Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sarwo Edhie dan Tragedi 1965

Rate this book
IA MUNCUL DI ATAS PANGGUNG SEJARAH pada waktu yang tepat. Sesuai perintah Pangkostrad Mayjen Soeharto, Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo segera membebaskan RRI yang dikuasai G-30-S, mengamankan PAU Halim Perdanakusuma yang menjadi markas G-30-S, mencari jenazah para jenderal yang dibunuh, serta memberantas para pendukung G-30-S di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.
NAMUN, POPULARITAS SARWO EDHIE yang meroket mengusik Soeharto. Ia disingkirkan dari pusaran kekuasaan dengan ditugaskan menjadi Pangdam Bukit Barisan dan Pangdam Cendrawasih. Kendati kembali menunjukkan prestasi dalam pelaksanaan Pepera, ia hanya diganjar dengan posisi sebagai Gubernur Akabri. Setelah itu, ia “disipilkan” dengan dijadikan duta besar RI di Korea Selatan pasca-peristiwa Malari, Irjen Deplu, Kepala BP7, dan, terakhir, menjadi anggota DPR/MPR selama beberapa minggu, yang berujung pada pengunduran dirinya yang kontroversial.
PERGOLAKAN POLITIK 1965-1966 menempatkan Sarwo Edhie sebagai pusat perhatian. Keberhasilannya menghancurkan PKI, membuatnya dikagumi sebagai penyelamat bangsa dari cengkeraman komunisme. Namun, belakangan ini, namanya kembali disorot dalam konteks berbeda. Peranannya sebagai komandan pasukan komando pembasmi PKI dan para simpatisannya diletakkan dalam peta kejahatan kemanusiaan di Indonesia. Namanya dikaitkan dengan pelanggaran HAM berat.
Perjalanan hidup Sarwo Edhie Wibowo adalah sebuah kontradiksi.

218 pages, Paperback

First published February 1, 2016

43 people want to read

About the author

Peter Kasenda

13 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (36%)
4 stars
9 (36%)
3 stars
5 (20%)
2 stars
1 (4%)
1 star
1 (4%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for Dhifa ☾.
71 reviews16 followers
May 17, 2021
4.5/5⭐

Mungkin benar kata Mircae Elaide, "Setelah suatu peristiwa penting berlalu biasanya memang terjadi pembesaran makna. Fakta berubah menjadi legenda, pesan berubah menjadi mitos. Bukan lika-liku peristiwanya yang penting, tapi kesan yang hendak disampaikan lewat kenangan peristiwa itulah yang penting" (Hal. 190)

Akhirnya selesai baca buku ini! Banyak sekali informasi baru yg detail dan dijelaskan secara runtut.
Peristiwa G30S sebagai titik awal kejadian bersejarah di Indonesia yg dimulai dengan pembantaian massal pendukung/simpatisan/keluarga/pimpinan PKI. Sarwo Edhie Wibowo merupakan komandan RPKAD yg berhasil menumpas PKI dan melakukan pemusnahan pendukung PKI di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Namun, beliau mulai dikaitkan dengan pelanggaran HAM berat thd korban G30S PKI yg dieksekusi dan dipenjara tanpa diadili terlebih dahulu. Kemudian peristiwa berlanjut dg kudeta merangkak Letjen Soeharto dan 32 tahun kediktatorannya.
Masih menjadi misteri siapa dalang dibalik kejadian G30S PKI. Disebutkan ada 7 versi berbeda siapa dalang dibalik kejadian 1965.

Merinding sekaligus sedih membayangkan keluarga simpatisan PKI yg tidak tahu apa2 tiba-tiba dipenggal lehernya. Digambarkan keadaan air sungai di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali saat itu berwarna semerah darah dan asin.

Buku ini bagus untuk mempelajari sejarah kelam Indonesia dan menurut saya semua yg dikemukakan di buku ini masih bersifat netral dg referensi dari berbagai sumber.
Profile Image for Astala.
100 reviews
November 30, 2022
Sarwo Edhie dan Tragedi 1965

⭐3,5
Kisah yang awalnya aku kira hanya ngebahas tentang sosok Sarwo Edhie, ternyata setelah baca pembahasan didalamnya lebih dari itu. Kisah awal mula ketertarikan sarwo edhie dengan kemiliteran di era penjajahan jepang hingga kisah pasca pengunduran dirinya yang ternyata sosoknya sangat sederhana dan hangat untuk keluarganya juga diceritakan secara cukup rinci.

Baca buku ini, berasa kaya flashback ke masa² sekolah dulu soalnya berasa kaya belajar mapel sejarah dan PKn bab pra G-30-S dan pasca G-30-S secara rinci. Kejadian² sebab-akibat dari peristiwa G-30-S bener² diceritain detail dan sumber yang digunain pun sangat banyak.

*nambah pengetahuan tentang sejarah yang ngga tercatat dalam pelajaran sekolah

Selain itu, karena baca buku ini aku jadi sadar ternyata dulu ditahun² itu Indonesia pernah 'sechaos' itu pemerintahannya. Masalah intern AD, masalah PKI, masalah anti-soekarno bener² tumpang tindih jadi satu. Kekerasan, pembantaian, perebutan kekuasaan itu semua dilakuin sesama warga indo sendiri, waw.

Bukunya bagus, cuma aku bacanya agak lama. Soalnya didalamnya maparin istilah², singkatan² dan banyak nama² tokoh yang bener² asing buatku, jadi harus bolak balik di bagian daftar singkatan sama google buat cari tau arti itu semua.
Profile Image for Dwi Ananta Putra.
28 reviews2 followers
November 5, 2017
"History is not about fact, it depends on the context and who told you the story". Kurang lebih begitulah salah satu quotes dr Professor Fine a.k.a Brainiac di serial smallvile ini kiranya sangat cocok menggambarkan tentang kebenaran cerita G30S yang saat ini masih "abu-abu".

Buku ini menceritakan tentang bagaimana peranan presiden Soekarno, Soeharto, dan Sarwo Edhie dalam krisis politik 1965-1966, yang tentunya beberapa bagiannya banyak yg kontradiktif dengan film propaganda keluaran pemerintah orde baru. Namun demikian, bagi saya buku ini diceritakan masih dari sudut pandang yg netral. Buku ini seperti ingin memberikan pesan penting tentang persatuan sebagai pondasi dari suatu bangsa yang kokoh.

The last, this book is awesome and I give it 5 stars.
Profile Image for Rotua Damanik.
140 reviews6 followers
October 11, 2016
Tentu saja tidak semua fakta yang dikemukan dalam buku ini adalah sebuah kebenaran mutlak. Kita masih butuh lebih banyak kesaksian untuk menguak misteri dalam tragedi 1965 yang begitu buram (yang kemungkinan tidak akan kita dapatkan lagi karena kebanyakan saksi dan pelaku sejarah sudah meninggal). Namun ada satu hal yang begitu jelas saat kita membaca buku ini. G30S merupakan kudeta yang tereselubung dalam sebuah upaya kudeta lainnya. Entah sudah direncanakan atau Mayjen Soeharto yang kala itu menjabat Pangkostrad melakukan improvisasi sesuai dengan perkembangan keadaan. Ia dengan mahir menggerogoti kekuasaan dan wibawa Presiden Sukarno demi melambungkan dirinya ke puncak kekuasaan. Dengan cerdik pula Soeharto menyingkirkan lawan maupun kawan yang dianggap berpotensi mengganggu kelangsungan kekuasaannya. Termasuk Kolonel Sarwo Edhi Wibowo yang dikirim ke Sumatera dan Irian Jaya untuk kemudian disipilkan dengan mengangkatnya menjadi duta besar.
Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.