tentang seorang dalang wanita; Ni Rumyig yang kisahnya begitu misterius di masa lalu. Kemudian seorang penulis diminta untuk menuliskan biografinya sebagai dokumentasi serta media terapi bagi Ni Rumyig sendiri yang mengalami kondisi nir-primanya psikologis juga dimensia. Mengalir cerita pengungkapan satu persatu bagaimana Ni Rumyig dahulu, sampai pada akhirnya penulis menyebutkan terkait Gestok. Aku merasa tertarik, tapi sayangnya ini tidak dibahas lagi sampai akhir cerita.
Untuk cerita yang mengungkap suatu peristiwa berat, buku ini masih terlalu tersirat. Aku kurang paham itu akhirnya biografinya bagaimana, terus alasan kenapa Ni Rumyig jatuh begitu saja, dan alasan mengapa ia sebegitu traumanya dengan kamera. Memang sepertinya dibahas secara tersurat, namun kesimpulannya tersirat, jadi pembaca seperti aku kurang paham.
Terlepas dari semua itu, buku ini termasuk buku yang aku rekomendasikan karena banyak ilmu yang didapat. Terutama buat yang penasaran sama Bali, di sini sedikit banyak mengulas bagaimana Bali dengan kacamata kultur yang ada. Adapun kutipan yang paling aku suka itu ada di akhir, "Jangan merasa diri mampu, biar orang lain menilai dirimu. Ini seperti kerja menyapu, di mana sampah muncul selalu. Meski telah bersih, masih ada debu melulu."
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ceritanya cukup menarik, tapi banyak penggunaan kata yang cukup asing bagi saya, yang bukan orang bali atau kenal dengan kebudayaan bali. Selain itu, penulis tidak memberikan keterangan lebih lanjut terkait kata-kata tersebut sehingga saya harus menerka-nerka sendiri apa arti dari kata tersebut, misalnya taksu, sekaa, trans, leteh, dan lainnya.
Kemudian, saya merasa bahwa cerita ini, yang berdasar sinopsisnya mengatakan bahwa pembaca diajak membuka tabir kehidupan sang tokoh selapis demi selapis, masih kurang mengena. Cerita yang ditampilkan seakan masih di permukaan saja. Selain itu juga, ada beberapa hal kecil dan cukup detail, yang saya pikir punya kaitan dengan cerita keseluruhan, tapi ternyata hanya seperti selingan dan tidak ada pengaruh apa pun ke plot cerita.
Di akhir buku juga saya cukup dikagetkan karena narasi Made yang tiba-tiba jadi membahas perasaannya terhadap Metta, padahal dari awal fokus ceritanya bukan itu. Kehidupan Made di Belanda juga terasa hanya sebuah narasi tambahan untuk memperbanyak kalimat dalam novel, karena sebenarnya saya tidak menemukan korelasinya dengan kisah Ni Rumyig, apalagi di awal diceritakan seolah Made ini lari dari tanah air dan keluarganya, yang saya pikir awalnya hal itu terjadi sebagai akibat dari penulisan biografi Ni Rumyig, tapi ternyata tidak.
This entire review has been hidden because of spoilers.
saya penasaran dengan kisah Ni Rumyig, seorang dalang wanita asal Bali yang mengalami demensia; sekalian kepingin membaca kebudayaan dan sejarah.
bagian pertama hingga memasuki bagian kedua saya seakan ingin terus membaca dan berharap menemukan jawaban di bagian akhir. tapi sayang sekali kaka, di bagian kedua akhir semuanya sudah terbongkar, dan sisanya di bagian ketiga hanyalah curhatan "si aku", yang pembaca (red; saya) gak peduli-peduli amat. sisa beberapa halaman lagi udah males. ggrrr...
jadi, dari awal kepincut sama judulnya yang ketika dibaca terdengar keren. kemudian kisah unik Ni Rumyig yang jadi pusat cerita makin kepingin baca, tapi kok... ah sudahlah!!
Menjadi terlalu sentimental dari kacamata penulis yang dilihat oleh pembaca, lepas dari pemaparan setting yang detail dan begitu memikat. Ada bab yang dipaksakan harus muncul, mungkin bisa dijadikan penyegaran, namun kurang pas. Namun dari studi kasusnya, sungguh memikat dengan banyak informasi yang bisa diakses.
(Ulasan yang telat karena selesai dibaca 2 tahun lalu. Diulas seingatnya saja. Maaf)
Tak ada yang rumit. Ceritanya mengalir, seakan-akan menuntun menyusuri tanah Bali karena belum pernah ke sana. Tapi endingnya entah apa. Peristiwa kelam yang ditawarkan pada sampul belakangnya juga cenderung tidak terasa.
Pikiran kita tidak sepenuhnya diisi oleh logika dan rasionalitas. Kadang di oleh persepsi, prasangka, dan dugaan-dugaan serba irasional. Atau bahkan emosional, bisa jadi.
Kece. Kalo orang biasa bilang don't judge book by its cover, disini saya mesti akui don't judge book by its genre. Sebagai pembaca by genre saya sudah tertipu dengan pilihan drama Ni Made Purnama Sari.
Mengisahkan perjalanan hidup seorang dalang kenamaan, Ni Rumyig yang mengalami demensia, membuat si "aku" harus sedemikian struggle nya demi mendapatkan info-info seputar kesejarahan wayang di Bali dan motif demensia Ni Rumyig sendiri yg misterius.
Si "aku", dengan kemelankolisannya, akhirnya membuat kisah dirinya ini serasa litfic yg khas dengan berbagai penuturan kontemplatif. Mengamati sisi kehidupan lansia yang terjebak dengan masa lalu, mempreteli misteri sejarah pewayangan Bali, sekaligus ikut dalam nuansa mistis adat Bali. Si "aku" benar-benar pengisah ulung.
Dan bukan saja karena "aku" saya menggilai novel Perdana Ni Made ini, pun beberapa tokoh penting lain tak kalah kecenya. Sangat jarang saya bisa suka hampir semua tokoh dalam satu novel, tapi Kala Mata, di sini saya jatuh cinta berkali-kali dengan tokoh yg berbeda. Saya sampai capek karena terpesona oleh karakter tokoh-tokoh novel ini. Tapi, bagaimana pun saya buka-tutup buku (saking ngefeel nya; akibat world buildingnya sukses), saya harus menamatkan novel litfic ini.
Yosh dan akhirnya selesai, dengan plot twist mengentak dan berpotensi banting-si-buku-! .
But as a whole, novel ini sungguh bernas, laiknya karya penulis yang lama bergiat dalam dunia fiksi dan realitas budaya di saat yg sama.
Kayak awalnya buku ini menjanjikan banget, aku suka sama writing style nya.
Berceritakan tentang seorang pelajar yang di masalalu di haruskan menulis biography tentang seorang dalang wanita bernama Ni Rumyig yang mengidap dementia.
Udah kesana kemari nyari tau mulai dari ke media yang pernah meliput, ke rekan-rekan terdekat, karena ni rumyig juga gak mau bicara juga kan, terus kaya di akhir cerita setelah si mc udah tau kebenaran nya muncul lah si adik ni rumyig beberin cerita yang sebenarnya nya??? Kek kenapa gak dari awal aja, kenapa nunggu si mc ngalor ngidul keliling Bali dan tau kebenaran nya terlebih dahulu baru dia muncul terus cerita ulang dengan point yang sama????
Buku ini untuk memenuhi Tsundoku Books Challenge 2017
2,9 dari 5 bintang!
Saya penasaran dengan kisah Ni Rumyig, seorang dalang wanita yang mengalami demensia. Akan tetapi saya kurang suka dengan penyampaian cerita dan alurnya. Banyak pertanyaan yang masih belum terjawab. Mungkin saja endingnya dibuat seperti itu.
*Cenat cenut ya menghabiskan delapan timbunan buku. Gatel mau baca buku diluar timbunan T.T
Sejujurnya, gue tertarik sama masa lalu Ni Rumyig. Tapi gue gak peduli sama sekali sama tokoh utamanya. Tokoh utamanya, si Made, aneh. Yaaa kalo si tokoh utama ini gambaran pengarangnya, sori sori stroberi ya mbakk... hehehe... Just trying to be honest here, tokoh utamanya yang bikin gue lama banget baca ni buku. Padahal buku ini ga tebel sama sekali.
Hmm, mari kita lihat apa yang diiklankan di bagian belakang bukunya :
KALAMATA adalah novel tentang waktu dan pikiran manusia beserta misterinya. Berlatar belakang Tragedi 1965 di Bali, novel ini mengisahkan hidup seorang dalang perempuan kondang bernama Ni Rumyig yang mengalami demensia. Mengapa perempuan yang begitu kuat itu tiba-tiba terpuruk tak berdaya dalam sekejap mata? Mengapa di puncak kariernya yang mencorong dia seperti mendadak hilang dari peredaran? Kalamata mengajak kita membuka tabir kehidupan sang tokoh selapis demi selapis bak menghadapi suatu kisah misteri.
Sangat menarik bukan? Sebuah misteri tentang Ni Rumyig dan masyarakat Bali dan budayanya. Dan di bab-bab awal diceritakan bahwa akan sangat sulit mendapatkan cerita yang sebenarya mengenai kisah Ni Rumyig.
Mungkin saya yang berekspektasi terlalu tinggu dan kurang mencermati keseluruhan isi yang memang diiklankan, tapi saya kecewa. Buku ini lebih penuh dengan keluh kesah dan curahan hati. Dan setelah meyakinkan pembaca bahwa memang akan sulit mendapatkan kisah seutuhnya mengenai Ni Rumyig, cerita dalang wanita Bali ini terkuak lengkap dalam satu kali cerita. Dan kemudian keluh kesah dan rengekan dimulai kembali.
Perlu diacungi jempol, kisah Ni Rumyig memang berhasil diceritakan dengan menarik dan detail. Dan saya sangat suka bagian tersebut. Dan bagian tentang upacara di Trunyan. Sangat detail dan mengesankan.
Tapi hanya itu. Selesai dalam waktu yang singkat. Sisanya.....
Sebenarnya hampir tidak mau menyelesaikan buku ini. Namun setelah membaca Tarian Bumi oleh Oka Rusmini, sama-sama tentang Bali dan adat-masyarakatnya dan sama-sama menyinggung tentang hubungan non-heteroseksual, sangat sayang untuk tidak diselesaikan. Tapi sayangnya terlalu berbeda.