Ketika buku ini pertama kali diterbitkan pada 1952, buku ini segera dikenali oleh seluruh pembaca sebagai karya akademik yang luar biasa . Kahin dengan hati-hati membuat narasi yang memuat hiruk-pikuk perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaannya sejak 1945 hingga 1949 dengan sumber-sumber yang mengesankan dan istimewa. Hasilnya adalah 15 bab yang tidak diragukan lagi merupakan uraian penting dan memberikan kontribusi besar bagi pengetahuan mengenai berbagai topik berkaitan dengan transisi Hindia Belanda ke negara berdaulat Republik Indonesia. Bagi seorang peneliti masa kini yang ingin menggali masalah pada periode tersebut, buku ini tetap menjadi yang utama untuk dirujuk. Kekuatan abadi buku ini terdapat pada keberhasilannya membuat rekaman kaya warna serta drama revolusi Indonesia. Sebab mampu menampilkan koherensi dan perincian yang sangat kuat dan kuat terkait komposisi kepemimpinan nasionalis Indonesia yang berubah dengan basis massa ideologisnya, perdebatan di antara kelompok nasionalis, dan strategi pertahanan mereka yang berbeda dalam menghadapi upaya Belanda yang ingin kembali setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
George McTurnan Kahin was an American historian and political scientist. He was one of the leading experts on Southeast Asia and a critic of United States involvement in the Vietnam War.
After completing his dissertation, which is still considered a classic on Indonesian history, Kahin became a faculty member at Cornell University. At Cornell, he became the director of its Southeast Asia Program and founded the Cornell Modern Indonesia Project.
I read this book for a seminar I taught on nationalism in Asia, and I loved it! It is thorough, fascinating, and written by someone who was there (Kahin visited Indonesia in 1948-49 and witnessed the Dutch attack on Yogyakarta, the capital of the Indonesian Republic, firsthand). Its rather optimistic view of the Indonesian government in general, and Sukarno in particular, is maybe a little dated, but the author himself acknowledges this in his introduction to the reprint edition that I read. The book still has value for its wealth of information, the quality of its writing, and how it serves as a time-capsule of what at least one sympathetic American was thinking of the Republic of Indonesia just after it won its independence.
Buku yang menggambarkan sejarah Indonesia periode mempertahankan kemerdekaan (1945-1950) secara cukup lengkap. Kahin mewawancarai banyak narasumber utama yang merupakan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan secara langsung. Satu kekurangannya adalah subyektifitas penulis tentang peran masing-masing yang lebih didasarkan pada intensitas wawancara. Misalnya, bagaimana ia menempatkan peran PSI dan Masyumi begitu pratagonis, semenetara PKI dan Murba yang antagonis. Begitu juga upaya Kahin untuk 'membela' posisi AS dalam diplomasi kemerdekaan Indonesia yang tidak konsekuen.
Ini buku sejarah yang menyejarah, wawancaranya melintang dari Soekarno, Sjahrir, Natsir, dan tokoh-tokoh lainnya. Kahin sendiri bahkan sempat ditangkap Belanda ditengah penelitiannya. Segala sesuatu yang terjadi antara 1945 hingga 1949 diceritakan dengan sangat baik oleh Kahin.