Ini saatnya untuk membahas salah satu permasalahan terbesar Saiunkoku Monogatari: pelanggaran terhadap aturan show, don't tell.
Pelanggaran ini tampak dari penggambaran karakter Shuurei yang terlalu banyak menggunakan pujian dari tokoh lain. Memang Shuurei punya dasar yang baik, seperti yang telah ditunjukkan ketika dia pantang menyerah dalam menjalani tugasnya dan setiap kali dia memilih cita-cita daripada cinta. Sedangkan sebagai pegawai pemerintahan kerja Shuurei sendiri sebenarnya belum bagus, dan memang wajar karena dia baru dan tanpa pengalaman. Tapi orang-orang di sekitarnya (khususnya Ensei) sudah pada memuji. Dengan ini penulis mendikte kehebatan Shuurei kepada pembaca. Ini bisa mengurangi simpati pembaca terhadap Shuurei.
Contoh lain atas pelanggaran penulis adalah penggambaran Sa Kokujun. Kemiripan Kokujun dengan Sa Enjun berulang kali ditunjukkan hanya dengan kata-kata dari tokoh lain. Jadinya adalah pemaksaan penggambaran tokoh kepada pembaca. Pembaca tidak dibiarkan untuk punya pendapat sendiri.
Penulis fiksi mungkin punya gaya penulisan yang berbeda-beda. Menurutku "aturan-aturan kepenulisan" bisa dan boleh bervariasi. Tapi aturan show don't tell ini nampaknya bersifat universal. Serial ini berlabel light novel yang digemari lebih karena tokoh-tokoh yang unik dan setting yang asik daripada gaya penulisan yang baik. Seharusnya pelanggaran aturan show don't tell tidak jadi masalah di serial seperti ini. Tapi mau tidak mau pembaca yang sensitif dengan gaya penulisan merasa terganggu. Apa pembaca seperti itu harus mencari bacaan lain?
Nah, di sinilah kekuatan Saiunkoku Monogatari muncul. Terlepas dari gaya penceritaan, seperti yang aku sebutkan di resensi volume keempat, serial ini kuat dalam merangkai konflik batin. Tidak hanya Shuurei dan Ryuuki, konflik dalam diri tokoh-tokoh lain juga mampu menggerakkan emosi pembaca. Salah satu konflik batin yang dibahas di volume ini adalah milik Seiran. Demi orang yang berharga baginya dia rela melepas orang yang dicintainya. Tapi orang yang dicintainya terpikat oleh orang yang berbahaya. Tak tega rasanya meninggalkan Seiran yang sedang galau seperti ini.
Meski gaya penceritaan Saiunkoku Monogatari banyak mendikte, pembaca (seperti saya) yang sudah terlanjur jatuh hati dengan tokoh-tokohnya masih bisa bersabar. Apalagi konflik batinnya semakin emosional dan menarik untuk diikuti.
Ini saatnya untuk membahas salah satu permasalahan terbesar Saiunkoku Monogatari: pelanggaran terhadap aturan show, don't tell.
Pelanggaran ini tampak dari penggambaran karakter Shuurei yang terlalu banyak menggunakan pujian dari tokoh lain. Memang Shuurei punya dasar yang baik, seperti yang telah ditunjukkan ketika dia pantang menyerah dalam menjalani tugasnya dan setiap kali dia memilih cita-cita daripada cinta. Sedangkan sebagai pegawai pemerintahan kerja Shuurei sendiri sebenarnya belum bagus, dan memang wajar karena dia baru dan tanpa pengalaman. Tapi orang-orang di sekitarnya (khususnya Ensei) sudah pada memuji. Dengan ini penulis mendikte kehebatan Shuurei kepada pembaca. Ini bisa mengurangi simpati pembaca terhadap Shuurei.
Contoh lain atas pelanggaran penulis adalah penggambaran Sa Kokujun. Kemiripan Kokujun dengan Sa Enjun berulang kali ditunjukkan hanya dengan kata-kata dari tokoh lain. Jadinya adalah pemaksaan penggambaran tokoh kepada pembaca. Pembaca tidak dibiarkan untuk punya pendapat sendiri.
Penulis fiksi mungkin punya gaya penulisan yang berbeda-beda. Menurutku "aturan-aturan kepenulisan" bisa dan boleh bervariasi. Tapi aturan show don't tell ini nampaknya bersifat universal. Serial ini berlabel light novel yang digemari lebih karena tokoh-tokoh yang unik dan setting yang asik daripada gaya penulisan yang baik. Seharusnya pelanggaran aturan show don't tell tidak jadi masalah di serial seperti ini. Tapi mau tidak mau pembaca yang sensitif dengan gaya penulisan merasa terganggu. Apa pembaca seperti itu harus mencari bacaan lain?
Nah, di sinilah kekuatan Saiunkoku Monogatari muncul. Terlepas dari gaya penceritaan, seperti yang aku sebutkan di resensi volume keempat, serial ini kuat dalam merangkai konflik batin. Tidak hanya Shuurei dan Ryuuki, konflik dalam diri tokoh-tokoh lain juga mampu menggerakkan emosi pembaca. Salah satu konflik batin yang dibahas di volume ini adalah milik Seiran. Demi orang yang berharga baginya dia rela melepas orang yang dicintainya. Tapi orang yang dicintainya terpikat oleh orang yang berbahaya. Tak tega rasanya meninggalkan Seiran yang sedang galau seperti ini.
Meski gaya penceritaan Saiunkoku Monogatari banyak mendikte, pembaca (seperti saya) yang sudah terlanjur jatuh hati dengan tokoh-tokohnya masih bisa bersabar. Apalagi konflik batinnya semakin emosional dan menarik untuk diikuti.