Jump to ratings and reviews
Rate this book

Celana

Rate this book
Kumpulan 44 Sajak Joko Pinurbo, dengan kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono.

74 pages, Paperback

First published June 1, 1999

21 people are currently reading
349 people want to read

About the author

Joko Pinurbo

42 books361 followers
Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002). Ia juga menerima Sih Award 2001 untuk puisi Celana 1-Celana 2-Celana 3. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002. Sebelumnya ia dinyatakan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Tahun 2005 ia menerima Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku puisinya yang lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007). Selain ke bahasa Inggris, sejumlah sajaknya diterjemahkan ke bahasa Jerman. Sering diundang baca puisi di berbagai forum sastra, antara lain Festival Sastra Winternachten di Belanda (2002). Oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan sejumlah sajaknya digubah menjadi komposisi musik.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
87 (19%)
4 stars
154 (33%)
3 stars
192 (42%)
2 stars
18 (3%)
1 star
4 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 81 reviews
Profile Image for Nike Andaru.
1,640 reviews111 followers
January 9, 2019
11 - 2019

Sebenarnya ada banyak kata 'ranjang' dalam buku puisi Joko Pinurbo kali ini, kalo mau dihitung akan lebih banyak dari pada si judul sendiri 'celana'.

Masih menarik, favorit saya Malam Pembredelan dan Minggu Pagi di Sebuah Puisi.
15 reviews
November 20, 2021
Berkenalan dengan Jokpin lewat Celana. Kumpulan puisi liar yang membuat mikir dua kali bahkan empat kali. Buku ringan yang dapat dilahap habis dalam sekali duduk. Sambil makan chiki, martabak manis, atau ngopi dengan pacar.

Ah, disinggungnya kisah percintaan yang miris. Kadang geli pun lucu dengan kalimat bringas dan lugunya yang bikin "Asli, Jokpin makan apa sih bisa merangkai puisi yang ciamik gini?"

Buat yang belum pernah baca karya beliau, Celana bisa jadi buku pertama yang bisa dibaca untuk mengenal bagaimana sastra bisa se seru itu di tangan Jokpin. Kata-katanya liar, sopan, bringas seperti singa, lugu seperti gadis ayu, kadang menyindir seperti bunyi adzan di malam takbir. Menggema kata-kata itu di tengah kikuk dunia akan macam-macam jenis manusia. Buat yang suka teka-teki, wajib baca buku keren ini. Pecahkan setiap makna di setiap bait puisinya. Maksud puisi yang baru bisa dipahami setelah dibaca dua kali tiga kali. Kecuali kalau kamu langsung bisa menangkap maksudnya sejak di paragraf pertama.

Pilihan katanya unik, asing kadang terdengar nyinyir. Tapi betul! Kenyataan yang dilukiskan dalam bait puisinya memang ada dan menjelma. Tentang penyair yang diburu para polisi, tentang wanita dan ranjang, lelaki dan ibunya, tentang celana dan boneka. Siap-siap terkejut dengan cuilan puisi yang lekat dengan kehidupan sehari-hari.

Semua manusia butuh celana. Barangkali untuk sekadar hidup atau meneroka isi dunia pada selain celana. Menjamah isi yang dianggap tabu,malu,sungkan,gemetar,meringis,menangis, atau tertawa terbahak hingga berdahak. Buku yang pas untuk memulai mencintai sastra. Puisi yang dibalut latar belakang waktu 90-an mengantar siapapun yang membaca untuk ikut merasakan gairah, sukacita, duka,tangis,jeritan,kemelut sampai diam sunyi pada dunia yang penuh basa basi.

Barangkali melalui Celana, manusia jadi mulai mencintai sastra. Pertama-tama penasaran dengan apa itu celana, kemudian diputarkan oleh imajinasi yang dibebaskan, pikiran yang dibuka lebar-lebar dan kenyataan yang dihadapi dengan tawa cekikikan atau tangis yang tersedu-sedu. Jokpin selalu seru.
Profile Image for Gracella.
256 reviews175 followers
October 17, 2020
“Baiklah, perkenankan kami sita dan kami bawa
kata-kata yang telah Anda siapkan dengan rela.
Sedapat mungkin kami akan membinasakannya.”
“Ah, itu kan hanya kata-kata.
Saya punya yang lebih dahsyat dari kata-kata.”


————————————-

Ini pertama kalinya aku membaca buku karya Joko Pinurbo. Jujur, aku sebenernya bukan penggemar berat puisi karena seringkali gagal paham sama makna yang tersirat di dalamnya. I prefer something that is more to the point.

Tapi buku Celana ini ternyata cukup enjoyable untuk dibaca. Aku bilang cukup karena masih ada beberapa puisi yg aku gagal paham, sih 😅 Dan ada yang harus dibaca lebih dari sekali dan direnungkan dulu sampai aku bisa mendeskripsikan maknanya. Maklum masih newbie dalam dunia persastraan Indonesia. Hehe.

Well, karena buku ini ditulis tahun 1999, jadi masih banyak puisi yang bercerita tentang perjuangan, demonstrasi, aktivis-aktivis yang hilang, dan kebebasan menyuarakan berpendapat yang pada masa itu bisa dibilang adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Walau maknanya serius dan dalam tapi banyak humor, jenaka, dan komentar nyeleneh yang diselipkan di setiap prosa nya, sehingga aku merasa lebih santai dan menikmati buku ini.

Beberapa puisi yang jadi favoritku: Malam Pembredelan, Kalvari, Pertemuan, Minggu Pagi di Sebuah Puisi.

Jadi cukup penasaran sama karya-karya Joko Pinurbo yang lain 🙈
Profile Image for Jonas Vysma.
30 reviews32 followers
Read
November 28, 2018
Berbekal sedikit pengetahuan yang saya punya,memahami metafora sajak Jokpin kali ini bagi saya harus benar-benar berpikir. Mengerutkan dahi dan bertanya, apa yang ingin Jokpin sampaikan melalui puisinya. Permainan bunyi dan rima disini juga tak sebanyak (jika saya bandingkan) pada buku puisinya yang berjudul ‘Buku Latihan Tidur” yang puisi-puisinya dibuat setelah dekade pertama abad ke 21.

Seluruh puisi dalam buku ini tertulis dibuat pada kisaran tahun 1989-1998 dan terdapat 42 puisi. Ada beberapa puisi yang juga terdapat di buku puisi Jokpin lainnya. Setidaknya, saya menandai bagaimana Jokpin tetap ajeg dalam bermain dengan diksi-diksi yang dekat dengan keseharian kita. Pada buku ini saya masih kagum pada kepiawaian jeli dan peka terhadap fenomena-fenomena kesehariannya untuk dirangkai menjadi baris puisi.

3/5 karena hanya ada 10 puisi yang saya suka dalam buku Celana ini.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
February 26, 2018
Di Festival Sastra Basabasi akhir 2017 lalu, ketika Jokpin dipertemukan dalam satu panggung dengan Sapardi Djoko Damono, beliau menyebut betapa Sapardi merupakan penyair yang menjadi inspirasi utama karya-karya awalnya. Sapardi pun menanggapi dengan sedikit bercanda, sambil bercerita sempat beliau jalan-jalan ke Shopping Center (pasar buku bekas di Jogja dulu, kini di kompleks Taman Pintar) dan menemukan salah satu buku puisinya. Di buku lecek itu tertera nama pemiliknya, yakni Joko Pinurbo. Jokpin sendiri langsung ingat bahwa dia pernah punya buku puisi karya Sapardi yang kemudian hilang entah kemana, dan ajaibnya malah ditemukan oleh penyairnya sendiri di pasar loak wkwk. Memang tidak ada yang benar-benar kebetulan di dunia ini, termasuk di ranah puisi.

Profile Image for bilfy.
122 reviews10 followers
January 1, 2023
it was an okay read😂 sempet keselek baca beberapa kalimat tapi okelah, bukan buku yang bakal kubaca lagi & lagi😂 yang paling memorable 3 judul ini; Tengah Malam, Celana 1, Pertemuan.
Profile Image for Arif Syahertian.
76 reviews5 followers
June 14, 2021
Kumpulan puisi yang sederhana dan bermakna--dengan pemilihan kosakata yang segar dan mengejutkan... Didominasi oleh tema seputar celana, ranjang, kuburan, perempuan, boneka, bahkan pembunuhan; semua itu dibalut dengan indah dan jenaka, meskipun terdapat beberapa puisi yang sulit dipahami.
Saya juga jadi suka, sekaligus terhibur, dengan beberapa puisi yang berjudul Celana; Celana 1 sampai 3. Haha.
Profile Image for Marina.
2,041 reviews359 followers
March 1, 2018
** Books 40 - 2018 **

3,2 dari 5 bintang!

hahhaa banyak puisi didalam buku ini yang membuat saya tersenyum ataupun yang berhasil membuat saya merenung sejanak untuk memahaminya.

Puisi favorit saya tentang Celana dan juga Raden Ajeng Kartini yang menurut saya highlight didalam buku ini

Saya juga baru menyadari kalau ini adalah karya lama beliau yang dicetak ulang sejak tahun 1999. Pantas saja ada beberapa puisi yang mengenai demonstrasi gitu. Kalau boleh jujur saya lebih menikmati puisi karya Joko Pinurbo ini ketimbang eyang SDD soalnya lebih ada jenakanya ketimbang puisi SDD yang lebih serius

Terimakasih Gramedia Digital premium!
Profile Image for Ilham Rabbani.
20 reviews4 followers
January 10, 2022
Faruk menafsirkan puisi “Celana, 1” sebagai semacam adegan ketika tokoh “ia” dalam keadaan berhadapan dengan berbagai komoditas yang melimpah, dengan mode yang terus berganti, dan sering kali menyebabkan kebingungan penjatuhan pilihan, sementara di sisi lain, dalam situasi nihil kesempatan untuk berpikir itu, rayuan iklan-iklan, penjaga toko, dan lain-lain justru telah dan terus menyerbu terlebih dahulu. Esensi dari kegiatan “ia” sebenarnya adalah perjalanan membeli celana baru/buat pergi ke pesta/supaya tampak lebih tampan/dan meyakinkan.
“Celana” adalah objek yang sesungguhnya dituju, namun “ia” justru tersesat ke dalam rimba hasrat (untuk menjadi) “lebih tampan dan meyakinkan.” Petualangan-petualangan yang mempertemukannya dengan seratus model celana / di berbagai toko busana justru makin menjauhkannya dengan objek yang sebenarnya dituju: celana. Lantas, apakah yang sebenarnya luput di sini? Jika kita dapat menyebutnya sebagai “makna”, maka hal tersebut adalah hilangnya kesadaran manusia tentang “nilai guna” atau “nilai fungsional” dari suatu objek, yang sebenarnya ialah yang paling esensial.
Manusia terjebak dalam rimba raya “nilai simbolis” suatu objek, yang dalam puisi tersebut diwakili oleh frasa “tampak lebih tampan dan meyakinkan.” Celana bukan lagi dimaknai sekadar sebagai pakaian luar yang menutup pinggang sampai mata kaki atau lutut, yang membungkus secara terpisah tungkai kaki, melainkan sesuatu yang memiliki nilai simbolis: cermin kemewahan, gengsi, dan sejenisnya. Baudrillard menyebut nilai fungsional suatu objek sebagai sisi instrumental dalam kaitannya dengan nilai guna, semisal pistol untuk menembak, sementara nilai simbolis berkaitan dengan nilai yang diberikan subjek ke objek dalam hubungan sosialnya (subjek lain), antara pemberi dan penerima, semisal berlian yang melambangkan cinta perkawinan atau palu-arit yang menjadi simbol kebebasan kelas pekerja.
Profile Image for Safara.
413 reviews69 followers
July 4, 2020
Saya membaca buku ini dalam Bahasa Indonesia, tersedia di Gramedia Digital.

Topik yang menarik baru muncul di puisi tahun 1998. Untuk tahun-tahun sebelumnya, kurang paham konteks penulisannya seperti apa.

Favorit saya adalah "Malam Pembredelan".
"Selamat datang, Saya sudah
menyimapkan semua yang akan Saudara rampas
dan musnahkan: kata-kata, suara-suara,
atau apa saja yang Saudara takuti
tetapi sebenarnya tidak saya miliki."

Semacam kritik dari Jokpin untuk para aktivis yang dihilangkan karena tulisan dan kritik yang disampaikan.

Buku ini agak berat untuk diselesaikan dalam sekali duduk. Perlu waktu untuk mencerna apa yang sedang disampaikan.
Profile Image for Evan Dewangga.
303 reviews37 followers
November 8, 2022
Buku puisi adalah pelarian saya dalam transisi hidup yang semula menganggur, jadi bekerja, dan waktu terasa sesak oleh tanggung jawab. Sambil menghanyutkan diri dalam tempo baru, saya setetes-setetes membaca puisi, karya sastra paling padat, efektif, dan efisien karena agaknya waktu sudah jadi budak kapitalisme juga.

Ini buku Jokpin yang saya baca back to back dengan Baju Bulan: Seuntai Puisi Pilihan, di mana rasanya Jokpin sudah menjadi zona nyaman bacaan saya. Tapi dalam buku ini saya menemukan Jokpin yang "subversif", Jokpin yang menyaksikan keruntuhan Orba dan kelahiran reformasi. Puisinya acapkali diuntai antara kisah kitab suci dengan kerusuhan krisis (seperti dalam "Kalvari" dan "Minggu Pagi di Sebuah Puisi"). Saya pernah membaca puisi-puisi ini sebelumnya, tapi tak begitu bisa mencecap rasanya. Sekarang ketika disajikan sebagai satu buku, satu hidangan, sensasi rasanya lebih nendang, dan tentu, lebih membekas.

Meski judulnya "Celana", lebih banyak kata "ranjang" dalam buku ini. Saya mengira, "ranjang" terlalu vulgar untuk dijadikan judul, terlebih pada zaman itu. "Celana" memang sudah paling pas, di mana kadar nakalnya sudah cukup menggugah bagi siapapun yang melirik bukunya. Dan terima kasih "celana", karenamu Jokpin dikenal luas dan punya amunisi untuk menjadi komandan kata yang selalu bereksperimen dengan format sastra sampai sekarang.
Profile Image for Ita Hm.
38 reviews
August 14, 2012
Merapatlah ke gigil tubuhku, penyairku
Ledakkan puisimu di nyeri dadaku

Begitulah, Jokpin ^^
Profile Image for Evi Rezeki.
Author 7 books34 followers
May 10, 2014
Inilah kumpulan puisi pertama yang saya baca tanpa berkerut.
Rasanya begitu polos, lucu, tapi juga menyebalkan.
Buku puisi pertama yang benar-benar saya nikmati :)
Profile Image for Clavis Horti.
125 reviews1 follower
March 8, 2024
Buku Celana adalah sebuah karya sastra berisi kumpulan puisi yang lahir dari pena Joko Pinurbo pada tahun 1999. Karya ini seperti sebuah petualangan yang membawa pembaca melintasi beragam tema, membuka tirai kehidupan dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Setiap bait puisi mengalir seperti aliran sungai yang mengikuti alur waktu, menghadirkan cerita-cerita yang menggugah pikiran pembacanya.

Joko Pinurbo menghadirkan lukisan-lukisan yang mendalam tentang kehidupan sehari-hari. Setiap goresan pena mengungkap konflik dalam rumah tangga, kejutan di balik kisah tukang becak, dan setiap titik kehidupan yang terlupakan. Melalui kemahiran bahasa dan intuisi yang tajam, beliau menggambarkan kehidupan yang berwarna, meskipun dalam kebiasaan yang paling sederhana.

Di dalam bait-bait puisinya, Joko Pinurbo membawa sentuhan cinta dengan keunikan yang menggelitik. Dalam setiap kata yang ditorehkan, beliau menghadirkan kerinduan, kekecewaan, dan kebahagiaan yang memperkaya setiap jalinan hubungan di antara manusia. Tidak hanya itu, Joko Pinurbo juga menyoroti ketimpangan yang merajalela dalam masyarakat, serta standar-standar yang seringkali dibentuk oleh masyarakat itu sendiri. Lewat karyanya, beliau menaburkan biji kesadaran akan kompleksitas struktur sosial, mengajak kita merenung atas setiap sisi kehidupan yang tak terduga.

Dengan penuh humor dan ironi, Joko Pinurbo juga mengangkat isu-isu yang relevan dengan kondisi negara kita. Perjuangan aktivisme dan politik yang tengah berkobar pada tahun 1999 menjadi lanskap yang diabadikan dalam puisi-puisinya. Beliau dengan cermat menggambarkan perjuangan para pejuang hak asasi manusia, sambil menyuarakan keprihatinan akan pelanggaran yang tak terelakkan.

Tak terlupakan, di dalam Celana, terdapat juga refleksi pribadi dan eksistensial tentang makna hidup, keberadaan, dan tujuan di dunia ini. Pinurbo tak hanya menyibak kisah kehidupan, melainkan juga mengupas tabir kematian yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Dengan kata-kata yang memesona, beliau memandu pembaca melintasi lorong-lorong, menuju makna yang lebih dalam tentang keberadaan dan hakikat hidup.

Dari ragam tema yang melimpah, buku ini mempersembahkan perbincangan yang beragam dan kaya. Namun, sayangnya, bagi saya pribadi, buku ini belum mampu menyentuh ke dalam hati saya. Barangkali karena saya masih awam dalam memahami puisi, sehingga untuk menghayati dan memaknainya dengan lebih mendalam, diperlukan usaha dan waktu yang lebih panjang.

Selain itu, saya juga tertarik dengan pemilihan judul Celana untuk buku ini. Apakah ada makna khusus di balik pemilihan judul tersebut? Mungkinkah karena puisi yang berjudul “Celana” di dalam buku ini memiliki signifikansi yang mendalam bagi sang penulis? Selain itu, saya mencatat bahwa meskipun judul bukunya adalah Celana, kata yang sering muncul dalam puisi-puisi di dalam buku ini adalah ‘ranjang’. Apakah ada keterkaitan antara kedua kata tersebut dalam konteks puisi yang disajikan?

Bagi para pencinta seni puisi, buku ini layak menjadi rekomendasi. Meskipun belum mampu meraih tempat di lubuk hati saya, penilaian ini semata-mata adalah hasil pemikiran pribadi. Barangkali, bagi para penggemar puisi yang lebih berpengalaman, buku ini dapat menjadi sumber inspirasi yang menyentuh dan menggugah.
Profile Image for Anna Valerie.
186 reviews4 followers
February 22, 2021
Aku tertarik membaca kumpulan puisi ini karena sajak Joko Pinurbo yang berjudul "Kamus Kecil" dan "Celana Ibu". Kedua puisi itu entah kenapa menurutku terbilang unik dan meninggalkan kesan tersendiri. Rasanya, antusias ketika memberitahu orang lain yang tidak erat dengan sastra tentang puisi-puisi seperti itu.

Sejujurnya, aku kira sajak "Celana Ibu" dimuat dalam kumpulan puisi ini. Tapi ternyata, tidak. Namun, aku menemukan sajak berjudul "Celana, 2" yang tidak kalah menggugah meskipun isinya tidak ada kaitannya sama sekali dengan "Celana Ibu". Selain "Celana, 2", perhatianku juga berhasil tersita oleh sajak "Di Sebuah Entah".

"Celana, 2" mengangkat masalah pembentukan karakter manis dan santun tapi akhirnya tumbuh menjadi sosok yang khawatir dan takut menghadapi nasib sendiri. "Di Sebuah Entah" nuansanya agak gelap dan aku tidak yakin berhasil menangkap maksud Jokpin atau tidak. Tapi, dari sajak tersebut, kutangkap suara yang ingin melantangkan penderitaan di masa pemerintahan yang tidak mengizinkan rakyatnya bersuara. Ya, di masa ketika pemerintah takut pada kekuatan kata.

Sajak-sajak Jokpin yang dimuat dalam "Celana" rata-rata puisi naratif (bahkan kurasa, semuanya). Enak dibaca, tapi agak sulit dipahami karena cakupannya luas. Lagipula, bukankah puisi dan sastra lainnya memang demikian? Multitafsir sehingga orang-orang berhak mempunyai pandangan yang berbeda.
Profile Image for Shabrina Nova.
74 reviews
January 8, 2024
Sebagai orang yang bukan penggemar puisi, pengalaman baca kumpulan puisinya Pak Joko Pinurbo cukup unik; pengunaan bahasa yang cukup mudah, tapi tetap banyak yang perlu kuulang beberapa kali untuk nangkep maknanya.

Buku ini terbit tahun 1999, jadi sangat wajar isinya banyak 'nyentil' tentang perjuangan untuk bisa dapetin hak berpendapat, demonstrasi, dan aktivis yang hilang. Dan gak aneh jg kalau isi di kumpulan puisi ini tuh kerasanya banyak yang isinya nge-objektifikasi perempuan, agak kurang nyaman sih di bagian ini.

Fun fact, ketimbang pakai judul 'Celana', kayaknya 'Ranjang' lebih pas deh karena lebih banyak disebut🤔 Oiya, dua puisi yang cukup kusuka: "Di Sebuah Entah" sama "Pertemuan"
Profile Image for fara.
280 reviews43 followers
July 18, 2021
Jokpin kayaknya suka banget sama kata "ranjang" ya, sampai-sampai frekuensinya lebih banyak daripada "celana" sebagaimana judul kumpulan puisinya sendiri. Meski euforianya nggak seseru, sesumringah, dan seantusias ketika membaca Buku Latihan Tidur ada puisi yang paling saya sukai dan menarik perhatian saya, judulnya "Malam Pembredelan", yang seolah menegaskan fakta bahwa kata-kata sama mematikan dan berbahayanya dengan senjata.

Kata-kata adalah kupu-kupu yang berebut bunga,
bunga-bunga yang berebut warna,
warna-warna yang berebut cahaya,
cahaya yang berebut cakrawala,
cakrawala yang berebut saya.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
April 5, 2018
Dibandingkan dengan karya Jolkpin lainnya. buku puisi Celana yg jd karya perdana beliau ini terkesan begitu serius. seperti seorang penyair yang br memulai langkah kepenyairannya tetapi tentu saja dari sinilah kita bisa mulai menikmati karya jokpin lainnya yg jenaka penuh dengan narasi-narasi nyeleneh akan kehidupan sehari-hari di rumah. Saya baca ini buku karena penasaran juga dgn bagaimana awal mula jokpin berkarya.
Profile Image for Sulin.
331 reviews56 followers
June 24, 2018
Buku puisi pertama Joko Pinurbo,yang tentu belum sekental sekarang ciri khasnya.
Persamaannya adalah diksi sederhana, tidak perlu membumbung tinggi untuk menghujam jiwa. Joko Pinurbo selalu hangat dan lucu seperti suasana rumah yang kena matahari sore.

Sesuai dengan tema tahun-tahun 95-99 puisi ini banyak menyuguhkan cerita revolusi, kematian, dan rezim tetap dengan humor ala Jokpin <3

Di tangan Jokpin, kesedihanpun bisa jadi pemicu tawa.
Profile Image for Zulfasari.
50 reviews6 followers
November 30, 2018
3,5 bintang
Saya lebih menikmati Buku Latihan Tidur dibanding Celana, tapi tetap (dan mungkin selalu) Joko Pinurbo mampu mengambil ide puisinya dari hal dan benda sederhana di sekeliling kita.

Selalu ada yang jenaka di tiap puisi Jokpin, tapi ada juga yang suram. Karena rentang waktu puisi di antologi ini adalah 1989 sampai 1998, rasanya saya bisa menemukan bagaimana reaksi Jokpin terhadap kondisi sosial politik era Orde Baru di beberapa puisinya.
Profile Image for Ais Fahira.
50 reviews1 follower
December 26, 2020
Saya bukanlah penikmat puisi. Beberapa puisi di sini membuat saya berpikir keras dalam memahami isinya. Mungkin masih butuh waktu untuk merenunginya. Namun, masih banyak yang menurut saya mudah dicerna seperti Tengah Malam, Kisah Seorang nyumin, Senandung Becak, dan Pulang Malam. Beberapa puisi favorit saya adalah Daerah Terlarang dan Malam Pembredelan. Keduanya menurut saya mudah untuk dicerna seorang awam puisi seperti saya.
Profile Image for Maria.
221 reviews1 follower
July 9, 2022
Aku baru pertama kali baca buku tentang joko pinurbo dan ini buku pertama yang kubaca.

Agak susah mendefisinikan, memahami puisi ya daripada novel..
Perlu berkali-kali baca untuk paham apa yang dimaksud atau berimajinasi kalau-kalau semisalnya apa yang dimaksud juga begitu.

Berhubung banyak karya joko pinurbo yang terdaftar digramedia digital. Mungkin saya juga perlu membaca buku-buku lainnya, sekalian belajar untuk memahami puisi lagi.
Profile Image for Sa`ad Ahyat Hasan.
111 reviews17 followers
February 19, 2019
Saya kira isinya banyak puisi-puisi jenaka yang menggelitik seperti halnya puisi Jokpin akhir-akhir ini. Ternyata isinya banyak puisi-puisi yang serius. Mungkin karena sebagian puisinya dibuat di zaman Orba yang notabene banyak hal-hal yang perlu dikritisi daripada ditertawai.

Dari buku ini saya jadi tahu kalau Jokpin tidak melulu jenaka.
Profile Image for Mark.
1,284 reviews
November 15, 2020
Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami
kisah Paskah ketika hari mulai terang, kata-kata
telah pulang dari makam, iring-iringan demonstran
makin panjang, para serdadu berebutan
kain kafan, dan dua perempuan mengucap salam:
"Siapa masih berani menemani Tuhan?"



-- kutipan bait terakhir dari "Minggu Pagi di Sebuah Puisi"
74 reviews
July 25, 2021
Been read his 3 books in span 24 hours and this is the one I want to hand the physical copy the most. The story of perburuan and perempuan, though it's kinda stiffling but I feel like I could reread this in certain times to remind myself how fucked up yet picturesque the society I'm in and the life I live in.
Profile Image for lll.
27 reviews
December 22, 2021
Di Sebuah Salon Kecantikan

Gerimis itu lembut
Ia memandang dan dipandang wajah di balik kaca
Ia dijaring dan menjaring dunia di seberang sana
Hatinya tertawan di simpang jalan menuju fantasi atau realita

Mengapa harus menyesal?
Mengapa takut tak kekal?
Apa beda selamat jalan dan selamat tinggal?
Kecantikan dan kematian bagai saudara kembar
yang pura pura tak saling kenal
Displaying 1 - 30 of 81 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.