Shuurei Kou mengikuti ujian pegawai pemerintahan Kerajaan Saiunkoku sebagai peserta perempuan pertama. Ia berhasil lulus dan bahkan menduduki peringkat ketiga. Namun, ini bukan berarti jalan Shuurei menjadi mudah. Masih banyak petinggi yang tidak menyukai keberadaannya dan rekan seangkatan yang menaruh rasa iri. Apalagi, peringkat 20 teratas tahun ini harus mengikuti masa uji coba yang keras di istana sebelum mendapatkan posisi di pemerintahan. Bagaimana Shuurei melalui masa uji coba ini?
Volume ketiga ini merupakan pernyataan awal dari penulis tentang hal yang menjadi poin penting di seri ini: kesetaraan. Bukan berarti untuk menjadi pribadi yang setara Shuurei harus menjadi seperti pria. Tokoh-tokoh dalam buku ini melihat keberadaan Shuurei sebagai perempuan di dalam dunia pria dan mulai menyadari pentingnya peran Shuurei di dunia pemerintahan sebagai perempuan. Pandangan mengenai kesetaraan ini sudah nampak di volume-volume sebelumnya melalui tokoh Shuurei dan interaksinya dengan tokoh-tokoh lain (yang sebagian besar laki-laki), tetapi baru disampaikan dengan gamblang di sini setelah Shuurei benar-benar terjun ke dunia yang didominasi oleh pria.
Sayangnya cara menunjukkan pesan ini kurang menarik. Salah satu contohnya adalah penggunaan penindasan level anak kecil sebagai cobaan Shuurei. Untungnya Shuurei dan tokoh-tokoh lama seperti Kouyuu dan Shuuei serta tokoh-tokoh baru seperti Reishin dan Kijin mampu menunjukkan daya tarik mereka dengan maksimal di cerita yang tanpa mereka akan terasa membosankan.
Nah, sekarang tentang kisah cinta di volume ini. Semakin kuat tekad Shuurei untuk menjadi pegawai pemerintah yang berbakti kepada raja dan rakyat, semakin jauh dia dari Ryuuki. Sadar akan hal ini, Ryuuki pun bimbang. Sebagai raja dia akan tetap mengakui Shuurei sebagai bawahannya. Tetapi ia juga ingin Shuurei melihatnya sebagai "Ryuuki". Apakah Shuurei bisa memenuhi permintaan ini? Penulis dengan cerdik membuat pembaca (dan Ryuuki) berharap meskipun harapan yang ada hanya secercah. Jika berkomitmen untuk mendukung percintaan ini maka bersiaplah untuk menguras emosi.
Setelah menapakkan langkah awal di volume sebelumnya, kini kita sudah melalui beberapa kilo pertama. Perjalanan begitu bergelombang dan menguras emosi, tapi dengan teman seperjalanan seperti Shuurei dan kawan-kawan pun jadi menyenangkan. Tidak sabar rasanya untuk melanjutkan perjalanan ini.
Shuurei Kou mengikuti ujian pegawai pemerintahan Kerajaan Saiunkoku sebagai peserta perempuan pertama. Ia berhasil lulus dan bahkan menduduki peringkat ketiga. Namun, ini bukan berarti jalan Shuurei menjadi mudah. Masih banyak petinggi yang tidak menyukai keberadaannya dan rekan seangkatan yang menaruh rasa iri. Apalagi, peringkat 20 teratas tahun ini harus mengikuti masa uji coba yang keras di istana sebelum mendapatkan posisi di pemerintahan. Bagaimana Shuurei melalui masa uji coba ini?
Volume ketiga ini merupakan pernyataan awal dari penulis tentang hal yang menjadi poin penting di seri ini: kesetaraan. Bukan berarti untuk menjadi pribadi yang setara Shuurei harus menjadi seperti pria. Tokoh-tokoh dalam buku ini melihat keberadaan Shuurei sebagai perempuan di dalam dunia pria dan mulai menyadari pentingnya peran Shuurei di dunia pemerintahan sebagai perempuan. Pandangan mengenai kesetaraan ini sudah nampak di volume-volume sebelumnya melalui tokoh Shuurei dan interaksinya dengan tokoh-tokoh lain (yang sebagian besar laki-laki), tetapi baru disampaikan dengan gamblang di sini setelah Shuurei benar-benar terjun ke dunia yang didominasi oleh pria.
Sayangnya cara menunjukkan pesan ini kurang menarik. Salah satu contohnya adalah penggunaan penindasan level anak kecil sebagai cobaan Shuurei. Untungnya Shuurei dan tokoh-tokoh lama seperti Kouyuu dan Shuuei serta tokoh-tokoh baru seperti Reishin dan Kijin mampu menunjukkan daya tarik mereka dengan maksimal di cerita yang tanpa mereka akan terasa membosankan.
Nah, sekarang tentang kisah cinta di volume ini. Semakin kuat tekad Shuurei untuk menjadi pegawai pemerintah yang berbakti kepada raja dan rakyat, semakin jauh dia dari Ryuuki. Sadar akan hal ini, Ryuuki pun bimbang. Sebagai raja dia akan tetap mengakui Shuurei sebagai bawahannya. Tetapi ia juga ingin Shuurei melihatnya sebagai "Ryuuki". Apakah Shuurei bisa memenuhi permintaan ini? Penulis dengan cerdik membuat pembaca (dan Ryuuki) berharap meskipun harapan yang ada hanya secercah. Jika berkomitmen untuk mendukung percintaan ini maka bersiaplah untuk menguras emosi.
Setelah menapakkan langkah awal di volume sebelumnya, kini kita sudah melalui beberapa kilo pertama. Perjalanan begitu bergelombang dan menguras emosi, tapi dengan teman seperjalanan seperti Shuurei dan kawan-kawan pun jadi menyenangkan. Tidak sabar rasanya untuk melanjutkan perjalanan ini.