Jump to ratings and reviews
Rate this book

(Never) Looking Back

Rate this book
Si Casta bersahabat sejak kecil dengan Kevin, lalu menjadi sepasang kekasih ketika mereka remaja. Namun, keduanya berpisah untuk mengejar mimpi masing-masing. Mereka bertemu kembali ketika keduanya sudah mapan dengan mimpi mereka dan memiliki pasangan baru. Kevin sudah memiliki Misca dan Casta sudah memiliki Philip, seorang seniman patung pasir. Mereka ada dalam pertaruhan hati; apakah akan terus menjaga cinta mereka dengan pasangan yang baru atau kembali menjalin cinta lama. Di sanalah keteguhan hati mereka diuji.

Casta dan Philip bertemu di sebuah toko souvenir di London. Akhirnya, mereka berteman dan saling memercayakan kisah hidup mereka. Kehilangan di masa lalu menjadi persamaan mereka untuk saling menguatkan.

(Im)Perfection adalah kisah tentang bagaimana seseorang yang bersungguh-sungguh berusaha akan dapat menggapai mimpinya. Juga bercerita tentang cinta sejati akan selalu memaafkan dan menerima. Tentang hati yang selalu mencoba bersetia, tetapi selalu saja ada hal yang mematahkannya. Tentang cinta yang sulit sekali ditebak dan dicari ujungnya.

288 pages, Paperback

First published September 28, 2016

1 person is currently reading
21 people want to read

About the author

Elvira Natali

6 books36 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (11%)
4 stars
14 (53%)
3 stars
8 (30%)
2 stars
1 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
November 23, 2016
Yuk ikutan Virtual Book Tour dan menangkan 1 eks gratis (Never) Looking Back gratis disini http://rizkymirgawati.blogspot.co.id/... (DL 27 Nov 2016)

"Setiap tulip punya filosofinya sendiri. Beda warna, beda makna. Biru artinya ketenangan dan kealaman. Oranye, semangat. Dan ungu, cinta pada pandangan pertama."

"Aku paling suka tulip biru. Karena jika kau memberi tulip biru pada seseorang, itu bisa diartikan sebagai lambang kepercayaan dan kesetiaan cinta." (Halaman 92)

(Never) Looking Back adalah karya terbaru Elvira Natali. Mengisahkan mengenai kehidupan Casta Abigael, seorang desainer yang sukses di Paris. Casta akhirnya berhasil mewujudkan impiannya di salah satu kota fashion terkenal. Karir Casta semakin lama semakin cemerlang, hal yang sebanding dengan apa yang sudah dia perjuangkan selama ini.

Casta yang harus berpisah dari Kevin, sahabat sekaligus kekasihnya untuk mengejar impian masing-masing. Dan sekian lama berpisah mereka pun sudah terbiasa hidup masing-masing, apalagi karir mereka pun semakin bersinar.

Casta yang berstatus yatim-piatu pun sudah terbiasa hidup seperti ini. Baginya, tidak baik menggantungkan diri kepada orang lain, selama dia mampu untuk mengusahakannya sendiri.

"Awalnya, aku merasa dunia begitu kejam, tapi lambat laun aku mengerti. Di dunia ini kita tidak bisa menghindari apa pun, termasuk masalah dan duka. Ketika itu terjadi, kita hanya perlu menerima. Karena hal-hal tersebutlah yang akhirnya mendewasakan pribadi setiap manusia. Jadi, tak perlu sedih dan menyesal berlarut-larut. Yang sudah terjadi, biarlah menjadi pelajaran berharga." (Halaman 97)

Hingga suatu hari, perjalanannya ke London mempertemukannya dengan Philip Bouvier mengubah hidupnya. Perkenalan tak sengaja karena tertukarnya barang belanjaan mereka, membuat Casta dan Philip akhirnya bertemu. Awalnya Casta tidak menaruh respek terhadap Philip, karena harus menunggu lama dan sikap Philip yang terkesan dingin.

Tapi lambat laun, semuanya berubah. Penilaian Casta pun berubah, apalagi setelah mereka saling mengungkapkan mengenai keluarga. Mereka menemukan satu kesamaan nasib, yaitu sama-sama yatim-piatu.

"Hidup sebatang kara memang tak mudah. Aku sering merasa kesepian, tapi aku tahu aku tak pernah benar-benar sendiri. Kau akan bertemu dengan teman hidupmu, lalu membangun sebuah keluarga. Jadi, tak akan ada kata sepi lagi." (Halaman 97-98)

Philip dan Casta pun semakin dekat, dan semakin lama perasaan nyaman tumbuh di hati keduanya. Philip jatuh cinta terhadap Casta, begitupun sebaliknya.

"Karena satu hari bersamamu jauh lebih baik daripada seribu hari di tempat lain." (Halaman 103)

Namun, sebelum mereka sempat mengungkapkan perasaan, masa lalu datang kembali ke kehidupan Casta dan menghancurkan semuanya. Apa yang terjadi selanjutnya?

"Cinta adalah hal rumit dan sulit dipahami karena tidak ada aturan khusus kapan dan mengapa orang jatuh cinta. Seseorang akhirnya bisa mengembangkan perasaannya dari hanya sekedar suka, kagum, atau hormat, lalu tumbuh menjadi rasa cinta." (Halaman 115)

Membaca novel ini sungguh menyenangkan sekali, aku tidak menyangka bahwa aku akan sangat menikmati kisah Casta dan Philip. Kak Elvira membuatku larut dengan kisahnya, bagaimana Casta bertemu dengan Philip dan akhirnya pertemanan pun terjalin. Semua terasa mengalir sekali. Kesalahan belanjaan yang tertukar, hingga akhirnya mereka berinteraksi dan lama-lama semakin dekat membuat chemistry keduanya pun terasa sekali.

Persamaan nasib keduanya, membuat Philip dan Casta pun semakin dekat. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Philip dan Casta, karena aku pun berada di posisi yang sama. Kehilangan kedua orang tua itu tentunya tidak mudah. Sekian tahun berlalu, rasa kehilangan itu belum juga sirna, masih tersimpan rapi di dalam hati. Apalagi awal-awal harus menghadapi kehilangan itu sungguh tidak mudah. Sehingga aku tidak heran, jika Casta dan Philip akhirnya dekat dan timbul kenyamanan di antara keduanya.

"Awalnya kau menyukainya, karena dia konyol dan bisa membuatmu tertawa. Kau semakin mengaguminya saat mengetahui di balik sifat cerianya, ternyata dia punya luka yang sama besar sepertimu. Lalu, kau menghormatinya sebagai orang yang senasib. Pada akhirnya, faktor-faktor itu membuatmu buta. Kau ingin dan bersedia melakukan apa pun, asal bisa melihatnya bahagia." (Halaman 115)

Walaupun dari segi karakter dan pekerjaan mereka sungguh berbeda, tapi Kak Elvira membuat semuanya terasa pas sekali. Mereka seakan terlahir untuk melengkapi. Aku suka bagaimana Kak Elvira berani mengambil profesi yang berbeda dan di luar perkiraan untuk Philip. Profesi seniman pasir adalah hal yang baru bagiku. Aku tak menyangka bahwa seniman pasir pun bisa menjadi profesi yang menarik. Rasanya menyenangkan sekali membayangkan apa saja yang bisa dibuat oleh Philip dengan seni pasirnya mengagumkan sekali.

"Karena proses yang tak instan, pasir-pasir itu membantuku melatih kesabaran dan mengendalikan diri. Yang terpenting, rasa sepi dan sakitku mulai berkurang." (Halaman 150)

Hingga saat kehadiran masa lalu datang mengacaukan semuanya, hanya karena 1 kesalahan saja semua orang harus tersakiti.

"Sebagai sesama yatim piatu, aku bertanya-tanya, bagaimana kau bisa seceria matahari seperti itu?
Kau memberikanku banyak pelajaran berharga tentang cara menyikapi hidup." (Halaman 150)

Berbicara mengenai kesalahan, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak ada satu pun manusia yang luput dari kesalahan, baik sengaja maupun tidak disengaja. Seperti Casta dan Philip yang melakukan kesalahan salah mengambil kantong belanjaan dan akhirnya mereka bertemu dan saling bersinggungan. Begitu pun ketika Casta melakukan kesalahan yang sempurna, ketika bayang masa lalunya datang. Kesalahan yang membuatnya harus menanggung risiko dari kesalahannya, termasuk hubungannya dengan Philip.

"Andai semua kehidupan menyakitkan, hati kecilmu akan percaya bahwa di luar sana pasti masih ada sepotong kebahagiaan. Bagian yang menyenangkan...Awalnya, kau tak tahu apa itu, karena pengetahuanmu terbatas. Tapi seiring berjalannya waktu, kau akan menemukan kebahagiaan itu." (Halaman 196)

Banyak hal yang bisa dipetik saat membaca novel ini bahwa semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tetapi, bukan berarti kita terlalu larut dengan kesalahan yang kita buat. Yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki kesalahan dan berusaha agar tidak terulang kembali. Mungkin pada prosesnya akan sulit, tetapi selalu percaya bahwa di balik setiap peristiwa pasti ada hikmah yang bisa diambil.

"Pasti lebih mudah jika aku memilih tidak peduli dan menghilang. Namun, aku tahu, itu bukan penyelesaian yang baik. Mungkin, aku akan menyesal di kemudian hari kalau tak pernah mengetahui benar bagaimana kejadian yang sesungguhnya." (Halaman 222)
Profile Image for Bintang Ach.
94 reviews
November 28, 2016
[Virtual BookTour] Review & Giveaway >> http://ach-bookforum.blogspot.co.id/2...

“Ketika impianku nanti terwujud, kamu akan ada di sampingku untuk menyempurnakannya, kan?”

“Ternyata, di balik kecantikan dan kesempurnaan yang luar biasa, juga ada kekurangan yang tidak kalah besar.”

Casta Abigael. Seorang desainer muda asal Indonesia sekaligus pemilik Glamour Exit yang sukses melebarkan sayapnya sebagai fashion designer di kota teromantis sedunia, Paris. Karirnya tersebut semakin gemilang setelah ia ikut serta dalam opening Paris Fashion Week. Berkat acara tahunan yang bergengsi tersebut, kini banyak media yang menayangkan liputan dan memberitakan karir Casta di beberapa artikel media cetak. Namun, kesuksesan Casta sebagai seorang fashion designer di Paris bukan tidak mungkin berawal dari sebuah keputusan besar yang pernah diambilnya dengan berat hati. Yakni keputusan untuk berpisah. Demi karirnya tersebut, Casta harus rela meninggalkan Bali, sebuah pulau kecil nan indah yang telah cukup lama menyimpan banyak memori indah mau pun buruk dalam hidupnya, dan…. menjadi saksi bisu perpisahannya dengan seseorang yang sangat ia sayang. Seorang laki-laki yang pernah mengikat janji bersamanya untuk saling rela melepaskan kepergian satu sama lain demi mengejar impian.

Namun kemanakah laki-laki itu sekarang? Sudah bertahun-tahun mereka berpisah, tapi mengapa tetap saja tidak ada yang saling mengirim kabar satu sama lain? Apakah laki-laki itu telah berhasil meraih impiannya? Entahlah. Casta tidak lagi peduli dengan semua itu. Karena selain disibukkan dengan karirnya, kini ia—lebih tepatnya hatinya—juga tengah disibukkan dengan kehadiran seorang seniman pasir bernama Philip Bouvier. Mereka pertama kali bertemu di London, saat Casta berkunjung ke Kesington Palace. Singkatnya, keduanya bertemu dengan cara yang cukup unik dan konyol. Namun keunikan dan kekonyolan itulah yang lambat laun membuat harti mereka enggan berpaling saat sedang bersama.

Namun sayangnya, cinta memang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Dan itulah yang terjadi ketika Casta dan Philip mulai menikmati kedekatan mereka. Apakah kalian masih ingat dengan laki-laki yang pernah mengikat janji bersama Casta di masa lalu? Ya, meski sebelumnya laki-laki itu bak hilang ditelan bumi, namun kini ia kembali muncul di hadapan Casta. Bukan sebagai seorang siswa SMA dengan impian besar, namun sebagai pembalap F1 profesional yang memiliki popularitas tinggi. Laki-laki itu tak hanya meninggalkan kesan mendalam bagi relung hati Casta, namun juga menorehkan takdir yang sangat sulit Casta terima. Takdir yang membawa pengaruh besar terhadap hubungannya dengan Philip.

Lantas, apakah kehadiran laki-laki dari masa lalu Casta dan segala masalah yang ditimbulkannya, akan mengancam kelangsungan hubungan Casta-Philip? Atau akankah hubungan keduanya tetap berjalan baik sesuai harapan?

Jika benar demikian, maka mereka harus melewati semuanya, dan itu tidak mudah……
Profile Image for Aya Murning.
162 reviews22 followers
November 23, 2016
Blog tour & giveaway novel (NEVER) LOOKING BACK ada di blogku (deadline: 27 Nov 2016)
https://murniaya.wordpress.com/2016/1...

“Karena satu hari bersamamu jauh lebih baik daripada seribu hari di tempat lain.” — Phillip (hlm. 103)

Sebagai seorang desainer yang sangat sukses di negeri orang, Casta Abigael sungguh menikmati hidupnya berkarya di Paris meski semua pekerjaan itu menyita waktunya. Terlalu menikmati rutinitas padatnya, Casta hampir tak punya waktu untuk sekadar berkencan dengan lelaki mana pun. Sampai suatu ketika sebuah kesalahan kecil di sebuah toko di London yang berhasil mempertemukan Casta dengan Philip Bouvier, seorang seniman Pasir dari Paris. Kantung belanjaan mereka tertukar dan terdapat barang-barang penting Casta di kantung belanjaan tersebut. Berbagai upaya Casta lakukan agar dapat menemukan si pemilik kantungnya agar ia mendapatkan kembali barang-barangnya.

Bagi Casta, Philip adalah lelaki menyebalkan karena mengacaukan harinya oleh keteledorannya yang telah mengambil kantung belanjaannya. Tetapi Casta akhirnya tak bisa menyangkal bahwa terdapat sisi manis dari Philip yang tulus membantunya meski ia selalu marah-marah padanya. Sedangkan bagi Philip, Casta adalah perempuan mungil yang sangat cerewet namun mampu membuat hari-harinya kembali berwarna setelah selama ini ia sangat menutup diri dari trauma masa lalu.

“Awalnya, aku merasa dunia begitu kejam, tapi lambat laun aku mengerti. Di dunia ini kita tidak bisa menghindari apa pun, termasuk masalah dan duka. Ketika itu terjadi, kita hanya perlu menerima. Karena hal-hal tersebutlah yang akhirnya mendewasakan pribadi setiap manusia. Jadi, tak perlu sedih dan menyesal berlarut-larut. Yang sudah terjadi, biarlah menjadi pelajaran berharga.” — Casta (hlm. 97)

Kedekatan Casta dan Philip makin menjadi pasca Casta mau menghadiri undangan pameran dari Philip. Banyak waktu yang mereka habiskan bersama, banyak obrolan yang mereka bahas, banyak tawa canda yang mereka bicarakan. Rasa nyaman yang saling mereka berikan satu sama lain membuat mereka sama-sama bingung, apakah ini rasa nyaman sebagai sahabat atau lebih?

Hingga akhirnya teman masa kecil Casta, Kevin Ivander, datang menemui Casta di kantornya. Sebuah reuni yang sangat tak terduga dan membuat rindu yang selama ini tertahan makin membuncah. Mereka terbawa suasana, mereka melupakan siapa sesungguhnya mereka? Dan malam itu menjadi awal mula bagi kekacauan hidup Casta selanjutnya…

Jadi, bagaimana hubungan Casta dengan Philip selanjutnya? Apakah pertemuan Casta dan Kevin berpotensi menjauhkan Casta dari Philip? Akankah Casta kembali lagi dengan Kevin meski Kevin sudah bertunangan dengan Misca?

***

Diksi yang digunakan oleh Elvira Natali sangat mudah dicerna dan dibayangkan. Ia pun pandai mendeskripsikan keadaan sekitar si tokoh utama dengan baik dan tidak berlebihan karena peran penulis di sini adalah sebagai POV 3. Tetapi hal yang agak disayangkan adalah tidak adanya catatan kaki atau arti dari bahasa Perancis yang ditulis di sana. Mungkin saja bagi sebagian orang kata-kata itu adalah kalimat umum, tapi saya sangat awam dengan bahasa Perancis sehingga tidak mengerti apa arti dari kalimat yang tokohnya ucapkan dalam bahasa tersebut.

Saya sangat menikmati keseluruhan ceritanya. Saya suka karakter dari tokoh-tokohnya seperti Elsa yang sangat fokus dan pekerja keras terhadap karirnya sebagai desainer terkenal di Paris, seperti Philip yang sangat baik dan perhatian minta ampun terhadap orang-orang yang menang ia sayangi, seperti Elsa yang sama tak kalah care-nya dengan Casta sebagai sahabat sekaligus teman satu flat, seperti Ed yang saya sama sekali tidak menyangka kalau dia ternyata seperti itu haha. Saya suka lelucon yang diselipkan penulis, saya suka cara penulis menuturkan ceritanya sehingga sangat mudah diserap oleh imajinasi saya, dan saya juga suka dengan ending yang disuguhkan.

Review selengkapnya silakan baca di link di bawah ini
https://murniaya.wordpress.com/2016/1...
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
November 21, 2016
Blogtour+giveaway (Never) Looking Back http://resensibukunisa.blogspot.co.id...

***

Andai semua kehidupan menyakitkan, hati kecilmu akan percaya bahwa di luar sana pastilah masih ada sepotong kebahagiaan. Bagian yang menyenangkan... Awalnya, kau tak tahu apa itu, karena pengetahuanmu terbatas. Tapi seiring berjalannya waktu, kau akan menemukan kebahagiaan itu. ---halaman 196

Setelah ayah dan ibunya mengalami kecelakaan tragis, Casta berupaya untuk menggapai mimpinya dalam dunia fashion dengan mendatangi pusat fashion dunia yakni Paris. Setelah bertahun-tahun berkutat dengan usahanya, ia mendapatkan apa yang diimpikannya, yaitu pengakuan dunia internasional dalam bidang fashion.

Saat diwawancarai seputar muse dalam karyanya, ia harus mengakui bahwa orang yang menginspirasinya itu adalah seorang teman dari masa kecilnya di Indonesia, seorang misterius yang sama-sama berupaya meraih mimpi dengan melalui jalan berbeda darinya.

Suatu hari saat sedang kehabisan ide untuk menyelesaikan rancangannya, Casta memutuskan untuk bepergian ke London. Di sana, ia mendapatkan sebuah masalah, kantung belanjaannya tertukar saat sedang membeli suvenir di sebuah toko. Beruntung kata pemilik toko, orang yang diduga membawa barang belanjaannya--di sana ada paspor Casta, makanya gadis itu begitu panik ketika mengetahui bahwa katung belanjaan itu hilang--adalah seseorang yang menjadi langganan tempat itu. Dari sanalah ia mendapatkan sebuah alamat. Ternyata orang itu adalah pria bernama Philip Bouvier.

Philip adalah seorang seniman pasir. Sama seperti Casta, dirinya mengalami kehilangan yang mendalam terhadap keluarganya yang sudah tiada karena kecelakaan tragis pula. Dengan kesamaan nasib ini, membuat Philip dan Casta menjadi dekat; keduanya merasa senasib sepenanggungan, dengan berjuang hidup sendirian dan tengah menanjaki karir dalam dunia mereka masing-masing. Casta yang mandiri menjadi bergantung pada Philip, sementara Philip mulai membuka dirinya, bahkan karena Casta-lah ia berani untuk bersahabat dengan masa lalunya yang menyedihkan.

"Awalnya, aku merasa dunia begitu kejam, tapi lambat laun aku mengerti. Di dunia ini kita tidak bisa menghindari apa pun, termasuk masalah dan duka. Ketika itu terjadi, kita hanya perlu menerima. Karena hal-hal tersebutlah yang akhirnya mendewasakan pribadi setiap manusia. Jadi, tak perlu sedih dan menyesal berlarut-larut. Yang sudah terjadi, biarlah menjadi pelajaran berharga." ---halaman 97

Keduanya menjadi semakin dekat, bahkan menumbuhkan benih-benih cinta yang tumbuh subur. Namun sesuatu terjadi, yang melibatkan seseorang di masa lalu Casta, yakni Kevin Ivander. Kehadiran pria itu dalam hidupnya, serta kesalahan yang diperbuat Casta menjadi bumerang bagi kehidupan cintanya bersama sang pria yang kini dicintainya, Philip Bouvier.


***

Karena pasir abadi, sementara manusia bisa menghilang kapan saja. ---halaman 183

Saya tidak memiliki ekspektasi apa pun saat membaca kisah ini. Namun, di awal cerita, saat saya mengetahui bahwa kisah ini ber-setting kota Paris, seolah keinginan saya terkabul. Karena, saya memang sedang ingin membaca novel bertema romantis dengan setting luar negeri.

Lalu, kisah pertemuan Casta dan Philip, serta perkembangan hubungan mereka disajikan dengan romantis. Casta yang lembut dan loveable, dan Philip yang bak Prince Charming. Keduanya benar-benar pasangan yang serasi. Penulis menggambarkan kisah pertemuan Casta dan Philip dalam momen-momen seru; saat ke pameran seni Philip, mengunjungi studio Philip, dan ketika bersama-sama menghadiri undangan pernikahan orang penting di sana. Saya senang banget sewaktu Casta menemukan lukisan tulip lalu ia menjelaskan filosofi bunga itu pada Philip:

"Aku paling suka tulip biru. Karena jika kau memberi tulip biru pada seseorang, itu bisa diartikan sebagai lambang kepercayaan dan kesetiaan cinta." ---halaman 92

Karakter Philip ini benar-benar bisa membuat meleleh. Sudah tampan (pokoknya Philip dalam benak saya cakep banget; bermata biru, tinggi, seperti freezer kalau kata Casta), baik pula. Dengan senang hati mau direpotin oleh Casta, bahkan rela menerima Casta apa adanya. Philip benar-benar jatuh cinta padanya.

Karena suatu hari bersamamu jauh lebih baik daripada seribu hari di tempat lain. ---halaman 103

Banyak kalimat yang quoteable di dalam novel ini, pembaca benar-benar dimanjakan dengan kata-kata yang manis. Misalnya yang ini:

"Manusia bisa memilih. Tapi kita tidak bisa selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan?" ---halaman 195

Namun, ada beberapa hal yang menjadi catatan saya di sini. Yang pertama, masih ada banyak kesalahan penulisan terutama tanda baca, misalnya kurang tanda petik pada kalimat langsung. Lalu, ada beberapa yang missed di sini. Seperti misalnya penyebab kecelakaan orangtua Casta: di halaman 26 dikatakan bahwa kecelakaan kereta, tapi di halaman 97 korban tabrak lari. Namun meskipun berbeda, tidak mengurangi kesan yang ditimbulkan dari membaca novel ini. (Bahkan saya kesal dengan kejadian "perfect mistake" yang ada di cerita ini. Gemaaas sekali >_<)

Untuk kisah Casta dan Philip yang manis, saya berikan bintang empat bagi novel ini.
Profile Image for Nurina Widiani.
Author 2 books15 followers
November 24, 2016
Virtual Booktour: Review & Title Interpretation di http://kendengpanali.blogspot.co.id/2...


(Never) Looking Back merupakan novel yang ringan dan mudah dibaca. Membaca novel ini menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk mengisi waktu yang cukup luang. Ini juga menjadi kali pertama saya membaca karya Elvira Natalia dan saya lumayan menikmatinya.
Dibuka dengan prolog tujuh tahun sebelumnya, membuat benak saya dibuat bertanya-bertanya sepanjang melahap habis novel ini. Akan seperti apa hubungan Casta dan Kevin setelah mereka terpisah jarak dan waktu. Namun, meskipun pada akhirnya saya mendapatkan jawabannya toh tetap saja masih ada banyak pertanyaan tak terpuaskan di benak saya.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Membuat saya dengan gamblang merasakan apa yang dirasa oleh para tokohnya. Kadang saya ikut kesal, ikut bingung dan ikut geleng-geleng mengikuti polah Casta. Temponya begitu cepat dan banyak lompatan waktu yang kentara. Ini membuat saya mudah terhanyut dan terbawa hingga tanpa sadar telah tiba di akhir kisah. Deskripsi, narasi dan dialognya berimbang dengan takaran yang pas. Walau masih kurang mendetail dalam bangunan setting waktu dan latarnya, tapi jalinan kisahnya sendiri sudah menyita rasa penasaran saya.

Dalam (Never) Looking Back, Casta merupakan heroine yang disebutkan mandiri, ceria dan kuat. Ia begitu fokus pada cita-citanya dan berusaha melakukan yang terbaik. Namun kesempurnaan pribadi itu remuk ketika ia bertemua Phillip. Casta mulai berani bergantung. Saya rasa ini sweet. Bergantung bukan berarti perempuan jadi melemah, bergantung berarti perempuan semakin kuat terutama dalam hal mempercayai. Apalagi kalau pria itu seperti Phillip, yang meski rela melakukan apa saja demi Casta tapi masih mrnggunakan logikanya. Mereka pasangan yang manis dan chemistrynya lumayan asyik.
Profile Image for Rumah.
Author 1 book41 followers
November 22, 2016
Baca reviewnya di sini yaa >> http://peekthebook.blogspot.co.id/201...

Membaca novel ini seriusan, bawaannya baper, gemes, pingin nggetok kepala tokoh utamanya. Tak hanya itu, ada sebel, sedih, pingin ketawa, pingin nangis, semuanya bercampur jadi satu. Penulisnya mampu merangkai kata demi kata menjadi kalimat yang bikin pembacanya menjadi kesulitan buat berpaling sejenak saja dari novel ini. Banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari novel ini. Tak hanya tentang masa lalu, tapi juga tentang perfect mistake, profesi sebagai designer, seniman pasir, persahabatan, memaafkan, penyelesaian masalah, dan ikhlas.

Sosok Casta sendiri yang diceritakan disini, benar-benar terasa sempurna. Orangnta ramai, moody, tak ceplas ceplos, ceria, dan lebih memilih menyimpan sendiri masalahnya. Namun selain itu juga tegar dan ikhlas. Saat masalah datang menghantamnya, dia berusaha untuk tak melibatkan orang lain, dia memilih menyimpannya sendiri. Selain itu, dia juga tak pernah ingin menyusahkan orang lain, walau pada kenyataannya dia membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Aku juga belajar pada Casta, walaupun dia meniti karirnya di Luar Negeri sebagai designer, dia tak pernah melupakan budaya negerinya. Dia tetap cinta dengan tanah airnya, Indonesia. Perjuangan Casta pun tak mudah, dan itu bikin aku salut banget sama karakternya. Walaupun dia selalu berusaha tampil sempurna, ceria, itu salah satu upayanya dalam melindungi dirinya sendiri.
Profile Image for Dian Putu.
232 reviews9 followers
November 19, 2016
Yuk ikutan Virtual Book Tour dan menangkan 1 novel (Never) Looking Back karya Elvira Natali disini >> http://dianputu26.blogspot.co.id/2016...


(Never) Looking Back, novel yang berbicara tentang masa lalu, perfect mistake, sekaligus bercerita tentang kehidupan seorang desainer hebat yang tak lupa pada kebudayaan negerinya.
Berbicara tentang perfect mistake, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan besar. Dan, satu saja kita salah melangkah, maka jalan takdir kita pun seperti kereta yang berpindah rel.
Sama seperti yang terjadi pada Casta. Gadis pencinta tulip ini memiliki karier yang sukses. Meskipun sampai saat itu, dia masih dibayangi masa lalu.
Dia mulai menemukan sesuatu yang hampir menyempurnakan hidupnya, Philip Bouvier. Philip menawarkan apapun yang Casta belum dapatkan di hidupnya, rasa nyaman, rasa disayangi, rasa dilindungi.

Baca Selengkapnya >> http://dianputu26.blogspot.co.id/2016...
Profile Image for Liliyana Halim.
310 reviews240 followers
November 30, 2016
Pertama kali baca tulisan Elvira.. Tadinya ngernyit kok novelnya begini.. Tapi semakin dibaca semakin menyenangkan.. Apalagi tentang flower box..

"Andai semua kehidupan menyakitkan, hati kecilmu akan percaya bahwa di luar sana pasti masih ada sepotong kebahagiaan. Bagian yang menyenangkan. Awalnya, kau tak tahu apa itu, karena pengetahuanmu terbatas. Tapi seiring berjalannya waktu, kau akan menemukan kebahagiaan itu."
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.