Dulu, duluuuu banget sampe gue lupa kapan, lagi bebongkar lemari buku-buku lama nyokap, terus nemu ini. Binding-nya udah pada lepas, kertasnya coklat, penuh debu, sampul plastik kaku-nya aja udah kuning. Gue juga lupa nyokap bilang apa soal buku ini, yang jelas, buku itu yang pertama kali gue baca. Debu-debunya dilap-in dulu, tapi tetep aja gue baca sambil bersin-bersin dan gatel idung. Tapi tetep gue baca sampe selesai.
I think I was hooked. Can't really remember anymore, my memory is as weak as the fog under the first sunshine. Tapi kayaknya sih I was really hooked, soalnya pas nemu buku yang sama dengan edisi sampul baru dan (obviously) kertas yang masih baru dan tanpa debu, I took it without second thought. And I re-read it from cover-to-cover. And I can firmly say that I loved it.
Terkadang gue baca sambil ber-ooooh and aaahh sama pemilihan kata-kata dan gaya menulis jaman itu. Coba, masih aku-engkau. Saya-anda. Deskripsinya juga... a la seseorang yang belum pernah melihat dunia, perempuan dengan harapan-harapan dan kekecewaan-kekecewaannya, terkadang masih melihat segala sesuatu dengan hitam dan putih, padahal dia sudah di tahapan hidup di mana harusnya dia sudah mengenal dunia. Lalu di tahapan berikutnya, Rina paham kalau dunia tidak hanya hitam dan putih, tidak lagi naif, tapi cara dia mendeskripsikan sesuatu masih begitu. Tapi mungkin jaman waktu ditulis, gaya menulisnya emang kayak gitu ya. Still, I like it.
Ceritanya memperlihatkan interaksi Rina sama beberapa temen-temennya di Perancis. Meski Rina udah menikah sama pria Perancis, tinggal di Vietnam, temenan sama beberapa orang Perancis, dan sebagainya, gue ngerasa, jauh di dalam, Rina masihlah Rina yang sederhana, Rina yang... sangat pribumi, perempuan jawa banget. Karena pandangannya dia tentang teman-temannya, tentang bagaimana cara mereka hidup, bahkan pandangannya tentang kehidupannya sendiri dan cara dia membuat keputusan masih dipengaruhi sama kepribumiannya (is that even a word???? Hang on is this even a coherent review??? The more I wrote, the more it's only a bunch of blabbers orz). I was hooked dengan deskripsi La Barka dengan kamar-kamarnya, kebunnya, udaranya, sedekat apa ke pantai, juga suasana desanya, trus gue baru sadar, mungkin impian gue untuk suatu saat nanti menghabiskan masa tua di rumah kayak gini, terpengaruh dari waktu baca buku ini pertama kali dulu.
Tapi meski buku ini pertama diterbitkan tahun 1975 (damn nyokap gue kawin aja belon) dan obviously ditulis dalam setting timeline tahun segituan dan dengan deskripsi polos a la gadis pribumi sederhana, ceritanya ga sepolos, senaif, dan se-hitam putih itu. Buku ini meng-capture skandal (iyakah skandal??? Yah gitudeh pokoknya) (kamu niat ngeripiu gak sih) tentang siapa ama siapa, tentang gimana sepasang suami istri yang bahkan belum cerai udah sangat terbuka kencan sana sini ama yang lain, flirting sana sini ama yang lain, tokoh lainnya, si istri punya selingkuhan tapi pas abis cerai suaminya langsung kawin lagi dan si istri baru udah melendung gede, si mantan istri shock... sangat opera sabun. Sangat sinetron. Tapi kok gue suka....
Agak kurang suka sih sama gimana cara anaknya Rina di-deskrip. Bahkan gue gatau nama anaknya siapa. Rina me-refer si anak dengan 'anakku' sepanjang cerita dan yang lain juga dengan 'anakmu' instead of a name. Dia gak pernah dapet line dialog. Seolah si anak ini bener-bener cuma alat dalam cerita sebagai pelengkap konflik. Mungkin karena fokusnya dunia orang-orang dewasa, sih. Tapi well.
Dan masih agak-agak awesome gimana Rina bisa temenan sama Christine, dan ternyata salah satu yang paling nyambung selain Monique, yang obviously pasti udah bertahun-tahun lebih tua dari Rina karena anaknya yang paling gede aja yang baru lulus kuliah, cuma beda 10 tahun sama Rina. Hidup itu ya memang. We can never know what kind of people we would encounter and bagaimana randomnya encounter itu terjadi sampai bisa berkenalan dengan orang-orang random di negeri yang jauh. But it happened. Dan mereka membawa pengaruh ke kehidupan kita jauh lebih dalam dibanding yang kita kira.
Udahlah I ship RobertxRina pokoknya. Terus Rina kok agak bego juga sih gabisa moveon. Well iya sih namanya moveon itu tidak semudah yang diucapkan. Kenangan gak bisa ilang begitu aja. Cinta gak bisa dihapuskan gitu aja. Tapi tetep aja gemes.....apalagi dengan open-ending kayak gitu makin gemes juga I DEMAND A DEFINITE RESOLUTION ON ROBERT AND RINA tapi ya namanya hidup ya, gaada yang namanya actual ending. Actual ending-nya ya kematian. TAPIKANTAPIKANTAPIKANGUEGEMES---
Ah udahlah ini review makin bawah makin gaberes =w=