Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Odile tahu bahwa keluarganya di ambang kebangkrutan dan harus menjual segala aset untuk bisa bertahan. Tapi ia menolak menyerah pada keadaan.

Ganesh tahu hatinya selalu dipenuhi dendam dan prasangka terhadap ayah yang telah menitipkannya di tengah keluarga Odile. Dendam yang membuatnya selalu marah pada keadaan dan memutuskan pergi ke Paris untuk mencari jawaban.

Kirana tahu bakat seni sang ayah mengalir kental dalam darahnya. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Sifat penakut, pemalu dan kikuk telah menyembunyikan potensinya rapat-rapat.

Ketiganya tumbuh bersama, menghabiskan masa kecil hingga remaja di taman kecil di belakang kafe Galette. Namun seiring waktu, masalah di kampus, problem cinta, dan pencarian jati diri membuat jarak di antara mereka semakin menganga. Ketika kafe Galette terancam dijual dan hanya ada satu kesempatan untuk mempertahankannya, ketiga sahabat itu akhirnya melihat di mana hati mereka berada.

240 pages, Paperback

First published October 10, 2016

1 person is currently reading
79 people want to read

About the author

Fenny Wong

6 books70 followers
Fenny Wong writes mainly romance fiction, ranging from contemporary to ones with a dash of fantasy.

She is currently managing her batik fashion store http://www.benangsari.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (11%)
4 stars
7 (20%)
3 stars
19 (55%)
2 stars
2 (5%)
1 star
2 (5%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for Fenny Wong.
Author 6 books70 followers
Read
December 4, 2016
Berapa kali ya tulis ulang draft Galette ini? Dari ide awalnya yang sama sekali bukan kafe, lalu berevolusi jadi cerita yang sekarang terbit. Dulu bahkan sempat ikut tiga bulan kursus bahasa Perancis karena ingin menulis ini secara maksimal.

Ketika saya bersekolah, saya bertemu seorang teman dari desa Perancis di St. Mary de Peu, yang membawakan galette des rois buatan tangan ke kelas. Dari situlah saya mulai berpikir untuk memasukan elemen pai galette des rois ke dalam cerita ini.

Apapun sejarah di balik cerita ini, semoga semuanya menikmati.
Profile Image for mollusskka.
250 reviews160 followers
June 7, 2020
Novel young adult yang cukup kental nuansa keluarganya. Di awal, novel ini cukup banyak mengupas masa lalu dan persahabatan orangtua Odile, Ganesha dan Kirana. Galette itu sendiri adalah jenis makanan khas Prancis berupa pie yang kemudian dijadikan nama sebuah kafe milik keluarga Odile di Bandung.

Aku sebenarnya kurang suka dengan kisah keluarga dalam novel ini. Misterinya kurang menggigit dan terasa kaku. Atau mungkin aku yang terlalu berharap akan ada misteri seperti itu?

Selain itu, aku juga sebenarnya kurang suka dengan problema khas remaja yang dihadapi ketiga tokoh utamanya, terutama Odile dan Kiran. Ada beberapa kejadian di SMA yang diceritakan dengan seadanya jadi terasa datar. Sepertinya begitu banyak yang ingin diceritakan oleh novel ini berkaitan dengan masa lalu tiap tokohnya tapi ada keterbatasan halaman jadinya kurang mendalam. Mungkin.

Tapi aku sangat menikmati bagian menjelang akhir novel ini ketika Galette menjadi tempat ajang fashion show-nya Tatya. Rasanya menegangkan dan memang inilah topik utama novel ini, tentang mempertahankan keberadaan Galette. Aku juga mengapresiasi penulis yang bisa menggambarkan kehidupan sebuah kafe dengan baik. Seperti di novel ini, mungkin kafe-kafe yang menu utamanya kopi, nggak menyediakan sendiri kue-kue yang mereka jual, melainkan pesan di bakery.

(For Sale: https://www.instagram.com/goodybook99/ or https://www.tokopedia.com/goodybook)
Profile Image for Gistii Adistie.
19 reviews2 followers
March 30, 2017
Aku suka sekali part ketika semuanya berjuang untuk gallete. Penggambaran sosok ketiganya sangat baik, tapi tetap tdk bs menebak perasaan Ganesh kepada Odille sampai akhir chapter. Over all, 4 stars for this book..
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
January 7, 2017
Tadinya mau pilih Sing Me Home-nya Emma Grace. Namun pandangan saya berserobok dengan kaver novel ini, kemudian terjadilah percakapan imajinatif berikut:

Saya: Galette itu nama makanan penutup, kan?
Buku: Bukan, tapi yang sejenis pai.
Saya: Emang ada, ya?
Buku: Ada. Makanya baca.

Karena harus pilih satu buku lagi, akhirnya Galette-lah yang dibawa pulang. Semoga pada kesempatan berikutnya saya masih berjodoh dengan Sing Me Home.

Riviunya dibuat poin-poin saja, ya.

- Aromanya (mumpung kisahnya nyinggung kuliner, jadi pakai kiasan ini) mirip-mirip dengan Reason-nya Aditia Yudis. Selain karena warna koralnya, bisa jadi juga karena gaya penceritaannya yang sebagian telling (RALAT: setelah saya baca lagi ternyata justru lebih dominan showing, tapi kadang jarang disertai keterangan yang jelas sehingga saya kerap bingung, maksud adegan ini mau menunjukkan emosi apa? Cth: hubungan Angga-Odile, saya sadarnya telat). In a good way, sesungguhnya. Meskipun ada drama tapi pembawaannya tetap tenang.

- Saya merasa TMI ketika membaca bab-bab awal. Agak disayangkan saja, karena informasi yang kebanyakan itu bisa diisi dengan bonding antartokohnya. Karena saya sendiri kurang merasakan ikatan yang ada di antara mereka, meski memang pada akhirnya jadi lebih terlihat akrab.

- Kata ganti yang menjadi panggilan tiap tokoh kerap berubah-ubah, padahal dia berbicara pada tokoh yang sama. Contoh, Angga pada Odile dan sebaliknya, yang kadang memakai 'gue' dan kadang 'aku'.

- Saya kurang tahu, kalau 'finalisasi' dalam perceraian itu istilah dalam Bahasa Indonesianya apa, ya? Yang sering saya dengar di infotainment (yang kebetulan ditonton) paling menyebutnya 'resmi bercerai' saja, karena kata 'finalized' lebih lumrah digunakan di luar negeri.

- Coba Bahasa Perancisnya dibanyakin ya, biar sekalian belajar. Hehe.

- Suka sama unsur Galette-nya di sini, sama konsep Galette cafe yang emang 'Mrancis' banget. Kayaknya unyu ya kalau beneran ada di Bdg.

(spoiler nggak penting)

- Ada satu kesalahan teknis saja, yaitu format cerita yang disatukan dengan format berita. Bagaimana menjelaskannya ya... pokoknya ada bagian di mana narasinya menceritakan narasi berita infotainment tapi ketika ceritanya dimulai lagi, si teks itu tidak berpisah dengan formatan beritanya. Jadi seakan masih termasuk dalam berita padahal sudah balik ke cerita.

- Nggak ada nama desainer kavernya, ya? Padahal saya penasaran...

- Cukup angsty apalagi bagian Ganesh (murid saya ada yang namanya Ganesh, jadi kepikiran dia pas baca ini). Tapi, baiklah.

- Tokoh favorit: Kiran dan Leon.

- Agak gantung, ya... terutama Dom dan Tatya, kayaknya akan ada ceritanya lagi di buku lain.

- Unsur YA-nya dapat banget.

Semoga berantakannya ulasan ini termaafkan. Oh ya, omong-omong rekomendasi, buat kamu yang sedang mencari tipe cerita penuh drama yang teduh (dan ini jarang!) disertai desain sampul yang lucu, Galette adalah pilihan yang pas.
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
January 31, 2017
Unik dan fresh. Terlebih, aku suka karakter-karakternya yang loveable. Tapi, aku agak kurang merasakan chemistry Ganesh-Odile. Selebihnya keren terutama konflik Kiran yang ragu sama kemampuannya karena banyak penyebab.
Profile Image for Erin  F.
135 reviews1 follower
June 19, 2017
“Kenyataannya : ini adalah awal dan mereka harus terus berjuang kalau mau tetap berdiri.” Hlm. 226

Galette bercerita tentang arti sebuah persahabatan, cinta, perjuangan dan harapan. Aku suka dengan konflik yang diangkat. Kisah tiga orang sahabat Odile, Ganesh dan Kirana yang memiliki permasalahannya sendiri.

Odile, gadis ceria yang sangat menyukai Ganesh. Cintanya begitu murni walau harus bertepuk sebelah tangan tapi dia tetap menunggu hati Ganesh. Ganesh, awalnya tidak suka terhadap Odile tapi sejak kecil mereka tidak pernah berpisah walau keduanya sering bertengkar. Namun, setalh Ganesh mengetahui kebenaran tentang ayahnya menitipkan dirinya pada keluarga Odile, dendam yang sudah lama tersimpan dalam hatinya terhadap sang ayah mencuat kepermukaan, membuat Ganesh memutuskan pergi ke Paris untuk menemukan jawaban yang sesungguhnya. sedangkan Kirana, dia adalah gadis pendiam dan tidak begitu yakin akan kemampuannya. Masa lalu membuat Kirana menjadi gadis penakut.

“Gue cuma nggak percaya kalau si bodoh itu butuh empat belas tahun buat nyadar hal yang simpel dan jelas banget.” Hlm. 162

Kehidupan ketiga sahabat tersebut semakin rumit. Odile harus menerima kenyataan akan keluarganya yang sedang mengalami kebangkrutan dan kafe Galette mau tak mau harus dijual. Namun, Odile tidak akan membiarkannya. Kafe tersebut memiliki banyak kenangan terutama dengan Ganesh. Akhirnya Odile memutuskan untuk tetap mempertahankan Galette. Tidak hanya itu masalah yang harus dihadapi Odile, bahwa Ganesh terlibat hubungan spesial dengan seorang aktris bernama Nadine dan Ganesh sudah berada di Jakarta. Odile tak habis pikir kenapa Ganesh tidak pulang ke Galette? Sedangkan Kirana, saat hatinya tertuju pada Angga, harus menerima kenyataan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Berbeda dengan Odile, Kirana justru mendapat kesempatan untuk menghilangkan rasa takut akan kemampuannya.

“Kalau seseorang melangkah mundur, memisahkan diri dari kejauhan, ia akan bisa melihat keseluruhan cerita.” Hlm. 148

Galette, sendiri memang nama sebuah kafe milik keluarga Odile. Konflik dalam cerita ini ringan. Sesuai dengan kriteria novelnya yaitu young adult. Kehadiran tokoh lain seperti Angga dan Leon membawa warna tersendiri dalam alur ceritanya.

Namun, aku masih tidak puas dengan cara menyampaikan ceritanya. Galette dibawakan dari sudut pandang orang ketiga. Sayangnya aku merasa sedang di dongengkan dengan jelas oleh si orang ketiga ini, ditambah banyaknya narasi membuat karakter tokohnya tidak begitu kuat. Dan kehadiran Angga ini malah terkesan menghilangkan si tokoh utama Ganesh. Seolah ada peralihan tokoh utama. Padahal, melihat profilnya penulis sudah menghasilkan beberapa karya namun aku merasa kurang puas dengan novel Galette ini. Pun, penggunaan EYD-nya masih ada beberapa yang kaku.

Terlepas dari kekurangannya, untuk ukuran novel young adult aku rekomendasikan dan pesan yang aku ambil dari novel ini, yaitu :

Belajar dari Odile untuk tetap sekuat tenaga memperjuangkan yang sangat berharga dalam hidup kita. Dari Ganesh, jangan dulu melihat dari sebelah mata saja karena kebenaran yang sesungguhnya mungkin belum terungkap semuanya. Dari Kirana, hilangkan rasa takut dan percayalah akan kemampuan yang dimiliki diri sendiri, keluar dari zona nyaman dana man itulah caranya. Dari Angga, akan selalu ada penyelesaian dari setiap masalah. Tergantung bagaimana hati menerimanya dengan lapang dada.


3* of 5* untuk Galette
Profile Image for Afifah.
410 reviews16 followers
May 10, 2018
Awalnya baca buku ini karena ada di iPusnas (yang btw salah satu aplikasi favoritku saat ini) tapi dilanjutkan dengan hardcopy karena sudah ada ebook yang ongoing aku baca di aplikasi lain.

Pada dasarnya buku Fenny Wong yang ini maupun Fleur membuat aku tertarik untuk baca dan overall cukup menarik jalan ceritanya. Tapi sayang kali ini aku kurang bisa menikmati karena 2 hal. Pertama, banyaknya kata yang menurutku kayak misplaced gitu. Jadinya membuat kalimat yang lagi aku baca nggak nyambung. Dan ini sering banget makanya aku bisa sampai sadar. Yang kedua, which is paling aneh menurutku, adanya salah layout di hal 179-180. Paragraf yang seharusnya berdiri sendiri (bukan bagian dari artikel) malah seakan-akan jadi sambungan di artikel tersebut. Buatku, datang dari penerbit Gramedia, cukup disesalkan sih kesalahan layout seperti itu. But well, at least endingnya cukup oke.

Jadi... cukup 3 bintang untuk buku ini.
Profile Image for Hakikikomori.
13 reviews1 follower
September 6, 2018
Ada beberapa scene yang membuat saya bingung karena berputar putar, mungkin kurang edit ulang, tapi terlepas dari itu saya benar benar menyukai isi buku ini, saya tidak bisa deskripsikan secara detail, intinya saya... just fall in love, baca cerita ini rasanya hangat sekali, tentang Ganeshh dan Odile hubungan di antara keduanya bikin saya gemas haha. Ini adalah buku kedua dari mba Fenny Wong yang saya baca, setelah Hanami lebih tepatnya. Setelah ini saya akan membaca Fleur. Thank you for this warm story <3
Profile Image for Devi Aulia.
21 reviews1 follower
April 21, 2023
3,5⭐ untuk novel ini. Awalnya beli iseng di toko online karena bacaanku habis, kebetulan aku liat buku ini lagi promo hehehe. (Biasalah, anak promo).

Menurutku alurnya baik, tertata dan rapi. Begitu juga dengan karakternya. Cuma, yang bikin kurang sreg adalah beberapa plot yang lumayan mengganjal. Salah satunya tentang Edith yang memang tidak dibahas lebih lanjut.

Ceritanya ringan dan pas dibaca pada waktu kosong. Thanks author👍
Profile Image for Anisa Nugroho.
9 reviews1 follower
April 11, 2020
ringan, simpel. tapi mungkin masih ada beberapa kalimat yang perlu dibaca berulang kali biar nggak salah paham hehehe..
Profile Image for Biondy.
Author 9 books237 followers
February 5, 2017
Blurb buku ini rasanya sudah cukup menggambarkan isinya. "Galette" bercerita tentang tiga sekawan sejak masa kecil: Odile, Ganesh, dan Kirana. Mereka tumbuh dan saling mendukung satu sama lain. Saat mereka beranjak dewasa, ada berbagai masalah yang terjadi dan memecah belah mereka. Sebuah misi menyelamatkan kafe favorit mereka, "Galette", kemudian menjadi kunci untuk mempersatukan ketiganya kembali.

Galette des Rois-galette para raja-adalah pai yang biasa dijual di Prancis pada Januari. Galette jenis itu adalah makanan kesukaan Pram. Bukan karena rasa almond-nya yang manis gurih, melainkan karena permainannya. Ada sebuah figurin kecil yang dimasukkan ke dalam Galette des Rois. Pai bulat itu akan dipotong oleh orang termuda dan dibagikan pada setiap orang yang hadir. Orang yang beruntung menemukan figurin dalam potongan miliknya akan menjadi "raja sehari". (hal. 11)


Novel pertama Fenny Wong setelah hiatus 4 tahun dari dunia pernovelan. Novel keempatnya yang saya baca setelah Fleur (review), Lapis Lazuli (review), dan Moonlight Waltz (review).

Kalau buat saya, 'Galette' ini sebenarnya khas sekali untuk novel YA. Berbagai tokoh dengan masalahnya masing-masing, ada bumbu angst-nya, lalu ditaburi dengan kisah cinta dan persahabatan. Sebuah resep yang saya suka.

Terbukti, saya memang suka dengan hubungan ketiga karakternya. Empatlah, kalau mau tambah Angga, si barista di Galette. Konflik Galette dengan media (alias #GaletteDrama) juga bagus. Lucu aja melihat si Ganesh digosipkan dengan salah satu artis ibu kota.

Masalahnya dengan 'Galette' adalah: terlalu banyak sub-plot sehingga tidak ada ruang untuk build-up. Hal ini membuat setiap sub-plotnya terasa hambar buat saya. Misalkan sewaktu Ganesh tahu kenapa ayahnya menitipkan dia ke keluarga Odile, atau waktu Kirana tahu kenapa ayahnya tidak suka kepada karya seninya, bagian ini seharusnya punya 'pukulan yang kuat' ke pembaca. Bisa membuat pembaca merindinglah, kalau menurut kata yang sedang populer sebagai judul artikel internet. Itu yang saya tidak dapat di sini.

'Terlalu banyak' juga menjadi frasa kunci untuk para karakternya. Terlalu ramai dan berkepribadian. Ini justru menghilangkan fokus cerita. Saya curiga sengaja dibuat begitu karena penulisnya memang ingin membuat cerita untuk karakter lainnya. Dugaan terkuat saya datang dari Dom dan Tatya yang tiba-tiba saja punya kisah percintaan di akhir novel. (Saya yakin ini bukan bocoran, karena keduanya sebatas figuran di novel ini.)

Secara keseluruhan, 'Galette' sebenarnya novel YA yang tergolong ringan. Tidak terlalu gelap atau angsty. Ya, unsur angst memang ada, tapi tidak terlalu kuat menurutku.

"Bagaimana kalau seandainya lo pergi dan malah terluka lagi?"

"Seluka apa pun, gue bakal tetep pulang." (hal. 236)


Let's meet on social media:
Instagram | Twitter | Youtube
Profile Image for Marchel.
538 reviews13 followers
December 31, 2016
Buku ini seperti cemilan di waktu minum teh.
Cemilan enak, renyah, manis, dan mengenyangkan.
Manisnya pas, tidak berlebihan.
Enak terasa saat dicerna.
Renyah saat dinikmati.
Mengenyangkan saat menutup buku ini.
Displaying 1 - 15 of 15 reviews