Kisah seorang manusia sakit2an yang divonis mati tepat setahun lagi, tapi ternyata dia gak mati2. Dari kondisi sakitnya dan vonis matinya itulah dia ambil pelajaran tentang kehidupan.
Idrus adalah sastrawan kelahiran Padang 21 September 1921. Ia dikenal sebagai pengarang pembaharu prosa di kalangan angkatan '45.
Setelah menamatkan SMT, ia menjadi redaktur Balai Pustaka di tahun 1943, kemudian bekerja sebagai Kepala Bagian Pendidikan Garuda Indonesia Airways tahun 1950-1952. Mahir menulis sketsa, kumpulan sketsanya Corat-coret di Bawah Tanah, ia buat pada masa pendudukan Jepang. Beberapa drama yang ditulisnya, Ave Maria tahun 1948, Keluarga Surono tahun 1948, Kejahatan Membalas Dendam tahun 1948, Bisma tahun 1945 dan Jibaku Aceh tahun 1945.
Karya-karyanya: Bisma (1945) Jibaku Aceh (1945) Surabaya (1946) Coret-coret di Bawah Tanah (1946) Surabaya (1946) Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948) Tanah (1948) Keluarga Surono (1948) Kejahatan Membalas Dendam (1948) Perempuan dan Kebanggaan (1949) Aki (1950) Dengan Mata Terbuka (1961) Hati Nurani Manusia (1963)
"Tuhan sudah mati Sekarang Aki jadi Tuhan Tapi Aki juga akan mati Jadi semua tidak kekal Tuhan tidak. Aki tidak. Aku tidak."
Sajak yang menistakan itu tentu saja salah satu bentuk pengaruh Nietzsche pada Idrus, dan memang nampak banyak nama lain yang mempengaruhinya dalam Aki ini. Sebagai sesama pembaharu, yang beliau suarakan tidak jauh berbeda dengan Chairil, hanya saja terbalik: ketika Chairil mengawali dengan semangat hidup seribu tahun di 'Aku' dan mengakhiri dengan kepasrahan lewat 'Derai-Derai Cemara', Idrus memulai dengan kepasrahan akan maut lantas mengakhiri dengan keinginan hidup hingga seratus tahun. Kurang ajar memang.
Kuping ke tengkuk ditiup-tiupi malaikat sampei bulu-bulu halusnya berdiri, dingin, beku lah sepanjang baca ini... merinding... (Ada banyak scene so swiit dalam berpuluh paragraf yang hampir saja hendak diposting beberapa-nya di fesbuk, sebab) melunakkan hati--seandainya saja dua paragraf terakhir tak membuat kuping tengkuk secara mendadak dan tiba-tiba berubah hangat... Hahaha. Aneh! Tapi bintang lima. Tapi kapan-kapan paragraf-paragraf so swit itu akan saya
That was so random. Kinda like the feeling when I read L'Étranger. It's like I don't know whether I should be amused or weirded out.
His internal monologue aside, the fact that he recovers from a disease and flourish made you think of your own mortality and achievements. Focus more on medicine, gg.
Premis novelet ini sangat mungkin untuk diadaptasi atau ditulis ulang menjadi cerita baru dengan latar waktu di masa apokaliptik dan tokoh Aki diperankan oleh Chris Evans.
Judul prosa karangan Idrus tersebut adalah figur utama dalam cerita ini. Jangan dibayangkan bahwa hanya karena bertajuk "Aki" maka cerita ini adalah tentang seseorang yang lanjut usia. Namanya memang Aki, entah kenapa Idrus menamai aktor utamanya dengan nama tersebut. Sosoknya digambarkan oleh pria kelahiran Padang ini dengan kondisi fisik yang teramat aneh. Pada usia yang menginjak 29 tahun, Aki digambarkan memiliki bentuk tubuh yang hampir mirip dengan usia orang telah lanjut usia.
Di suatu waktu, si Aki sempat mengatakan kepada istrinya, Sulasmi, bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Entah darimana si Aki bisa menyimpulkan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Informasi kemudian pun tersebar luas. Reaksi orang-orang yang dihinggapi berita itu, banyak yang terkejut, terheran-heran, dan bahkan menjadi pusing, seperti yang dialami oleh sepnya.
Bila kebanyakan orang mendapati hidupnya divonis tidak berapa lama lagi, akan dihabiskan dengan beribadah, Aki justru tidak. Ia seperti biasa-biasa saja dalam melakukan rutinitas hidup, tidak ada kegiatan memperbanyak sembahyang ataukah membaca Alquran, seperti yang disinggung dalam isi cerita. Apakah dia tidak percaya Tuhan? Entahlah, tapi ia percaya tentang kehidupan setelah mati, percaya tentang adanya surga dan neraka.
Mungkin agak sedikit aneh, tapi menurut saya ini sesuatu yang menarik dalam sebuah cerita, meskipun saya tidak begitu setuju dengan perilakunya. Namun, sikapnya yang biasa-biasa saja menghadapi kematian atau bahkan oleh sebagian orang, seperti berusaha untuk menentang malaikat maut. Ia semacam berusaha untuk menyindir oleh sebagian orang kenapa semua orang takut akan kematian?
Tidak salah bila Aki berusaha untuk menyindir orang-orang yang terheran-heran tentang kematian. Tetapi, ketakutan orang tentang kematian, tidak sekadar rasa sakit saat sakaratul maut. Ada amal yang tidak seberapa yang harus dipertanggung jawabkan kepada Tuhan. Barangkali itu mungkin salah satu ketakutan yang dialami oleh sebagian manusia. Meskipun seperti apa yang dikatakannya tentang orang yang mati lebih berbagia dari yang hidup, karena tempatnya yang telah nyata. Iya, bagi orang masuk ke surga. Bagaimana dengan mereka yang masuk neraka?
Entah apa yang sedang ada di dalam pikiran Idrus dalam menggambarkan sosok Aki. Bagi saya sosok Aki kurang diperjelas oleh Idrus. Pendalaman cerita itu perlu, tentang bagaimana Aki memiliki pemikiran semacam itu, alasan kenapa ia tiba-tiba ia ingin meninggal, dan kenapa pula pada akhirnya pada saat kematian urung terjadi, ia berharap kenapa hidupnya ia lebih lama lagi? Semua itu perlu untuk dijelaskan.
Penasaran, siapa kira-kira penyair yang diejek Idrus di novel ini? Beberapa petunjuk:
1. Sajak Aki 2. Mencuri sajak orang lain
Perhatikan penggalan berikut:
... Sejak itu, Aki yang diangkat menjadi sep, dan di tempat Aki dulu, ditempatkan pemuda yang membikin lagu “Aki” itu. Pemuda itu sudah sangat berlainan kelakuannya dari beberapa tahun yang lalu. Ia sekarang malas bekerja, dan jika dulu pendiam, sekarang setiap ada kesempatan ia ngobrol dan memuji-muji diri sendiri. Rambutnya dipanjangkannya dan tidak pula disisir baik-baik. Katanya, dari Iqbal sampai Slauerhof sudah dikalahkannya dengan syairnya. Dan sedang bicara itu hidungnya bergerak-gerak, seperti hidung itu terbikin dari per tempat tidur kero2. Sedikit saja digerakkan mulutnya yang cas-cis-cus itu, hidung itu menari-nari. Katanya pula, siapa yang sudah dipenjarakan karena satu syairnya? Akulah baru, karena syairku “Aki” itu. Sedikit hari lagi sajak itu akan diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan Belanda. Dan hidungnya kembali menari-nari. ... ... ... Sama betul, Bung, lalu ia meninggalkan pemuda itu dengan senyum mengejek.
Muka pemuda itu merah padam, tapi ia masih bisa berkata kepada temannya, sambil menunjuk kepada jurusan orang radio itu pergi: Dia gila barangkali. Masa aku disangkanya menyalin karangan orang lain. Terlalu amat, paling banyak itu bisa dikatakan, saduran.
Teman-teman itu tidak menjawab, tapi dalam hati setiap orang berkata: Nah, sekarang baru ketahuan bahwa engkau adalah pencuri besar!
Ketika Aki berkata bahwa ia akan mati 1 tahun lagi saya berpikir tentang apa yang akan Aki lakukan untuk mengisi harinya sampai dengan pertemuannya dengan Malaikat Maut. Saat hari itu tiba ia berbaring ditemani istrinya, Sulasmi, menanti pukul 3, waktu ia akan meninggalkan keluarganya. Tak dinyana Aki tak jadi mati. Ia tak mau mati. Ia ingin hidup hingga 30 tahun lagi ketika usianya menginjak angka 60 tahun. Waktu berlalu, Aki menua. Ia berkelakar kembali, ia ingin hidup hingga 100 tahun dan menghabiskan usianya menjadi akademisi. Sulasmi tak menjanjikan dirinya akan mampu untuk menemani Aki selama itu, bisa jadi ia akan mogok di tengah jalan ketika usia 70. Aki tak marah, ia menjanjikan Sulasmi suatu prosesi perpisahan yang layak. Sulasmi pun merelakan Aki jatuh ke pelukan gadis 17 tahun sepeninggalnya nanti.
I read this novela in its twelfth 2011 edition which contains the introduction from Maman S. Mahayana and Seno Gumira Ajidarma. I like this reflection about human's hypocrisy towards death (and life). A caricatural portrait of its characters, including the awkward poet and the naive sep, also has its own interesting point which could provoke a long humorous discussion.
Idrus, I think, shows that it doesn't need a tendentious literary work filled by a philosophical explanation about anything to make a literary work useful: he simply writes an easy-to-read story and invites us as the readers to talk about something important. Dulce et utile.
Seorang pria berusia 29 tahun namun seakan berusia 42 tahun bernama Aki, mengalami sakit paru-paru. Walau tubuhnya bergerak lincah, tapi ada saatnya sekali sebulan ia tak masuk kerja karena dadanya terasa terbakar. Ia meramalkan kematiannya sendiri, yaitu pada 16 Agustus tahun depan. Hingga saat itu tiba, ternyata Aki baik-baik saja.
Sosoknya unik. Meski tak pernah mengingat tuhan, berpuasa, apa lagi sembayang, ia selalu berbuat baik pada orang. Menyadari bahwa ramalannay salah, Aki semakin semangat menjalani kehidupan. Ia bahkan besekolah pada usia 42 tahun agar bisa mendapatkan gelar. Ia kemudian bercita-cita hidup hingga berusia 100 tahun.
Diterbitkan pertama kali di tahun 1944 membuat saya cukup kaget dan takjub bahwa ada novela dari sastrawan angkatan ‘45 yang menceritakan premis menentang maut dengan pola cerita yang cukup absurd sekaligus filosofis, namun diceritakan secara jenaka. Idrus seperti terinspirasi dari ungkapan Nietzsche tentang “Tuhan telah mati” sekaligus sajak dari Chairil Anwar berjudul “Aku”. Semangat menantang maut dan Tuhan dengan terus berjuang dan hidup setelah sebelumnya menerima maut seperti teman baik yang lama tak jumpa.
Gaya penulisan yang sangat lawas akan membuat generasi kita sedikit bingung, namun dia situlah keseruan menikmati karya sastra klasik Indonesia.
cukup menikmati, dan isinya agak konyol yaaa... gue ngebayangin si Aki yang ngerokok, kebangun gara2 denger keributan. ga jadi mati. sumpah, kok bisa sih penulis kepikiran nulis cerita kek gini.
Kutipan favorit: Demikian selalu di atas dunia, selalu ada orang-orang yang tidak mengerti dan ada orang-orang yang mengerti, karena yang satu mempergunakan perasaannya belaka dan yang lain karena mempergunakan pikiran sehatnya. Pg.9
GOKIL Saya salut banget dengan bagaimana Idrus membuat karakter Aki ini terasa begitu legowo saja dengan hidup dan kematianya.
"Penyakit bukan suatu keajaiban, kematian bukan sesuatu yang menakutkan. Mengapa ragu-ragu berhadapan dengan kedua hal itu?" (Halaman 5)
"Demikian selalu di atas dunia, selalu ada orang-orang yang tidak mengerti dan ada orang-orang yang mengerti, karena yang satu mempergunakan perasaanya belaka dan yang lain karena mempergunakan pikiran sehatnya." (Halaman 9)
Macam-macam yang dibahas dalam novela Aki karya Idrus ini. Mulai dari agama, seniman munafik, anti-Tuhan, dan lain-lain. Idrus baik sekali dalam mengkritik sifat manusia Indonesia yang langsung percaya gosip daripada fakta-fakta.
Kekurangannya, barangkali penggarapan cerita terlalu cepat. Jadi ada beberapa bagian yang abstrak korelasinya.
Pertama dengar tentang Idrus, tentu saja saat pelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Buku ini dan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma bikin penasaran, tapi susah dapatnya.
Sekarang sudah ada di iPusnas. Baru bisa selesaikan yang ini. Agak absurd ternyata, tapi ya udahlah. Berkurang satu "utang" saya membaca karya klasik sastra Indonesia.
Tokoh Aki menunjukkan kepasrahan yang berubah menjadi tekad untuk terus hidup. Namun, dalam perjalanan hidupnya itu ia berubah. Agak sombong, menurutku. Keyakinannya untuk tak menyerah pada maut memanglah bagus, tetapi cara ia memandang orang lain yang berlainan nilai itu agak menyebalkan.
Aki adalah buku menarik yang bisa dibaca sekali duduk dengan nilai-nilai kehidupan yang bisa direnungkan.
Cerita yang unik. Hanya saja, karena bahasa yang digunakan masih baku dan menggunakan bahasa pada era itu, jadi aku perlu sedikit jeda dalam memahami kalimat dalam buku ini.
Buku yang membahas kematian selalu menarik buat aku. Dan buku ini disajikan dengan unik. Sekilas seperti humor dan terasa konyol tapi kalau direnungi lagi terasa ironi
Bagaimana orang menanggapi dan memaknai kematian? Dengan Aki, Idrus mencoba menjawabnya.
Untuk memberi penekanan pada pandangan tokoh Aki mengenai kematian, Idrus menyertakan juga pandangan kebanyakan orang sebagai pembanding. Ketika persoalan kematian Aki dibuat sebagai kelakar, mereka merayakannya. Tetapi saat menyadari bahwa persoalan kematian Aki itu merupakan suatu yang sungguh-sungguh, mereka menjadi cemas. Dituliskan juga bagaimana kematian menjadi lahan basah untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.
Setelah melewati sebuah kejadian yang luar biasa, pada akhirnya Aki pun mendapat pandangan yang baru tentang kematian dan kehidupan.
Dengan gaya yang sinis, Idrus menyidir banyak hal lewat tokoh Aki. Dengan gayanya itu, sindiran-sindiran yang ada dalam Aki menjadi begitu menohok. Kesinisan dalam tiap sindiran juga memberikan efek humor sehingga menjadi semacam satir yang menambah keindahan Aki. Tapi sayang sekali, suatu karya dengan gagasan dan gaya bercerita yang menarik, macam Aki ini, menjadi kurang berbekas ketika karya itu berlangsung terlalu cepat.
Aki percaya bahwa dia akan mati tepat setahun setelah dia sekarat. Ia tidak gelisah dan malahan siap menjelang ajalnya tiba, membuat orang di sekitarnya heran dan menyangka Aki sudah gila. Dengan menuliskan cerita tentang keberanian Aki menghadapi penyakit dan kematian, Idrus menantang kita untuk kembali menghargai hidup.